
Masih di Kota Yogjakarta.
Saat Damian telah menyelamatkan Jovita, Leon masih bekerja keras mencari.
Leon meminta bantuan Kinan melihat cctv di jalan, Kinan yang dipanggil si manusia computer lagi berkutat di computernya, entah bagaimana caranya ia melakukannya, ia hanya meminta angka yang tertera di cctv di pinggir jalan, lalu Kinan bisa melihat isi rekaman cctv di monitornya computernya , lalu mengirimkan isi rekaman pada Leon.
“Bos, saya sudah mengirimnya”
“Apa yang dia lakukan?” Leon menatap tajam pada layar ponselnya, melihat Jovita malah mengikuti pria yang ingin membunuhnya.
“Bos, sepertinya Non Hara mencari tahu siapa pria bertato itu, orang yang membunuh keluarganya,” ujar Kinan di ujung telepon.
“Dasar gadis bodoh! Keras kepala saat saya matian-matian ingin menyelamatkanmu kenapa kamu malah ingin menyerahkan hidupmu pada penjahat itu. Gadis Bodoh?” Teriak Leon marah.
Wajah Leon sangat cemas mencari Jovita.
“Di mana posisinya ?”
“Club Sinar “
“Baik ayo kita sana!”
“Bos, club itu milik …. Ketua”
“Benarkah?”
Leon berhenti sejenak, mendengar nama sang ketua akan membuatnya menarik napas panjang. Sang ketua yang mereka maksud seorang Kepala Mafia senior, yang banyak berjasa dalam hidup Leon dan menghantarkan dirinya bisa sehebat saat itu.
“Tidak apa-apa,nyawa gadis bodoh itu dalam bahaya” Leon bertindak nekat.
“Ketua akan marah jika kita membuat keributan di wilayahnya,” ujar Rikko mengingatkan.
“Kita bukan mencari ribut Rikko. Kita belum tahu siapa orang yang ingin melenyapkan Jovita, saat saya ingin mencari pelakunya, gadis bodoh ini malah mengacaukan semuanya”
Rikko menarik napas panjang, dalam dunia mereka hal itulah yang tidak boleh terjadi, membuat keributan di wilayah orang lain sama cara mencari masalah besar.
Club Sinar, milik orang yang mereka panggil Ketua, club ini, salah satu clup malam yang terselubung di kota itu, dari luarnya tampak hanya sebuah club biasa .
Namun, saat masuk kedalam di lantai paling bawah, itulah sarang segala dosa berasal, di sana akan di temukan sebuah tempat casino yang paling besar dan belum pernah bisa tersentuh oleh polisi, dan di tengah kasino sebuah panggung yang menyuguhkan tarian erotis wanita-wanita cantik tanpa busana, yang bebas mereka nikmati di tempat itu juga.
Pemiliknya sangat sadis, jika ada keributan di clupnya, lelaki yang bernama Bokoy atau yang mereka panggil ketua itu, tidak segan-segan menyiksa yang membuat keributan itu, dengan cara yang sangat sadis salah satunya; memotong jari-jari tangannya, lalu disuruh dimakan sendiri.
Mafia dari kalangan atas sampai bawah mengenalnya dan takut padanya.
Boleh di bilang sifat kejam Leon belajar dari sang ketua, karena dia gurunya, bukankah di bilang ; Guru kencing berdiri, maka murid kencing berlari. Leon belajar banyak dari gurunya tersebut.
Saat Leon tiba di pintu masuk, kedua penjaga yang mengusir Jovita dengan kasar. Namun, memperlakukan Leon dengan cara yang sangat berbeda.
“Bos Naga, mari … mari Bos silahkan,” ujarnya dengan sangat hormat.
Leon masuk ke dalam club mencari pria yang mengincar Jovita, Ia juga sudah meminta Rikko berkeliling mencari. Namun mereka tidak menemukanya. Lelaki itu melarikan diri, saat melihat Leon, karena itulah Leon yakin orang yang membunuh keluarga Jovita, dan yang saat ini mengincar Jovita, bukan orang sembarangan.
“Bos, tidak ada di sini, sebaiknya kita keluar sebelum ketua tahu kita datang ke sini”
“Sial! Saya ingin tahu siapa yang menyuruh melakukan itu”
“Bos, mari pergi.” Rikko berjalan keluar, lelaki tampan itu tidak ingin ada keributan di dalam clup.
Rikko tidak ingin Leon mendapat masalah , karena mereka datang ke markas Singa, seseorang yang lebih kuat dari Leon.
__ADS_1
Keluar dari club.
Saat diluar tiba-tiba Damian mengirim pesan padanya.
[Tidak usah di cari, dia bersamaku] Mengirim foto Jovita sedang makan bersamanya.
“Brengsek kamu Damian!”
Leon menelepon, tetapi sengaja tidak diangkat agar Leon panik.
‘Aku akan membuatmu terbakar Bos Naga’ujar Damian dalam hati, ia tertawa sinis
[Angkat telepon mu jangan membuat masalah] Leon mengirim pesan, karena Damian tidak mengangkatnya.
Damian semakin membuatnya panas.
Lihat foto-foto kami. Apa ada yang tertekan di sini .... Lihat betapa bahagianya wanita cantik ini saat bersamaku.
Apa dia pernah tertawa bahagia saat tinggal bersamamu? Yang ada dia menangis dan ketakutan kamu buat.
Dia senang bersamaku, lihat dia tertawa bahagia, aku tidak menculiknya itu kemauan sendiri saat aku ajak] Balas Damian, ia mengirim foto jovita yang tertawa saat di apartemennya.
[Katakan kamu di mana?]
Leon menelepon Damian kembali dan Damian mengangkat.
“Katakan kamu dimana, Bajingan!”
“Untuk apa Bos? Aku di hotel,"Ucapnya berbohong.
“Aku bisa menjaganya Bos Naga, tenanglah!”
“Jangan libatkan wanita dalam masalah kita, dia tidak ada hubungan dengan kamu dan saya,” ujar Leon dengan suara meninggi.
“Dia tidak mau bersamamu Pak Naga, makanya ia melarikan diri dari kamu, kan? Apa kamu mau lihat?”
Damian benar-benar membuat Leon marah, ia menggantikan mode panggilannya teleponnya ke mode video, Jovita tidak tahu kalau yang menelepon itu Leon.
“Non Hara. Apa kamu mau aku antar ke rumah Bos Leon?” Tanya Damian mengarahkan teleponnya diam-diam.
“Jangan! aku sudah capek-capek kabur dari sana …. masa diantar lagi ke sana," balas Jovita.
“Hanya dia yang bisa melindungi mu”
“ Tidak perlu. Saya tidak membutuhkan orang lain, utuk menolong diriku, aku bisa menjaga diriku sendiri," ujar Jovita lagi.
“Apa kamu yakin akan meninggalkan Leon”
“Jangan membahas lelaki kejam itu padaku saat ini Pak Damian,” ujar Jovita tanpa ia sadari Leon melihatnya.
“Terus bagaimana?” Tanya Damian lagi.
“Iya, aku bisa mandiri Pak Damian," ujar Jovita berdiri di balkon.
“Oh Ok, tunggu bentar iya ada panggilan.” Ia menjauh dari Jovita.
Damian mengalihkan panggilan telepon ke panggilan biasa, “Bagaimana Bos? Apa kamu berpikir aku yang memaksanya,” ucap Damian tertawa sinis.
__ADS_1
“Kamu tidak akan bisa melindunginya keparat …! nyawanya dalam bahaya, ini bukan tentang perasaaan suka ataupun cinta seperti yang kamu pikirkan, saya hanya ingin menjaganya nyawanya, agar wanita itu tidak mati”
“Bos Naga, aku akan menjaganya, mungkin malam ini kami akan menginap di hotel ini” Damian menutup teleponnya dan tidak mengaktifkannya lagi.
Wajah Leon mengeras.
“Saya akan membunuhmu Damian jika terjadi sesuatu yang buruk padanya,” ujar Leon mengepal tangannya dengan kuat .
“Tinggalkan saya di sini,” pinta pada Rikko.
“Baik Bos.” Rikko menjauh tetapi hatinya tidak tenang meninggalkan sang Bos sendirian di luar sendirian.
Ia mengawasi Leon dari kejauhan. Karena ia sadar mereka hidup menggunakan hukum rimba.
Melenyapkan dan di lenyap kan demi semua kekuasaan sudah hal biasa mereka jalani, dan yang paling kuat yang akan berkuasa dan yang lemah akan tunduk pada penguasa, saat ini mereka berada di wilayah Ketua.
Leon berdiri sendirian.
‘Apa kamu begitu membenciku Jovita, saya tidak perduli kamu membenciku , saya hanya ingin menyelamatkanmu’ujar Leon matanya tampak menatap sinis, ia sangat marah mendengar penolakan Jovita tadi.
Ia merogoh kantongnya dan menelepon Kinan.
“Saya ingin kamu melacak lokasi nomor Damian”
“Baik Bos”
Lalu Leon menelepon Iwan dan Toni yang saat itu sudah berada di Jakarta
“Saya ingin kamu datang ke Jogja sekarang dan Iwan siapkan juga orang-orang terbaikmu yang ada di sini”
“Baik Bos,” jawab Iwan.
Mereka berpikir akan ada lagi pertumpahan darah sebentar lagi.
Leon juga meminta ketiga orang-orang Damian dilepaskan, agar mereka bisa mengasi ketiganya.
*
“Bos apa kita harus melakukan sejauh ini, ini bukan wilayah kita,” ujar Rikko.
Rikko
"Saya tidak perduli, ini wilayah siapapun Rikko, saya hanya ingin meyelamatkan wanita keras kepala itu”
“Baiklah Bos,” ujar Rikko menghela napas.
Bersambung...
jangan lupa kasih VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR AUTHORNYA SEMANGAT UP 3 BAB TIAP HARI, Makasih, kakak semua”
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1