Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Akibat mimpi buruk lagi.


__ADS_3


Saat malam tiba di rumah Leon di  jakarta.


Jovita masih di kamar Bu Atin, tidur satu harian membuatnya tidak bisa memejamkan mata lagi.


“Bi, aku tidak bisa tidur lagi, karena kelamaan tidur siang tadi”


“Apa perlu bibi bawakan susu hangat?”


“Gak Bi, masih kenyang”


Wanita paru  baya itu duduk di samping Jovita ia meraih punggung tangan Jovita mengelusnya dengan lembut.


“Apa semua ini menggangu pikiranmu?”


“Iya sangat menganggu, aku berpikir bagaimana caranya untuk kabur dari rumah ini, Bi”


“Jangan Non, jangan pernah melakukan hal itu. Itu akan membuatmu dalam masalah besar nantinya”


“Kenapa Bi, Bos Naga galak itu kan lagi tidak ada di sini,"ujar Jovita, ia berniat kabur.


“Non Hara, belum pernah ada seseorang yang bisa lolos  dari pengawasan Pak Leon. Dia lelaki … “


“Apa Bi, lelaki apa?”


“Dia  bukan lelaki yang seperti yang kamu pikirkan”


“Maksudnya Bi,  dia hebat apa dia sadis ...?”


“Melampaui  yang kamu pikirkan, Non”


“Memang  sehebat apa si ular Naga itu”


Bi Atin hanya tersenyum kecil , saat Jovita menyebut Leon  si Ular Naga.


“Pokoknya jangan pernah mencoba melarikan diri Non dari sini  …. Bibi tidak mau kamu menyesalinya, Bibi sudah  mengenal Leon cukup lama, jadi Bibi tahu seperi apa dia”


“Lalu apa yang aku lakukan Bi?”


“Baiklah … kamu masih muda dan sudah mengalami  banyak penderitaan. Turuti apa yang di katakan Leon, apapun yang dia katakan lakukan saja, hanya dengan begitulah dia memberimu kepercayaan”


“Tapi aku merasa tidak tahan lagi berada di sini Bi, aku hanya ingin bebas aku hanya ingin melihat dunia luar. Salsa dan  Sabrina bisa  bebas keluar lalu, kenapa aku tidak …?”


“Itulah yang Bibi katakan padamu Non, lakukan apapun yang di katakan, mungkin suatu saat ia akan memberikanmu hak untuk bebas”



Jovita diam memikirkan  yang dikatakan Bu Atin.


“Baiklah Bi, aku akan memikirkannya. Tapi malam ini, aku tidak bisa tidur, aku ingin jalan-jalan  di pinggir pantai, setelah itu aku akan tidur di sisi dengan Bibi”


"Jangan Non, besok pagi saja bibi temani jalan di pantai, sekarang coba rebahan saja"

__ADS_1


                           *


Disi Lain



Rumah Leon di Kalimantan saat sat siang.


Malam itu, waktu sudah menunjukkan pukul 24: 00. Leon merasa sangat tersiksa segala cara ia lakukan agar matanya bisa tidur, ia keluar dari  rumah dan pergi lagi kerumah singgahnya  membelah potongan kayu  menggunakan kampak, ia mengerjakan agar tubuhnya kelelahan dan mengantuk, tetapi matanya tak kunjung bisa diajak tidur.



Memotong kayu tidak berhasil membuat mengantuk.


Kali ini, meminta Rikko membawa satu botol minuman, tetap tak kunjung merasa mengantuk.



"Sial ...! Aku tidak bisa tidur"


Leon semakin frustasi, saat ia merasa tubuhnya sangat lelah dan kepalanya pusing. Namun matanya tak kunjung mau dia ajak tidur. Ia membuka laci di samping ranjang dan meminum obat penenang beberapa butir, untuk membantunya tidur. Namun, Leon seakan-akan di kutuk hidupnya, saat  ia  bisa tidur ternyata, ia mengalami mimpi buruk itu lagi, bahkan kini  yang lebih menyeramkan.



Mariaban, mahluk mitos dalam mimpi Leon.


Dalam mimpinya Leon bertemu  dengan mahluk jelek berbulu dengan gigi panjang dan mata memerah.  Siluman Mariaban. Mahluk mitos yang pernah ia ceritakan untuk menakut-nakuti Jovita Hara, saat mereka  di kejar musuh di dalam hutan . Kini mahluk itu seakan-akan nyata  di hadapan Leon, Mahluk itu menatapnya dengan buas, mulutnya penuh dengan darah,  dalam mimpi Leon.


Mahluk itu memakan tubuh manusia yang pernah di bunuh Leon tubuh-tubuh yang tak bernyawa  yang  dihabisi Leon tergeletak di tanah dan dimakan satu persatu oleh  mahluk yang menyeramkan itu.


“Ja - Jangan lakukan itu, menyingkir dari sana!" Teriak Leon dari belakang.


Saat  gadis muda,  berpita merah,  berambut panjang itu menoleh ke belakang itu adalah Jovita kecil.


“AAA ….!” Leon berteriak dan terbangun  tubuhnya basah kuyup karena keringat.


Leon duduk  dadanya naik turun  dan napas terengah-engah seolah-olah ia berlari puluhan kilo meter, ia merasa sangat capek kerongkongannya, terasa sangat kering,   meraih gelas di atas nakas meminumnya sampai tandas


Ia berdiri dan melihat jam, sudah pagi, dengan tubuh sempoyongan, ia mengamuk karena sepanjang malam itu, dia mengalami mimpi buruk yang terasa begitu nyata.


“Apa salahku. Haaa …! Kenapa kalian menghukumku seperti ini. KENAPA?”


Leon berteriak, marah di depan patung yang ia letakkan di sudut kamarnya, ia menggila melemparkan semua barang-barang di dalam kamar.


“Aku tidak pantas dihukum seperti ini. Aku juga terluka … “ Teriaknya lagi.


Mendengar Leon berteriak marah  semua anak buahnya termasuk Toni . Mereka semua berlari menenteng pistol menuju kamar sang bos dan berdiri di depan pintu.


“Aku selalu melakukan ritual ku untuk kalian. Lalu kenapa aku dihukum, kenapa harus wanita itu yang kalian bikin alat untuk menghukum! Aku akan membunuhnya biar kalian puas!"


Praang ....!


Leon menghancurkan lemari kaca di kamarnya hingga melukai lengannya.

__ADS_1


Toni  mengangkat tangannya meminta  rekan-rekanya mundur, ia tahu Leon  marah pada siapa.


“Biarkan saja .... kalian boleh mundur"


 Toni dan Rikko saling menatap dan memilih berdiri tidak jauh dari kamar Leon, mereka tahu apa yang terjadi pada Leon.


 Mereka berdua hanya diam, seolah-olah sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Jika Leon mengalami mimpi buruk  dan tidak bisa tidur, biasa akan ada pelampiasan kemarahan.


Saat Rikko ingin turun, Toni menggantinya.


“Biar saya  saja Bro”


“Ok” Rikko berhenti


Toni  dan anak-anak yang lain mengangkat samsak tinju ke lapangan belakang rumah dan mempersiapkan arena tembak untuk sang  bos. Jika Leon mengalami   hal seperti itu, ia  akan  melampiaskan kemarahannya  pada samsak tinju kalau tidak, ia akan olah raga menembak.


Rumah Leon agak jauh dari pemukiman warga jadi saat ada suara tembakan di rumahnya, sudah hal biasa karena ia sudah punya surat izin untuk semua senjata yang ia pakai. Untuk yang ia pakai ....


Tetapi untuk bisnisnya  beda ceritanya, Leon  seorang mafia kelas kakap yang menguasai perdagangan senjata ilegal antar negara. Tetapi  untuk narkoba, ia tidak memegangnya. Ia bermain di bagian yang sulit ditembus polisi. Leon  memiliki banyak  ladang bisnis yang  membuatnya kaya raya.


Saat ini,


Leon selonjoran di lantai, merasa sangat pusing.


Matanya melirik jam dinding pukul 5: 00 Wib.


“Iya ampun, kalian menyiksaku satu malam. Dari aku minum obat tidur lalu tidur, kalian sudah memberiku mimpi buruk sampai pagi ,” ucap Leon ia menatap patung itu dengan tatapan sinis


“Kenapa harus dia?” Tanya Leon meraih ponselnya dan mengusap layarnya, hal yang pertama yang ia lihat kamar Jovita.  Matanya semakin melotot saat tidak ada Jovita dikamarnya, Ia melihat Jam, semakin murka, karena malam itu, Jovita tidak ada di kamarnya. Ia mengecek semua sudut rumah, tetapi Jovita tidak kelihatan, ia tidak melihat Jovita di kamar Bu Atin, karena di sana tidak ada cctv-nya.


“Oh … jadi kamu mencoba melarikan diri anak kecil! Saya akan mematahkan kakimu Jovita .... Agar kamu tidak tahu bagaimana caranya kabur," ujarnya marah, karena Leon mengecek semua sudut rumahnya dan tidak menemukan Jovita. Ia tidak tahu kalau Jovita tidur di kamar  Bu Atin.


Ia menelepon anak buahnya yang di Jakarta.



“Cari Jovita sampai ketemu,  bawa dia kesini!”


Bersambung ..


KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI


DAN AUTHORNYA


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2