Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Kecewa pada penegak hukum.


__ADS_3

Karena permintaan Leon Hara diawasi sangat ketat, bahkan  tidak diperbolehkan hanya duduk di taman.


“Non Hara aku minta maaf, tadi bos yang memintaku melakukan hal seperti itu,” ujar Iwan merasa tidak enak.


“Aduh Kak Iwan. Aku bisa mati seperti ini …. pegang ponsel tidak bisa, nyalain televisi tidak bisa, aku sangat sesak  tinggal di dalam kamar terus," ucap Hara memelas.


“Non, aku minta maaf bangat, tapi ini permintaan Bos Leon"


“Kak Iwan aku  lagi hamil,kan, kakak tahu gak rasanya bagaimana? Rasanya gak nyaman  Kak di tambah lagi situasi seperti ini, biarkan aku duduk di taman saja, iya"


Iwan sampai mengatupkan kedua tangannya mohon maaf , ia juga tidak tega sebenarnya melihat Hara seperti itu, Tetapi Leon yang memberi mandat seperti itu.


“Aduh Non, aku minta maaf bangat, tidak bisa”


“Kak saya ini, seperti di penjara. Ada apa dengan Pak Leon, kenapa tiba- tiba seperti ini?"


"Aku juga tidak tahu Non Hara, aku juga kaget tadi"


Hara kembali ke dalam kamar, ia merasa sangat muak dikurung dalam kamar terus, ia semakin curiga kalau Leon menyembunyikan sesuatu darinya.


Hara keluar lagi dari kamar dengan muka cemberut, lagi-lagi saat di depan pintu kamarnya penjaganya menghalanginya.


“Mau perlu apa Non?”


“Apa-apaan kalian berjaga  di depan pintu kamar, sejak kapan Leon menempatkan penjaga di depan pintu kamarku?”


“Sejak saat ini, Non,” ujar kedua bawahan Leon dengan wajah memelas.


“Panggilkan Kak Iwan,” ujar Hara mulai emosi jiwa.


“Maaf Non, bang Iwan mengantar  Bu Atin ke dokter”


“Lalu maksud kalian apa mengunci saya di kamar?”


“Maaf Non, bos yang meminta,” ujar rekan Iwan dengan raut wajah sangat bersalah.


Hara masuk kedalam kamar lagi. Ini  stres yang paling parah yang pernah ia rasakan. Leon ingin menyelamatkan nyawanya dengan calon bayinya, tetapi ia tidak tahu kalau stres berat bisa membuat serangan fatal bagi wanita hamil.


“Gila kamu Leon apa maksudmu memperlakukanku sebagai  narapidana ?” ucap Hara di kamar mandi, ia merasakan seluruh tubuhnya basa kerena keringat.


“Boleh kamu pinjamkan aku ponselmu sebentar?" Tanya Hara pada penjaga.


Kedua lelaki yang berpakaian hitam- hitam itu saling melihat.


“Untuk apa, Non?”

__ADS_1


“Untuk menelepon Bosmu, aku mau  bilang kalau kalian memperlakukanku dengan buruk. Kalian tahu, kan, kalau aku  mengandung anak, bosmu!”


“Baiklah, katakan Non mau apa?”


“Saya ingin tidur di kamar, Bu Atin”


“Baiklah”


Mereka terpaksa mengikuti kemauan Hara, wanita itu masuk ke kamar Bu Atin,  melihat Bu Atin tidak ada Hara menggunakan telepon di sana


Ia menelepon Piter  dan tersambung.


“Om bagaimana?”


“Hara ….? Om mita maaf"


“Apa bukti kematian  keluargaku tidak cukup Om?”


“Hara, aku meminta maaf,  tapi kenapa kamu tidak mengirim ke emailku data yang aku minta,  aku sudah mengirim  puluhan pesan ke iPadmu, aku telepon dari tadi malam selalu dimatikan”


“Apa! Data Om?”


“Memangnya Leon tidak memberikanmu Liontin itu? Hanya dengan itulah kita bisa menghancurkan Bokoy, tetapi kenapa kamu tidak mengirimnya?"


“Liontin apa, Om?”


Hara tiba-tiba merasa sangat marah mendengar hal itu, saat Hara mati-matian   mencari bukti agar Bokoy bisa masuk penjara. Tetapi Leon dengan mudahnya menyembunyikan bukti penting itu. Ia menutup telepon dari Piter.


“Apa maksudnya menyembunyikan itu? Apa Leon lebih  membela lelaki jahat itu sekarang?” Hara keluar dari kamar Bu atin.


Ia berjalan  menuju kamar  Leon, kamar lelaki itu  tidak dikunci. Biar anak buah Leon melarangnya, Hara berjalan tidak peduli. Ia membuka paksa laci Leon dengan cara merusaknya, ia menemukan iPad miliknya namun tidak menemukan Liontin . Namun, ia hanya menemukan flashdisk kecil yang dikatakan Piter.


Ia membawanya keluar dengan wajah marah dan kesal, Hara berpikir kalau Leon membela ayah angkatnya Bokoy.


"Leon Wardana ....! Ular Naga! Kalau kamu tidak menyembunyikan flashdisk ini, penjahat itu sudah masuk penjara saat ini. Keparat kamu Leon! Hubungan kita tidak akan bisa bersatu jika kamu membela lelaki brengsek itu, ingat itu," ujar Hara dengan wajah merah menyala.


“Non mau kemana lagi, tolong jangan mempersulit kami,” ujar seorang dari mereka”


“Saya tidak akan kemana-mana Bang, jangan khawatir aku mencari barang di kamar ini,” ujar Hara menunjuk kamar bekas Sabrina. Kamar yang sudah dikunci Bu Atin, ia buka kembali karena Hara menemukan kuncinya di kamar Bu Atin.


Mereka setuju dan membiarkan Hara masuk ke kamar .


                          *


Leon di kantor, itu artinya ia aman, dengan cepat-cepat, ia menyalahkan televisi

__ADS_1


Melihat berita  bagaimana keputusan tentang orang yang melenyapkan kedua orang tuanya.


Hingga matanya melotot tajam, tangan mengepal kuat, dadanya naik turun, ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya, seperti yang dikatakan Leon, Bokoy penjahat kelas kakap yang tak tersentuh dengan hukum apapun, kecuali hukum rimba.


Ia bebas bahkan dinyatakan tidak bersalah, dalam bacaan keputusannya bahkan dikatakan, tidak ada hubungannya dengan, kedua  orang-orangnya yang melakukan pembunuhan itu, sayang anak buahnya sudah meninggal dan rekaman pengakuan itu dipegang Leon.


Piter yang menghabisi mereka, seandainya kedua orang hidup mungkin bisa ditanyakan apakah Bokoy meminta mereka apa bukan, tapi saat ini para tersangka sudah lenyap, itu artinya Bokoy bebas karena bukti dan dan tuduhan tidak kuat.


“Iya Tuhan ini sangat menyebalkan, harusnya kami tidak menghabisi mereka dulu saat itu, harusnya aku menyuruh mereka mengaku terlebih dahulu. Harusnya Leon tidak menahan bukti itu." Hara sangat marah ingin rasanya ia berteriak.


Ia duduk bersandar di lantai kamar mandi, matanya sembab karena menangis, biar bagaimanapun ia pasti merasa sedih, putus asa, kecewa, padahal ia sudah yakin dan berharap orang yang melenyapkan kedua orang tuanya dapat hukuman, tapi usaha kerasnya sia-sia.


Lelaki jahat itu melenggang bebas, jangankan di hukum, bahkan ia mengaku korban fitnah.


Bisa dibayangkan bagaimana rasanya jadi seorang Hara. Orangtuanya sudah dibunuh masih difitnah sebagai penipu.


Hancur sudah hati wanita cantik itu melihat berita hari itu.


Apa yang dikatakan Leon, benar  adanya, Bokoy bukan orang yang sembarangan, ia manusia yang tidak tersentuh hukum, ia lelaki yang banyak harta, kekuasaan  yang bisa membeli hukum, ia selalu mendapatkan apa yang di inginkan, Bokoy punya beking di mana-mana yang selalu membantunya.


Bahkan ada beberapa pejabat yang ikut menggeluti bisnisnya


"Kamu pikir aku akan tinggal diam saja?" ucap Hara marah.


'Aku marah, aku benci, jika hukum Negara tidak mampu menjeratmu, mari kita gunakan hukum alam bahkan hukum rimba'


Selagi Bokoy masih hidup, sebagai anak Korban dari pembunuhan itu. Hara tidak akan tenang, sempat ia berpikir Leon akan membantunya, tetapi Hara berpikir Leon tidak bertindak apa- apa. Sebagai anak, ia sangat kecewa dan marah, saat keluarga tidak mendapat keadilan


Lalu apa yang bisa dilakukan Hara seorang wanita hamil untuk membalas Bokoy? Memang ia bisa apa? Hukum negara dan Leon saja sebagai bos Mafia, tidak mampu melawan sang ketua. Lalu Bagaimana Hara membalaskan kematian orang tuanya?


Bersambung…


KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA UNTUK KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA,  AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA. PELUK HANGAT UNTU KALIAN SEMUA.


Baca juga  cerita yang lain;


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing


__ADS_2