
Leon mengerti isi hati Hara, wanita cantik itu mencintai Leon, hanya saja ia takut Leon tidak tulus mencintainya, ia berpikir Leon mau menikah dengannya hanya karena anak yang di kandungnya.
Tetapi saat melihat Leon berlutut di hadapannya, seketika hatinya luluh. Wanita mana yang bisa menolak pesona lelaki itu? Kaya, mapan dan tampan, hanya saja sikapnya terlalu kaku dan dingin.
Kini, Hara sudah mengerti isi hati Leon, lelaki itu hanya takut Hara menolaknya, ia takut Hara belum bisa memaafkannya karena kesalahan di masa lalu.
Malam itu keduanya sudah saling memahami dan saling mengungkapkan perasaan masing-masing.
“Itu artinya kamu tidak marah lagi padaku?” Tanya Leon menatap wajah Hara.
Wanita cantik itu mengangguk kecil.
Leon mendaratkan bibirnya di bibir Hara, ia teramat senang, saat Hara juga membalas ciuman darinya, saling menerima dan saling memberi.
Tanpa aba-aba Leon mengendong tubuh Hara ke kamar, meletakkannya di ranjang.
Lalu Leon melanjutkan aktivitas bibir itu lagi.
“Kamu tidak ingin meminta lebih dari ini, kan?” tanya Hara menahan tawa.
“Kenapa, kamu takut?” balas Leon masih menjelajahi bibir mungil Hara.
“Kamu akan menyakitinya kalau kamu menginginkan lebih dari bibir,” ujar Hara menunjuk perut.
“Oh iya, uya aku hampir lupa diri,” ujar Leon. Menjatuhkan tubuhnya di samping Hara.
“Dia masih muda kata dokter guncangan sedikit saja, berbahaya untuknya,” ujar Hara.
“Baiklah, aku tidak akan menginginkan lebih dari ini, bibir ini saja sudah cukup membuat rinduku terobati,” ujar Leon , menarik tubuh Hara membawa tubuhnya tidur miring dan wajahnya menghadap Leon, Leon meraih bibir Hara mengecupnya beberapa lama dan memeluk Hara di dadanya.
“Tidurlah, aku akan membuatmu tidur, Piter bilang ... beberapa hari ini kamu tidak bisa tidur?" Hara mengangguk pelan.
Leon menarik selimut tebal menyelimuti tubuh mereka berdua.
“Pak Leon”
“Jangan panggil aku Pak Leon lagi,” ujar Leon.
“Baiklah Sayang ….” Leon tiba-tiba membuka matanya saat Hara memanggilnya dengan panggilan sayang.
“Iya begitu lebih baik,” ujar Leon tersenyum kecil
“Ah .... Aku belum terbiasa panggil seperti itu, nanti kalau aku sudah jadi istrimu, baru aku akan panggil seperti itu. Aku hanya mau tanya Apa kamu masih susah untuk tidur?”
“Oh, belakangan ini di waktu tertentu, aku bisa tidur”
“Waktu tertentu seperti apa?”
__ADS_1
“Jika aku dan kamu dalam keadaan baik aku akan tidur nyenyak. Kenapa?” Tanya Leon tangannya membelai rambut panjang Hara.
“Aku mengalami gangguan tidur sejak aku membencimu dan Bokoy. Jadi aku berpikir kamu sebenarnya bukan dikutuk tetapi amarah dan dendam itulah yang menguasai jiwa alam sadar kita. Jika kamu memaafkan ku dan kita saling berbaikan, susah tidur akan hilang, itulah yang aku pelajari,” ujar Hara.
“Lalu?”
“Pak Leon lupakan dendammu dan maafkan aku, maka tidurmu akan nyenyak”
Leon terdiam, apa yang dikatakan Hara benar, sejak terbukti ayah Hara bukan pelaku kejahatan pada keluarganya, mulai saat itu, ia mulai bisa tidur walau hanya beberapa jam.
“Aku sangat mengantuk aku mau tidur” ujar Hara.
“Baiklah, tidurlah, aku ada di sini untuk kalian berdua,” ujar Leon memeluk tubuh Hara dengan lembut mengusap kepalanya dengan pelan, Leon memundurkan tubuhnya saat Hara sudah tidur agar ia bisa melihat wajah Hara saat tidur.
‘Tidur satu selimut denganmu saat ini , aku bagai bermimpi Hara, aku berharap tidak ada masalah lagi dalam hubungan kita’ Leon membatin menatap begitu dalam wajah cantik yang sedang tertidur pulas itu'
“Aku mencintaimu Hara, aku berharap kamu menerima lamaranku kali ini, aku ingin menikah denganmu,” ujar Leon mengecup kening Hara.
Ia bangun dari ranjang dan berjaga sepanjang malam, ia takut para penjahat menemukan mereka berdua.
*
Hingga pagi tiba, pantulan cahaya mentari pagi masuk ke kamar Jovita, di mana ia, masih terlelap di bawah balutan selimut hangat tebal yang ia pakai, bau harum bawang goreng tercium menembus kamar Hara, matanya sedikit terbuka, tadi malam ia tidur sangat lelap nyenyak, tanpa bantuan obat tidur.
Kesadaran belum pulih, matanya mulai menyelidiki sekitarnya, warna tembok yang gelap dan ukiran –ukiran unik ada dalam kamar.
“Selamat pagi?"
Matanya masih menatap Leon tanpa ekspresi.
“Apa kamu masih mengantuk?” Tanya Leon menyingkapkan gorden membiarkan cahaya mentari menyapa wajah cantik itu, Hara mengangkat sebelah tangannya menghalangi mentari yang menyilaukan pandangannya.
“ Leon?”
“Iya”
“Maksudku kamu di sini?” Tanya Jovita dengan kedua alis menyengit.
“Kamu masih bermimpi? Aku bersamamu di sini sejak tadi malam.”
“OH… benar, aku lupa,” memukul keningnya sendiri.
“Oh, wangi apa kamu masak sesuatu?”
“Iya aku memasak nasi goreng di dapur, apa kamu mau serapan di dapur. Apa aku bawa ke sini?”
Jovita bagai melihat sosok yang berbeda dari lelaki yang di depannya saat ini. Lelaki yang biasanya tidak ada kompromi dan tidak ada kata nanti dan tidak pernah romantis. Menatap lelaki yang di hadapannya, apa itu nyata Leon apa mahluk lainya, setahunya, Leon tidak bisa memasak, tapi saat ini terlihat celemek bermotip anak kucing, terpasang di lehernya.
__ADS_1
Ia terlihat lucu memakainya, “Kenapa kamu melihatku seperti itu?” Ia bertanya dengan alis matanya terangkat.
“Tidak, aku hanya bingung sejak kapan kamu bisa masak, jangankan memasak, pegang gagang sendok penggorengan saja kamu saat itu gagal,” ucap Jovita.
“Seseorang harus berubah kan? Demi sesuatu yang berharga,” ujar Leon.
“Maksudnya?”
“Maksudku , ayo aku gendong ke dapur” Ia ingin mengangkat tubuh Hara.
“Tidak usah, aku jalan sendiri saja.
Ia berdiri, Leon dengan sabar menopang tubuhnya, tangan kiri melingkar di leher Leon dan tangan kananya memegang bagian perutnya.
“Kuat gak? Kalau tidak aku gendong,” ujar Leon, ia sangat hati-hati.
“Sepertinya bisa, tapi harus hati-hati, tidak begitu sakit lagi, coba aku berjalan sendiri, tidak begitu pusing, mungkin aku pusing kemarin-kemarin karena kurang tidur”
Leon menurut, tangannya dengan siaga tetap berada di belakang Hara, ia siap siaga kalau tiba-tiba, Hara pusing lagi, Leon berjalan memegang lengan Hara.
“Bagaimana masih pusing?”
“Tidak lagi, sedikit merasa baik, baguslah aku bosan tidur di ranjang , aku ingin bisa jalan sendiri,” ujar Hara menuju meja makan.
Dengan sigap tangan Leon menarik kursi membantu, ibu hamil untuk duduk, dengan hati-hati mendudukkan tubuh Hara, ia terlihat seperti calon yang sangat perhatian dan selalu melihat ke arah Hara dengan penuh kekhawatiran.
' Aku berharap para penjahat itu tidak menemukan kami di sini, aku tetap seperti ini, berdua dengannya' Leon menyodorkan teh hangat untuk Hara.
"Terimakasih," ujar Hara ia masih terlihat canggung dengan perubahan sikap Leon.
Bersambung…
KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA UNTUK KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA, AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA. PELUK HANGAT UNTU KALIAN SEMUA.
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing
__ADS_1