
Disandera
Di Balkon rumah Leon.
Saat Leon memangil jasa terapis kerumahnya, ternyata itu satu kesalahan, lelaki yang bertugas mengangkat peralatan alat terapis bukanlah pegawai sesungguhnya.
Kedua lelaki penjahat itu sudah menyandera dua orang pegawai lelaki, dan mengikat kedua pegawai di dalam mobil dan memakai seragam mereka.
Kedua lelaki yang sedang menyamar itu, juga mengancam kedua pegawai wanita itu, dengan cara yang sangat sadis, agar tidak memberitahukan keberadaan mereka, saat Jovita sedang tertidur di ranjang tubuhnya hanya dibalut kain dan Leon masih tertidur telungkup.
Melihat nyawa Leon dalam bahaya,
Kedua wanita itu saling menatap seolah-olah meminta rekannya untuk memberitahukan Leon, kalau mereka dalam bahaya, salah seorang wanita itu melirik ke arah pria itu, salah seorang dari mereka menerima telepon dan salah satunya mengawasi mereka berdua dengan tatapan tajam.
Saat lenggang, penjahat itu melihat kearah lain, saat itulah salah seorang pegawai pijat itu melakukan hal yang sangat nekat, bahkan membahayakan nyawa sendiri, ia ingin memberitahu Leon, kalau kedua lelaki yang sedang berjaga di luar itu sedang mengincar nyawa keduanya.
Tidak ingin kliennya terluka, seorang dari mereka menumpahkan tetesan lilin di tangan Leon.
"Auh sakit!” Leon terbangun menatap tajam pada sang wanita.
“Apa yang kamu lakukan!” Bentak Leon marah.
“Maaf Pak, Maaf saya sangat ceroboh,” ucapnya memungut lilin yang ia jatuhkan ke lantai. Saat itu wanita itu membuat gerakan jari, tanda minta tolong.
Leon menyadari kalau kedua pegawai terapis itu memberi kode minta tolong kode bahaya.
' Jovita dalam bahaya' Leon membatin.
“Baiklah, lain kali hati-hati,” ucap Leon pura -pura tidak terjadi apa-apa.
Leon menyadari kalau nyawa Jovita dan dalam bahaya.
Ia mengambil lilin terapi dan meneteskan juga di lengannya Jovita.
“Ini orang tidur saja.”
“Auh panas!” Ia terbangun.
“Kamu mau tidur apa mau diurut!”
“Auuuh ini panas.” Ia meringis kesakitan mengusap lengannya yang sakit.
Leon memberi gerakan tangan yang sama dilakukan wanita itu dan Jovita untungnya cepat menyadari apa yang dikatakan Leon dengan cepat, ia menarik jubah dia samping.
“Kamu harus bangun jangan tidur terus!” Leon pura-pura memarahinya bersikap normal.
__ADS_1
“Iya ini saya bangun”
Jovita dengan cepat masuk ke kamar mandi dan menganti pakaiannya.
“Di sini tidak ada pintu. Rikko harus tahu ada masalah di sini” Otaknya tidak bisa berpikir.
Kedua penjahat ini, orang profesional maka itu mereka bisa lolos dari penjagaan ketat anak buah Leon, di tubuh kedua wanita itu sudah di pasang sebuah peledak dan tombolnya di tangan penjahat.
Saat mereka masuk yang mengendarai mobilnya pegawai asli, tetapi saat ingin keluar saat itulah keduanya keluar dari bawah Jok dan mengikat kedua pegawai dalam mobil.
Dibawah.
Saat mobil bok berwarna putih itu terparkir di halaman samping,
Anjing pemburu itu tahu kalau ada masalah, ia menggonggong terus menerus kearah mobil. Saat melihat itu Rikko membawa anjing berwarna putih itu kearah mobil. Ia terus menggonggong karena anjing itu bisa mendengar ada suara minta tolong dengan mulut dilakban.
“Ada sesuatu di sini,” ujar Rikko panik.
“Bos berarti dalam bahaya.”Toni dan Iwan berlari ke lantai atas.
Ken menendang pintu mobil bok sampai hancur.
Benar saja, dua orang pria diikat dengan mulut dilakban tanpa pakaian, karena pakaian seragam keduanya diambil para penjahat.
“Bos dalam bahaya,” ujar Ken berlari ke atas menenteng senjata.
Salah seorang penjahat itu melirik kebawah menyadari penyamaran mereka ketahuan, tadi niatnya akan membakar rumah Leon seperti yang ia lakukan di Villa mereka saat di jogja.
Tetapi seorang dari mereka langsung menyandera Jovita dengan pisau dileher
Dijadikan alat untuk melarikan diri karena rencana mereka gagal.
Toni, Iwan dan Ken tiba di sana.
“Jangan bergerak kalau tidak leher wanita akan putus,”ucapnya mata melirik kanan -kiri karena anak buah Leon mengarahkan senjata kearahnya menatapnya dengan tajam, mereka semua dibekali dengan senjata.
Zidan yang melihat bosnya dan Jovita dalam bahaya, ia mengambil satu posisi untuk membidik para penjahat,
Baru juga mereka ingin menyergap tetapi salah satu dari mereka mengarahkan Pistol ke kepala Leon dan pisau ke leher Jovita, untungnya Leon membangunkan Jovita, untuk berpakaian, maka saat Jovita jadi sandera, ia sudah memakai baju.
“Jangan bergerak kalau kalian maju leher wanita ini putus, saya tidak main-main,”ucap untuk kedua kali, dengan wajah ketakutan.
Melihat ketakutan di wajah penjahat tersebut, Leon yakin kalau ia tidak main-main dengan ucapannya.
Leon tidak bisa berbuat apa-apa karena kejadian begitu cepat.
"Mundur biarkan ia lewat,” ujar Leon, ia tidak ingin melukai Jovita, jika ia di tembak ia akan terjatuh pisau di tangannya akan menyayat saraf leher Jovita, maka pertimbangan keselamatan nyawa wanita cantik itu ia memutuskan ia jadi tawanan untuk sementara.
__ADS_1
“Lepaskan wanita itu, kamu bisa membawaku sebagai sandera,” ujar Iwan tidak tega melihat Jovita.
“Tidak, saya mau wanita cantik ini yang jadi sandera, suruh penembak itu, " untuk mundur, jika ia menembak ku wanita ini dan kedua wanita yang di sana akan meledak,” ucapnya menunjukkan tubuhnya yang sudah dipasang peledak.
Kedua wanita pegawai terapis itu menangis ketakutan, karena di tubuh mereka berdua dipasang peledak.
“Tenanglah, saya akan membantu.” Iwan mantan anggota tentara khusus, ia mengerti untuk menjinakkan dan menyingkirkan benda berbahaya itu dari tubuh mereka berdua.
“Zidan, tolong ulur waktu, jika mereka ke luar dari rumah ini, aku yakin nyawa wanita ini akan melayang,” ujar Iwan.
“Baik Bro.”
Zidan mengarahkan senjatanya ke arah ban mobil membuat ban mobil pecah dengan begitu akan banyak waktu untuk Iwan untuk melepaskan benda berbahaya itu dari tubuh kedua wanita malang itu.
Kedua penjahat itu menuruni tangga menyeret Jovita sebagai tawanan, semua anak buah Leon sangat tegang karena mereka tidak bis melakukan apa-apa. Kalau Zidan menembak mereka berdua tubuhnya akan meledak dan otomatis Jovita akan ikut meledak juga.
“Kenapa tidak membawa salah satu dari kami saja, saya akan meletakkan senjataku.” Rikko melakukan penawaran lagi. Ia meletakkan senjatanya di atas tanah dan mengarahkan tangan.
“Saya tidak mau, saya mau wanita ini,” teriaknya marah.
“Baiklah, lalu apa kesepakatannya?” tanya Toni.
Saat diajak mengobrol mengulur waktu, Iwan akhirnya berhasil melepaskan peledak itu dari tubuh kedua pegawai, walau harus melepaskan pakaian mereka di hadapan Iwan.
‘”Berhasil,” ujar Iwan lewat komunikasi di kuping saat kedua penjahat itu ada di bawah ia melempar bahan berbahaya itu ke laut.
Melihat ban mobil itu kempes, lelaki yang menyandera Jovita mengamuk.
“Berikan saya mobil, kalau tidak leher wanita akan potong,” ucapnya menggertak.
Tidak ingin nyawa Jovita dalam bahaya Rikko memberi memberikan mobilnya.
Jovita akhirnya dibawa penjahat sebagai sandera,--
Bersambung ….
-
jANGAN LUPA!!! … VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR AUTOR SEMANGAT
, Makasih, kakak semua”
DAN
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)