Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Lukisan takdir


__ADS_3

Leon masih berbaring  di atas ranjang setelah diberi obat penenang  untuknya,  bahkan dalam tidurpun, ia meneteskan air mata, matanya memang tertutup . Namun,  batinnya menangis hatinya terluka.


Di sisi Lain.


Di sebuah pemakaman umum tidak jauh dari rumah Billy  telah berdiri tiga batu nisan. Ketiganya sudah di makamkan hari itu juga, langit sudah menampakkan warna Jingga  mengisyaratkan kalau sudah sore, langit serasa ikut bersedih, melihat Clara  yang tidak henti-hentinya menangis di gundukan tanah milik Susan.


Ia baru tiba tadi pagi saat di kabarin kalau Susan meningal, saat itu ia lagi pulang ke Bandung, ia belum sempat melihat  wajah Susan untuk terakhir kalinya. Clara dan Susan sudah berteman dari mereka sekolah menengah dan pernah bertetangga juga dan pada akhirnya setelah ibunya meninggal, kakak dan  Abang susan yang sudah berkeluarga  menjual rumah warisan  orang tua mereka.


Susan anak paling terakhir, dulu ibunya bekerja di Taiwan sebagai TKW, ibunya  menikah dengan orang Taiwan dan hamil Susan.  Namun, tidak berapa lama berpisah dan ia ikut ibunya, semua saudaranya membencinya karena berbeda sendiri,  wajahnya   dan kulitnya seperti China membuat saudaranya mengucilkannya. Semakin parah,  saat  ibunya sudah meninggal, jadi, hanya Claralah yang jadi  temannya selama ini.


“San, katanya kamu membawa oleh-oleh untukku dari Raja Ampat, kamu bilang hari ini.  Kamu mau mengantar ke tempatku kerja. Aku sudah datang mengambilnya. Mana …? tolong berikan padaku,” ucap Clara yang terus menangis memeluk papan nisan Susan.


“Lara, sudah ikhlaskan biar dia tenang,” ujar dokter Billy  menangkan Clara.


“Aku belum  memberikan kado pernikahan untuknya, Dok,” ucap Clara dengan tangisan yang sangat pilu.


“Sudah,   kamu boleh mengganti kado dengan mengirim dia doa, dia sudah tenang,  tidak akan  mengalami ketidak adilan lagi dalam hidupnya. Dia tidak terlihat sedih lagi setiap hari,” ujar dokter Billy,  ia tahu apa yang terjadi dalam  hidup Susan selama ini.


“Ya Allah,  kenapa hatiku sesakit ini,”ucap Clara memukul- mukul dadanya.


Susan mengalami hidup yang sangat menderita semasa hidupnya, sepeninggal ibunya satu tahun yang lalu, saudaranya tidak memperdulikannya,  jadi dia hidup seperti sebatang kara dan selalu  bersama Clara setiap saat,  sebelum akhirnya ia menemukan jodoh abadinya, Rikko.


Karena itulah Clara begitu terpukul saat sahabatnya  meninggalkan dunia ini.


“Sudah, biarkan mereka bertiga istirahat dengan tenang, mari pulang.  Indah di rumah sendirian, nanti kalau Pak Leon tersadar akan repot urusannya,”ujar Billy.


“Dok kenapa orang -orang baik akan meninggal lebih cepat?” Tanya Clara.


“Karena Tuhan lebih sayang  mereka,” jawab Billy.


Billy mengurus pemakaman mereka sendirian, ia tahu Leon tidak mungkin bisa mengurus ketiganya,  karena keadaan Leon pasti akan lebih buruk.


Billy tahu Iwan dan Rikko tidak punya keluarga yang mereka miliki hanyalah Leon keluarga satu-satunya. Sementara Susan walau keluarganya sudah dikabari kalau ia sudah  meninggal, abang dan kakak sampai pemakaman  mereka tidak ada yang datang.

__ADS_1


“Selamat jalan sahabatku, tenanglah di sana,” ucap Clara.


Billy terpaksa menyeret tangan Clara dari gundukan tanah yang masih  memerah itu,  membawanya pulang, kalau tidak diseret, ia akan terus menangis sedih dan menyesali banyak hal  di kuburan Susan.


                        *


Malam tiba, Leon masih berbaring di ranjang satu kantong infus menggantung di sampingnya.


Billy berdiri tidak jauh dari tubuh Leon ia menatap Leon dengan tatapan iba, beberapa kali ia membuang napas berat, dadanya terasa sesak memikirkan keadaan Leon nantinya.


“Bagaimana kamu nanti menjalani  hidup pak Leon,” ujar dr. Indah berdiri di samping suaminya.


“Pastinya ini semua akan berat baginya, dia akan berubah seperti monster lagi. Dia akan  meremukkan tubuh Bokoy,” ujar Billy.


“Bagaimana kamu menjelaskan padanya kalau mereka sudah  tiada?” Indah menatap suaminya.


“Leon lelaki yang tangguh, aku yakin  akan kuat menerima pukulan ini.” Billy menghela napas panjang, ia tidak yakin dengan jawabannya sendiri.


“Setidaknya ada  Zidan dan Ken yang akan menjaganya, Zidan yang memintaku memberi Leon suntikan untuk menahannya tetap di sini,” ujar Billy, ia kembali menyuntikan sesuatu ke infus Leon. Lalu meninggalkan. kamar Leon.


Ternyata apa yang dikatakan mereka di dengar Leon, ia membuka mata melihat kanan kiri  tidak ada lagi Iwan dan Rikko.



“ Maafkan aku saudaraku,” ujar Leon, ia ingin  bangun, tetapi sesuatu yang mengalir dari infus ke tubuhnya kembali membuatnya tertidur.


Billy baru menutup teleponnya ia menyeka  air matanya.


“Ada apa?” Tanya Indah.


“Hara tidak selamat, Zidan mengatakannya,” ujar Billy menangis, karena ia menyesal .


“Kasihan, Lalu  bagaimana Ken dan Zidan selamat, masa hanya mereka berdua yang selamat?” Tanya Indah penasaran.

__ADS_1


“Rumah pohon”


“Apa hubungan dengan rumah pohon?”


“Zidan bilang dia menemani Ken  berjaga di rumah pohon yang  letaknya seratus meter di belakang rumah Leon. Katanya, malam itu, karena Iwan menakut-nakutinya sebelum terbang,  menyebut ada kunti di pohon. Ken penakut, ia bahkan menggendong Zidan  yang sedang sakit memaksanya menemaninya berjaga malam itu di atas pohon dan  itu yang menyelamatkan mereka berdua dari ledakan di mansion Leon. serbuannya begitu tiba- tiba katanya"


“ Oh ... takdir hidup siapa yang bisa mengetahuinya,” ujar Indah ikut merasa sedih melihat sang suami menangis.


“Ayah Hara selalu memberiku  beasiswa, dia orang baik, harusnya aku bisa menjaga Hara, tetapi, ah sudahlah ….” Billy keluar dari  rumah berdiri menatap jalanan ibukota, hatinya terasa sangat sedih, semakin dipikirkan semaki terasa   nyeri ulu hatinya.


“Sayang. Terkadang Tuhan mengizinkan  cobaan  berat pada  manusia agar mereka  ingat untuk bersyukur pada sang pencipta dan memintanya kembali ke jalan yang benar,” ujar Indah.


“Kata, kata itu tidak pantas untuk Leon Indah. Dia baru belajar ingin hidup lebih baik. Dia bagai seorang anak yang yang baru berjalan . Namun,  tiba-tiba seseorang memukulnya, menyeretnya bahkan menendangnya.  Apa kamu pikir dia  masih belajar berjalan seperti biasa? Tidak,  dia akan terluka trauma. Nah,   untuk mengatasinya butuh seseorang untuk memegang tangannya.  Sekarang untuk Leon siapa yang akan memegang tangannya?” Tanya Billy.


“Zidan dan Ken,” jawab Indah.


“Itu maksudku, kita akan  mempertemukan mereka sebelum Leon bangun, setidaknya  masih ada harapan  untuk  dia, walau hanya  sedikit. Setidaknya Leon masih punya dua  orang- orang terdekat,” ucap Billy.


Bersambung…


KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA UNTUK KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA,  AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA. PELUK HANGAT UNTU KALIAN SEMUA.


Baca juga  cerita yang lain;


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2