Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Tidur Satu Ranjang


__ADS_3

Melihat cincin lamarannya dipakai Hara, Leon merasa tidak adil.


“Tolong jangan menyiksaku  lebih dalam lagi, aku mohon,” ucap leon  dengan rongga dada seperti terbakar dan bahunya, terguncang-guncang tangannya masih memegang gantungan kalung  milik Hara.


Guncangan di dalam dadanya, membuat kepala Leon semakin terasa berdenyut hebat, ia mengusap matanya dengan kasar,  tubuhnya tiba-tiba tidak bertenaga.


Matanya semakin berat pengaruh obat sakit kepala yang ia minum, Dengan sisa tenaga, ia meletakkan kapala Hara di atas bantal dan Leon juga membaringkan tubuhnya di samping Hara, tangannya merangkul pinggang Hara, matanya masih menatap wajah Hara yang tertidur pulas terlihat sangat tenang seperti bayi, ia  tidur tanpa beban.


“Hara apa yang harus aku lakukan,  tolong beri tahu aku,”ujar  Leon, matanya semakin mengecil pada akhirnya tertidur  dengan tangan merangkul tubuh Hara, tidur satu bantal dan  berbagi selimut tidak pernah ada dalam pikiran Leon  selama ini, karena di pikirannya Hara sudah milik orang lain, dan Piter selalu tembok penghalang paling kuat di antara mereka berdua.


Tapi saat melihat cincin yang  pernah ia berikan pada Hara, masih disimpan, yakin, kalau Hara tunangannya.


*


Pukul 03:00


ICHIRO HARA Hotel,


Hara menggeliat, merasakan hal yang aneh, ada beban di atas perutnya, melihat ke bawah sebuah tangan ber otot besar merangkul tubuhnya, kesadarannya belum pulih


‘Tangan …? Tangan siapa ini?’Hara ingin berteriak, untung matanya menyadari kalau ia bukan di kamarnya,  matanya melihat sekeliling mencari tahu keberadaan tubuhnya saat ini


‘Aku berada di mana? Iya ampun otakku memang makin payah belakangan ini’ ucap hara memaki dirinya.


Matanya menoleh kesamping. “ Pa-pak Bos? iya ampun apa yang terjadi?” Dengan hati-hati Hara mengangkat tangan Leon dari tubuhnya menyingkirkan selimut dengan sikap pelan.


Mulutnya hampir berteriak saat melihat pakaian kemeja yang ia kenakan, karena hampir memperlihatkan bagian intinya, ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


“Iya ampun, apa kami melakukan hal yang tidak seharusnya tadi. Kenapa aku tidak bisa mengingatnya, apa aku mabuk tadi malam?”


Hara hampir menangis memikirkan hal –hal buruk telah terjadi tadi malam, ia berpikir kalau ia dan Leon telah melakukan hal yang tidak pantas, mencari pakaiannya, tapi pakaian itu terjemur dengan keadaan basah.


“Bagaimana aku pulang dengan pakaian seperti ini? Tidak boleh aku pulang seperti ini, bibi akan curiga"


Ia baru ingat seragam kerja bisa menyelamatkan dirinya saat ini,  ia tidak ingin rekan kerjanya melihatnya  berpakaian seperti itu, bisa-bisa akan  beredar gosip buruk.


Hara  meraih tasnya dan mengambil pakaiannya di jemuran,  terpaksa memakai kembali celananya  yang basah, ia turun, menutup kepalanya degan pakaian basah miliknya,  turun ke ruang ganti di lantai satu,  untungnya sepi, ia terpaksa menggunakan seragam  kerjanya, berpikir belum ada kendaraan umum sepagi itu, Hara masuk keruang istirahat di sebelah ruang loker.


Ingin melanjutkan tidur, karena matanya masih sangat mengantuk, ranjang istirahat   tidak terlalu penuh masih buat untuk tubuhnya,  hanya diisi tiga orang pegawai wanita yang shift malam, bahkan tidak menyadari kehadiran Hara karena mereka tertidur pulas.


Sebelum tidur, Hara mengecek ponselnya, ada beberapa pesan yang di kirim Bi Ina dan Maxell padanya, bertanya kapan pulang, apakah perlu di jemput apa tidak. Tidak ingin keluarganya khawatir, Hara mengirim fotonya yang tidur bersama rekan-rekan kerjanya mengunakan seragam kerja dan membalas pesan Maxell juga.

__ADS_1


[Aku tidur di ruang istirahat bersama rekan kerja, Bi  mungkin langsung lanjut kerja besok]  isi pesan balasan Hara untuk Piter dan Bi Ina.


Piter terbangun saat membaca pesan dan melihat Hara tidur  berdesakan dalam ranjang sempit itu.  Piter tiba-tiba merasa bersalah, karena menyuruh tuan Putri itu bekerja.


“Maafkan aku Hara, aku tidak ingin membuatmu menderita membuatmu bekerja siang malam, cukup sampai di sini bekerja di Hotel Leon.” Ucap Piter ia merasa ada yang aneh malam ini, ia tahu kalau anak buah Leon sengaja memintanya ke luar kota. Ia lelaki yang sangat pintar, Piter terbangun menyalahkan sebatang rokok, ia ingin memikirkan  masa depan Hara dan memikirkan kebahagiannya kedepannya.


                 **


Kring ….


Kring ….


Hara terbangun mendengar ringtone nada memanggil dari ponsel miliknya.


Om Piter calling ….!


 Mengusap layarnya dan membaca nama si pemanggil.


“Iya om! "


“Turunlah, om sudah ada di depan Hotel,” suara Piter menggema di telinga Hara. Ternyata malam itu juga ia langsung terbang dari luar kota.


“Ada apa om, aku masih mengantuk"


Hara turun dari ranjang mengucek-ucek matanya,  saat melihat kanan- kiri ternyata sudah jam tujuh lewat, seperti kebiasaanya, kalau tidak ada yang membangunkannya,  sering sekali bangun kebablasan sampai siang.


“Oh iya ampun, aku sudah terlambat ternyata! " Teriak Hara panik,  ia hanya menggosok gigi dan berlari keluar.


Langkahnya terhenti saat berada di lobby Hotel, ia panik, Leon sedang mengobrol dengan Piter terlihat Leon mengepal  jarinya dengan kuat.


" A-a-apa yang mereka bahas? Apa pak Bos melaporkanku yang tidur bersamanya? Oh, jangan! Oh jangan”


Hara ingin memutar langkahnya,  tapi suara itu menghentikannya.


“Hara!” Panggil Piter.


“Iya Om” kedua lelaki itu menatapnya degan tatapan berbeda.  Piter menatapnya degan hangat sedangkan Leon menatapnya dengan dingin akan ia melarikan diri malam itu.


Bram, zidan, Ken, Hilda  berdiri agak jauh dari kedua orang ini,  sepertinya memberikan mereka berdua waktu mengobrol.


“Hara, apa kamu baru bangun?” tanya Piter. Menjawab pertanyaan dalam hati  Leon juga.

__ADS_1


Sementara Leon tadi,  bangun jam lima pagi, seperti kebiasaanya  bangun setiap hari, melihat Hara tidak tidur di sampingnya lagi , Leon bangun mencarinya di kamar mandi, mencarinya di lobby utama,dengan sikap panik ia mencari ke sudut Hotel, ia takut Hara salah paham padanya  dan melakukan hal nekat itu yang Leon pikirkan,  mulai dari tadi pagi, ia mandi buru-buru meminta Bram, membantunya terus mencari dari jam lima pagi hingga jam tujuh dan akhirnya bertemu Piter. Leon tidak melihat cctv kalau Hara tidur di ruangan istirahat karyawan.


Melihat Piter ada di Hotelnya, Leon mendekatinya.


“Apa yang ingin kamu lakukan pada Hara?”


“Apa yang aku lakukan padanya dan apa yang terjadi padanya, itu bukan urusan kamu, tidak ada hubungannya denganmu, kamu sudah membuangnya dari hidupmu, bukan? Urus saja urusanmu,” ujar  Piter bernada kesal, Leon mengepal tangannya, saat itu juga Hara muncul dari belakang Leon.


Saat ini wajah Hara panik.


“Iya aku baru bangun” jawab Hara merapikan rambutnya panjangnya dengan jari-jari tangannya.


“Ayo, kamu harus serapan menarik tangan Hara, membawanya keluar, meninggalkan Leon yang masih berdiri mematung melihat mereka berdua.


“Om ....ternyata aku sudah terlambat, aku serapanya nanti saja, iya,"ujar Hara berhenti.


“Hara ambil tas kamu, kita pulang,” ucap Piter.


“Kenapa, Om?”


Hara mematung, ia berpikir kalau Leon sudah menceritakan semuanya pada Piter.


“Nanti aku ceritakan di rumah, aku menunggu di mobil,” ucap Piter bernada tegas.


Hara berdiri, merasakan hal  buruk akan terjadi.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Baca juga  cerita yang lain;


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2