
Terjadi kepanikan kembali di hotel, karena istri dari Bos pemilik hotel tiba-tiba menghilang.
Mendengar Hara menghilang Piter ikut berlari menuju lantai atas.
“Kenapa bisa …!? Bukannya Kenzo menjaga Hara di sini?” Tanya piter dengan wajah panik.
“Tenanglah Pak, kita akan mencarinya, aku yakin mereka masih di sini,” ujar Bimo.
“Zidan tolong minta anak- anak, untuk berpencar, waktunya belum terlalu lama, pasti tidak jauh, suruh mereka ke parkiran dan dan periksa setiap kamar.” Piter menelepon Zidan.
“Baik Bang!”
Tidak lama kemudian Sania, sekretaris Leon yang baru datang dengan wajah pucat, setelah Hilda membawanya ke hadapan Leon.
“Apa yang terjadi? aku memintamu dan Ken, menjaga Hara, kenapa dia tidak ada dan kamu tiba-tiba pergi?” tanya Leon menatap wanita itu dengan tatapan tajam setajam silet, membuat Sania terlihat gemetar.
“Tadi dari ruangan ibu Hilda memintaku membawa dokumen yang akan ditanda tangani, dia memintaku membawa dokumen itu dengan cepat, jadi aku ke sana.”
“Gila kamu … saya dari tadi itu di bawah sama Pak Leon,” ujar Hilda membentak sekretaris tersebut.
“Tapi benar bu, tadi suara ibu yang memintaku membawa dokumen ke ruangan ibu.”
“Terus?”
“Sa-saya hanya meletakkan di atas meja ibu,” ujar Sania gelagapan.
Bimo, Hilda di buat bingung, tetapi tidak untuk Piter, ia terlihat sangat tenang. Lalu ia mengajukan pertanyaan pada Sania.
“Apa kamu mendengar dengan jelas suara penelepon?” Tanya Piter dengan tatapan tegas.
“Tidak, soalnya aku mendengar keributan seperti suara kipas angin.”
“Bagaimana cara dia menelepon kamu?”
Dengan mata menatap takut pada Leon, ia menceritakan, suara penelepon , karena jelas-jelas itu bukanlah Hilda, karena Hilda bersama Leon di bawah.
“Apa kamu yakin itu suara perempuan?” tanya piter menatap wanita yang ketakutan tersebut.
“Saya tidak yakin Pak, karena suaranya sangat berisik.”
__ADS_1
“Aku tahu dari mana dia menelepon. Zidan ….! Kerahkan anak buah mu ke ruang mesin.” Ujar piter.
Bimo dan beberapa anak buahnya ikut berlari kearah ruangan mesin , ternyata benar ada seseorang tadinya berada di sana, ada jejak kaki menuju plafon.
“Ini menyebalkan …! Bagaimana kita bisa kecolongan padahal aku sudah meminta setiap ruangan di hotel ini.”
Bimo terlihat kesal dan merasa gagal, karena ia yang memimpin.
“Jangan merasa bersalah, dian orang profesional, makanya kita kecolongan, kita akan tetap mencari pelakunya, tapi bagai mana dia masuk? pasti dia menginap di salah satu kamar di sini, tunggu aku akan mengikutinya.”
“Biarkan aku yang masuk.” Bram masuk ke plafon.
“Zidan hati-hati aku yakin ada jebakan di sana,” ujar Piter memperingatkan. Ia sangat familiar dengan cara seperti itu.
“Kita tidak tahu apa yang terjadi kalau kita tidak mencobanya” ZIdan dengan berani masuk, mengikuti jejak pelaku.
“Bos, Zidan mengikuti jejak pelaku melalui plafon” Bimo menelepon Leon.
“Lalukan apapun temukan dia,” ucap Leon geram, Piter berada di dekat Leon.
“Jangan lakukan itu!”pinta Piter.
“Kenapa?” Leon menatap kaget.
Benar saja baru saja Piter selesai bicara.
Der ….! Dor .....!
Suara tembakan terdengar di atas plafon dibarengi dengan suara teriakan kesakitan, Bram tertembak, tetapi tidak ada seseorang di sana.
“Bram tertembak di atas plafon, Bos kami akan membawanya ke rumah sakit."
"Lakukan diam-diam, lewat belakang saja.
Wajah Leon semakin memanas saat mendengar ada korban, “Kamu benar .... Ada senjata otomatis.”
“Kamu tetap di sini, aku takut dia mengincar kamu. Ini pasti di kerjakan seorang profesional.”
“Tapi aku ingin menghabisinya.” Leon semakin marah mendengar anak buahnya tertembak.
__ADS_1
“Tenangkan dirimu, aku takut mereka juga mengincar mu jadi tetaplah di sini, agar kita bisa menangkap pelakunya.”
“Jangan khawatirkan aku. Nyawa istriku dalam Bahaya, aku tidak akan bisa tenang, aku akan meminum darahnya jika sampai menyakiti Hara,” ujar Leon dangan wajah mengeras. Ia membuka laci dan mengeluarkan pistol dan menyelipkan benda berbahaya itu di pinggang.
Leon tidak mau, ia tidak akan tenang kalau di suruh menunggu, ia ikut melihat keadaan Lelaki di turunkan merek berusaha agar tidak menimbulkan kepanikan di dalam hotel, menyelamatkan Hendro.
Mereka membawa diam-diam ke rumah sakit dari pintu belakang ,membawa lelaki itu ke rumah sakit tanpa menimbulkan kepanikan.
Melihat Keadaan Bram yang terluka, Leon yakin kalau Hara mengalami hal buruk.
“Aku tidak akan memaafkan siapapun kamu, jika menyakiti istriku,” ucap Leon mengepal tangannya dengan kuat tubuhnya bergetar menahan kemarahan.
“Kita tidak boleh menunggu seperti ini, biarkan aku yang masuk dan aku akan melihat keadaanya.”
“ Jangan ... Ini aku saja yang melakukannya, "ujar Leon.
“Jangan, cukup jangan biarkan Hilda masuk ke sini.”
“Baiklah."Leon sudah seperti seperti setrikaan mondar –mandir.
Piter naik keatas balkon itu lagi, menghiraukan keselamatan sendiri demi mendapatkan keberadaan Hara, Piter merangkak dari balkon itu dan mengikuti jejak di lantai balkon merangkak mencari kamar orang yang memiliki senjata itu, Piter bergerak dengan mengandalkan kedua siku tangannya untuk bergerak maju, ia merangkak jauh, tetapi tiba-tiba sebuah panah dari arah depan mengarah kepadanya yang di pasang otomatis untuk melukai siapa saja yang mencari tahu jejak lelaki itu, sebuah cara untuk menghilangkan jejak. Piter yang sudah beberapa kali mengikuti pelatihan di kesatuannya dulu di tentara dulu, Piter sudah mengetahui akan ada jebakan seperti itu, maka saat melihat panah menuju arahnya dengan cepat Piter membalikkan tubuhnya dengan terlentang, ia lolos dari hujaman panah.
Ia melanjutkan lagi, ia yakin masih ada tembakan di depannya, sebelum ia mendapatkan kamar orang itu ia merangkak baju dan di depannya, sebuah gas dalam kaleng Jika Piter menyentuh kaleng itu, akan mengeluarkan asap yang bisa membuatnya mati kehabisan oksigen, dengan hati-hati Piter menyingkirkan benda itu lagi.
“Kamu tidak akan membuatku menyerah, aku sudah melewati banyak bahaya dari yang kamu lakukan ini , dasar bodoh…,” ucap piter.
Piter merangkak lagi maju ke depan akhirnya, ia menemukan apa yang ia cari, sebuah camera, camera itulah yang mengendalikan semua senjata itu.
“Aku mendapatkan mu, apa hanya ini senjata mu? Kamu terlalu bodoh untuk seorang sniper apa hanya itu senjata yang kamu jadikan perangkap ... kamu pasti seorang tentara bayaran, kasihan sekali orang merekrut mu,” ucap Piter mengarahkan suaranya ke arah camera kecil itu, ia mengambil semua camera itu, dan akhirnya ia menemukan sebuah plafon yang terbuka ia adalah kamar penjahat tersebut.
Piter turun, lalu ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Leon.
“Aku berhasil menemukan kamar si penyusup, lantai lima nomor 308.” Piter memasukkan ponselnya kembali, dalam kamar tenyata masih di pasang perangkap ia melempar bantal dari tempat tidur sebuah potongan besi tajam terbang dari arang vas bunga Piter sudah tahu ia bersembunyi di balik sofa. Ia juga melemparkan bantal lagi sebuah pisau tajam terbang kearah bantal yang di lemparkan Piter.
Leon datang mengetuk pintu.
“Tunggu sebentar aku harus membereskan ini dulu” setelah selesai semua baru membuka karena terlalu bekerja keras untuk mencari Hara, ia sampai tidak merasakan kalau tangan terluka di lengan.
Saat ia masuk tidak ada orang di kamar itu, tidak ada petunjuk, hanya meninggalkan perangkap dalam kamar Leon semakin panik.
__ADS_1
“Hara, kamu di mana? aku berharap kamu baik-baik saja” Leon duduk lunglai di lantai.
Bersambung..