Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Hati yang mulai tertutup


__ADS_3

Setelah marah -marah pada Jovita malam itu, Leoon merebahkan tubuhnya di tempat tidur, ia membelakangi Jovita, seakan-akan,  ia tidak membutuhkan jimatnya malam itu.


Jovita   hanya mengedikkan pundaknya melihat kelakuan  sang Bos, ia tidak mau mencari  masalah, sebenarnya ia juga lelah ingin tidur duluan, tetapi Leon bilang  Jovita tidak boleh tidur duluan, maka itu ia menunggu. Tetapi saat ini, ia tidak tahan lagi, ia menutup buku bacaannya dan ikut tidur, memeluk bantal di tengah  dan menjulurkan tangan satu ke arah Leon yang tidur membelakanginya.


Baru sebentar, Jovita juga sudah tertidur terlelap,  bahkan mengeluarkan Dengkuran halus, tetapi justru berbeda dengan Leon, ia pura-pura  menolak tetapi mau, ia tidak akan bisa tidur malam itu, kalau tidak memegang atau menyentuh bagian tubuh jovita.



“Ah kenapa hidupku harus tergantung padanya?” Leon menarik napas, Kini tubuhnya menghadap Jovita dan  menggenggam telapak tangannya, membawanya  ke dalam dada,  lalu ia menutup mata dan tidur.


Mata Leon terbuka tiba-tiba saat ia, merasa samar-samar seakan-akan ada energi yang mengalir dari tangan wanita cantik itu, ke telapak tangannya, sesuatu energi yang hangat.


Leon menatap wajah Jovita yang sedang terlelap tidur, lalu ia menggelengkan kepala, mengabaikan sesuatu yang ia rasakan,  ia menganggapnya hanya perasaannya saja.


Tidur dengan satu tangan Jovita, ia letakkan di dadanya,  ia sesekali melirik wajah polosnya, wanita cantik bak boneka itu, sudah terlelap tidur, satu  jarinya masih di letakkan di  bibir mungilnya, dulu sebelum jovita  memutuskan berubah , sering sekali tangan Jovita melingkar di leher Leon kalau tidak, ia akan memeluk dadanya, tetapi sudah empat hari Jovita memberi jarak dengannya, bahkan memunggunginya jika sudah pagi.


“Bukan  saya  yang merindukan pelukan itu, saya yakin, kamu yang akan merindukan memelukku lagi,” ucap Leon masih  menganggap dirinya paling benar dan menganggap perubahan sikap Jovita hanya sementara.


Leon tidak menyadari semakin ia bersikap egois pintu hati wanita itu akan semakin tertutup.


                                     *


Pukul 05:00


Jovita sudah bangun merapikan rambut dan meninggalkan Leon yang masih tidur terlelap.



Leon masih tertidur.


Jovita meninggalkan Leon dan masuk ke kamarnya, memeriksa gambar yang akan dibawa ke lokasi proyek nanti. Jika hal pekerjaan Jovita orang penuh tanggung jawab, setelah serapan, sebelum berangkat ia jalan-jalan di samping rumah Leon. Rumah yang di tumbuhi banyak pohon membuat Jovita merasa sangat  nyaman.



Sebelum, berangkat  pagi itu ia berjalan-jalan santai di belakang rumah Leon.


Ternyata bukan hanya Jovita, Leon ikut menikmati suasana pagi.



Saat melihat Jovita tersenyum ceria pagi itu, tanpa ia sadari, Leon juga ikut tersenyum saat melihat tawa ceria darinya. Namun, hatinya masih sulit untuk mengakui ... kalau ia senang bersama wanita berparas cantik itu.


Tepat saat jam enam , Jovita berangkat di antar dua orang pengawal yang ditugaskan Leon untuk menjaganya. Leon hanya melihat dari jendela kamar.


“Baiklah gadis kecil, selamat bekerja, saya ingin lihat berapa lama kamu kuat bekerja di lapangan, berapa lama kamu tahan di tempat panas itu. Tuan Putri itu,” ucap Leon dengan  tawanya yang sinis.


Leon tidak tahu; 'Jika jatuh bisa membuat seseorang orang mampu melakukan apa saja. Maka patah hati pun bisa membuat seseorang memiliki ambisi yang kuat'


Saat Jovita  bekerja lapangan di proyek, Leon diam-dia mengawasinya, ia datang bersama supir,  ingin melihat sendiri, tetapi tatapan matanya mulai gelisah saat melihat Jovita bertahan, Leon mulai sadar kalau Jovita benar berubah.



Leon mengawasi Jovita.


“Apa perlu kita  beritahu kalau bos  ada di sini ?” tanya sang supir.


“Tidak perlu, saya  cukup , memantau para pekerja itu dari sini,” ujar Leon,


Ia bilang pada supir kalau ia hanya, melihat para pekerja, padahal ia hanya melihat Jovita.


Ia  melihat wanita cantik itu, memakai helem proyek berwarna kuning dan memakai sepatu boot dan rambut panjangnya di ikat ekor kuda, ia sedang  menjelaskan gambar desainnya, pada kepala mandor.


Walau Jovita punya kesempatan untuk melarikan diri, tetapi ia memilih tidak melakukannya, ia takut sama Leon, memikirkannya saja, ia tidak berani, Jadi ia memutuskan bertahan dan menunggu Piter yang akan datang mengeluarkannya dari istana Leon.


Saat  melepaskan helem yang ia pakai,  tidak sengaja, ia melihat mobil Leon tidak jauh dari lokasi proyek.

__ADS_1


“Aku tahu kamu akan mengawasi ku ular Naga ... tetapi tenang, aku tidak akan melarikan diri,  di luar sana juga aku tidak punya keluarga lagi ....  Aku lebih baik tinggal di rumahmu,” gumam Jovita   pelan, walau ia tahu ada Leon  di sana, tetapi  ia pura-pura tidak melihat.


                     



*


Akhirnya Leon sadar, kalau Jovita serius ingin menjauhinya, setiap hari sikapnya semakin cuek, kadang tidak menganggap Leon ada, ia hanyut dalam membaca buku atau menyibukkan diri dengan menggambar.


"Apa kamu mau keluar dengan saya?" Tanya Leon, saat Jovita menghabiskan satu hari di kamar.


"Tidak perlu Pak, saya harus mengerjakan ini dulu" Menunjukkan gambar desainnya.


"Apa pekerjaan proyek itu berat untukmu? "


" Tidak Pak, saya senang karena skill saya di sana" Lalu ia kembali mode diam.


Ternyata Jovita kalau lagi fokus menggambar atau mendesain sesuatu, jangankan mengusir nyamuk yang menempel di tangannya. Leon mengajak mengobral pun ia cuekin.



Leon mengajak mengobral Jovita, tetapi dicuekin, ia melamun, membuat Leon kesal setengah mati.


'Tidak boleh seperti ini, saya harus lakukan sesuatu sebelum ....'


*


 Hari itu, Leon meminta asisten rumah tangga menyiapkan makan malam spesial untuk ia dan Jovita, niatnya, agar ia bisa mengajak Jovita mengobrol santai. Tetapi yang terjadi ....


Jovita pulang malam, karena ada masalah, di proyek, hal itu  membuat Leon murka. Ia berpikir Jovita masih  sengaja menghindarinya, padahal ia sudah berusaha baik.


Tepat jam delapan malam, Jovita dan kedua anak buahnya tak kunjung juga datang, padahal makanan malam untuk mereka berdua sudah sengaja di tata cantik di meja, di kamar leon. Biasanya jam enam Jovita sudah tiba di rumah karena proyek itu juga, tidak terlalu jauh dari rumah Leon.


Leon mengeluarkan ponselnya dengan marah.


“Iya bos ini masih di jalan, lagi makan"


“Saya tunggu sepuluh menit lagi, kalian belum sampai di rumah, saya akan patahkan tanganmu”


Anak buah Leon langsung panik, ia menginjak pedal mobil dan mempercepat laju kendaraannya tepat  lima belas menit mobil itu akhirnya tiba, melihat mereka datang, Leon datang membawa   pemukul bisbol.


Tepat saat  mobil terbuka dan Jovita turun kedua lelaki itu juga turun.


Ia melampiaskannya pada kedua  lelaki yang mengawal Jovita.


“Kenapa terlambat?”


“Maaf Bos ta-”


   Paak …!


Leon memukul tubuh keduanya dengan kayu di tangannya.


“Saya sudah bilang berangkat  tepat waktu dan pulang tepat waktu. Kenapa melanggar?”


“Maaf Bos tadi Non Hara banyak kerjaan”


“Saya tidak perduli, dia banyak pekerjaan. Peraturan saya harus tetap di lakuin!” Leon  mangangkat satu kali lagi Jovita berdiri di depan .


“Maaf pak Leon, saya juga salah, kalau bapak ingin menghukum mereka, saya juga boleh,” ucap  Jovita .


Bukanya memukul, ia masuk kembali ke kamarnya dan melemparkan  pemukul bisbol dengan kasar.


Menekan nomor telepon ke dapur.

__ADS_1


“Mbak, bereskan ini. Saya tidak makan lagi”


Kedua wanita itu datang ke kamar Leon membereskan kembali meja makan malam itu.


Bagaimana Leon tidak marah? Saat ia menunggu jovita makan malam wanita itu sudah makan malam bersama kedua anak buahnya yang mendampingi Jovita di jalan.  Leon bahkan tidak makan malam karena menunggu Jovita, kini di dalam kamarnya, ia duduk di sofa dengan wajah  mengeras.


“Suruh  Jovita menemui saya?”


“Ba-baik Pak Leon”


Salah seorang dari mereka berlari ke kamar Jovita memintanya  menemui Leon.



“Apa lagi sih bos gila ini, dia seperti malaikat baik tadi pagi dan sekarang kembali seperti malaikat jahat, aku mau mandi”


Jovita bertambah semakin lelah,  padahal rencananya pulang kerja , ingin mandi  dan rebahan , belum  sempat mandi sudah diminta menghadap bos.


Ia tidak ingin membantah atau pun menolak, ia  hanya  menganti pakaian lalu datang ke kamar Leon.


Tok … Tok …!


“Masuk!”


“Saya datang Pak “


Leon menarik napas panjang dan menutup mata lalu ia berdiri.


“Bagaimana perasaanmu sekarang Nona Jovita Hara?” tanya Leon menatap wajah jovita dengan tatapan mendominasi .



“Saya baik Pak Leon”


“Oh, jadi kamu masih bertahan dengan sikapmu? Apa kamu pikir saya akan terpengaruh lalu memohon-mohon padamu untuk bersikap baik"


“Tidak ada yang seperti itu Pak Leon, saya tidak berharap Bapak  untuk berubah, karena tidak penting untuk saya lagi. Saya hanya mencoba mengkoreksi diri saya sendiri,"ucap Jovita santai ia berusaha menunjukkan sisi dewasa pada Leon.


“Kamu masih marah pada saya Jovita Hara ...! Makanya kamu bersikap begitu, Sebaiknya hentikan! Kamu membuatku sangat lelah dan aku marah"



“Saya tidak marah sedikitpun pada Bapak,  justru saya menghormati Bapak sebagai Bos saya, malam ini dan seterusnya," ujar Jovita mencoba berucap lembut, walau sebenarnya ia ketakutan melihat kemarahan di wajah Leon.


Leon diam sebentar lalu berkata lagi;


"Baiklah lakukan apa saja ,saya tidak perduli lagi!"


Apakah Leon akan membiarkan Jovita berubah dan mencoba melupakannya atau mencoba mengubah sikapnya?


                                           


Bersambung ..


KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI


DAN AUTHORNYA


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2