
Leon menunggu kedatangan Jovita raut wajahnya sangat marah.
Sementara anak buahnya ikut berdiri di sana, Toni dan Rikko berdiri di pinggir di lapangan dengan wajah yang tak kalah menegang juga.
‘Apa yang ingin kamu lakukan pada non Jovita Bos, tolong jangan lakukan itu’ Rikko membatin.
‘Aku berharap tidak terjadi apa-apa padamu hari ini Hara’ ucap Toni dalam hatinya juga, wajahnya sangat khawatir.
Sementara Iwan yang sedang mengemudikan helikopter itu beberapa kali menarik napas berat, ia tidak tega kalau harus melihat gadis malang itu disakiti di hadapan semua orang.
“Oh, jangan lagi … iya ampun,” ucapnya dengan wajah sangat khawatir. Sementara Jovita terkapar di jok pesawat setelah diberi obat penenang padanya.
Helikopter berwarna putih, berkapasitas enam orang itu terbang menuju Kalimantan.
Setelah beberapa lama suara helikopter itu terdengar dari balik pohon dan mendarat di lapangan di samping mansion, tidak jauh dari tempat Leon berdiri.
Rikko berlari ke arah helikopter, untuk membantu Iwan.
Melihat Jovita terkapar di jok helikopter dengan kaos putih bawahan rok diatas lutut, bahkan tersingkap memperlihatkan sebagian pahanya. Dengan cepat Rikko membuka jaketnya dan menggendongnya, ia ingin membawa ke kamar. Namun, saat ia berjalan menuju rumah, suara Leon menghentikannya.
“Bawa dia ke sini!”
“Tapi Bos dia be-”
“Jangan membantah, Rikko!”
“Ckkk, keparat ….,” ujar Rikko pelan,
Baru kali ini ia merasa tidak terima dengan perbuatan sang Bos, selama ini ia selalu menurut hanya patuh siapapun yang di lenyapkan Leon. Tetapi kali ini, melihat Jovita yang tidak berdaya , wajah cantiknya terlihat sangat tenang saat ia tidur. Rikko tidak tega melihat jika sang bos harus menyakitinya.
Wajah mereka semua tampak ketakutan, semua anak buah Leon dekat pada Jovita, karena sering mengajak mereka bercanda.
Tetapi kali ini, wanita muda berwajah cantik itu, akan di permalukan di tengah lapangan, di hadapan semua anak buahnya, memberinya hukuman seperti anak buahnya yang sering berkhianat.
Rikko dengan wajah memerah dan mata berkaca-kaca meletakkan tubuh Jovita yang lagi tertidur, meletakkan di atas rumput, di tengah lapangan.
Baru kali ini, Rikko terlihat sangat emosional, ia mengepal tangannya sangat kuat merasa tidak berdaya di hadapan Leon.
Menidurkan tubuh Jovita dan menutup kakinya dengan jaketnya lagi.
“Non Hara bangunlah,” ujarnya memukul-mukul wajah Jovita, berusaha untuk membangunkan.
__ADS_1
Toni yang berdiri di pinggir lapangan menahan napas, ia juga mengepal tangan dengan kuat wajah tampannya terlihat memerah, melihat Hara tertidur tidak berdaya di atas rerumputan. Rikko , Toni, Iwan ketiga anak buah kepercayaan Leon itu sangat kasihan melihat Jovita, Karena Jovita dekat pada mereka bertiga.
Tiba-tiba Leon datang membawa botol minum.
“Minggir!"
Ia menyiram wajah Jovita dengan air minum, untuk membangunkannya, benar saja, ia bangun dengan mulut ngap-ngap dan terbatuk -batuk tangannya, menyingkirkan rambut panjangnya yang menutupi wajah cantiknya.
Semua mata tertuju pada Jovita
"Oh aku di mana?” Ia memegang batang lehernya melirik kanan kiri pantulan sinar matahari menyilaukan penglihatannya. Ia hanya melihat hanya seorang pria berpakaian serba hitam berdiri di depannya menghalangi sinar matahari ke wajahnya.
Melihat pakaian yang di pakai Jovita, hanya memakai rok pendek, Leon mendesis kesal, karena kaki mulus Jovita di lihat semua anak buahnya.
Ia menarik tangannya dengan kasar sampai berdiri, tubuh yang belum sepenuhnya sadar hanya bisa berdiri dan terhempas di dada Leon. Ia memeluk pinggang kokoh Leon karena tubuhnya masih belum kuat berdiri, Jovita menghirup bau tubuh lelaki yang ia peluk. Ia bisa tahu kalau itu Leon , walau ia tutup mata.
Leon memeluk pinggangnya dengan erat, dengan satu lengannya, agar ia tidak jatuh.
“Berdirilah!” pinta Leon melepaskan lengannya, tungku kaki Jovita seakan-akan tidak berdaya, ia kembali ingin terhempas ke belakang. Dengan cepat Leon menangkap tubuhnya lagi.
“Jovita ...! berdirilah dengan benar!" Ucap Leon dengan tegas, memegang kedua pundaknya memaksanya berdiri tegap.
“Itulah yang kita ingin bicarakan sekarang! Makanya jangan berpura-pura” Leon menatapnya tajam.
Tetapi percuma ia marah besar, Jovita belum sadar, ia masih memegang kepalanya, bahkan satu tangannya ia gunakan memegang lengan Leon, agar ia tidak jatuh, karena ia merasa sangat pusing, tidak tidur satu malam dan di beri bius lalu di bawah terbang, tentu membuatnya merasa sangat mabuk.
“AH … aku ingin muntah. Kepalaku jadi pusing,” ucap Jovita memegang kepalanya dengan satu tangannya.
“Jovita berhenti mencar-”
Jovita mengangkat satu tangannya, meminta Leon berhenti bicara, karena ia ingin muntah. Ia mengalihkan wajahnya dari Leon dan muntah ....
“Uaaak … Buuur” Jovita Hara muntah
Wajah Leon terlihat mengeras, ia akan selalu ketakutan, jika wanitanya mual - mual dan muntah, ia berpikir Jovita hamil.
Padahal Jovita hanya masuk angin karena satu malam matanya tidak bisa tidur dan paginya ia ke tepi pantai.
“Panggilkan Dokter!” pinta Leon marah marah-marah.
“Dengar … jika kamu hamil, aku akan menghabisimu detik ini juga,” bisik Leon ke kuping Jovita wajahnya menegang.
Jika hampir seluruh laki-laki, penghuni planet ini, sangat bahagia menjadi seorang ayah dan senang mendapatkan seorang anak, tetapi tidak untuk mahluk yang satu ini. Ia selalu bilang tidak ingin ada Leon satu, Leon junior di dunia ini.
__ADS_1
Ia tidak ingin ada bagian dari dirinya melakukan pekerjaan yang ia lakukan. Leon sangat membenci namanya menikah dan punya anak. Karena trauma yang di torehkan mantan kekasihnya padanya.
Sabrina dan beberapa wanita cantik berdiri dengan wajah menegang menatap Jovita.
“Dia akan mati,” ujar Sabrina terlihat iba.
Mereka sudah beberapa kali melihat Nana mengesekusi wanita dengan cara kejam, karena kedapatan hamil, baik itu hamil dari kliennya ataupun hamil dari Leon.
Bisnis gelap Leon salah satunya, penyedia layanan enak-enak pada kalangan atas kliennya, kebanyakan para pejabat. Wanita-wanita cantik yang mereka miliki juga semuanya berkelas baik, dari model ataupun artis yang bisa di pesan lewat online tentu dengan harga yang fantastis.
Bisnis yang satu ini dikendalikan seorang perempuan berambut blonde yang bernama Nana, wanita tegas dan kejam. Sebelas dua belas dengan Leon.
Bisnis ini, tidak di urusi Leon. Nana yang sepenuhnya yang mengendalikannya. Leon bermain di bagian paling atas.
Dalam satu negara pasti ada banyak mafianya, hanya saja jenis mafia dan kejahatan mereka beragam, ada yang mafia tanah, mafia bagian perampokan dan narkoba sama seperti Damian yang merangkap semuanya bagian, baik narkoba dan mafia di bagian premanisme, salah satunya perusahan Damian menyediakan jasa.
Contoh yang sering kita lihat, orang-orang yang merampas kendaraan di jalanan yang kreditnya macet atau yang di sebut [mata elang] itu salah satu usaha Damian.
Damian mantan anak buah Leon, lelaki yang berasal dari pulau Indonesia Timur itu, menjalankan perusahaan penyedia jasa .
Namun Leon tidak , ia tidak memegang narkoba ataupun premanisme, ia bekerja di bagian elite tidak mudah diendus polisi
Saat ini, Jovita masih menundukkan kepalanya dan memegangi perut yang terasah mual.
"Jovita dengar saya-"
"Jangan khawatir Pak Leon, aku tidak hamil , aku hanya masuk angin," potong Jovita dengan tegas.
Leon hanya menatapnya sinis dengan mata penuh penyelidikan.
Bersambung ... dulu iya ,nanti sore kita update kelanjutannya lagi di revisi dulu.
Jangan lupa;
BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA, AGAR VIWERSNYA
Jika viewersnya naik terus, author akan up 3 Bab sehari tolong di bantu ya Kakak
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)