Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Memecat orang-orang yang tidak kompeten


__ADS_3

Dari pada memikirkan urusan rumah tangga mantan anak  buahnya yang hancur satu persatu,  Leon mengajak Hara untuk fokus memikirkan pekerjaan.


Leon memilih bersih-bersih di kantornya.


Apa yang ditakutkan Bimo dan Hara bernar terjadi Leon memecat semua jajarannya yang bertanggung jawab untuk kantin  para pegawai.


Leon tidak memberi mereka kesempatan meminta maaf dan memberi kesempatan untuk memperbaiki.


“Jika ada niat ingin memperbaiki harusnya kamu lakukan kemarin-kemarin saat aku berpidato saat ulang tahun hotel, saat itu aku bilang, agar semua orang memperbaiki kinerjnya apa kamu tidak ingat itu?” tanya Leon mengintrogasi Pur lelaki yang bertanggung jawa bukan hanya dia bahkan bendahara hotel Leon pecat juga, karena saat di tanya berapa  dana yang di keluarkan untuk perbelanjaan makanan selam seminggu, ia tidak menjawab degan jujur.


“Maafkan saya Pak, saya hanya meneruskan pekerjaan yang pegawai terdahulu,”ujar wanita itu ketakutan dalam ruang rapat.


“Model begini yang tidak saya sukai bekerja untuk saya ketika ditanya mengikuti arus yang ada, harusna kamu sebagai pemegang uang perusahaan tidak mudah mengeluarkan dana sebelum di setujui di pak mamat selaku komiraris di sini,” ujar Leon mulai mengintrogasi semuanya.


“Pak Mamat juga sudah mengetahuinya Pak, beliau sudah menandatangani,” ujarnya kemudian seakan-akan tidak mau mendapat masalah sedirian, ia menyeret semua bahkan orang yang tidak bersangkutan.


“Cukup, kenapa kamu menyebut semua orang, hanya perlu laporanmu,” uJar Hara bicara melembut.


JIka Leon jadi pemimpin rapat makan Hara yang jadi notulenya, maka suami istri dalam rapat pagi itu semua bungkam.


Selesai agenda rapat pagi itu, Hara tidak membahas tentang srmua orang yang dipecat Leon, tiba dalam ruangan Leon masih terlihat  masih sangat marah, terlihat dari gayanya yang menatap jalanan dari kamar kerjanya, dengan tatapan nanar dan kedua tangannya di masukkan ke saku celananya.


“Apa  mau minum sesuatu?” tanya Hara memulai obrolan.


“Iya”


Ia berbalik badan dan menatap istrinya.


“Bu, apa lagi yang igin kamu ingin katakan padaku?” tanya Leon, menatap Hara dengan tatapan serius.


“Masih ada, tapi aku niatnya ingin melakukan sendiri melihat kemarahanmu kali ini,” ujar Hara.

__ADS_1


“Apa itu?” Leon menatapnya.


“Aku berniat periksa bagian  pegelola mall banyak penyewa yang mengeluh karena sewa gedung memberatkan.”


Leon   membeli  gedung bangunan di sebelah hotel beberapa tahun yang lalu ia mengubahnya menjadi Mall, tetapi karena kurang di perhatikan mall milik Leon kurang menghasilkan.


“Hara aku sudah mengiklaskan yang  itu  biarkan saja, anggap saja amal."


“Sayang  memengangap itu sebagai amal hal yang salah  kalau seandainya kamu sumbangkan pada yayasan yang  membutuhkan itu baru tepat. Ini, apa Ayah tahu yang terjadi sebenarnya penyewa  toko di sana kesusahan untuk menutupi sewa toko mereka harus menjual mobilnya agar bisa tokonya tetap berlanjut, sementara orang-orang yang memberi sewa toko itu hidup berpoya-poya menikmati uangnya di clup malam, jadi kata untuk amal kurang tepat lebih tepatnya kamu membiarkan orang-orang yang punya usaha kesusahan,” ujar Hara.


“Bu, kepalaku sakit kalau mengurus ini itu,” ujar Leon mengaruk kepala.


“Kalau Ayah tidak mau megurusnya serahkan saja padaku biarkan aku yang bekerja, urus saja  bagian hotel, kalau kita sudah tahu ada yang salah masa kita harus diam?” pungkas Hara.


“Baiklah, lakukan saja aku mendukungkumu,” ujar Leon, ia menyutujui  apa yang akan di lakukan Hara.


                           *


Kakia wanita yang di temui Hara saat itu, ia berjalan didampingi Bimo  membawa  berkas yang diminta Hara.


“Baik Bu ta-“  Kalimatnya  terputus ia menatap Hara dengan tatapan takut.


“Ada apa Kia katakanlah.”


“Apa benar ibu datang ke kantor kami kemarin ingin menyelidiki kantor kami?”


“Iya, saya datang ke sana ingin melihat cara mereka bekerja tetapi saya terkejut hanya kamu yang bekerja dengan baik,” ujar Hara memujinya.


“Tetapi mereka jadi membenciku Bu, saya tidak mau hal yang seperti itu,” ujar wanita muda itu dengan wajah polos dengan tatapan mata memohon.


“Kalau atasan kamu salah, Apa kamu harus bela mbak, mereka semua salah dan saya berniat mengganti mereka semua jangan takut nanti juga rekan kerja kamu akan berganti yang terpenting lakukan apa yang saya katakan.  Jangan beritahukan apa yang kita bicarakan di sini, kamu paham?”

__ADS_1


“Iya Bu.”


Wanita Muda berkerudung abu-abu itu kembali ke kantor bagian pemasaran, karena  ia mengaku ia di buli para seniornya Bimo ikut mendampingnya untuk membereskan berkas-berkas.


“Kia, apa Bu Hara memanggilmu lagi?” tanya Darma atasanya.


“Iya Pak,” jawabnya dengan gemetaran.


“Lalu kamu menjelek-jelekkan kita semua dan mengadu pada bos, apa begini kelakuan seorang bawahan pada atasanya harusnya kamu memintaku melakukannya walau Bu Hara menyuruhmu itu baru benar, kamu disini perkerja harian tetapi kamu sudah berani melangkahi senior-seniormu.”


“Iya  benar ini orang tidak tahu diri bangat sih, masih beruntung kamu dulu diterima kerja di sini, tetapi kami tidak tahu ternyata kamu menikam kami dari belakang,” ujar reka-rekan kerjanya yang lain.


Kakia mendapat perlakuan kasar lagi dari semua rekan kerjanya saat  Hara,  memakainya sebagai  kaki tangan.


“Kalian semua tidak boleh,  seperti itu pada Nona Kakia dia hanya di minta Nyonya bos melakukan pekerjaanya,” Ujar Bimo membela Kia.


Tetapi salah seorang lelaki dari team pemasaran itu justru mengamuk dan bicara kasar pada Bimo.


“Lu siapa pacarnya dia?” Lelaki itu menunjuk kepala Kia.


“Saya bukan pacarnya, saya asisten Bu Hara dan asisten Pak Leon pemilik gedung ini, siapa nama kamu tadi sepertinya nilai kesopanan anda tidak ada,” ujar Bimo menatap tajam.


Mendengar Bimo asisten Hara , mereka semua diam dan menunduk.


“Maaf pak, saya terbawa emosi.”


“Tidak apa-apa semua orang juga saat ini lagi terbawa emosi ,” ujar bimo santai. “ Jadi berhenti untu memojokkan Nona muda ini dia juga sebenarnya  tidak mau melakukannya demi menjaga rekan-rekan kerjanya, tetapi Bu Hara memaksanya, jadi tolong saling menghargai, lagian kalau kalian semua tidak melakukan kesalahan kenapa kalian takut, Ibu Hara hanya ingin mengecek pembukuan sama seperti bos-bos pada umunya.”


“Lalu kenapa bertanya pada pak Darma saja?” tanya seorang wanita yang memiliki potongan rambut blonde.


“Hati seorang Bos siapa yang tahu mbak, mungkin dia  nyaman dengan Nona muda ini.” Bimo, merasa kasihan pada Kakia, maka itu iamembelanya dari semua reka kerja yang memojokanya.

__ADS_1


Bersambung ..


Bantu like dan voting ya Kakl


__ADS_2