
Polisi sudah menahan Bianca dan Lily dengan bukti rekaman yang diberikan Leon, melalui pengacaranya. Bianca akan mendapat hukuman berat karena dalam tuntutannya Leon di nyatakan belum sadarkan diri, maka ia yakin wanita yang pernah menjadi kekasihnya tersebut, akan menghabiskan hari-harinya di penjara dengan waktu yang lama.
Leon bersama pengacaranya berniat ingin mengaitkan kasus Bianca dengan penyerangan yang pernah terjadi di hotel
Pengacara Leon, sibuk mengurus proses tuntutan berat pada kedua wanita itu.
Dalam ruang penyelidikan ada kenyataan yang terungkap, Lily ternyata di bawah tekanan dari Bianca, ayah Lily punya hutang besar pada Bianca . Jadi hutang besar itu, bisa lunas asalkan Lily mau menuruti kemauannya . Bianca ingin menghancurkan keluarga mantan kekasihnya, Leon Wardana.
Untuk melancarkan aksinya, Bianca bahkan rela membiayai operasi plastik untuk Lily, tujuannya agar wanita itu tampil cantik, agar Leon tergoda, tetapi bukan cantik yang ia dapat bahkan dadanya sebesar buah semangka semua itu kemauan Bianca.
Menurut pengakuan Lily, ia tidak suka penampilannya, semua itu obsesi Bianca agar ia bisa tampil beda, agar bisa menarik perhatian Leon. Tetapi usaha yang di gunakan Lily semua sia-sia, karena Leon bukan orang yang mudah di rayu, ia terlalu sayang pada istrinya, Leon tidak pernah melirik Lily.
“Dia bahkan jijik melihatku Pak,” ucap Lily saat diintrogasi polisi.
Semua orang dalam ruang itu, kagum dengan sosok Leon, saat Lily mengungkapkan kebenaranya.
Pengacara Leon mengaku dalam ruangan itu, kalau Leon sendiri belum sadarkan diri, karena luka tusuk di perutnya sangat dalam. Satu cara untuk menarik empati dari para penyidik dan satu cara untuk menjatuhkan tuntutan berat untuk Bianca. Setelah penyelidikan P1 dua puluh satu hari ke depan kasusnya akan dilimpahkan ke pengadilan.
Keluarga Lily punya hutang ke pada ayah Bianca untuk pengobatan ibunya yang sedang sakit saat itu. Namun, setelah beberapa lama dirawat di rumah sakit, ibunya meninggal dunia, meninggalkan beban hutang yang sangat banyak, ayah Lily juga dirawat di rumah sakit saat itu.
Karena hal itulah yang membuat Lily melakukan semua kejahatan, demi melunasi hutang keluarganya, tadinya wanita baik dari keluarga baik-baik sama seperti yang diutarakan Hilda.
Dalam sisi kemanusian banyak polisi dalam proses penyelidikan itu yang berimpati pada Lyli, karena ia juga korban dari ketidakberdayaan, karena memiliki hutang pada Bianca.
Tetapi setiap kejahatan ada hukumannya, tidak perduli, ia diperalat atau di paksa, kejahatan imbalannya adalah hukuman.
*
Dalam rumah Leon,
Tadinya Leon ingin fokus untuk ke persidangan dan ia ingin kedua wanita yang menghancurkan keluarganya dihukum berat. Akan tetapi, apa yang di rencanakan terasa sia-sia, Leon berpikir Hara marah dan meninggalkannya hal yang paling ditakutkan Leon. Leon tidak tahu beberapa hari ini, Hara bekerja keras ia menyelidiki Kaila.
Kini Leon sibuk mencari Hara, ia mengarahkan semua anak buahnya, mencari ke rumah Piter, tetapi tidak ada di sana.
Piter tidak tahu, bahkan Hilda juga tidak tahu kemana Hara pergi, ia tidak tahu kalau wanita itu ada di hotel di mana Hilda bekerja, Hara bukan kabur ataupun melarikan diri seperti yang mereka pikirkan, tetapi ia ingin menyelidiki Kaila, apa ada hubungannya dengan Bianca, apa dia hanya memanfaatkan keadaan.
__ADS_1
Di rumah, walau Leon masih sakit tetapi ia juga harus mengurus kedua anaknya.
Karena rindu ibunya Okan demam, ia mengingau memangil ibunya,
“Apa sebenarnya yang terjadi Nak, bukankah seharusnya dia merawat mu dan mendampingi mu saat kamu terluka seperti ini.” Bu Atin menghela napas, ia tampak lelah dengan masalah yang selalu datang silih berganti.
“Ini salahku Bu, kalau ada yang harus di salahkan itu aku, aku marah saat dia datang untuk menemaniku, tidak seharusnya aku membentaknya saat ini, aku memang bodoh.” Leon mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi di kamar si kembar. Chelia tidur di gendongan Leon, sedangkan Okan terbaring sakit.
Billy memberi obat untuk Okan, meredakan demamnya, anak lelaki itu, ia tidak mau minum obat, tidak mau makan, ia hanya ingin ibunya. Ia anak yang sulit dikendalikan, kalau sudah marah, kalau ia bilang tidak, maka tidak.
Chelia anak perempuan berwajah cantik itu tiba-tiba jadi pendiam, saat kembaranya sakit, ia tidak mau turun dari gendongan Leon.
"Dede sama suster Ana iya, ayah masih sakit," bujuk Bu Atin
Ia menggeleng lalu tutup mata, lalu mereka bicara tentang Hara, mendengar ibunya dibahas, tiba-tiba Chelia sesenggukan, menangis wajahnya ia letakkan di atas pundak ayahnya.
“Sayang, kamu tidak apa-apa?” Leon menepuk-nepuk pundak Chelia.
“Apa ibu tidak akan datang lagi?”
“Sayang, jangan khawatir ibu nanti akan datang.”
“Apa karena dedek nakal, maka itu ibu pergi, dedek Chelia janji ayah, tidak akan nakal lagi, suruh ibu pulang, aku kangen, abang Okan sakit karena kangen ibu katanya,” ujarnya dengan tangisan, mata indah berurai air mata.
Tiba-tiba Leon merasa dada terasa teriris sakit, melihat kesedihan putri cantiknya.
Leon mendudukkannya di pangkuannya. “Chelia, anak yang baik kok sayang, Ayah janji akan membawa ibu pulang.”
“Janji?” bibir mungil itu terlihat berkedut menahan tangisan.
“Oh putri ayah yang cantik, jangan menangis lagi, ayah jadi ikut sedih, ayah janji,” lalu Leon memberikan jari kelingkingnya sebagi tanda perjanjian dengan putrinya.
Padahal dr Billy sudah mengingatkan Leon, akan lukanya yang belum pulih, tetapi melihat Celia dan Okan merindukan ibunya, rasa sakit saat terluka tidak ada apa-apanya dibanding melihat kesedihan kedua anaknya.
Leon tidak pernah meninggalkan kamar kedua bocah kembar itu sedikitpun.
“Ayah! aku mau Ibu.” Chelia kembali merengek di dada Leon, Leon berdiri mengendong menyanyikan lagu-lagu kesukaan Chelia dan Okan.
__ADS_1
Hara sebelum tidur selalu mampir ke kamar si kembar membacakan buku mengingatkan gosok gigi sebelum tidur.
Walau kedua anaknya punya suster masing-masing, tetapi saat Hara yang memberi perintah untuk satu hal mereka akan bergegas.
Chelia tertidur di pundak Leon, tetapi saat akan ditidurkan ia terbangun dan menangis saat diletakkan.
“Jangan Ayah, aku mau digendong saja, nanti ayah ikut pergi ninggalin kami lagi,” ucapnya berurai air mata.
Leon terpaksa tidur di ranjang kecil milik Chelia, memiringkan tubuhnya dan memeluk bocah perempuan bak boneka hidup itu, Celia menjadikan otot kekar ayahnya jadi bantal.
Leon menatap Chelia dengan begitu dalam, cara tidur persis seperti Hara, memasukkan jempolnya diantara dua bibirnya.
‘Ibu dan anak, kenapa bisa begitu mirip bangat’ gumam Leon masih menatap wajah cantik putrinya.
Leon berpikir ia sudah tidur pulas, Leon ingin bangun, karena merasa haus dan lapar, kerena dari tadi ia hanya mengurus kedua buah hatinya sampai ia lupa kalau ia juga masih dalam tahap penyembuhan.
Leon menarik tangannya dengan hati-hati, saat ia duduk Chelia bangun dengan mata setengah terbuka menatap Leon yang terduduk. Leon mematung tidak lama kemudian Chelia juga ikut duduk. Kali ini, ia menangis keras, karena ia berpikir ayahnya tidak tepat janji, untuk tidur bersamanya.
“Ayah Bohong! Ayah mau pergi!” teriaknya dengan suara keras dan melengking.
“Chelia sayang, ayah hanya ingin minum, ayah haus dari tadi, ayah belum minum,” ucap Leon mencoba meredakan kemarahannya.
Kedua suster itu hanya bisa diam, karena mereka ingin bergantian mengendong tetapi Chelia tidak mau, dr terlihat hanya senyum melihat kesabaran Leon menghadapi kemarahan putrinya.
“Ayah bisa minta sama mbak, biar di bawa kesini, ayah bohong ayah mau pergi seperti ibu. Ayah sama ibu tidak sayang kami.” Teriaknya dengan suara lebih keras.
Mendengar tangisan adiknya Okan yang tertidur tadi ikut menangis, kedua bocah itu menangis sama-sama.
Okan minta di gendong juga, tidak biasanya ia mellow seperti itu , jadilah Leon mengendong keduanya pakai gendongan satu di depan satu di belakang.
‘Hara, pulanglah aku tidak berdaya tanpamu, maafkan aku, aku salah sayang’ ujar Leon dengan wajah khawatir.
Bersambung ....
__ADS_1