
Leon sadar kalau semua penghuni rumahnya sudah berubah, termasuk semua anak buahnya, mendengar anak buahnya menyebut kalau mereka merasa kasihan pada Jovita.
Ia juga menyadari sikap kelima anak buahnya berubah.
Leon juga kasihan melihat Jovita yang begitu tertekan karena banyak masalah.
“Baiklah aku akan mengalah, aku akan memberimu kesempatan kali ini,” ucap Leon.
Leon ingin menemui Jovita untuk membuat kesepakatan, ia memikirkan alasan untuk menemui Jovita, Leon mondar-mandir di ruangannya, ia masuk Ke kamar tidur yang bersebelahan dengan ruang kerja miliknya, ia ingin melihat Jovita dari dekat, melihat dari layar monitornya
Lagi- lagi ia melihat Jovita menangis sendirian dengan bahu terguncang-guncang di luar kamar.
“Apa yang harus aku lakukan. Saya harus bagaimana Jovita?” Leon berucap sendiri, melihat Jovita menangis sendirian, membuat hatinya ikut merasa sangat sedih.
“Apa yang harus aku lakukan, aku tidak tahan melihatnya menangis sedih sendirian, kamu harusnya tidak boleh menangis sendirian seperti itu saat sore -sore”
Jovita tidak bisa mendengar lagi dan tidak melihat apa yang di lakukan Leon , karena camera pengawas yang ia pasang di kamar dan di Ponsel Leon sudah ketahuan sama Leon.
"Apa kamu menangis karena merindukan keluargamu atau ada hal lain? Bukan hanya kamu, aku juga tidak punya keluarga Jovita Hara jadi berhentilah selalu menangis,” ucap Leon mengalihkan matanya dari layar monitor.
Leon akhirnya menurunkan sedikit egonya, ia berniat menemui Jovita untuk membuat kesepakatan.
“Baiklah, kita punya ini” Leon memegang kertas dan turun ke kebawah ke kamar Jovita.
Tok … Tok …
Jovita dengan cepat mengusap pipi dan bergegas membuka pintu.
“Masuk”
Melihat sosok Leon yang muncul, ia menatap dengan acuh.
‘Mau apa lagi pria ini ke sini mau menembak ku?’
“Saya ingin bicara dengan kamu”
Jovita terlalu lelah atau malas untuk bertanya.
Jovita duduk di sofa di kamarnya, tapi tatapan mata Leon sangat berbeda kali ini.
“Aku ingin mengajakmu makan malam”
“Maaf ….?”
“Ayo kita makan malam untuk bicara hal penting” Leon bicara langsung pada intinya, seperti biasa, ia akan kaku seperti kanebo kering, jika berhadapan dengan Hara.
“Maaf saya tidak bisa Pak Leon”
“Kenapa?” Leon menatapnya dengan tatapan memelas.
‘Karena aku tidak ingin makan dengan orang yang memfitnah keluargaku’ ucap jovita dalam hati.
“Saya hanya tidak ingin saja Pak Leon”
Nanti saya akan memberikan apa yang kamu inginkan, saya yakin kamu tidak menyesal,"ucap Leon mencoba menawarkan sesuatu untuk Jovita, berharap wanita berwajah cantik itu kembali seperti dulu, Jovita yang ceria dan baik.
‘Aku merindukanmu’ ucap Leon dalam hati.
__ADS_1
“Saya tidak tertarik Leon. Maaf saya ingin istirahat.” Jovita berdiri ia mengusir Leon secara tidak langsung.
“Apa kamu sakit? Wajahmu sangat pucat”
‘Iya aku sakit karena kamu’ jovita hanya berani berucap dalam hati.
“Hanya masuk angin , istirahat sebentar akan pulih.” Wajah Jovita terlihat tidak bersemangat saat berhadapan dengan Leon.
Leon hanya di tolak seperti itu saja, ia sudah kelimpungan, ia tidak bisa bicara, hanya bisa menggosok ujung hidungnya dengan punggung jari, apa lagi, saat melihat wajah sedih dari Jovita, ia semakin tidak bisa buka mulut, ia diam.
“Apa ada hal yang lain lagi Pak Leon?”
“Hara .... saya ingin memberimu kesempatan ,” ucap Leon susah paya.
“Tidak usah Pak Leon lupakan saja”
“Saya ingin membantumu ayo kita kerja sama”
“Maksudnya ….?”
“Jika mau makan malam denganku, nanti kita bicarakan”
Jovita tidak ingin Toni dan orang yang menyayanginya terluka karena dirinya, maka itu Jovita memutuskan.
“Baiklah”
“Nanti malam kita akan pergi”
“Baiklah” Wajah jovita terlihat sangat terbebani.
Leon observasi satu ruangan restaurant untuk dinner mereka berdua.
Jovita keluar dari kamar dan masuk ke mobil berwarna hitam itu, sebelum masuk ke dalam mobil Jovita tersenyum kecil pada Toni dibalas anggukan kecil dari Toni.
Dalam mobil sudah ada Leon duduk manis menunggunya.
“Selamat malam Non Hara,” sapa Rikko yang duduk di samping bangku kemudi.
“Selamat malam Kak Rikko ,” balas Jovita tetapi wajahnya kembali terlihat sedih, bahkan duduk dalam mobil ia membuat jarak untuk Leon, seolah-olah lelaki itu hanya orang asing baginya. Suasana dalam mobil begitu hening, leon memegang Iped miliknya, tetapi matanya selalu melirik Jovita.
Tidak berapa lama tiba di sebuah restaurant, tadinya ia ingin mengajak Jovita makan malam agak jauh dari rumah, tetapi mengingat situasi Jovita masih incaran seseorang, jadi Leon membawa makan di restaurant tidak jauh dari rumah Leon di daerah PIK.
Leon memesan menu kesukaan Jovita Beef steak dan satu botol wine merek terbaik, sebagai menu pembuka dan veggie salad sebagai menu penutup.
Sepanjang mereka bersama Jovita hanya diam wajahnya terlihat tidak bersemangat bahkan terkesan terpaksa.
Sesekali Leon mengajaknya bicara dan hanya menjawab beberapa kata lalu kembali diam, Leon hanya bisa menarik napas berat saat bersama Jovita kali ini, biasanya akan mengoceh seperti burung beo tetapi saat ini ia berubah jadi pendiam.
Saat mau pesanan Leon tiba-tiba menarik pring Jovita, ia memotong-motong daging steak nya dan memberikan pada Jovita, membuat Wanita menatap dengan bingung perlakukan manis dari Lelaki itu.
“Terimakasih Pak Leon”
“Iya”
__ADS_1
Suasana sangat hening, tidak obrolan santai layaknya orang pacaran, biasanya Leon suka suasana tenang seperti ini, tetapi bersama Jovita kali ini, ia begitu gelisah. Ia tidak suka melihat perubahan sikap Jovita yang mendadak terlihat sangat dewasa dan bersikap elegan.
Saat Leon menuangkan wine dalam gelasnya tiba-tiba Jovita menolak. Ia malah mengangkat tangannya memintanya dibawakan air mineral.
“ Kenapa …? ini wine terbaik, biasanya kamu suka”
“Saya lagi tidak enak badan Pak Leon saya takut kepalaku bertambah pusing nanti,” ucap Jovita.
Ia menarik tissue dan mengusap bibirnya.
Jovita duduk diam pembawaannya tenang bersikap sangat anggun , menunggu Leon selesai makan, Leon juga menyudahi acara makan saat melihat Jovita selesai makan.
“Baiklah Pak Leon mau bicara apa sampai membawaku makan di sini?”
“Saya ingin kamu menjadi team kami ikut melanjutkan proyek Hotel yang ada di Kalimantan yang pernah kamu minta, kamu masih mau, kan membuat gambarnya?”
‘Oh ternyata dugaan ku benar pantesan kamu baik karena kamu ada maunya ternyata’. Jovita membatin
“Tidak saya tidak menginginkannya lagi pak Leon, lupakan saja"
“Kenapa kamu tidak mau? Dengan begitu kamu bisa membersihkan nama ibumu,” ucap leon
“Jangan ungkit lagi tentang hal itu Pak Leon, saya tidak ingin membahasnya, biarkan saja, biarlah waktu yang akan menjawabnya. Tetapi sebagai gantinya boleh saya meminta permintaan yang lain?
"Iya katakan saja"
"Bapak pernah bilang akan melepaskan ku jika saya membuktikan ayahku tidak membunuh keluargamu .... Jika saya tidak punya waktu untuk membuktikannya. Bisa bapak melupakannya? Saya tidak meminta memaafkan Hanya .... Maaf." Ia menarik beberapa lembar tissu dan mengusap hidungnya ia mimisan.
"Hara kamu tidak apa-apa?" Wajah Leon langsung panik saat melihat hidung Hara berdarah.
"Tidak apa-apa saya ke kamar mandi sebentar."
Leon berdiri menunggu di samping kamar mandi,wajahnya sangat kawatir.
"Kamu tidak apa-apa?" Cerca Leon dengan pertanyaan saat ia keluar.
"Tidak apa-apa Pak Leon, boleh kita pulang saja saya kurang enak badan." Wajahnya sangat pucat.
"Baiklah." Leon buru menelepon Rikko
Saat dalam mobil Jovita menyadarkan kepala di jok mobil memilih untuk tidur.
'Ada apa dengannya apa dia sakit' leon menatap sanga khawatir.
'Sakit apa dia?'
Bersambung ….
KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)