
Saat tiba di rumah, Hara bukanya langsung istirahat, ia masih sibuk mengurus bu Atin walau Leon sudah memberi ibunya seorang perawat untuk mengawasi. Tetapi Hara masih mengurus Bu Atin.
“Hara aku sudah memberi ibu seorang perawat, istirahatlah, percayalah mimpi buruk itu tidak ada hubungannya dengan kesehatan, Ibu, "ujar Leon.
“Tapi bagaimana kalau ibu tiba-tiba bertambah sakit dan dia meninggal? sedangkan aku belum melakukan apa-apa untuk ibu?”
“Hara, kematian hanya milik Sang Penguasa Langit, tidak ada yang bisa menolak panggilannya, jadi kita hanya bisa melakukan apa yang terbaik dengan tulus pada orang tua, tetapi kita tidak bisa menolak kematian itu sendiri, "ujar Leon memberi nasihat bijak.
“Tetapi kita bisa selalu bersama mendampinginya, bukan?”
“Tidak, istirahatlah aku akan memberi ibu dua perawat yang penting kamu istirahat.”
Hara memberi perhatian yang lebih untuk bu Atin.
“Hara istirahatlah Nak, ibu sudah tidak apa-apa, jangan khawatir mimpi buruk yang kamu alami tentang ibu, hanya bunga tidur saja, ibu yakin, aku masih akan sehat untuk melihatmu dan Leon bahagia” ucap bu Atin meyakinkan Hara.
“Terimakasih ibu, tapi setidaknya sebagai menantu dan orang yang pernah ibu selamatkan, biarkan aku ikut mengurus ibu.”
Mendengar sikap Hara yang menolak untuk istirahat, Leon menghela napas panjang.
“Hara, kamu kenapa keras kepala, dibawa ke dokter menolak, aku khawatir dengan wajahmu yang terus pucat seperti itu, kamu membuatku khawatir, kenapa kamu takut diperiksa dokter.”
“Tidak, aku hanya takut nanti mereka bilang yang aneh-aneh tentang luka di kepalaku”
“Justru itu Jovita Hara …! Kalau ada yang sakit dan ada yang aneh kita bisa cepat mengobatinya, apa kamu berencana menahannya dan membiarkan dirimu kesakitan?”
“Tidak, aku sudah minum obat yang di beri dokter, kalau aku merasa sakit, aku akan meminum obat.”
“Dari mana kamu tahu takaran obat yang kamu konsumsi kalau kamu sendiri takut untuk periksa?”
Padahal Leon tahu Hara tidak pernah minum obat lagi, bahkan vitamin penyubur rahimnya juga berhenti.
“Jangan khawatir Leon, aku tidak apa-apa.”
“Ah … ada apa dengan kamu? beberapa hari ini hanya bilang tidak apa-apa, tapi tidak mau diajak ke dokter untuk periksa, kamu membuatku tersiksa dengan sikapmu."
Leon semakin hari semakin khawatir dengan sikap Hara yang seakan-akan menolak sehat, terlihat putus asa dan pasrah.
“Hara, istirahatlah kamu membuat suamimu khawatir, "ujar Bu Atin
__ADS_1
Melihat Leon gelisah dan hanya diam, Hara merasa tidak enak hati, dari pada terjadi gencatan senjata, Hara minta izin pada Leon untuk ke rumah keluarganya.
'Lebih baik ke rumah Bibi di sana lebih tenang tidak ada tekanan'
“Hara, apa setiap kali aku mengingatkanmu, kamu akan minta pulang ke rumah keluargamu?” tanya Leon menatapnya dengan tatapan lelah. Lelah dengan bujukan yang dilakukan pada Hara, tetapi pada akhirnya selalu gagal, disinilah Leon benar-benar di beri ujian berat, di tuntut bagaimana mengahadapi sikap Hara susah ditebak.
“Tidak, aku tidak marah, hanya kangen sama Bibi, kangen masakan Bibi dan kangen sama Om Piter.”
Leon menatap dengan tatapan khawatir, ia berpikir kalau Hara mengalami penyakit parah, karena itu ia bersikap tidak biasa.
“Hara… begini. Baiklah aku minta maaf karena memaksa ke dokter tidak ada maksud lain Hara, aku hanya ingin kamu sehat, bukan mengharapkan yang lain. Aku tahu apa yang kamu khawatirkan ...."
“Tidak apa-apa sayang, aku hanya ingin ke rumah Bibi, ingin tidur di kamar dulu, ingin menikmati masakan bibi dan tidur dipelukannya, sama waktu aku kecil, aku rindu belain sebelum tidur, aku hanya sebentar, kalau tidak bisa, memanggil Bibi kesini juga tidak apa-apa, kalau kamu aku khawatir aku yang kesana”
‘Ya, ampun apa yang terjadi, apa dia akan meninggalkanku?’
“Baiklah, aku mau mengantarmu ke rumahmu, tapi kita ke rumah sakit dulu iya, kita periksa apa yang kamu rasakan, kita periksa kesehatanmu, ayolah Hara jangan membuatku merasa takut seperti ini."
“Ah… Leon aku sangat lelah bicara terus menerus, tolonglah aku sudah bilang aku tidak apa-apa.”
Leon terdiam, ada ribuan pertanyaan dan kekhawatiran dalam hatinya, ia yakin kalau Hara sakit parah, karena kemarin saat Hara mandi ia tidak menemukan obat dalam laci. Tetapi ia takut bertanya hal itu pada Hara.
“Baiklah, kalau kamu ingin kerumah orang tuamu, aku akan mengantarmu Hara, nanti aku aku jemput kamu lagi besok.”
Setalah pamit dengan bu Atin Hara menenteng tas jinjing miliknya, meninggalkan rumah Leon, sebelum pergi ia melambai pada Bu Atin, wanita itu terus menatapnya dari teras.
Leon sengaja tidak ingin memakai supir, ia ingin mengantar Hara sendiri saat dalam perjalanan ke rumah keluarga Hara, Leon hanya diam, tidak mengatakan apa-apa. Hanya membayangkan Hara sakit, ia sudah merasa sesak dalam rongga dadanya, seakan-akan ada ribuan jarum yang menyerbu jantungnya.
Leon tidak berani menatap wajahnya kali ini, Hara terlihat sangat pucat bibirnya putih bagai kapas membuatnya sedih saat melihatnya.
“Hara apa kamu ingin melakukan sesuatu?” tanya Leon tanpa menoleh ke samping.
“Tidak, aku hanya ingin bertemu bibi, hanya kangen saja."
“Kamu pernah bilang ingin makan eskrim di pinggir jalan apa kamu ingin mencobanya?”
“Kali ini aku tidak ingin makan apa-apa, hanya ingin tidur kepalaku sangat pusing,” ucap Hara dengan tatapan mata sendu.
Hara menolak semua apa yang di katakan Leon. Leon menghentikan mobilnya di pinggir jalan, kali ini ia memberanikan diri menatap wajah Hara, menyentuh pipih yang terlihat pucat itu.
__ADS_1
“Hara, katakan apapun akan aku lakukan, tetapi jangan meminta kamu pergi dariku, karena hal itu yang paling aku takutkan dalam hidupku,” ucap Leon dengan mata berkaca-kaca. Ada luka dan kesedihan dan ketakutan dalam tatapan mata bermanik hitam pekat itu.
“Aku tidak apa-apa Leon, hanya ingin pergi ke rumah bibi saja, besok aku akan kembali padamu dengan keadaan utuh,” ucap Hara menguntaikan senyuman kecil yang nyaris tidak terlihat.
“Hara. Kamu tahu, memilikimu ada di sisiku satu anugrah terindah dalam hidupku, tetaplah bersamaku Hara jangan berpikir meninggalkanku.”
“Apa kalau aku berada di sisi kamu akan memberikan kata-kata cinta itu untuk setiap saat?”
“Aku berjanji Hara, aku akan mencintaimu setiap saat selama aku masih bernafas,” ucap Leon berucap apa adanya.
“Walau aku sakit - sakitan dan tidak bisa memberimu anak? "
" Iya"jawab Leon yakin
"Terimakasih Leon, aku sedikit lega."
Akhirnya mobil tiba di rumah Piter, Leon hanya mengantar duduk sebentar, lalu pamit pulang.
Mobil itu melaju perlahan meninggalkan Hara yang masih menatapnya dengan tatapan hangat, Leon melihatnya dari balik kaca spion mobilnya.
"Maaf Leon, jangan marah, aku akan kontrol dengan Bibi saja, nanti apapun hasilnya, akan aku kabarin padamu."
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)