Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Menjadi buta


__ADS_3

Saat menjelang sore,



Jovita akhirnya bangun dari tidur panjangnya.


“Hmm … Mmm … ,” suara ringisan kecil terdengar dari bibir mungilnya.


Mendengar suara rintihan Jovita,


Leon membuka matanya dan menoleh ke samping,  Jovita sadar dan  mengerakkan tangannya, seperti meminta sesuatu ia merasa sangat haus.


Dengan cepat Leon menekan tombol dokter. Menit kemudian, dokter senior itu datang bersama seorang perawat.



“Mba … apa Mba bisa mendengar saya?  Kalau bisa cukup angkat jadi telunjuk anda. Jovita mengangkat jari telunjuknya.


Wajah Leon terlihat sangat tegang , matanya menatap ke ranjang Jovita.


“Bisa melihat tangan saya? Angkat jarinya”


Tiba-tiba jari tangannya tidak diangkat, wajah dokter dan perawat langsung tegang. Melihat hal itu, Leon tiba-tiba ingin muntah, karena menahan gejolak di dalam dadanya, ia terlihat sangat emosional, wajahnya tiba-tiba menghitam.



Dokter senior itu menekan tombol darurat di sisi ranjang Jovita. Tidak lama kemudian beberapa rekan dokter berlari keruangan itu, termasuk dr. Billy.


‘Tidak ... Tidak … tidak boleh seperti ini’ ucap Leon mengusap buliran air yang menetes di ujung matanya.


Ia ingin duduk,  dr. Billy membantunya duduk.


“Apa dia buta?


“Tenanglah Pak, team dokter akan memeriksa keadaanya”


Leon menekan kuat kepalan tangannya ke mulutnya, ia ingin berteriak melepaskan beban di dadanya.


“Dia tidak boleh buta, Dok” Ucapnya dengan tegas.


“Iya, aku tahu pak Leon. Tenanglah  kami akan berusaha” Billy menghawatirkan keadaan Leon yang terlihat ingin meledak.


“Bagaimana mau tenang Dok, dia  buta!” Teriak Leon dengan emosional.


Melihat banyak dokter yang berdatangan ke  ruangan sang Bos, Iwan ikut   masuk ke ruangan .


Leon ingin berdiri, raut wajah mengeras menahan kemarahan,.


“Aaaa ... sial!” Tangannya memegang luka di pinggang, luka itu kembali berdarah.


Tidak ingin hal buruk terjadi karena tindakan Leon, dr. Billy membuatnya pingsan lagi.


“A-pa yang kamu lakukan lagi Dok?” ujar Leon suara serak dan mata Leon  meredup dan tepar.


“Maaf Kawan… ini demi kebaikan kita bersama,” ujar dokter muda itu dengan tenang.


“Apa yang terjadi, Dok?” Rikko membantu Leon  membetulkan posisi tidurnya.



 Sementara di  di ranjang  Jovita, para dokter memperlihatkan wajah - wajah khawatir, dokter senior itu memeriksa degan detail catatan operasi Jovita.

__ADS_1


“Tidak ada yang salah,” ucapnya  lagi, dokter yang sudah terlihat tua itu  memegang bagian kepalanya, mencoba memikirkan kenapa Jovita mengalami  kebutaan.


“Kita akan coba terapi saraf matanya," titahnya.


Setelah berdiskusi dengan team dokter, Jovita dibawa  ke ruangan terapi  bagian saraf dan melakukan serangkaian pemeriksaan ulang, bahkan memeriksa riwayat kesehatan Jovita Hara.


Setelah  memeriksa riwayat kesehatan dan memeriksa data diri, akhirnya  identitas Jovita Hara terungkap, untungnya Billy bagian memeriksa data Jovita.


“Dok, maaf bukankah gadis mudah ini anak dari Iwan Santoso, yang satu keluarga meninggal karena dibunuh beberapa bulan lalu?” tanya salah seorang dokter magang melapor pada  dr, Billy.


Billy  menoleh layar komputer.


“Tapi Dok, bukanya dia  juga  sudah meninggal yang ditemukan membusuk di selokan?"


Mendengar hal itu ... wajah Billy langsung panik, ia buru-buru mengklik tanda close di layar komputer dengan wajah pucat.


“Ok, jangan katakan apa-apa. Kamu tidak mau  polisi datang ke rumah sakit ini, kan?" Billy menekan dokter magang itu agar tidak memberitahukan siapapun.


“Tidak Dok,” ucap calon dokter muda itu dengan gugup.


“Baik berikan padaku datanya”


Billy menghapus data pribadi Jovita di layar  komputer dan mengganti nama  Jovita Hara menjadi Hara Wardana istri dari Leon.


‘ Bos Naga  apa lagi yang kamu lakukan kali ini? Hampir saja aku dapat masalah besar karena ulah mu. Dasar bos mafia!' ucap dr, Billy dalam benaknya, ia  menemui dokter senior itu lagi dan memberikan data diri Jovita.


Karena kurangnya data tentang Jovita, akhirnya  melakukan serangkaian pemeriksaan kesehatan ulang.


“Sepertinya kepala bagian belakang terbentur atau  dia didorong ke belakang secara tiba-tiba,” ujar dokter  senior itu setelah memeriksa Jovita menjabarkan hasil diagnosanya


“Apa kebutaan ini permanen dokter atau hanya sementara?” dr Billy menatap dokter senior.


                                                *


Saat malam Jovita di bawa ke ruangan yang berbeda  lagi,  ruangan khusus. Akhirnya dipisah dari Leon, itu di lakukan agar Jovita bisa pulih para dokter ingin memberinya suasana yang tenang  tanpa ada suara, banyak alat bantu yang menempel  di tubuhnya.


Sementara di ruangan lain, Leon akhirnya terbangun lagi dengan cepat  matanya menoleh ke samping , tidak ada lagi Jovita di sana.


“Dia kemana?" Mengarahkan pistol ke salah satu perawat pria, saat itu, lagi memeriksa selang infus Leon .


Wajah pria berseragam putih - putih seketika pucat.


"Bos … tenanglah, non Jovita dibawa ke bagian terapi saraf," ujar Rikko dengan wajah tegang.


“Panggilkan dokter Billy ke sini… !” Teriaknya marah.


Iwan berlari keluar, ia memangil dokter  Billy.


Billy datang dengan langkah kaki panjang, ia tahu Leon  pasti sangat marah besar karena ia memberinya   suntikan tidur.



“Aku di si-"


Wajah dokter muda itu seketika panik saat melihat perawat di bawah todongan senjata Leon.


“Bagaimana keadaanya?”


“Dia  masih  dalam ruangan khusus Pak Leon. Tenanglah biarkan dia pergi"


Leon menurunkan tangannya dan menyimpan benda berbahaya itu di bawah tempat tidurnya.

__ADS_1


" Apa yang terjadi di sini, jangan beritahu siapa-siapa" Billy menepuk pundak perawat pria itu.


" Baik Dok," ucapnya dengan tubuh gemetar lalu ia keluar, Iwan juga mengikutinya keluar.


"Jangan katakan siapapun. Ok Bro!" Iwan menyisihkan jaketnya dan memperlihatkan pistol yang terselip di pinggangnya.


"Ba-ba-baik, Bang," ucapnya gelagapan hampir terkancing celana karena ulah Iwan yang sok gaya ....


“Dokter lakukan apapun untuk menyembuhkannya. Bila perlu aku akan membunuh orang untuk mengambil matanya , agar dia bisa melihat lagi” ujar Leon.


“Tenanglah Pak Leon, jangan menambah kesulitan pada dirimu. Wanita itu sudah meninggal beberapa  bulan lalu. Bukankah dia Jovita Hara, Putri almarhum Iwan Santoso?”


“Iya,”Jawab Leon tenang, tidak ada kepanikan atau ketakutan di matanya.


“Aku terpaksa menyembunyikan identitasnya. Jadi tena-”


Lagi-lagi Leon membuat dokter mudah itu, hampir mengalami stroke, belum juga Billy selesai bicara Leon sudah berdiri menarik infus di tangannya lalu berjalan sedikit membungkuk, karena luka di bagian tulang rusuk.


“Mau kemana Pak Leon, luka anda belum pulih”


“Bawa aku  melihatnya!”


“Dia dibawa penggawa …. Ah, Baiklah, percuma juga menolak, kamu akan tetap akan menemuinya. Rikko! tolong ambilkan kursi roda”


“Baik Dok”


Wajah Rikko yang sedari tadi sudah sangat panik melihat kemarahan bosnya, dengan cepat ia membawa kursi roda dan membantu Leon duduk di kursi roda.


“Biarkan saya yang membawanya, Rikko, kalian tetap di di sini berjaga," pinta sang dokter.


Billy  terpaksa melanggar perintah dokter seniornya karena Leon tidak percaya kalau Jovita dalam perawatan khusus. Billy membawa  melihat Jovita, walau hanya bisa melihat dari kaca.


Leon akhirnya percaya kalau wanita cantik itu, dalam kondisi  buruk, melihat alat bantu kehidupan, menempel di tubuhnya, ia merasa sangat sedih


“Apa separah itu?”


“Iya, dokter yang menangani,  mengatakan  Jovita mengalami serangan kepanikan yang memicu jantungnya memompa lebih  cepat, kejang-kejang yang dia alami mengguncang saraf di bagian otak  dan  mungkin dia juga mengalami benturan di bagian kepala belakang.”


“Apa itu artinya dia akan  buta selamanya?”


“Belum dapat kita simpulkan Pak Leon, kita menunggu hasil  uji terapi dulu, aku berharap dia tidak buta permanen,” ujar Bily menatap Jovita dari balik  dinding kaca.



Bersambung ..


Nt:


Akak-akak ...! bantu vote dan like iya kasih hadiah dan kasih komentar juga, agar viewersnya naik.


Kalau viewersnya naik Author akan update 3 Bab sehari , mohon bantuannya ya gaees


 Baca juga;


-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2