Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Meninggalkan Ketakutan Pada Anak-anaknya


__ADS_3

Jika ada masalah dalam rumah tangga yang pertama kena dampaknya pastilah anak, hal itulah yang terjadi pada kedua si kembar, kepergian Hara diam-diam dari rumah untuk melakukan penyelidikan  menumbuhkan luka dan trauma pada kedua anaknya.


Mereka berpikir kalau Hara dan Leon sedang bertengkar karena sikap keduanya tiba-tiba  berubah, Hara tidak  bicara pada Leon, ia ingin memberi waktu pada suaminya untuk bicara langsung padanya. Sementara Leon hanya diam pada Hara karena merasa bersalah.


Saat Hara masuk ke kamar mandi meninggalkan Okan di taman bersama Leon.


Okan tersadar, ia menoleh ke belakang hanya ada ayah dan neneknya yang ada di sana. Tidak ada ibu, merasa di bohongin ia berdiri dengan wajah  menghitam menahan tangisan,  ia berpikir kalau Hara meninggalkannya lagi.


“Ibu!”


“Bang, ibu lagi mandi sebentar,” Leon mengendong, tetapi  ia berontak dengan suara yang mengkelagar lalu mengamuk.


Semua orang  heboh dibuatnya, ia berlari keruang tamu mencari Hara dan menangis sejadi-jadinya memanggil ibunya.


“Okan! IBu lagi mandi” suara Leon tegas berharap anak itu berhenti. Ia malah semakin mengamuk,  mengambil vas bunga  melempar  jendela kaca  sampai pecah, semua orang  berlari melihat. Leon menggertak dengan tegas tetapi yang terjadi  Okan makin marah,  ia berteriak tidak terkendalikan.


“Okan ibu lagi mandi!” suara Leon makin tegas lagi.


“Ibuuuu …  aku mau ibu!” menangis dan berteriak dengan kencang,  ia mengambil pajangan dan melempar aquarium hingga ikan –ikan malang itu menggelepar kehilangan oksigen.


Melihat Okan menangis  Chelia yang ketakutan, ikut menangis. Leon diam, karena semakin ia marah, ternyata Okan akan semakin marah lagi. Tidak mau hal buruk terjadi, Suster Ana berlari ke atas ke kamar Hara.


Karena Okan tidak membiarkan siapapun mendekati dirinya.


Ia hanya ingin ibunya.


“Bu! Bu Hara.”


“Ada apa Sus?” tanya Hara,  ia kaget melihat wanita itu berlari dengan napas terengah-engah.


“Okan …. Okan dia-“


Hara berlari ia panik, ia berpikir hal buruk telah terjadi, masih dengan  rambut terbungkus handuk dan di leher masih ada busa sabun belum dibersihkan. Rumah Leon besar  dan memanjang  dari lantai  utama berada di dekat gerbang sedangkan kamar Leon dan Hara di lantai paling atas harus melewati koridor untuk sampai di ruang utama.


Ia berlari secepat mungkin, saat tiba di lantai bawah. Hara semakin panik ,  anak buah Leon tampak ikut berdiri menonton, Hara  mendekat,  melihat kekacauan yang terjadi kaca jendela pecah, dua orang asisten rumah tangga sibuk memungut ikan-ikan cantik yang menggelepar di lantai,  pas bunga pecah berserak. Okan berteriak dan terkendalikan, Ia berdiri   menghempas-hempaskan kedua lengannya dengan wajah yang tampak menghitam karena marah, bahkan tangannya terluka,  sedangkan Chelia menangis di pelukan Bu Atin. Leon berusaha membujuk tetapi ia semakin marah.


‘Ya Tuhan’ Hara wanita cantik itu mendekat.

__ADS_1


“Okan! Ibu di sini.”


“Ibu pembohong, ibu bilang tidak meninggalkanku!” teriaknya dengan kemarahan dan ia berdiri di sisi sofa dadanya naik turun,  meluapkan kemarahan yang tersimpan di dalam hatinya.


Hara tahu kalau ia marah,  Okan akan semakin marah jika dipaksa.


“Ibu tidak pergi kemana-mana Nak, ibu hanya mandi.”


“Tapi ibu sudah berjanji tidak akan meninggalkanku,  bukankah ibu bilang setiap janji harus di tepati, tapi itu tidak menepatinya,  ibu pergi tanpa pamit padaku.” ungkapnya dengan marah menghempas kakinya di lantai. “Ibu marah dengan ayah, ibu dan ayah bertengkar sama seperti  ayah Bima,” ujar dengan teriakan.


Sikap diam Leon ternyata berimbas buruk  untuk anak-anak mereka, Okan takut orang tuanya berpisah.


Okan  takut ibunya akan meninggalkannya seperti ibu teman satu kelasnya yang meninggalkan anak-anaknya, lalu menikah dengan lelaki lain.


“Ibu minta maaf ibu berjanji tidak akan  pergi tanpa pamit lagi.”


“Ibu Bohong, ibu baru saja berjanji tetapi sudah mengingkarinya,” ucapnya  dengan keras.


Leon ingin mendekat ,  ia ingin menghentikan kekacauan  itu, tetapi Hara melarangnya ikut campur.  Ini antara ia dan Okan.


Okan berdiri masih dengan dalam puncak kemarahannya, ia meluapkan semua yang ia pendam ,  membuatnya tidak terkendali, tapi Hara  berpikir hal ini lebih baik dari pada ia terus diam. Namun, saat ini Hara sudah mengerti ia takut ibunya berpisah.


“Iya, sebentar lagi ibu akan pergi’ kan, ibu marahan sama ayah. Ibu tidak omongan sama ayah, ibu akan pergi, lalu berpisah, Teman aku Bima, seperti itu … katanya ayahnya berantem di rumah,  karena ayahnya bawa ibu baru, aku tidak mau ibu seperti ibu Bima.”


Semua saling melihat, Hara dan Leon kaget dengan pemikiran  Okan,  Mereka berdua tidak tahu apa yang mereka lakukan ternyata di perhatikan Okan.


‘Jadi karena itu kamu bersikap seperti itu dari tadi, kamu takut ibu pergi,  ternyata aku sudah meninggalkan trauma untuk anak-anakku’ Hara membatin.


Mereka semua diam, umur Okan boleh masih bocah tetapi pemikirannya sangat dewasa, terkadang ia menyimpan sendiri di  dalam hatinya.


“Ibu minta maaf Nak, ibu janji tidak akan melakukan itu lagi,” ucap Hara mengangkat dua jarinya di atas kepala sebagai tanda perjanjian.


Lalu ia mendekat memeluk Okan dengan erat, ia mengobati tangannya yang terluka,  anak itu akhirnya tenang,  tetapi ia muntah karena terlalu terguncang .


 Hara memeluk Okan kembali,  Ia sampai tidak menyadari kakinya terluka karena menginjak pecahan vas bunga yang dipecahkan Okan,  karena buru-buru ia memakai sandal kamar, sandal tipis yang biasa digunakan di kamar-kamar hotel. Lalu Hara membawanya lagi ke kamarnya, setelah ia tenang.


“Ada dua singa jantan  di  rumah ini sekarang.” Ujar Bu Atin.

__ADS_1


Menghela napas , setelah Hara  menenangkan Okan,  mereka semua sibuk membereskan  pecahan kaca yang hancur dan mengganti kaca jendela, menganti aquarium Hari yang menggemparkan pagi itu.


“ Okan menakutkan saat marah seperti itu, Bu.” Asisten rumah tangga yang masih muda itu menyeka keringat di kening.


“ Iya, buah  yang jatuh tidak jauh dari pohonnya, jika Leon singa dewasa,  maka Okan  singa kecilnya” ujar Bu Atin setelah Hara dan Leon membawa anak-anak itu ke kamar.


Hara memandikan keduanya, menghiraukan kakinya yang terluka,  ia tidak bisa membedakan hatinya yang sakit melihat anaknya  mengalami ketakutan karenanya atau kakinya yang terluka.


  Luka di kaki itu, meninggalkan  bercak cairan merah di lantai yang ia pijak.


“Apa kakimu terluka?” tanya Leon saat Hara selesai  memakaikan baju keduanya.


“Aku tidak  tahu” ujar Hara terduduk lemas, Okan terluka ia merasa ikut sakit.


Leon mengambil kotak obat mengobati luka Hara.


“Maaf karena aku semua  ini terjadi,” ujar Leon saat ia mengobati kaki Hara.


“Aku juga salah, aku pikir  saat aku melakukan itu,  aku berpikir mereka tidak apa-apa karena menganggap masih kecil, ternyata dugaanku salah. Okan selalu membuatku terkejut dengan pemikirannya, ia lelaki yang sangat pintar, aku tidak menyadari, aku telah menanam ketakutan di hatinya.”


“Harusnya aku tidak marah saat itu, agar kamu tidak pergi.”


Hara duduk diam, Okan sudah tertidur  setelah di mandikan Hara dan diberi  serapan dan di beri obat panas, akhirnya ia tertidur, Chelia bermain dengan bonekanya sendiri.


“Apa kamu mau mengatakan sesuatu padaku, sayang?” Tanya Hara.


Hara berharap dengan mereka ada waktu mengobrol tenang seperti ini Leon mau jujur  dengan begitu beban dalam hati Leon berkurang.


“Maafkan aku Hara,” ujar Leon mengalihkan wajahnya.


Mengungkapkan sebuah ke jujuran memang sangat sulit, Leon belum berani berkata jujur pada Hara, ia tidak mengetahui kalau Hara sudah mengetahui semuanya.


'Baiklah Leon, aku juga punya batas kesabaran, jika kamu diam terus seperti ini, jangan salahkan aku jika aku memberi pelajaran, aku juga marah, tetapi aku mencoba berdamai dengan hati ini'


Leon berpikir, ia akan berterus terang pada Hara, setelah ia membereskan Kaila, ia hanya butuh waktu sedikit lagi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2