Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Hanya Ingin Sebuah Pengakuan Darinya


__ADS_3

Hari yang  menggemparkan itu  akhirnya berlalu juga,


Okan tidak bersikap posesif lagi padanya,  karena beberapa hari ini   Hara  berada di rumah ia habiskan bersama kedua anak-anaknya,  ia tidak pernah meninggalkan kedua bocah kembar itu, tetapi ada yang terkena imbasnya, Leon yang terabaikan.


Karena Leon tidak mau jujur pada Hara maka di juga dapat pelajaran. Malam tiba,  Leon tidur sendiri di kamar,  sedangkan Okan  meminta Hara tidur bersama mereka , Hara juga tidak keberatan karena Leon masih diam.


Sudah beberapa minggu sejak kejadian itu.


Saat pagi  tiba,  Hara terlihat duduk melamun tidak  bersemangat, ia menemani si kembar bermain di taman, Hara  beberapa hari ini  Hara tidak pernah terlibat pembicaraan dengan Leon, melihat sikap Hara yang tiba-tiba diam padanya, Leon Merasa bersalah.


“Aku bosan begini terus,” ucap Hara, ia mengusap layar ponselnya matanya menatap fokus ke layar ponsel.


Pagi itu juga  Leon   baru selesai serapan, bahkan  saat serapan juga Leon tidak bersamanya  beberapa hari ini ia serapan sendiri.


Semua orang menyadari ada yang berbeda dengan Leon,  ia lebih banyak diam saat ia sudah  kembali ke rumah’


Melihat Hara duduk  melamun, Leon menghembuskan napas berat.


‘Apa yang harus aku lakukan padanya’ Leon gelisah.


Leon memberanikan diri untuk duduk di samping Hara,   wanita berhidung mangir itu hanya menoleh sekilas dan  ia kembali menatap kearah anak-anaknya yang  asyik bermain air di kolam.


Hara tidak berani  beranjak dari tempat duduknya, kalau ia melakukan hal itu maka Okan akan  bertingkah seperti  beberapa hari yang lalu.


“Apa kamu marah padaku?” tanya Leon melirik Hara.


Hara menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Leon. Ia tidak ingin berbohong tetapi ia  tidak ingin  ada keributan lagi.


“Aku tidak marah, justru kamu yang selalu diam,” ujar Hara.


“Sayang, biarkan dulu seperti ini tolong jangan mendesak ku."


Hara ingin mendengar langsung dari Leon , tetapi sepertinya masih enggan  untuk bicara padanya, padahal ia sudah beberapa hari ia menunggu ,  akhirnya kesabaran Hara  juga ada batasnya.


‘Bukan hanya kamu merasa terluka Leon, aku juga merasa marah geram, benci pada mereka, tetapi tidak bisa kamu berbagi kesedihan denganku?’ Hara menghela napas.


“Baiklah mungkin aku yang harus memperbaiki diri, aku bukan wanita yang sempurna untukmu,” ujar Hara.


“Memperbaiki diri untuk apa?  bagiku kamu sudah cukup sempurna, Hara,” ujar leon.


“Tidak  ada yang sempurna di dunia ini, manusia juga  terkadang mau berubah  atau kadang  ada juga tipe orang yang tidak mau berubah,” ucap Hara.


Leon diam, kata-kata Hara secara tidak langsung seakan-akan di tunjukan padanya.


“Apa yang kamu maksud aku?” raut wajah Leon berubah.


“Tidak, aku tidak mengomentari mu Leon, begini saja, kalau kamu tidak mau berbagi kesedihan dan berbagi masalah padaku, biarkan saja aku bekerja , aku butuh kegiatan. Aku  memutuskan, aku ingin mengelola  gedung senam ibu,   aku ingin terlibat di sana,  aku juga harus cari kegiatan dan mungkin harus punya penghasilan sendiri.”


“Hara,  kita sudah membahasnya,  bukan?”

__ADS_1


“Iya, bukankah aku bilang banyak manusia yang berubah bahkan mengingkari janji, kan, sama seperti aku, aku  butuh kesibukan.”


“Bukan kita sudah sepakat kalau kamu akan fokus mengurus anak dan mengurus rumah tangga kita?”


Tiba-tiba Hara menatapnya dengan tatapan sinis ia berucap dalam benaknya;


‘Bukan kamu juga  sudah berjanji padaku, kalau kamu akan terus terang  dan selalu terbuka untukku? Tetapi nyatanya mana? kamu tidak melakukanya’ kan’


“Hara ada apa? kenapa kamu menatapku seperti itu?”


“Leon, dengar … aku ingin seperti wanita yang lainya, punya kesibukan punya acara, jalan-jalan."


“Apaa? Bukankah kamu bilang bahagia selama ini?”


“Iya aku bahagia."


“Tapi kenapa berubah?” Tanya Leon


“Aku bosan.”


Hara meninggalkan Leon yang masih duduk dengan bingung, ia sangat  takut melihat sikap Hara, ia takut istrinya meninggalkannya.


Hara melakukan apa yang jadi keinginannya,  tetapi ini keinginan yang  membuat Leon ketakutan, sikap Hara sungguh membuatnya  menderita .


Belum juga permintaanya ingin bekerja di pusat senam milik ibunya, Hara kembali membuat permintaan yang membuat Leon menggila.


Hara  ingin jalan-jalan ke Kalimantan , ingin mengambil barang milik ibunya yang pernah ia tinggalkan di sana.


“Hara?” Wajah Leon kaget.


Hara  benar-benar dipuncak kemarahannya , ia sudah  kehilangan kesabaran, ia sudah berhari-hari memberi tanda untuk Leon untuk menceritakan tentang semua yang terjadi.


"Aku punya batas kesabaran Leon, bukannya kamu bilang dalam rumah tangga harus ada kejujuran, kamu menuntut ku jujur, tetapi kamu sendiri tidak jujur."


"Sayang .... aku akan ceritakan semuanya, tetapi bukan sekarang beri aku sedikit waktu."


"Baiklah terserah kamu saja," ujar Hara.


Tiba - tiba ponselnya berdering, dari seorang pria yang ia minta menyelidiki keluarga Kaila.


"Halo" Hara meninggalkan Leon.


Melihat Hara menelepon dan menghindar darinya wajah Leon takut.


"Hara menelepon siapa, apa itu pria? Kenapa dia menghindar? Apa dia ingin membalas ku? Leon mengawasi setiap gerak gerik Hara.


" Baiklah laporkan semua apa yang kamu ketahui tentangnya,"ujar Hara.


Ia duduk di dekat kolam renang, kemarahan Hara pada Leon membuatnya seperti kehilangan semangat.

__ADS_1


" Bagaimana aku menceritakan hal yang memalukan ini padamu Hara, "ujar Leon mengusap kepala dengan kasar.


Saat  Leon duduk,  tiba-tiba Bimo datang  melapor.


“Ada perkembangan,  apa?” tanya Leon dengan wajah  tidak bersemangat.


“Besok sidang pertama akan di gelar, pengacara bilang prosesnya dipercepat, karena buktikan dan saksi komplit ,  saya dan pengacara  sudah bertemu  pak hakim  seperti yang bos katakan , responnya bagus, ia juga sudah menerima koper yang  kita berikan.”


“Bagus, aku ingin kali ini wanita itu membusuk di penjara seumur hidupnya,” ujar Leon geram.


“Baik Bos.”


Bimo masih berdiri dengan ragu-ragu, ia ingin mengatakan sesuatu tetapi ia merasa takut.


“Katakan apa yang ingin kamu katakan, "pungkas Leon.


“Itu Bos … Non Hara sebenarnya sudah  menemui polisi.”


“Apaa? Polisi?  Untuk apa?”Wajah Leon panik, ia berpikir kalau Hara sudah mengetahui semuanya.


“Non Hara katanya bertanya tentang detail kejadian pada polisi.”


“A-apa polisi mengatakan sesuatu padanya?”Leon gugup.


“Pak Polisi menceritakan semua yang dia lihat saat itu Bos.”


‘Oh gila ….  Apa yang sudah dia ketahui, apa  Hara sudah mengetahui kebenaranya …?’  Leon  semakin pucat.


“Kenapa dia bisa menemui polisi tanpa saya ketahui?” Leon mengigit kepalan tangannya.


“Ada lagi Bos.”


“Apa lagi?”


“Non Hara juga menemui, Kaila ?”


“APA?”


 Leon berdiri,  ia semakin gugup.


’ Ini tidak mungkin, pasti ada yang salah. Oh Tuhan jangan-jangan Kaila sudah  memberitahukannya ….’ Leon sangat panik saat ia tahu kalau Hara menemui Kaila.


"Ada apa Bos? apa ada yang salah?" Bimo heran melihat sikap Leon yang tiba-tiba gelisah seperti  orang kebingungan


"Pertemukan aku dengan, Kaila!"


"Baik Bos."


Bimo mengatur pertemuan dengan Kaila, entah apa yang akan di lakukan Leon untuk Kaila meminta bertemu kali ini.

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2