Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Siapa yang membakar gedungnya?


__ADS_3

Sejak Leon mengambil alih perusahaan milik ayah Jovita. Masalah mulai berdatangan salah satu, tiba- tiba ada PT menuntut ayahnya yang sudah meninggal. Tuntutan yang di tujukan pada Santosa Kontruksi, yang saat ini yang jadi direkturnya, adalah Leon Wardana.


Dari awal Jovita sudah marah karena Leon mengambil perusahaan ayahnya. Jovita tidak keberatan Leon menempati bangunan kantor ayahnya. Hanya, ia Ingin Leon mengganti nama PT itu dan mendaftarkan nama perusahaan Leon yang baru.


Agar tidak ada sangkut paut dengan keluarganya lagi. Apa yang diinginkan Jovita hal yang wajar, semua anak tidak ingin nama ayahnya di jelek- jelek kan, apalagi disebut penipu.ia


tidak suka. Ia tidak ingin Leon menyentuh hasil karya milik ayahnya.


Maka malam itu, saat Leon menemui Sang ketua, Jovita menemui Rikko .


"Bukankah dia membenci ayah dan menuduhnya pembunuh keluarganya.


Lalu, kenapa mengambil alih perusahaan ayah? Bahkan aku tidak di izinkan bekerja di perusahaan ayahku," ujar Jovita dengan marah.


"Hara, Bos hanya ingin melanjutkannya pekerjaan ayahmu," ujar Toni dan Rikko.


"Jika Pak Leon menghidupkan perusahaan ayah, akan ada lagi masalah nanti. Aku tidak ingin nama ayah diungkit-ungkit orang lain, termasuk mantan pegawainya, biarkan ayahku tenang di kuburan nya"


*


Malam itu setelah pulang dari Bokoy , sepanjang malam Leon tidak bisa tidur, Ia turun dan menemui Rikko.


"Rikko bagaimana hasilnya, apa sudah menemukan pelaku pencuri di kantor? Apa benar itu kerjaan Jovita?"


"Belum Bos, tidak ada satupun camera yang merekam dan tidak ad bukti kalau dia yang mencuri berkas - berkasnya"


"Kenapa belum, Ha? Kenapa belum? Ketua memintaku mengerjakan dengan cepat. Sementara berkas- berkas penting hilang dicuri, lalu saya harus menunggu berapa lama?"


Leon melampiaskannya kekesalannya pada Rikko, yang malam itu dapat giliran jaga.


"Maafkan saya Bos, sepertinya pelakunya seorang yang ahli, tidak meninggalkan jejak sedikitpun."


"Jovita itu orang sangat pintar Rikko, Dia bahkan bisa menemukan semua camera pengawas di kamarnya, dan sekarang saya tidak bisa melihat dia di kamarnya," ucap Leon ia sangat marah, karena Jovita mematikan semua camera pengawas di kamarnya, membuat Leon sangat marah.


" Saya yakin Jovita dan orang membantunya, sudah menemukan petunjuk pembunuh keluarganya dan saya yakin dia akan semakin bertindak nekat"


"Bos, kita tidak bisa menuduh Jovita pelakunya, karena kita tidak ada bukti


yang mengarah padanya. Ia meminjam motor Rudi malam itu untuk membeli obat. Semua benar dan ada buktinya." Rikko membela Jovita.


" Dia pasti ada teman Rikko. Awasi saja Jovita jangan sampai dia membuat dirinya terluka lagi" Leon kembali ke kamarnya.


Piter memang pintar, apa yang ia lakukan malam itu, tidak ada yang tahu. Piter menghapus rekaman cctv sepanjang jalan dan di apartemen, ia tidak ingin Jovita dapat masalah.


**


Hingga  pagi tiba,  suara ketukan pintu membangunkannya Leon, ia bisa tidur berkat obat penenang.


Leon membuka matanya dan mengerjapkan matanya untuk memulihkan kesadarannya.

__ADS_1


Leon memakai bajunya dan menyuruh si pengetuk pintu masuk.


Iwan terlihat panik, berdiri di depan pintu.


“Ada apa?”


“Bos harus melihat ini." Ia menunjukkan rumah kebakaran


Rumah keluarga Jovita yang diambil alih Leon terbakar, dan sepertinya di bakar, bukan hanya itu saja, Perusaan milik keluarga Jovita  yang sekarang diambil Leon semuanya ludes tak bersisa.


Leon  menatap dengan tajam,


“Siapa yang melakukanya?”


“Tidak ada jejak sedikitpun Bos, sepertinya orang yang melakukanya orang sudah paham dengan selak- beluk bangunannya Bos,”


Ini bukan masalah kerugian materi yang Leon pikirkan, tapi ia  terusik juga dengan pelakunya yang mengusiknya beberapa minggu ini.


“Kamu boleh turun,”


“Baik Bos,”


"Aku sudah tahu, kalau kamu pelakunya." Leon ingin ke kamar Jovita, lagi- lagi kamar itu di kunci dari dalam.


“Bi bawakan saya kunci kamar Jovita sekarang,” pinta Leon marah.


“Nanti bibi akan tahu sendiri” Bi Atin mengikuti Leon dari belakang,


Dengan cepat Leon menempelkan Card ke ke daun pintu.


Kreak


Denyit pintu terbuka, tanpa permisi tanpa menyapa Leon dengan cepat menarik selimut di atas gundukan bantal guling.


Jovita tertidur sangat pulas di bawah selimut,  ia meletakkan bantal  guling di sisi kanan dan kiri membuat bentuknya jadi seperti hanya bantal yang diselimuti.


Tiba-tiba ia terbangun dengan mata memerah, ia mengerjapkan mata bulat itu, menatap Leon dengan bingung.


“Ada apa?”


" Saya mengetuk pintu kamarmu kamu tidak menjawab," Leon sangat marah pada semua, karena beberapa hari belakangan ini, ada banyak penyusup yang mengusiknya. Salah satunya Jovita.


Jovita terbangun hanya mengenakan kaca mata kuda yang menutup bagian dadanya, ia duduk setengah sadar.


Bi Atin merasa tidak enak karena menganggu tidur Jovita.


“Bibi mau ke dapur dulu Pak" Leon mengangguk kecil.


“Kamu yakin tidak kemana-mana  sejak tadi malam? Tangan Leon melemparkan kain  untuk menutupi bagian dadanya yang terpampang.  “Tutupi tubuhmu, ini masih pagi-pagi , tutupi kalau kamu tidak mau berurusan dengan hal lain"

__ADS_1


Jovita menarik  selimut menutupi tubuh dan berbaring lagi" Tidak Pak"


"Jovita Hara bicaralah yang jujur padaku"


“Tidak Pak"


“Hei, kamu tidak sopan orang lagi bicara kamu cuekin,” ujar Leon, emosinya mulai naik.


Tapi ia mendiamkan Leon hingga lelaki itu diam dan keluar sendiri.


"Saya yakin kalau Jovita ada hubungannya dengan semua yang terjadi."Leon memijit batang lehernya.


Sementara Jovita setelah mandi ia ke dapur.


“ Bi punya obat luka gak?” Tanya Jovita setelah mendudukkan panggulnya di kursi.


“Siapa yang luka Non,”


“Kakiku sakit, terjatuh di kamar mandi”


“Ini Non." Seorang asisten rumah tangga baru, memberikan obat dengan cepat ke tangan Jovita tatapan mata memberi isyarat.


“Makasi Bi"


Saat ia mengobati luka di kakinya, Bi Atin membawa serapan yang tidak biasa untuknya, segelas  air hangat dan bubur yang di buat langsung sama bi Atin.


“Ini makan Non, ini sehat untuk kamu.”


“Wah bubur, aku tidak suka bubur, aku geli memakannya.” Tolak Jovita mendorong mangkok.


“Ini bagus untuk kesehatan kamu Non.” Kata Bi Atin menatap dengan tatapan dalam.


“Aku sehat kok Bi,” kata Jovita,


“Sini kita bicara membawa Jovita ke sudut ruangan, Leon  yang mencurigai Jovita mengawasi semua pergerakannya. Saat Bi atin menariknya ke taman belakang, ia melihatnya dari atas.


“Katakan pada Bibi apa yang terjadi padamu Nak?"


Wajah Jovita memerah bagai tomat rebus, ia terlihat panik dan tiba-tiba pucat.


“Maafkan aku Bi, jangan memberitahukannya, aku salah aku ceroboh, aku tahu kalau ia sampai tahu ia akan meleyapkanku.”


“Jadi kamu sudah tahu? Kapan kamu?”


“Tadi malam Bi, waktu aku pinjam ponsel bibi, maafkan aku, aku akan mengurusnya,” Kata Jovita mengatupkan kedua telapak tangannya, di depan dada tanda memohon.


“Ia sudah memperingatkan ku, tolong jangan memberitahukannya, apapun yang terjadi Bi, aku mohon, aku salah. Aku hanya ingin fokus mencari kebenaran untuk keluargaku," ucap Jovita.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2