Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Makin Banyak Makan


__ADS_3

Disela-sela menunggu Leon meyelesaikan masakannya, tiba-tiba Hara menyeletuk.” Leon sangat tampan bila berkeringat seperti itu” ucap Hara menggoda Leon.


.



“Ingidam yang aneh-aneh saja kamu Nak,  bau ketek suamilah yang wangi, suamilah yang kamu  botakin, tetapi ibu berharap kamu baik-baik saja dan Leon juga melakukannya semuanya tanpa beban.Itu yang membuat ibu berpikir semuanya akan baik-baik saja,"ujar Bu Ati.


“Aku juga bingung Bu, terkadang aku sangat mencintainya dan kadang aku tidak suka melihatnya,” ucap Hara masih menatap Leon  yang sedang berkutat menyiapkan menu spesial untuk Hara.


Sekitar satu jam berada di dapur Leon menyiapkan dua menu untuk Hara, spegeti seperti permintaan Hara dan soto  masakan kedua, masakan tambahan  dari Leon.


Ia meletakkan tiga piring spegeti dan tiga mangkok  soto dan tidak lupa.  Leon juga menyajikan potongan buah segar dan jus  untuk mereka bertiga,  biasanya wine tetapi mengingat Hara yang sedang hamil, ia menggantinya dengan jus.


Wangi bawang goreng dari soto langsung menggugah selera, belum lagi tampilan yang disajikan Leon sangat menarik terlihat seperti masakan koki handal.


“Waaah tampilannya dan baunya,  mengunggah selera apakah rasa secantik penampilannya?” tanya Bu Ati kagum dengan penyajian yang di lakukan Leon. “Iya ampun Nak, kapan kamu  belajar melakukan ini?” tanya Bu Atin tidak berhenti berdecak kagum.


“Ih, tidak sabar ingin mencicipi rasanya,” ucap Hara memegang sendok.


“Ayo, silahkan di cicipi,” ucap Leon setelah ia ikut duduk di salah satu kursi.


Hara dan ibunya memberi pujian  pada Leon karena masakan kali ini sangat lezat sesuai dengan tampilannya, padahal Bu Atin sudah berpikir tadinya mienya terlalu lembek karena saat Leon memasaknya,  ia merasa waktunya terlalu lama ternyata dugaannya salah, semuanya sempurna,  rasa pas dan enak.


Leon sudah lama belajar memasak diam-diam dengan seorang koki di hotelnya, setiap hari Leon menyisihkan waktunya untuk belajar di dapur, yang mengajarinya juga seorang koki professional yang ia datangkan sengaja  dari negeri Paman Sam untuk mengajarinya.


Leon benar orang yang memiliki disiplin yang kuat,  kalau  menginginkan satu hal ia akan berusaha mendapatkannya dengan,  bekerja keras dan akhirnya berhasil, tetapi satu hal yang belum  bisa ia lakukan sampai saat itu ia tidak tahu bagaimana caranya untuk mencintai, terlebih mengutarakan cintanya pada Hara,


Hanya itu hal yang sulit bagi Leon,  jika semua ia bisa ia dapatkan dengan mudah tidak dengan yang satu itu ’cinta’


“Bagaimana rasanya?” tanya Leon dengan mata menatap kedua wanita itu bergantian, ia sudah siap menerima pujian.


“Rasanya enak, enak bangat lagi, ini, aku kasi review iya, miennya pas tidak lembek dan tidak terlalu matang penempatan udang sebesar ini sebagai topingnya dan suwiran ayam juga pas bangat, aku suka dengan tampilannya,” ucap Hara memberi komentar pada masakan Leon, seakan-akan Leon peserta lomba masak-memasak.


“Kalau ibu bagaimana?” tanya Leon menatap ibunya mendengar komentar orang-orang terdekatnya,  itu akan menjadi masukkan perbaikan ke depannya.


“Ibu setuju dengan Hara,  rasanya enak dan tampilannya bagus, kamu sangat berbakat Nak, justru ibu bertanya-tanya, kapan kamu belajar melakukan ini dan dimana kamu belajar?  siapa yang mengajarimu ibu serius?” tanya Bu Atin memberi sederet pertanyaan , terdengar seperti wartawan gosip.


“Ibu sebagai master masak hanya memberi masukan sedikit?” Leon menatap ibunya.


“Ini serius enak Nak,  ayo makan juga masakan mu.”


Saat mengobrol dengan ibunya, diam-diam ternyata Hara sudah menghabiskan satu mangkok soto.


“Eh, Habis …?” Leon menatap dengan mata melotot.

__ADS_1


“He he, enak,  aku juga mau tambah lagi,” ucap Hara menyodorkan mangkok kosongnya pada Leon.


Leon dan ibunya saling melihat, tidak bisa dipungkiri belakangan ini,  daya makan Hara sangat besar.


“Tapi, kamu sudah menghabiskan satu pring spaghetti dan satu Bangkok soto,  apa masih muat?” tanya Leon di buat kaget.


“Iya, bukan aku.  tapi mereka berdua.” Hara menunjuk perut buncitnya yang sudah mulai membesar.


Leon berdiri mengambil mangkok dari tangan Hara memberikan Hara setengah porsi lagi, tetapi ia yakin Hara tidak akan bisa berdiri lagi dengan makan sebanyak itu.


“Tapi, kamu belum menceritakan pada ibu dari mana  kamu belajar?” tanya Bu Atin setelah Leon duduk dan memberikan  setengah mangkok lagi untuk Hara.


“Aku belajar dari teman Bu, aku sudah lama ingin belajar memasak dan baru-baru ini ada waktu dan  bisa sempat belajar, aku hanya ingin bisa belajar masak karena Hara  sering sekali menyuruhku masak” ucap Leon dengan tenang ia menyendok suap demi suap kuah soto ke mulutnya sangat berbeda dengan Hara yang makan dengan lahap.


“Berarti makan malam kita berhasil iya, ini makan malam yang paling enak yang pernah aku makan,” ucap Hara memuji berlebihan.


Tetapi  ia berdiri mencari sesuatu dari dapur balik lagi ke meja makan.


“Hara mau apa?” tanya Leon melihat wanita bertubuh bulat itu, berjalan mondar-mandir.


“Sebentar lagi dia akan berteriak?”


“Ha! Memang kena-“


“Haaaa…!”


Hara mencari timbangan saat ia menemukan, ia menimbang. Makan malam kali ini melebihi garis yang diberikan dokter.


“Hara! Ada apa?”


Leon mendekat dengan wajah panik.


“Naik lagi.”


“A-a-apanya yang naik?”


“Timbangannya,” ucap Hara menunjuk benda datar yang ia injak.


“Ya, Tuhan aku pikir apa Hara, kamu membuatku takut, iya kamu makan banyak tadi, makanya kamu gendut begitu.”


“Kamu bilang aku gendut!”



“Hara,  kamu makan banyak iya gemuk lah, aneh! kamu makan banyak tapi tidak mau gendut,” ucap leon membantunya turun dari timbangan yang terlihat benyek itu,  karena menahan tubuh gemuk Hara.

__ADS_1


“Kamu jahat! aku itu hamil anak kamu, bukan gemuk,” ucap Hara meninggalkan Leon dan ibunya di dapur, lalu ia naik keatas dengan jalan hati-hati,  satu tangan menahan perutnya  dan satu tangan memegang  dinding lift menuju kamarnya.


“Haaa? Aku salah bicara lagi?” tanya Leon terlihat lemas.


Bu Atin masih menghabiskan soto yang masih tersisa setengah Bangkok itu.


“Ibu! apa aku salah?”


“Tidak,  kamu tidak salah Nak, omonganmu yang salah.”


“Salahnya di mana? aku bicara apa adanya.”


“Wanita hamil itu sensitive Leon, mereka tidak boleh dibilang jelek dan tidak boleh dibilang rakus, perasaan mereka gampang tersinggung.”


“Aduh, salah bicara lagi, sia-sia donk kerja kerasku membuatnya terkesan malam ini, tetapi ujung-ujungnya, ia marah dan menyuruhku tidur di kamar lain nanti,aah! aku capek,” ucap Leon menyandarkan kepalanya di sandaran kursi meja makan berwarna coklat itu


“Tidak ada yang sia- sia dalam hidup ini Nak, kamu tadi sudah membuat kami berdua sangat senang. Sana bujuk istrimu, ingat   kesehatan anak dan istrimu yang paling penting.”


Leon berhasil menyajikan masakan untuk Hara, tetapi tidak untuk Zidan, lelaki tidak bisa apa-apa tentang masakan. Ia lebih baik di minta lari keliling rumah seribu kali dari Pada memasak.


"Maaf aku tidak bisa," ujarnya menyerah ia tidak bisa masak.



"Ah payah," ujar Clara cemberut.


Leon berhasil menyelesaikan tugasnya jadi koki untuk sang istri. Namun Zidan gagal.


Bersambung …


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Terimakasi untuk tips yang kaliangri


Baca juga  karya  terbaruku iya kakak;


 -Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2