
Satu tahun setelah kepergian Bu Ina. Tiba-tiba Hara merasakan rindu, karena biasanya setiap minggu Bu Ina selalu datang mengunjunginya, ia duduk sedih di depan balkon, Leon ingin menghibur Hara.
“Apa kamu ingin kita berdua berkencan sayang? kita belum pernah melakukannya,” ujar Leon.
“Anak-anak bagaimana?” Tanya Hara.
“Jangan khawatir ada Toni dan Kikan, ada ibu juga di rumah,” ujar Leon.
Kebetulan Toni datang berkunjung, Chelia sangat senang bermain dengan Juna anak Toni.
Akhirnya Leon kencan dengan Hara, menikmati indahnya jalan berdua, makan esceream di pinggir jalan. Hara memakai topi dan kacamata hitam memakai masker, Leon juga menggunakan masker dan kacamata hitam memakai topi.
Leon bahkan mengajaknya lewat dari pintu rahasia , sebuah pintu kecil yanga langsung menuju jalan raya, bahkan tidak ada yang menyadari mereka berdua keluar dari rumah hanya ingin kencan diam-diam.
Melakukan semua yang diinginkan Hara, hal yang tidak pernah ia lakukan sejak dari dulu, maka kali ini, Leon mengijinkannya.
“Bagaimana … Apa kamu senang ?”
Hara nya mengangguk, wajahnya kembali ceria.
“Ini menyenangkan, ini pertama kalinya kita berjalan berdua, kita harus sering-sering jalan seperti ini, ini menyenangkan.”
Hara mendudukkan panggulnya di salah satu kursi taman menikmati semangkok bakso yang di jual abang-abang, membuat hatinya mengenang masa kecilnya yang selalu ingin nongkrong bersama teman . Tetapi hal itu tidak pernah kesampaian, baru pulang kuliah Piter sudah menunggunya di pintu keluar. Ingin melarikan diri pun sudah di pasang gps, jadi mau tidak mau ia harus menuruti. Saat itu ia berpikir itu semua demi kebaikannya.
“Apa hebatnya makanan di jalanan, aku bingung, rasa sudah pasti lebih enak di restoran lebih bersih dan terjamin,” ujar Leon, saat Hara, menyampaikan keinginannya ingin makan di pinggir jalan.
“Ini bukan tentang rasa, tetapi salah satu keinginan hati yang belum kesampaian, ibarat kata aku sudah mengidam ini sejak kecil. Tapi, kalau aku pikir-pikir lagi ni, iya … ayahku dan Om Piter melakukan itu karena kamu, kan, yang selalu mengikuti ku, coba kamu saat itu tidak menguntit mungkin-“
“Mungkin kamu tidak akan jadi istriku seperti saat ini” Potong Leon dengan seuntai senyum yang mengembang di bibirnya. Senyuman seperti seorang pemenang lotre.
“Iya juga sih,” ujar Hara ragu dan dibalas tawa dari keduanya.
“Sayang, begini ….” Leon menatapnya dengan tatapan senyum menggoda.
“Apaaa?” tanya Hara memutar bola matanya, ia tahu kemana arah pembicaraan Leon.
“Bagaimana kalau kita menambah anak lagi, biar tambah ramai rumah kita.” Leon mengutarakan keinginannya.
“Pak Leon Wardana …! kedua bocah itu sudah membuat rumah kita rame, loh! Apa lagi putrimu si cerewet itu, ia menjadikan rumah kita seperti pasar malam karena celotehannya, kamu tidak tahu. Saat kamu ada di kantor pulang dari sekolah dia akan konser di rumah dan mengajak Suster Ana dan Suster Ebi bernyanyi, mereka seperti mengadakan konser.” Hara menceritakan keseharian Chelia di rumah saat Leon di kantor.
“Benarkah? kok aku tidak tahu, tapi tetap sayang, masih kurang.” Leon membujuk dengan segala bujuk rayu, agar menambah momongan lagi.
“Tidak, sudah cukup, aku takut saat aku hamil nanti kembar lagi, kamu tidak tahu betapa beratnya mereka berdua, saat mengandung mereka berdua, saat itu, aku berpikir perutku akan meledak karena terlalu besar.” Hara mengedikkan pundaknya, menandakan ia belum siap.
“Aku akan membeli kuda kalau kamu mau hamil lagi dan menambah kandang kelinci.” Leon menawarkan hal yang disukai Hara.
Hara menatap dengan senyuman, memiliki kuda dan banyak kelinci keinginannya sejak dulu. Tetapi di suruh memilih hal itu dan untuk memiliki anak ia memilih tidak usah memiliki kuda ataupun kelinci.
“Tetap tidak.”
__ADS_1
“Tahun depan, bagaimana?”
“Tidak juga.”
Bujuk rayu Leon tidak mempan untuk Hara ia tetap menolak, ia tidak mau hamil lagi.
“Baiklah, apa aku harus cari wanita lagi untuk melahirkan anak lagi untukku?” tanya Leon bercanda pura-pura mengalihkan pandangan pada wanita yang melintas di depan mereka.
“Apaaa?” Hara menatap dengan tatapan mata melotot.
Leon tertawa, lalu ia mencubit pipi istrinya akhirnya Hara mau menunjukkan perasaan cemburu padanya, Hara walau sudah memiliki anak, tetapi sejak ia pulih ia sangat menjaga penampilannya, ia selalu tampil cantik.
Bu Atin dan almarhum Bu Ina selalu mengingatkan agar tetap cantik untuk Leon. Karena di luar sana ada banyak wanita yang ingin tebar pesona pada suaminya, kalau Hara cantik dan ia melayani suaminya dengan baik, Bu Atin yakin, Bapak dua anak itu, tidak ada pikiran untuk berpaling darinya.
Hara juga berpikir ada banyak wanita yang menggilai suaminya bahkan saat ia masih kerja dulu di hotel dengan terang-terangan banyak karyawannya yang mengaku menyukai Leon, bahkan ada yang sempat bilang ingin menyantet Leon karena cinta sepihak.
Hara memeluk lengan dengan erat lalu ia berkata; “ Jangan macam-macam, aku akan memotong itumu kalau kamu berani melirik perempuan lain.”
Ucapan Hara mengundang tawa keras dari Leon dengan spontan ia memegang anunya dengan tawa terkekeh.
“Ayo apa ada lagi tempat yang ingin kamu kunjungi, aku libur hari ini khusus untukmu.” Leon mengedipkan sebelah matanya, ia bergaya ala gaya anak muda jaman sekarang.
Hara terkekeh dengan gaya Leon hal yang tidak biasa.
“Kita naik apa?” tanya Hara penasaran.
“Tunggu sebentar disini, tadi aku sudah meminta Bimo mengantar motor ke sini, aku tidak ingin mereka khawatir jadi aku mengabari ibu dan Toni.”
Setelah memakai perlengkapan dan pengaman Leon menaiki motor.
“Apa anak-anak mencari kami tadi?”
“Iya, tadi Okan mencari Bapak.”
“Tolong awasi mereka kami mau kencan dulu sama Ibu.”
“Baik Bos, aku akan meminta Bram yang melakukannya, kami akan mengikuti bapak.”
“Tidak usah ikut, aku sama Ibu ingin berdua jalan-jalan.”
“Baik Pak.” Bimo patuh dan kembali ke rumah.
Leon memacu motor besar itu menyusuri segala tempat yang ingin di lihat Hara, mulai dari tempat sekolah, tempat ia kuliah, kantor ayahnya dulu, terakhir ia melihat gedung senam milik ibunya itu yang paling ingin dilihat Hara dari semua tempat.
Bangunan itu sudah selesai dan sudah dipergunakan jadi tempat senam seperti yang diinginkan Hara.
“Aku sangat senang hari ini, ini hari yang paling sepesial untukku,” ucap Hara ia duduk di depan taman gedung milik ibunya. “Aku punya banyak kenangan di tempat ini bersama ibu, Oh aku juga pintar menari dan beberapa jenis olah raga, belajar di sini.”
“Oh.” Leon hanya jadi pendengar.
__ADS_1
“Banyak hal yang belum kamu tahu dari aku sayang, walau aku sudah menjadi istrimu.”
“Misalnya?” tanya Leon berdesis jengkel dengan tangan melipat di dada.
“Misalnya lelaki yang melihat kearah kesini itu, orang yang aku suka sejak dari kuliah.”
“Apaaa?” Leon melirik ke belakangnya. Tetapi bukannya cemburu ia malah tertawa terkekeh.
Karena lelaki yang di tunjuk Hara, seorang lelaki yang memiliki perut buncit dan kepala botak.
“Bandot tua itu …?” Leon tertawa geli melihat selera Hara jaman kuliah.
“Dulu, dia tidak sejelek itu, tetapi setelah ia menikah dan termakan usia jadi jelek begitu sih….” Hara juga ikut tertawa, mengenang masa lalu dan menceritakan untuk pertama kalinya pada Leon.
Mereka berdua seperti sepasang kekasih yang baru jadian, Leon memperlakukan Hara dengan sangat manis dan membuat mata para wanita yang melihat mereka jadi iri. Mereka berdua berjalan berpegangan tangan, seakan –akan dunia milik mereka berdua yang lain mengontrak, makan dalam satu piring berdua atau melakukan hal-hal alay yang tidak pernah mereka lakukan dulu.
Leon menunjukkan sisi lain darinya saat itu, ia sangat romantis dan bersikap manis, melakukan apapun yang dinginkan Hara, bahkan ia ikut menikmatinya.
‘Apa ini dari sisi lain dari kamu? Kamu sangat manis dan romantis saat ini, aku tidak pernah membayangkan kalau kita akan menghabiskan waktu indah seperti saat ini, ucap Hara dalam hatinya, ia baru saja mengambil hasil foto alay mereka dari mesin pencetak foto otomatis.
Melihat foto itu, Leon tertawa keras. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia mau di foto dengan pakai kaca mata rapper berwarna kuning.
Menghabiskan waktu berduaan dengan Hara.
Melakukan semua yang tidak pernah di lakukan Hara. Leon mau, karena ia juga tidak pernah menikmati semua itu saat ia masih muda dulu.
Ia menghabiskan energinya hanya untuk memikirkan bagaimana membalaskan dendamnya pada keluarga Hara saat itu, ia bekerja keras untuk bisa menjadi orang kaya.
Ia melakukan semua cara tidak perduli itu dengan cara muda ataupun cara sadis. Baginya saat itu, hanya uang dan uang.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)