
Saat Hara meminta izin pada Leon ingin ke kembali ke Jerman, karena takut Hara marah, Leon mengizinkannya istrinya pergi.
“Apa Ayah yakin aku bisa pergi?” Tanya Hara memastikan lagi.
“Iya yakin Bu,” jawab Leon dengan ragu, lagi-lagi ia tidak mau jujur. Hara tahu Leon tidak ingin dirinya pergi, tetapi karena rasa bersalah dan takut Hara marah Leon menginginkannya.
‘Pas Bos, apa salahnya jujur sih, kalau kamu tidak suka aku pergi harusnya bicara jujur’ Hara membatin ia tersenyum licik.
“Tapi aku tidak ingin membawa anak-anak, mereka kan sebentar lagi masuk Sekolah Dasar di sini, jadi tidak usah ikut-ikut, Bagaimana?” Tanya Hara.
Sudah jelas-jelas Leon terlihat gelisah, namun tetap saja bibirnya bicara lain.
“Baiklah tidak apa-apa, aku bisa mengurusnya,” ucap Leon.
Hara menahan tawa, padahal saat ia pergi anak-anaknya sudah pernah melakukan drama di rumah, tetapi kali ini Leon bilang tidak apa-apa.
“Apa kamu yakin?” Tanya Hara lagi.
“Iya aku bisa tenang saja, kamu urus saja keperluan di Jerman,” ucap Leon lagi.
Ok baiklah.”
‘Kamu aka kesulitan mendiamkan mereka nanti Leon, lihat saja besok’ Hara membatin wajah tersenyum.
*
Besok pagi.
Hara akhirnya mengumpulkan beberapa pakaian dan sebelum anak-anak bangun, ia berangkat menuju bandara.
Apa ditakutkan Hara akhirnya terjadi juga.
Okan bangun dan pertama kali yang ia cari adalah ibunya, mereka berdua keluar dari kamar menuju kamar orang tuanya.
“Ibu … Celia mau serapan roti bakar iya,” ucap si cantik itu berjalan menuju kamar mandi mencari Hara.
Leon berdiri menggaruk-garuk kepala, ia berpikir bagaimana caranya menyelamatkan diri dari amukan kedua buah hatinya.
Sementara Okan duduk si sofa dengan mata masih setengah sadar.
“Ibu …!” Panggil Chelia.
“Sayang … begini, Ibu lagi keluar sebentar ibu mau beli buku sekolah untuk kalian berdua, kan, sebentar lagi mau SD,” ujar Leon ia mendudukkan tubuhnya mensejajarkan tingginya dengan putri cantiknya.
Mendengar sang ibu keluar tanpa pamit, Okan berdiri dengan tatapan menghunus wajah sang ayah.
“Kenapa ibu tidak mengajak kami!” Teriak Okan marah.
“Tadi kalian masih tidur,” ujar leon mulai panik saat Chelia menangis.
“Bohong ….! Ibu pasti pergi,” timpal Okan lagi.
__ADS_1
“Ayo susul ibu Ayah, ayo kita sama ibu, dede mau beli baju boneka Barbie,” rengeknya memeluk leher Leon.
“Baiklah ayo kita beli tapi kita serapan dulu iya,” bujuk Leon.
“Nanti saja serapan sama ibu,” ujarnya lagi mulai melakukan jurus pamungkas, menangis sesenggukan memanggil sang ibu.
Sementara Okan duduk menangis dengan diam.
‘Oh, sial harusnya aku bilang tidak usah pergi’ ucap Leon dalam hati.
“Sus ….!”
“Iya Pak.” Suster Ana bergegas ke kamar.
“Tidak mau sama Kak Ana, mau sama ayah saja!” Teriak Chelia.
“Baiklah, baiklah kita mandi.” Leon menggulung lengan kemeja yang ia pakai, tadinya ia ingin menghadiri rapat, tetapi keburu terjebak dalam drama dua anak kembar itu lagi.
Leon mengendong Chelia ke kamar mandi untuk memandikannya.
“Ayah bukan di kamar mandi ini, tapi di kamar mandi kita,” ucap Chelia dengan bibir cemberut.
“Oh, baiklah.” Leon mengendong lagi menuju kamar mandi mereka.
“Abang tidak ikut mandi?” Tanya Chelia lagi.
“Oh, ayo Bang, ayah yang mandikan.”
“Tidak mau, aku mau sama ibu,” ujarnya marah.
“Nanti, kita akan menemui ibu mandi dulu,” ujar Leon berbohong.
Leon tidak tahu dengan ia berbohong kedua anak itu akan semakin mengamuk.
“Ayah janji kita mau sama ibu?” Tanya Okan.
“I-iya,’ jawab Leon gugup.
‘Aduh bagaimana ini?’ Leon semakin bingung.
“Ayah berbohong kan?”
Leon diam, sikap diam ayah Okan menganggapnya sebagai sebuah pembohongan.
Lalu ia berteriak marah.
“Kenapa ayah itu suka berbohong! Karena ayah suka berbohong makanya ibu pergi meninggalkan kita!” teriaknya lagi dengan kemarahan, tangannya terkepal dan menghempaskan ke udara.
Mendengar hal itu Chelia menangis lagi, kali ini, tangisan itu semakin pilu.
“Aku mau ibu ayah,” ujarnya memeluk leher Leon.
__ADS_1
Kemeja berwarna putih itu seketika basah kuyup karena keringat Leon terpaksa mengendong putrinya yang saat ini sudah berusia tujuh tahu itu demi menenangkannya, menggendong anak umur tujuh tahun tentu membuat Leon bermandikan keringat, bukan hanya satu yang ia hadapi, ada dua orang anak yang punya karakter berbeda- beda.
Chelia ingin di gendong sementara Okan tidak mau dibujuk.
“Aduh ayah lelah, sayang kamu turun iya kita mandi,” bujuk Leon.
Ia berpikir kalau tugas seorang ibu itu mudah, karena kedua anak mereka sudah berusia tujuh tahun, ia tidak tahu karakter setiap anak akan selalu berganti seiring bertambah usia si anak.
Justru belakangan ini Chelia sangat lengket sama kedua orang tuanya, sementara Okan saat itu hanya percaya pada sang ibu.
Leon menggendong Chelia, ia memandikan putri cantiknya, sementara Okan ia mandi di temani sama suster Ana.
Hara mendapat laporan dari suster Ana kalau kedua akan itu menangis mencari ibu mereka, akhirnya ia mengirim pesan pada suaminya. Ia akhirnya membantu Leon.
“Makanya lebih baik jujur Leon. Kenapa sih kalian para lelaki itu lebih mementingkan harga diri, daripada rasa capek yang akan kalian rasakan” ujar Hara.
“Coba dia bilang tadi, jangan pergi Hara, aku tidak bisa menjaga anak-anak kita tanpamu, aku tidak akan pergi. Rasakan emang enak jadi ibu rumah tangga, apa kamu bisa membujuk keduanya?” ucap Hara menahan tawa melihat tampang kusut suaminya saat ia mengendong Chelia, suster Ana merekam dan mengirim Ke Hara.
“Baiklah, cukup untuk hari ini,” ucap Hara lagi ia mengirim pesan pada Leon.
Leon mengendong Celia menggunakan satu lengannya, satunya lagi ia gunakan untuk membuka layar ponsel. Tiba-tiba matanya melotot saat membaca pesan dari Hara.
[ Baiklah, datanglah ke sini bawa anak-anak]
[Benarkah? Baik sayang kami akan datang]
[ Baiklah, jangan lama-lama, aku tunggu dua puluh menit]
[ Baiklah berikan alamatnya , kami akan datang.] Balas Leon dengan tatapan mata memburu dan napas tertahan merasa gugup.
[Aku di hotel kita di Ancol]
“Ha! Apa yang dia lakukan di sana?”
[Apa yang terjadi ke napa jadi ke Ancol?] Tanya Leon
[Aku ketinggalan pesawat.] Ujar Hara mencari alasan, padahal ia tidak tega meninggalkan kedua buah hatinya, Hara tidak mau menjadi ibu yang egois, karena apa yang ditakutkan benar terjadi. Celia mengamuk bagai kesetanan , karena kedua bocah kembar itu tidak bisah jauh darinya dengannya.
[Baiklah, kami akan datang kesana, hanya kami bertiga.} Ucap Leon
*
Melihat suasana hati Leon yang tiba-tiba berubah, Bu Atin tahu kalau ada hal baik yang terjadi, ia ikut tersenyum saat Leon membereskan pakaian anak-anaknya sendirian.
“Maaf pak, itu bukan pakaian Chelia itu milik Okan,” ujar Suster Ana, saat Leon menganti pakaian Celia tetapi membuka lemari Okan.
Okan seperti biasa kalau sudah mengamuk dan marah , ia tidak mau sama siapa-siapa selain pada orang yang ia anggap tepat untuknya, sementara Chelia, tidak mau sama susternya, ia hanya mau di gendong sama Leon, seakan-akan ia takut ditinggalkan ayahnya lagi.
Bersambung ….
Jangann lupa like dan komentar iya
__ADS_1