
Saat menjelang sore,
Jovita akhirnya bangun dari tidur panjangnya.
“Hmm … Mmm … ,” suara ringisan kecil terdengar dari bibir mungilnya.
Mendengar suara rintihan Jovita,
Leon membuka matanya dan menoleh ke samping, Jovita sadar dan mengerakkan tangannya, seperti meminta sesuatu ia merasa sangat haus.
Dengan cepat Leon menekan tombol dokter. Menit kemudian, dokter senior itu datang bersama seorang perawat.
“Mba … apa Mba bisa mendengar saya? Kalau bisa cukup angkat jadi telunjuk anda. Jovita mengangkat jari telunjuknya.
Wajah Leon terlihat sangat tegang , matanya menatap ke ranjang Jovita.
“Bisa melihat tangan saya? Angkat jarinya”
Tiba-tiba jari tangannya tidak diangkat, wajah dokter dan perawat langsung tegang. Melihat hal itu, Leon tiba-tiba ingin muntah, karena menahan gejolak di dalam dadanya, ia terlihat sangat emosional, wajahnya tiba-tiba menghitam.
Dokter senior itu menekan tombol darurat di sisi ranjang Jovita. Tidak lama kemudian beberapa rekan dokter berlari keruangan itu, termasuk dr. Billy.
‘Tidak ... Tidak … tidak boleh seperti ini’ ucap Leon mengusap buliran air yang menetes di ujung matanya.
Ia ingin duduk, dr. Billy membantunya duduk.
“Apa dia buta?
“Tenanglah Pak, team dokter akan memeriksa keadaanya”
Leon menekan kuat kepalan tangannya ke mulutnya, ia ingin berteriak melepaskan beban di dadanya.
“Dia tidak boleh buta, Dok” Ucapnya dengan tegas.
“Iya, aku tahu pak Leon. Tenanglah kami akan berusaha” Billy menghawatirkan keadaan Leon yang terlihat ingin meledak.
“Bagaimana mau tenang Dok, dia buta!” Teriak Leon dengan emosional.
Melihat banyak dokter yang berdatangan ke ruangan sang Bos, Iwan ikut masuk ke ruangan .
Leon ingin berdiri, raut wajah mengeras menahan kemarahan,.
“Aaaa ... sial!” Tangannya memegang luka di pinggang, luka itu kembali berdarah.
Tidak ingin hal buruk terjadi karena tindakan Leon, dr. Billy membuatnya pingsan lagi.
“A-pa yang kamu lakukan lagi Dok?” ujar Leon suara serak dan mata Leon meredup dan tepar.
“Maaf Kawan… ini demi kebaikan kita bersama,” ujar dokter muda itu dengan tenang.
“Apa yang terjadi, Dok?” Rikko membantu Leon membetulkan posisi tidurnya.
Sementara di di ranjang Jovita, para dokter memperlihatkan wajah - wajah khawatir, dokter senior itu memeriksa degan detail catatan operasi Jovita.
__ADS_1
“Tidak ada yang salah,” ucapnya lagi, dokter yang sudah terlihat tua itu memegang bagian kepalanya, mencoba memikirkan kenapa Jovita mengalami kebutaan.
“Kita akan coba terapi saraf matanya," titahnya.
Setelah berdiskusi dengan team dokter, Jovita dibawa ke ruangan terapi bagian saraf dan melakukan serangkaian pemeriksaan ulang, bahkan memeriksa riwayat kesehatan Jovita Hara.
Setelah memeriksa riwayat kesehatan dan memeriksa data diri, akhirnya identitas Jovita Hara terungkap, untungnya Billy bagian memeriksa data Jovita.
“Dok, maaf bukankah gadis mudah ini anak dari Iwan Santoso, yang satu keluarga meninggal karena dibunuh beberapa bulan lalu?” tanya salah seorang dokter magang melapor pada dr, Billy.
Billy menoleh layar komputer.
“Tapi Dok, bukanya dia juga sudah meninggal yang ditemukan membusuk di selokan?"
Mendengar hal itu ... wajah Billy langsung panik, ia buru-buru mengklik tanda close di layar komputer dengan wajah pucat.
“Ok, jangan katakan apa-apa. Kamu tidak mau polisi datang ke rumah sakit ini, kan?" Billy menekan dokter magang itu agar tidak memberitahukan siapapun.
“Tidak Dok,” ucap calon dokter muda itu dengan gugup.
“Baik berikan padaku datanya”
Billy menghapus data pribadi Jovita di layar komputer dan mengganti nama Jovita Hara menjadi Hara Wardana istri dari Leon.
‘ Bos Naga apa lagi yang kamu lakukan kali ini? Hampir saja aku dapat masalah besar karena ulah mu. Dasar bos mafia!' ucap dr, Billy dalam benaknya, ia menemui dokter senior itu lagi dan memberikan data diri Jovita.
Karena kurangnya data tentang Jovita, akhirnya melakukan serangkaian pemeriksaan kesehatan ulang.
“Sepertinya kepala bagian belakang terbentur atau dia didorong ke belakang secara tiba-tiba,” ujar dokter senior itu setelah memeriksa Jovita menjabarkan hasil diagnosanya
“Apa kebutaan ini permanen dokter atau hanya sementara?” dr Billy menatap dokter senior.
*
Saat malam Jovita di bawa ke ruangan yang berbeda lagi, ruangan khusus. Akhirnya dipisah dari Leon, itu di lakukan agar Jovita bisa pulih para dokter ingin memberinya suasana yang tenang tanpa ada suara, banyak alat bantu yang menempel di tubuhnya.
Sementara di ruangan lain, Leon akhirnya terbangun lagi dengan cepat matanya menoleh ke samping , tidak ada lagi Jovita di sana.
“Dia kemana?" Mengarahkan pistol ke salah satu perawat pria, saat itu, lagi memeriksa selang infus Leon .
Wajah pria berseragam putih - putih seketika pucat.
"Bos … tenanglah, non Jovita dibawa ke bagian terapi saraf," ujar Rikko dengan wajah tegang.
“Panggilkan dokter Billy ke sini… !” Teriaknya marah.
Iwan berlari keluar, ia memangil dokter Billy.
Billy datang dengan langkah kaki panjang, ia tahu Leon pasti sangat marah besar karena ia memberinya suntikan tidur.
“Aku di si-"
Wajah dokter muda itu seketika panik saat melihat perawat di bawah todongan senjata Leon.
“Bagaimana keadaanya?”
“Dia masih dalam ruangan khusus Pak Leon. Tenanglah biarkan dia pergi"
Leon menurunkan tangannya dan menyimpan benda berbahaya itu di bawah tempat tidurnya.
__ADS_1
" Apa yang terjadi di sini, jangan beritahu siapa-siapa" Billy menepuk pundak perawat pria itu.
" Baik Dok," ucapnya dengan tubuh gemetar lalu ia keluar, Iwan juga mengikutinya keluar.
"Jangan katakan siapapun. Ok Bro!" Iwan menyisihkan jaketnya dan memperlihatkan pistol yang terselip di pinggangnya.
"Ba-ba-baik, Bang," ucapnya gelagapan hampir terkancing celana karena ulah Iwan yang sok gaya ....
“Dokter lakukan apapun untuk menyembuhkannya. Bila perlu aku akan membunuh orang untuk mengambil matanya , agar dia bisa melihat lagi” ujar Leon.
“Tenanglah Pak Leon, jangan menambah kesulitan pada dirimu. Wanita itu sudah meninggal beberapa bulan lalu. Bukankah dia Jovita Hara, Putri almarhum Iwan Santoso?”
“Iya,”Jawab Leon tenang, tidak ada kepanikan atau ketakutan di matanya.
“Aku terpaksa menyembunyikan identitasnya. Jadi tena-”
Lagi-lagi Leon membuat dokter mudah itu, hampir mengalami stroke, belum juga Billy selesai bicara Leon sudah berdiri menarik infus di tangannya lalu berjalan sedikit membungkuk, karena luka di bagian tulang rusuk.
“Mau kemana Pak Leon, luka anda belum pulih”
“Bawa aku melihatnya!”
“Dia dibawa penggawa …. Ah, Baiklah, percuma juga menolak, kamu akan tetap akan menemuinya. Rikko! tolong ambilkan kursi roda”
“Baik Dok”
Wajah Rikko yang sedari tadi sudah sangat panik melihat kemarahan bosnya, dengan cepat ia membawa kursi roda dan membantu Leon duduk di kursi roda.
“Biarkan saya yang membawanya, Rikko, kalian tetap di di sini berjaga," pinta sang dokter.
Billy terpaksa melanggar perintah dokter seniornya karena Leon tidak percaya kalau Jovita dalam perawatan khusus. Billy membawa melihat Jovita, walau hanya bisa melihat dari kaca.
Leon akhirnya percaya kalau wanita cantik itu, dalam kondisi buruk, melihat alat bantu kehidupan, menempel di tubuhnya, ia merasa sangat sedih
“Apa separah itu?”
“Iya, dokter yang menangani, mengatakan Jovita mengalami serangan kepanikan yang memicu jantungnya memompa lebih cepat, kejang-kejang yang dia alami mengguncang saraf di bagian otak dan mungkin dia juga mengalami benturan di bagian kepala belakang.”
“Apa itu artinya dia akan buta selamanya?”
“Belum dapat kita simpulkan Pak Leon, kita menunggu hasil uji terapi dulu, aku berharap dia tidak buta permanen,” ujar Bily menatap Jovita dari balik dinding kaca.
Bersambung ..
Nt:
Akak-akak ...! bantu vote dan like iya kasih hadiah dan kasih komentar juga, agar viewersnya naik.
Kalau viewersnya naik Author akan update 3 Bab sehari , mohon bantuannya ya gaees
Baca juga;
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1