Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Dibawa paksa


__ADS_3


Leon menunggu kedatangan Jovita raut wajahnya sangat marah.


Sementara anak buahnya ikut berdiri di sana, Toni dan Rikko berdiri di pinggir di lapangan dengan wajah yang tak kalah menegang juga.


‘Apa yang ingin kamu lakukan pada non Jovita Bos, tolong jangan lakukan itu’ Rikko membatin.


‘Aku berharap tidak terjadi apa-apa padamu hari ini Hara’ ucap Toni dalam hatinya juga, wajahnya sangat khawatir.


Sementara Iwan yang sedang mengemudikan helikopter itu beberapa kali menarik napas berat, ia tidak tega kalau harus melihat gadis malang itu disakiti di hadapan semua orang.


“Oh, jangan lagi  … iya ampun,” ucapnya dengan wajah sangat khawatir. Sementara Jovita terkapar di jok pesawat setelah diberi obat penenang padanya.



Helikopter berwarna putih, berkapasitas enam orang itu terbang  menuju Kalimantan.


Setelah beberapa lama  suara helikopter itu terdengar dari balik pohon dan mendarat di lapangan di samping mansion, tidak jauh dari tempat Leon berdiri.


Rikko berlari ke arah helikopter, untuk membantu Iwan.


Melihat Jovita terkapar di jok helikopter dengan kaos putih bawahan rok diatas lutut, bahkan tersingkap memperlihatkan sebagian pahanya. Dengan cepat Rikko membuka  jaketnya dan menggendongnya, ia ingin membawa ke kamar. Namun, saat ia  berjalan menuju rumah, suara Leon menghentikannya.


“Bawa dia ke sini!”


“Tapi Bos dia be-”


“Jangan membantah, Rikko!”


“Ckkk, keparat ….,” ujar Rikko pelan,


Baru kali ini ia merasa tidak terima dengan perbuatan sang Bos, selama ini ia selalu menurut hanya patuh siapapun yang di lenyapkan Leon. Tetapi kali ini, melihat Jovita yang tidak berdaya , wajah cantiknya terlihat sangat tenang saat ia tidur. Rikko tidak tega melihat jika sang bos harus menyakitinya.


Wajah mereka semua tampak  ketakutan,  semua anak buah Leon dekat pada Jovita,  karena sering mengajak mereka bercanda.


Tetapi kali ini, wanita muda berwajah cantik itu,  akan di permalukan di tengah lapangan, di hadapan semua anak buahnya,  memberinya hukuman seperti anak buahnya yang sering  berkhianat.


Rikko dengan wajah memerah dan mata berkaca-kaca  meletakkan tubuh  Jovita yang lagi tertidur, meletakkan di atas rumput, di tengah lapangan.



Baru kali ini, Rikko terlihat sangat emosional, ia mengepal tangannya sangat kuat merasa tidak berdaya di hadapan Leon.


Menidurkan  tubuh Jovita  dan menutup  kakinya dengan jaketnya lagi.


“Non Hara bangunlah,” ujarnya  memukul-mukul wajah Jovita, berusaha untuk membangunkan.

__ADS_1


Toni yang berdiri di pinggir lapangan  menahan napas, ia juga mengepal tangan dengan kuat wajah tampannya terlihat memerah, melihat Hara tertidur tidak berdaya di atas rerumputan. Rikko , Toni, Iwan ketiga anak buah kepercayaan Leon itu sangat kasihan melihat Jovita, Karena Jovita dekat pada mereka bertiga.



Tiba-tiba Leon datang membawa botol minum.


“Minggir!"


Ia menyiram wajah Jovita dengan air minum, untuk membangunkannya, benar saja, ia bangun  dengan mulut ngap-ngap  dan terbatuk -batuk tangannya, menyingkirkan rambut panjangnya  yang menutupi wajah cantiknya.



Semua mata tertuju pada Jovita


"Oh aku di mana?” Ia memegang batang lehernya  melirik kanan kiri pantulan sinar matahari menyilaukan penglihatannya. Ia hanya melihat hanya seorang pria berpakaian serba hitam  berdiri di depannya menghalangi sinar matahari ke wajahnya.


Melihat pakaian yang di pakai Jovita,  hanya memakai rok pendek, Leon mendesis kesal, karena kaki mulus Jovita di lihat semua anak buahnya.


Ia menarik tangannya  dengan kasar sampai berdiri, tubuh yang belum sepenuhnya sadar  hanya bisa berdiri dan terhempas di dada Leon. Ia memeluk pinggang kokoh Leon karena tubuhnya masih belum kuat berdiri, Jovita menghirup bau tubuh lelaki yang ia peluk. Ia bisa tahu kalau itu Leon , walau ia tutup mata.


Leon memeluk pinggangnya dengan erat, dengan satu  lengannya,  agar ia tidak jatuh.


“Berdirilah!” pinta Leon melepaskan lengannya, tungku kaki  Jovita  seakan-akan tidak berdaya, ia kembali ingin terhempas ke belakang. Dengan cepat  Leon menangkap tubuhnya lagi.


“Jovita ...! berdirilah dengan benar!" Ucap Leon dengan tegas, memegang kedua pundaknya  memaksanya berdiri tegap.


“Itulah yang kita ingin bicarakan sekarang! Makanya jangan  berpura-pura” Leon menatapnya tajam.


Tetapi percuma ia marah besar, Jovita belum  sadar, ia masih memegang kepalanya,  bahkan satu  tangannya ia gunakan memegang lengan Leon, agar ia tidak jatuh, karena ia merasa sangat pusing, tidak tidur satu malam dan di beri bius lalu di bawah terbang, tentu membuatnya merasa sangat mabuk.


“AH … aku ingin muntah.  Kepalaku  jadi pusing,” ucap Jovita memegang kepalanya dengan satu tangannya.


“Jovita  berhenti mencar-”


Jovita  mengangkat satu tangannya, meminta Leon berhenti bicara, karena ia ingin muntah. Ia mengalihkan wajahnya dari Leon dan muntah ....


“Uaaak … Buuur” Jovita Hara muntah


Wajah Leon  terlihat mengeras, ia akan selalu ketakutan, jika wanitanya mual - mual dan muntah, ia berpikir Jovita hamil.


Padahal Jovita hanya masuk angin karena satu malam  matanya tidak bisa tidur  dan paginya ia ke tepi pantai.


“Panggilkan Dokter!” pinta Leon marah marah-marah.


“Dengar  … jika kamu hamil, aku akan menghabisimu detik ini juga,” bisik  Leon ke kuping Jovita wajahnya  menegang.


Jika hampir seluruh laki-laki, penghuni planet ini, sangat bahagia menjadi seorang ayah dan senang mendapatkan seorang anak, tetapi tidak untuk  mahluk yang satu ini. Ia selalu bilang tidak ingin ada Leon satu, Leon junior di dunia ini.

__ADS_1


Ia tidak ingin ada bagian dari dirinya melakukan pekerjaan yang ia lakukan. Leon sangat  membenci namanya menikah dan punya anak. Karena trauma yang di torehkan mantan kekasihnya padanya.


Sabrina dan beberapa wanita cantik  berdiri  dengan wajah menegang menatap Jovita.


“Dia akan mati,” ujar Sabrina terlihat iba.


Mereka sudah beberapa kali melihat Nana mengesekusi wanita dengan cara kejam, karena kedapatan hamil,  baik itu hamil dari kliennya ataupun hamil dari Leon.


Bisnis gelap Leon salah satunya, penyedia layanan enak-enak pada kalangan atas  kliennya, kebanyakan para pejabat. Wanita-wanita cantik yang  mereka miliki juga semuanya berkelas baik, dari model ataupun  artis yang bisa di pesan lewat online tentu dengan harga yang fantastis.


Bisnis yang satu ini dikendalikan seorang perempuan  berambut blonde yang bernama Nana, wanita tegas dan kejam. Sebelas dua belas dengan Leon.


Bisnis  ini,  tidak di urusi Leon.  Nana yang sepenuhnya yang mengendalikannya. Leon bermain di bagian paling  atas.


Dalam satu negara pasti ada banyak mafianya, hanya saja jenis mafia dan kejahatan  mereka beragam, ada yang mafia tanah, mafia bagian perampokan dan narkoba sama seperti Damian yang merangkap semuanya bagian, baik narkoba dan mafia di bagian premanisme, salah satunya perusahan Damian menyediakan jasa.


Contoh yang sering kita lihat, orang-orang yang merampas kendaraan di jalanan yang kreditnya macet atau yang di sebut [mata elang] itu salah satu usaha Damian.


Damian mantan anak buah Leon, lelaki yang berasal dari  pulau Indonesia Timur itu, menjalankan perusahaan penyedia jasa .


Namun Leon tidak , ia tidak memegang narkoba  ataupun premanisme, ia bekerja di bagian elite tidak mudah diendus polisi


Saat ini, Jovita masih menundukkan kepalanya dan memegangi perut yang terasah mual.


"Jovita dengar saya-"



"Jangan khawatir Pak Leon, aku tidak hamil , aku hanya masuk angin," potong Jovita dengan tegas.


Leon hanya menatapnya sinis dengan mata penuh penyelidikan.


Bersambung ... dulu iya ,nanti sore kita update kelanjutannya lagi di revisi dulu.


Jangan lupa;


BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA, AGAR VIWERSNYA


Jika viewersnya naik terus, author akan up 3 Bab sehari tolong di bantu ya Kakak


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2