
Tinggal di rumah Leon dan menjadi istri seorang milioner, tidak lantas membuatnya ingin berdiam diri. Hara ingin bekerja ia ingin punya kegiatan tinggal di rumah membuatnya hidupnya bagai seorang tawanan lagi satu bulan sudah ia menjadi istri yang baik tetapi rasa jenuh mulai menghampiri.
“Aku ingin memulai mengerjakan apa yang pernah aku minta padamu,” ucap Hara saat makan siang bersama Leon.
Leon menghentikan makannya, menarik napas panjang.
"Hara, dokter bilang kamu harus banyak istirahat biar cepat hamil," bisik Leon.
"Leon, aku baca dalam buku, stres mempengaruhi sudah hamil juga, loh"
"Hara sabarlah baru juga sebentar di rumah"
"Pak Leon Wardana aku jenuh aku merasa kayak Tawanan lagi. Kalau kamu menolak aku menjadi model, biarkan aku menyelesaikan proyek ayahnya yang terbengkalai”
Leon tidak bisa memaksa Hara, ia bukan tipe wanita seperti yang dulu ia kencani asal di kasih kartu bebas limit akan diam, Hara bukan tipe wanita yang suka belanja berpoya-poya, ia lebih suka ada kegiatan dari pada duduk diam di rumah.
Walau ia memberikan uang dan hartanya agar Hara mau berhenti, ia yakin tidak akan menurutinya, karena bukan uang yang di incar istrinya, ia hanya ingin menyelesaikan apa yang pernah ia mulai bersama ayahnya.
“Apa aku melanjutkan karierku sebagai model saja?” Tanya Hara lagi.
“Baiklah, aku akan mengurus semuanya,” ucap Leon dengan berat hati, terpaksa mengalah demi Hara.
“Yang mana?”
“Proyek Hara .... Mengerjakan proyek, aku tidak suka kamu jadi model,” ujar Leon.
“Aku akan mengurus,” ujar Leon.
“Tidak perlu, aku dan om Piter akan melakukanya bersama”
“Hara kamu tahu, kan, kita belum aman masih ada bahaya di luar sana yang mengincar kita, anak buah Bokoy masih ada punya dendam pada kita. Karena itu, aku tidak ingin kamu mengerjakanya sendiri, tunggu aku akan mempersiapkan sendiri”
“Tidak perlu Leon ada Om Vikky dan Piter, aku akan mengurusnya dengan baik, bukanya kamu bilang ada masalah di kantormu pergilah, aku akan mengurus yang ini.”
“Tidak usah membantah, kamu masih mau mengerjkanya atau tidak? ikuti aturan saya jika kamu ingin mengerjakanya,” ucap Leon tegas.
“Ha? Kok jadi marah?”
“Bukan marah Hara, kamu keras kepala”
Bu Ati hanya jadi penonton perdebatan keduanya, ada kalanya, ia diam membiarkan mereka bedua menyelesaikanya masalah karena begitulah hubungan rumah tangga bisa semakin dewasa. Leon bersikap tegas pada Hara.
“Aku hanya ingin mengerjakannya sendiri Leon tidak ingin melibatkanmu, aku tidak ingin kamu terbebani dan menghubungkan dengan masa lalu.”
“Baiklah, begini saja libatkan aku dalam poroyek ini dan kita sama-sama mengerjakanya”
“Baiklah”
Leon yang memiliki pengalaman tentang proyek, ia mengumpulkan orang-orang yang kompeten di bidang proyek yang ia kenal, ia hanya ingin pekerjaan itu cepat selesai.
__ADS_1
Pembangunan sebuah Hotel yang akan di bangun di lahan luas di kota Kalimantan, Hara ingin ayahnya tenang karena kerja sama pembangunan hotel itulah proyek ayahnya terahir kalinya di bangun.
“Kalimantan akan jadi Ibukota Indonesia yang baru aku yakin tanah di sana akan semakin mahal, kita akan membangun lebih cepat,” ujar Hara.
“Baiklah,” ujar Leon tidak bersemangat.
**
Piter dan Viky sudah menyiapkan semuanya, untuk pertama kalinyaLeon dan Piter melakukan kerja sama.
“Baiklah berhubung orang Bokoy, sudah meninggal jadi saya akan mengantikannya, saya akan mengambil alih sebagai pemilik hotel, aku ingin hotel itu di mulai dari awal,” ucap Leon.
“Bagaiman dengan desainnya apa masih pakai yang lama apa yang baru?” tanya Hara seakan-akan dalam ruang rapat itu yang ia tanya adalah orang lain.
Bahkan saat ia bertanya, mata semua orang menatap mereka bergantiaan, semua orang tahu kalau mereka suami istri, tetapi mereka terlibat perdebatan sengit.
“Saya ingin desain baru desain yang kalian tunjukkan pertama kali, saya tidak menyukainya saya suka gaya yang moderen,” ucap Leon . Hara menatap dengan tatapan tidak suka kerena terlalu banyak kriritik dan banyak permintaan kesan yang di tangkap di situ, ia mempersulit.
Namun Hara yang sudah bertekat ingin mengerjakannya, ia setuju semua keinginan Leon, dalam ruangan itu, Leon sebagai klien dan Hara pihak kontraktor.
Piter dan Viky saling menatap saat suami istri itu saling berdebat tentang pekerjaan.
“Bu Hara! Dengar …. kamu di sini hanya bagian desain yang akan mengerjakannya om Viky dan Piter, kan?”
“Pak Leon dengar, bapak tidak perlu tahu siapa yang mengejerkan, anda cukup tahu, hotel bapak cepat selesai “
Leon menatapnya dengan tajam saat Hara menentangnya dalam rapat.
Perusahaan yang saat ini di pegang kedua omnya Piter dan Viky, tadinya sebuah perusahaan besar . Namun, saat ayahnya meninggal perusaan kontraktor itu hanya sebuah perusahaan kecil. Hara ingin membangkitkan perusaan yang di bangun ayahnya.
Akan tetapi, Leon sepertinya tidak ingin Hara terlibat dalam pekerjaan lagi, ia keluar menunggu Hara dalam mobil, sikap Hara yang membantahnya dalam ruang rapat membuatnya marah.
‘Apa harus membantahku, tidak bisakah ia mengikuti apa kata suaminya, dasar pembangkang’ ucap Leon dalam hatinya.
Saat rapat sudah bubar Vikky dan Piter masih tinggal dalam ruangan itu, menatap Hara dengan tatapan menyelidiki.
“Ada apa denganmu, Hara? Leon hanya tidak ingin kamu terluka. Karena itu, ia melarangmu turun kelapangan, kamu tahu,kan, lokasi proyeknya di Kalimantan, di mana kalian berdua hampir kehilangan nyawa, berhentilah keras kepalan Hara, kamu saat ini, sudah jadi istri dari Leon Wardana”
“Kamu tidak usaha repot-repot mengurus perusahaan, kami akan menjalankannya dengan baik,” ucap Viky .
“Om dengar …. Aku hanya ingin, apa yang kami rencanakan dengan ayah dulu dapat aku tuntaskan.” Ucap Hara membela diri.
“Om tahu, tapi sikap kamu tadi dalam rapat itu keterlaluan semua orang sudah tahu, kalau kamu itu, istri dari Leon, tetapi, kenapa dari tadi kamu bersikap seakan-akan kalian dua musuh bubuyatan, kamu membatahnya terus menerus, dia pasti marah.” Piter menatapnya.
“Aku hanya mempertahankan prisifku, karena aku anggap benar, aku tahu bagaimana pekerjaanku”
“Prinsif kamu bilang? Hara. Ayolah… Leon juga bagroundnya dari kontraktor juga, dia dulu punya perusahaan kontraktor jangan lupakan itu,” ucap Vikki.
“Iya aku hanya ingin mempertahankan kebenaran,” ucap Hara menatap kedua omnya.
__ADS_1
“Kamu memang keras kepala iya kalau tentang pekerjaan, ampun dah… aku pikir kamu akan berubah, baiklah mari kita bekerja, kemarahan suamimu biar jadi urusanmu” ucap Piter, ia merapikan lembar kertas di depan mejanya.
Hara memang selalu tegas dalam urusan pekerjaan apalagi urusan desain gambar yang ia kerjakan.
‘Apa sikapku tadi memang marah berlebihan iya? ah Leon marah tidak iya?’ Hara bermonolog.
Tut….
Nada pesan masuk di ponsel Hara
[Aku menunggumu di mobil] isi pesan Leon isi pesannya singkat , tetapi menakutkan.
“Apa dia marah?” ucap Hara menatap layar ponselnya.
“Sana temui, berbaikan dengannya dan minta maaf kalau salah,” ucap Viky.
“Baik om,” ucap Hara meningalkan ruangan rapat, ia menarik napas panjang sebelum masuk dalam mobil Leon
“Mudah-mudahan ia tidak marah, hadeh… kenapa jantungku berdetak cepat sih,” ucap Hara. Hara masuk ke dalamn mobil. Leon masih diam.
"Kamu marah?" Tanya Hara.
"Tidak Hara aku tidak marah aku lagi gembira. Sudah tahu masih bertanya." wajah Leon datar.
"Hara aku suamimu apa kita harus berdebat di depan orang?"
"Di rumah aku istrimu, tapi di dalam pekerjaan kamu klienku, itu baru frofesional," Balas Hara.
"Tidak, aku tidak setuju"Wajah Leon terlihat marah.
"Kamu lucu kalau marah ... Kayak tiang jemuran kena hujan," ujar Hara sembari tertawa.
Mendengar hal itu Ken yang saat itu lagi menyetir menahan tawa.
"Hara aku memutuskan kamu gak boleh bekerja lagi!"
"Ok, aku juga memutuskan, tidak memberimu jatah ranjang sebulan, iya!"
"Hara jangan kayak anak kecil," ujar Leon menahan malu di depan anak buahnya.
Mendengar sang Bos dapat hukuman tidak dapat jatah ranjang sebulan, Ken tertawa dan Bram yang duduk disamping bangku kemudi ikut tertawa mendengar pertengkaran Hara dan Leon.
"Ayo pilih mana?"
"Ga tau ..." ujar Leon kesal mendengar ancaman Hara.
"Ken. Jangan tertawa!"
"Ba-Baik Bos," ujar Ken menahan Tawa.
__ADS_1
Bersambung.