
Karena Hara tidak lagi datang ke hotel, Leon sangat khawatir, Leon mendatangi rumah Hara malam itu untuk yang kedua kalinya menunggu dalam mobil membuat hampir ketiduran.
Saat matanya baru terpejam sebentar, seseorang membuka pintu mobilnya dan mengarahkan parang panjang padanya.
Ini namanya berandalan bertemu dengan Bos mafia. Beberapa preman ternyata mengawasi mobil mewah Leon yang terparkir di tempat gelap tidak jauh dari rumah lama Hara, daerah itu emang rawan begal saat malam.
Leon tidak merasa takut secuil pun, walau di depan matanya diarahkan badik, parang panjang dan balok besar, ia keluar dari mobil dan bersandar di depan mobilnya, lalu menggosok-gosok hidungnya dan menyalakan sebatang rokok.
“Dasar manusia sampah,” umpat Leon kesal.
“Apa lu bilang, lu kagak takut ame kite-kite,” ujar seorang yang jalannya mulai sempoyongan dan bicaranya sudah mulai sedikit ngawur.
“Dengar kalau kalian begal lebih baik cari mangsa lain, menyingkirlah. Saya tidak lagi mood untuk bermain- main, kalian itu .... terlalu kecil untuk aku jadikan mainan,” ucap Leon dengan gayanya yang angkuh.
“Sombong benar ini orang, sudah bosan hidup lu iya, lemparkan dompet dan ponsel lu kesini!” ucap salah satu dari keempat orang yang menjulurkan badik padanya.
Leon malah bersandar santai di mobilnya, ia melihat keempat lelaki muda itu, mengingatkannya pada dirinya yang dulu.
“Apa kalian ingin merokok?” Leon terlihat sangat santai.
“Kami tidak butuh rokok, gue ingin nyawa lu,” bentak seorang yang lebih tua dari keempat orang tersebut.
“Carilah pekerjaan yang lain yang bisa kalian banggakan suatu saat nanti, supaya tidak menyesal ,” ucap Leon.
“Hei, monyet lu! berhenti sok menasehati, sekarang lu pilih, nyawa apa harta lu?”
“Saya juga ingin bilang. Kalian pergi baik-baik apa babak belur dulu?” Tanya Leon, gayanya sangat tenang dan santui.
“Kurang ajar ini orang. Hajaaaar!”
Balok diarahkan ke Leon, lalu ia tangkis, tubuhnya tidak bergerak hanya tangan, ia tarik balok itu dari tangannya dan di tendang pemiliknya, kini balok kayu berpindah ke tangannya.
Buk ... Bak ...
Leon menghajar tubuh mereka dengan balok,
Mereka hal kecil untuk Leon, hanya menggunakan balok kayu itu, sebagai alat, ke empatnya orang itu, babak belur di buatnya.
“Saya sudah bilang, pergi baik-baik, tapi kalian tidak mau mendengar!!” Leon menghajar lagi . "Jangan muncul lagi di hadapanku kapanpun, jika itu terjadi, percayalah kepala dari badanmu akan terlepas.
Leon menghajar para berandalan itu sampai babak belur, untung Leon sedang tidak bersemangat, karena pikirannya sedang terganggu karena Jovita menghilang, kalau biasanya ia menghajar orang sampai kehilangan nyawa .
Leon meninggalkan para berandalan, meringis kesakitan, Leon menghubungi polisi, membuat laporan kalau ia menghajar empat orang dan mereka terluka parah.
__ADS_1
Kejadiannya berlangsung sangat cepat, ia menghidupkan mesin mobilnya dan berhenti sekali lagi di depan rumah Jovita, ia mengintip, masih tetap sama, tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam rumah.
“Ah gila ... ternyata aku terluka, aiiis ... dasar berandalan menyerang saat tidur," ujar Leon meringis ia baru menyadari kalau ia terluka.
Pundaknya ternyata terkena badik, ia baru terasa sakit saat ia menyadarkan tubuhnya di jok mobil , saat ia melihat kemeja warna abu-abu yang ia kenakan, ternyata sudah di penuhi noda berwarna merah.
Leon masih menahan rasa sakit, mengarahkan mobilnya kearah rumah sakit terdekat, ia melakukannya sendiri , kalau biasanya Leon selalu ditemani bodyguardnya, kalau saat ini ia melakukan sendiri.
Hingga tiba di rumah sakit, Leon mendapat beberapa jahitan di pundaknya, ia beruntung tidak mengenai lehernya.
“Apa bapak hanya sendiri?”
“Iya”
“Apa yang terjadi pak?"
“Saya bertemu dengan berandalan di jalan”
“Bapak masih beruntung, karena tidak melukai leher bapak, kami akan menjahit, lukanya lumayan dalam dan lebar, apa tidak merasa sakit? Sepertinya bapak biasa saja” Leon hanya senyum sekilas, Dokter melirik suster yang membantunya, kalau biasanya pasien yang mereka tangani dengan luka separah itu, sudah meringis kesakitan, kalau tidak menjerit-jerit. Tapi Leon tidak menghiraukannya, ia biarkan Dokter bekerja sendiri, ia sibuk menatap layar ponselnya dengan satu tangannya.
Bagi leon luka seperti itu sudah seperti makanan sehari-hari untuknya dulu, jika di hitung luka yang pernah ada di badannya mungkin sudah penuh.Tangannya masih mencoba menghubungi nomor yang diberikan Hilda padanya nomor Bi Ina tapi sayang, nomor itu tidak aktif.
'Kamu kemana Jovita Hara, gara-gara mencari kamu aku seperti ini' Leon membatin.
Bi Ina membawa Jovita dari Hotel kemarin ke villa, Bu Ina merasa sedih saat tahu yang memberi uang adalah Leon pemilik hotel.
Bagaimana ia tidak merasa sedih, Leon yang dulu sangat mencintai Jovita, tapi saat wanita cantik itu buta Leon meninggalkannya, padahal dulu Leon matia mati-matian memperjuangkannya paling tidak bisa melihat Jovita sedih, apalagi terluka.
Karena kemarin mendung mereke memutuskan menginap di villa ziarah besok pagi.
*
Saat pagi tiba, Bu Ina masih terlihat semakin sedih , mereka akan ziarah pagi itu.
"Kemana perasaan cinta yang dulu?" Gumam Bi Ina
“Tunggu di dalam mobil Non, Bibi mau ada urusan sebentar, kamu boleh tiduran,” ucap Bi Erna membuka pintu mobil dan ia keluar.
Suaminya juga mengikuti Bi Ina keluar.
“Ada apa Bu kok sedih bangat kelihatanya,”
“Aku sangat sedih Pak.. melihat memikirkan perlakuan Tuan Leon pada Jovita, kok tega gitu ia mengacuhkan Non Hara, ternyata selama di sana, dia pura- pura tidak mengenalnya, aku sedih melihatnya , kasihan sekali Jovita iya Allah.” Bi Ina menangis memegang dadanya.
__ADS_1
“Sudah Bu, biarkan waktu yang menjawabnya,” ucap Pak Darma, tapi ia menatap ke dalam mobil, melihat Jovita memejamkan mata, terlihat tenang dan damai saat tidur, hati lelaki itu juga merasakan kesedihan yang sama seperti istrinya.
“Kalau Bapak sama Ibu masih hidup, Non Jovita tidak akan merasakan sedikitpun kesusahan. Semasa hidup orang tuanya, non Jovita di perlakukan bak seorang Putri, tapi saat mereka tiada, Jovita sengsara," ujar Pak Damar
“Maka itu pak, ayo kita ziarah ke makam Ibu sama Bapak lagi , Ibu ingin mengungkapkan semuanya di hadapan mereka, ibu juga ingin minta maaf karena tidak bisa memberi kebahagian pada Non Jovita,” kata Bi Ina pada suaminya dengan isak tangis.
“Baiklah, ayo,” kata Lelaki itu menghidupkan mesin mobilnya mengarahkan mobil ke pemakaman umum di daerah Bogor.
Saat tiba di pemakaman Jovita belum bangun, kesempatan itu di maafkan Bi Ina menangis dan mengutarakan semua yang ada dalam hatinya, di kuburan orang tua Jovita, saat ia menangis dan curhat, tiba-tiba Piter menelepon.
“Ada apa Bi suaranya aneh, bibi habis menangis?”
“Piter… Bibi minta maaf”
“Ada apa Bi, apa Jovita sakit? Jangan menangis katakan ada apa?” Piter panik
Dengan isak tangis Bi Ina menceritakan semua pada Piter dan Vikky, tangan Piter terkepal kuat, kesalahpahaman pada Leon semakin memuncak, terkadang apa yang dilihat mata belum tentu itu sebuah kebenaran, tapi sakit hati dan rasa kecewa sering sekali mengundang dendam dan pembalasan.
“Maafkan aku Mas Vikky. Bibi hanya ingin Non Jovita bahagia, bibi tidak tahu kalau itu Hotel milik Leon”
“Tidak apa-apa Bi, tinggallah malam ini di Villa yang di puncak lagi, tenangkan pikiran Bibi, jangan menangis lagi, semua akan baik-baik saja, lelaki angkuh itu akan menerima ganjaran dari kesombongannya nanti, aku sudah bicara dengan temanku yang dokter, kita sepakat membawa Non Hara mendapat pengobatan ke luar negeri"
" Baiklah"
Piter dan Vikki telah sepakat akan membawa Jovita ke luar negeri .
Bersambung
KAKAK TERSAYANG JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing
__ADS_1