Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Perdebatan ibu dan putranya


__ADS_3

Setelah drama Okan bertengkar di sekolah, Hara berniat mendatangani  rumah Zidan,  ia tidak mau ada masalah nantinya dengan  Zidan orang tua yang adu duel dengan Okan , karena menurut cerita Chelia Danis  matanya bengkak juga.


Sepanjang perjalan  ke sekolah dalam mobil Okan hanya diam tetapi , Chelia kembarannya bibirnya tidak pernah berhenti mengoceh, ia bercerita panjang lebar  banyak hal  tentang teman-temanya dan gurunya, Leon  jadi pendengar  yang baik, untuk putri cantiknya.


“Apa abang tidak punya cerita yang menarik juga di kelas?” Tanya Hara basah- basi menatap putranya


“Tidak ada Bu,” ujar Okan datar.


“Kelas abang dan Chelia kan, berbeda, pasti punya cerita berbeda, boleh kamu cerita juga, Ibu ingin dengar,” ujar Hara ia tidak  mau putra sulungnya jadi pribadi yang cuek dan punya sikap dingin, setiap kali ia melihat Okan  seperti itu ia terkadang mengingat masa lalunya dengan Leon.


Karena itulah ia selalu mencoba  pada putranya untuk meninggalkan sikap tersebut. Tetapi, sepertinya berat karena sikap yang di miliki Okan menurun langsung dari ayahnya dan sikap bawel Hara menurun pada Chelia.


“Tidak ada Bu, di kelas semuanya sama saja, anak-anaknya laki-lakinya pada kebanyakan main dan anak-anak perempuannya ngosi-gosip membicarakan teman yang lain dan aku lebih baik belajar dan duduk sendirian,” ucapnya dengan jujur.


“Tunggu maksudmu kamu tidak mau berteman dengan teman-temanmu?” tanya Hara menatap dengan penuh penyelidikan.


“Ya, untuk apa berteman sama anak yang nakal yang ada kita ikut-ikutan nakal,” ujarnya kemudian.


Hara terdiam,  ia baru tahu kalau Okan tidak mau bergaul dengan anak nilainya di bawahnya, ia tidak mau anak seperti itu, Hara ingin Okan berteman dengan dengan semua orang, mau miskin, jelek, bodoh asalkan jangan kriminal.


“Okan di sekolah  bermain dengan teman-teman hal yang  sangat menyenangkan kan ada Jordan , Danis, Juna. Kamu tahu kenapa anak-anak seumuran kamu, harusnya banyak teman , apa kamu tidak punya  banyak teman di sekolah?” tanya Hara ia semakin semakin khawatirkan.


“Tadinya akrap sama Danis sama Jordan, tetapi belakangan ini tidak mereka sering berulah di sekolah, untuk apa kalau mereka semua nakal,” ujar OKan dengan santai.


Hara dan Leo terdiam, “Tetapi ibu ingin kamu punya banyak teman,” ujar Hara dengan suara melembut. “Chelia saja punya banyak teman,” ujar Hara.


“Dia, kan, cewek Bu, tentu banyak teman, aku tidak suka banyak teman lebih baik aku belajar.”


Hara memijit kepalanya yang terasa berdenyut, karena saat ini Okan tidak punya teman, Okan menjauhi Danis dan Jordan.


Leon hanya diam, ia menatap putranya dan istrinya bergantian.


“Kepala ibu jadi sakit jadinya,” keluh Hara.


“Apa karena abang Okan?” tanya Chelia  melirik kembaranya.

__ADS_1


Hara memilih tidak menjawabnya, jika ia berkata jujur bilang semua itu karena Okan ia tahu putranya akan sakit hati, tetapi kalau ia bilang tidak itu artinya ia berdusta.


Mobil berwarna hitam itu melaju membela jalanan, pak supir hanya banyak diam saat Hara mengintrogasi Okan, ia juga tahu bagaimana karakter  anak majikanya, karena ia sudah lama di berkerja menjadi supir untuk sepasang bocah kembar itu. Ia tahu sikap Okan yang tidak banyak bicara, sikapnya terlihat cuek tetapi sangat penyayang, Okan sangat  sayang pada Chelia.


Suasana dalam mobil menjadi hening Hara mengalihkan wajahnya kearah jendela menatap kerah jalanan ibu kota.


“Apa ibu marah?” tanya Okan mengalihkan pandangannya kembali pada putranya.


“Abang, Ibu tidak marah, kamu berprestasi di sekolah tentu ibu banga, hanya ibu tidak ingin kamu tidak punya teman,” ujar Hara.


Tetapi jawaban yang diberikan Okan membuat Hara terkejut.


“Ibu memiliki atau tidak punya teman itu adalah pilihan, tidak ada yang bisa memaksa, mana lebih penting? Aku banyak teman gaul seperti Danis … tetapi nakal, sekarang ibu pilih mana?” Tanya Okan.


“Itu arti ya kamu tidak ingin Ibu memaksamu?” tanya Hara dengan suara menekan tegas.


“Aku yang memilih untuk siapa aku berteman Bu, bukan karena paksaan,” ujar Okan.


“Ibu tidak memaksa Okan, Ibu hanya  tidak ingin kamu selalu bertengkar dengan Danis, kenapa kamu sangat membencinya belakangan ini?” Tanya Hara.


“Iya, karena om Zidan sudah seperti saudara untuk kita.”


“Itu artinya Ibu ingin aku menjadi anak yang nakal?”


Hara menghela napas panjang berdebat dengan putra sulungnya yang beranjak dewasa membuatnya sangat kewalahan.


“Ibu sudah jangan memaksanya,”ujar Leon menghentikan perdebatan antara putranya dengan istrinya.


“Yah, sebentar,  Ibu harus jelaskan padanya kalau kita tidak menjelaskannya saat ini dia tidak akan tahu nantinya, kenapa kamu harus berdebat dengan ibu sih Nak, ibu hanya mengatakan hal yang benar, banyak teman dan saling berbagi keceriaan di usiamu segini itu yang lazim kalau kamu tidak punya teman dan hanya belajar saja …  itu aneh, ada yang salah dengan hal seperti itu,” ujar Hara,”Cobalah untuk berteman nak, dalam hidup pintar saja tidak cukup. Ibu ingin kamu  berinteraksi dengan orang lain,” ujar Hara.


“Di sana anak-anaknya   nakal … Danis dan Juna  merokok di kelas, orang tuanya di panggil ke sekolah apa ibu ingin aku seperti itu?”


“Haaa … kenapa tidak pernah bilang sama ibu?”


“Ibu belakangan ini sibuk di kantor sama ayah.”

__ADS_1


Leon dan Hara saling menatap, Leon tidak mau ikut campur ia dan Chelia hanya jadi pendengar perdebatan Hara dengan Okan.


“Oh, maafkan iBu dan ayah akan hal itu, ibu janji ke depannya kami akan lebih banyak waktu, hari ini kami akan ke sekolahmu dulu sebelum ke kantor, ibu ingin tahu tentang pertengkaran dengan Danis yang kemarin.


Tidak lama kemudian mereka tiba di sekolah si kembar.


Leon ikut juga masuk ke dalam ruang  guru, seperti pesan Hara sebelum berangkat meminta suaminya  tidak ikut campur.


“Ayah, tidak boleh bicara apapun nanti, aku tidak mau masalah bertambah besar, bertengkar di sekolah bukanlah hal yang baik, masih ada cara yang lain,” ujar Hara melirik putranya yang diam membatu mendengar ibunya bicara.


“Iya bu, iya,” ujar Leon santai, ia juga tidak membenarkan sikap putranya walau itu dengan alasan membela adek perempuannya.


“Iya, nanti ayah kalau bicara dengan gurunya jangan ikut  bicara,” pinta Hara dalam mobil.


“Baik sayang,  iya aku tahu,” ujar Leon saat Hara memberinya ultimatum.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


 -Aresya(TERBARU)


-Turun  Ranjang( on going)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


- Bintang kecil untuk Faila (tamat


__ADS_2