
Leon akhirnya menceritakan semua tentang masa lalunya, tentang keluarganya tentang saudara perempuannya yang meninggal karena bunuh diri karena tidak tahan menerima pembulian dari teman-temannya setelah masa depannya dirusak preman . Ini pertama kalinya Leon menceritakan kisah keluarganya pada Hara.
“Kakakku melompat ke jurang … saat aku meminta tolong pada orang-orang untuk mengangkat mayatnya, tidak ada yang perduli, mereka menyebutnya kematiannya pembawa sial, aku berhasil mengangkatnya dari jurang. Namun mereka menolak di makamkan di kuburan umum. Jadi, aku menguburkannya di tengah hutan,” ujar Leon.
Mendengar cerita pilu dan mistis tersebut, membuat bulu kuduk Hara bergelidik, akhirnya, paham kenapa Leon tidak mau menceritakan semua tentang keluarganya padanya dari dulu ternyata ada kisah yang sangat menyedihkan di sana yang tidak ingin di kenang untuk Leon.
“Maaf sayang, aku tidak tahu,” ujar Hara merasa bersalah.
“Jangan pernah meninggalkanku Hara, bagiku kamu dan anak-anak harta yang paling berharga untukku,” ujar Leon meremas kepalan tangannya.
“Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk menceritakan tentang masa lalu lagi, aku aka mencoba menerima memahami, aku tidak tahu kalau kisah keluargamu punya cerita yang sangat pilu seperti itu.”
“Hara, apa kamu pernah merasa bosan bersamaku?” tanya Leon menatap Hara sangat dalam.
“Tidak pernah, tadinya aku marah karena kamu selalu tidak mau jujur padaku, tapi setelah mendengar alasan kamu tadi aku tidak akan memaksa lagi,’ ujar Hara.
“Tapi ngomong-ngomong … darimana kamu mendapatkan foto lama itu, apa Toni yang memberikannya padamu?”
“Aku mendapatkannya dari panti asuhan satu tahun yang lalu.”
“Haaa! satu tahun yang lalu? Dari pantai asuhan?” Kening Leon berkedut membentuk beberapa lipatan, matanya menatap tegas kearah Hara.
“Iya satu tahun lalu saat ke Kalimantan kami.”
“Benarkah? aku lupa, kalau pernah punya barang di sana” Leon mencoba mengingat-ingat barang apa saja yang ada di sana.
“Kamu punya kotak kayu di sana, aku membuka barang-barang yang lain, maaf kalau aku lancang, aku tahu kamu tidak suka kalau barang-barang pribadimu disentuh orang lain, tadinya, aku tidak ingin memeriksa, tapi saat ibu pantai mengangkatnya, foto itu jatuh jadi aku membuka yang lain juga.”
“Tidak apa-apa , justru aku lupa kalau aku punya barang lama disimpan di sana, mungkin suatu saat nanti kita akan liburan di sana bersama anak-anak juga,” pungkas Leon.
“Sebenarnya aku juga melihat foto ibu kamu dan seorang anak remaja berwajah cantik itu.”
“Kakakku, namanya Hana, dia memang cantik.”
“Tapi, kamu kenapa tidak seperti orang jepang?”Hara menyentuh dagu Leon dengan satu tangannya. Leon merasa sangat nyaman saat telapak tangan Hara menyentuh pipinya, ia memegang tangan Hara, seakan-akan ia ingin tangan itu tetap menyentuh wajahnya.
__ADS_1
Mendapat sentuhan sangat seperti dari Hara, Leon membalikkan badanya menatap wajah Hara, “Aku mirip ibuku Hara, tapi ibu juga wanita yang cantik, apa kamu tidak tampan untukmu?”
Hara tersenyum manis, menatap lekat wajah Leon, “Iya, kamu sangat tampan Leon, wajahmu tegas dan berwibawa, walau terkadang kaku seperti kaos kaki kering,” ujar Hara.
Leon tertawa saat Hara menyebutnya kaos kaki kering.
“Hanya kamu yang memberiku banyak julukan dari dulu, kanebo kering, balok es, manusia batu, sekarang kaos kaki kering.”
“Tapi itu dulu, kan, sekang kamu sudah berubah, kamu sudah mau tersenyum kecil, Tapi apa benar kamu dulu tidak suka Toni?” Tanya Hara
“Iya, aku pikir dia sainganku,” ucap Leon
“Aku berharap hari besok, bisa kita jalani dengan baik, tidak ada lagi kesalahpahaman yang terjadi.”
Leon diam, ia terlihat bingung seakan-akan ada sesuatu yang ingin ia tanyakan pada Hara, tetapi ia ragu, “Ada apa Leon, apa ada yang ingin kamu tanyakan lagi padaku?”
“Ada apa itu?”
“Apa aku masih dihukum?”
“Apa benar kamu puasa atau kamu cari sangkar yang lain, bagaimana kamu mengatasi jika kamu tiba-tiba menginginkannya?” Tanya Hara.
“Aku menahan diri Hara, maka itu Hara ini sudah asatu tahun aku minta hakku sebagai suami,” ujar Leon.
Hara tersenyum lalu menggoda suaminya lagi, apa kamu kita melakukannya sekarang?” Tanya Hara memegang kancing piyama tidurnya.
“Iya aku menginginkannya,” ucap Leon tanpa ragu dan memegang dagu istrinya dan menikmati bibir merah istrinya.
“Sayang ada anak-anak nanti mereka bangun,” bisik Hara menunjuk ke samping si kembar sudah tidur pulas.
“Mereka sudah kecapean pasti tidak akan tahu,” ujar Leon dengan cepat melepaskan pakaian tidur miliknya dan bibirnya masih saling berpangutan.
“Tenang saja tidak akan bangun,” ujar Leon dengan tergesa-gesa ia juga melepaskan pakaian Hara.
Melakukan pemanasan, Hara sengaja mengajak Leon turun dari ranjang agar goyangan dari tubuh mereka berdua tidak membangunkan ke dua anak itu.
__ADS_1
Setelah melakukan banyak gaya atraksi saatnya permainan terakhir Leon mengendong tubuh istrinya ke sisi ranjang dan membaringkannya, ia berdiri di sisi ranjang ia membuka kaki istrinya, lalu juga ingin melakukan penyatuan tubuh, tiba-tiba Chelia bergerak mereka berdua terbangun dan berlari terbirit-birit ke dalam kamar mandi.
Hara tidak bisa menahan tawa saat keduanya berlari seperti pencuri.
“Resiko punya anak memang seperti ini,” ucap Hara tidak bisa menahan tawa saat mereka saling menatap dengan tubuh polos masing-masing.
“Ayo lanjut lagi sudah kepalang naik,” ujar Leon memegang tongkatnya yang mengeras.
“Coba intip sudah tidur belum?” Tanya Hara, ia tidak ingin anak-anaknya memergoki mereka, belum saatnya otak mereka di isi dengan hal begituan.
Leon meraih handuk si sisi kamar mandi lalu ia berjinjit dan mengintip ke arah ranjang.
“Sudah.” ucap Leon menutup pintu kamar mandi lagi.
Sesi selanjutnya berlangsung di kamar mandi, sebelum tongkat Leon di masukkan Hara melakukan karaoke dulu, ia selalu memberi kepuasan untuk suaminya kali ini, karena ia bisa menahan diri saat Hara tidak ada.
Hara menarik Leon ke sisi badtup lalu ia duduk di pangkuan Leon memeluk lehernya dan menikmati bibir suaminya memberi sensasi di dalam mulut suaminya lidahnya bermain liar mengelitik dan mengabsen setiap deretan gigi Leon membiarkan Hara melakukannya engan bebas, tetapi tangannya kembali bermain di benda sintal yang saat ini ukurannya semakin berisi Leon sangat bersemangat saat menikmatinya ia mencengkram dan menggigitnya suara Hara mendesis saat Leon menggigitnya meninggalkan tanda-tanda merah di sana.
Mereka berdua seperti pasangan yang sedang kasmaran karena Leon sengaja menambah durasi permainannya lebih lama agar mereka sama-sama puas, Hara mengajak sang suami melakukan banyak gaya agar tidak monoton, ia tahu suaminya lelaki yang menguasai permainan ranjang, ia tidak mau kalah, maka saat di Jerman ia sudah belajar banyak gaya ranjang dari seorang instruktur senam wanita bahkan ia memberi obat untuk Hara untuk membesarkan ukuran dadanya dan bagian belakangnya.
Maka saat Leon melihatnya mata suaminya sangat mengaguminya bahkan memujinya, ukurannya dada itu tidak terlalu besar tetapi ia terlihat lebih kencang dari berisi karena Leon suka yang seperti itu.
Maka dalam permainan kali ini Hara lebih percaya diri dalam mengimbangi permainan suaminya.
“Sayang aku mau keluar, kamu sudah siap?” Tanya Leon ia memberi aba-aba agar mereka sama-sama.
“Baiklah .” Hara turun dari pangkuan Leon ia membelakangi suaminya, Leon akhirnya memasukkan tongkatnya dan menyatukan tubuh mereka berdua lalu ia menghentakkan tubuhnya beberapa kali, akhirnya erangan panjang keluar dari bibir Leon lebih dulu.
“Aku belum sayang, lakukan dikit lagi,” ujar Hara.
Leon memberinya beberapa kali dorongan dan akhirnya ia juga mengeluarkan suara panjang.
“Makasih sayang kamu hebat bangat kali ini,’ ujar leon memberi pujian.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like dan subcribe iya kakak.