
Ichiro Hotel.
Di lantai paling atas, tepatnya di sebuah taman di gedung atap di hotel Ichiro. Saat itu sang mentari sudah bergegas meninggalkan singgasananya, meninggalkan lukisan berwarna jingga di cakrawala, menandakan malam telah tiba.
Hara masih memeluk erat tubuh Leon, mereka berdua masih berdiri di taman bunga buatan Leon. Sebuah taman indah yang ia hadiahkan untuk Hara, bahkan nama taman itu ia namai 'Taman Hara'
Saat Jovita Hara mencium aroma parfum Leon, bau itu, lagi -lagi membuat sensor di otak Hara merespon, Sebuah aroma woody black pepper dan perpaduan citrus, itu parfum dari salah satu merek kenamaan, parfum buatan Italia itu memang andalan Leon dari dulu, ia tidak pernah ganti, dari aroma yang terpancar segar dan maskulin. Hara mengenduskan hidungnya semakin dalam. Kepala Hara semakin sakit dan semakin merangkul kuat pinggang Leon karena sakit di kepalanya.
“Apa semakin sakit?” Tanya Leon.
Saat Hara semakin kuat memeluk pinggangnya, sebuah panggilan telepon terdengar dari dalam tas Hara yang ia letakkan di kursi plastik, tangan kiri Leon dengan cepat membuka tas Hara, melihat si pemanggilnya adalah Maxell dengan cepat tangannya mematikan ponsel tersebut dan menyembunyikannya.
“Makin sakit?” Tanya Leon lagi.
“Hmmm … rasanya ingin muntah”
“Hara, aku hanya ingin bilang, apapun yang melintas di benakmu, jangan paksa untuk mengingatnya dengan begitulah rasa sakit di kepalamu akan hilang, apa kamu sudah mengerti ?”
“Hmmm …. Baiklah. Maafkan aku Pak, kalau aku meminjam tubuhmu”
“Tidak apa- apa Hara, pakai saja tubuhku sepuas mu, jangan khawatir tidak akan ada yang melihatmu dan aku juga pintar menyembunyikan rahasia,” bisik Leon membuat Hara terlihat tenang.
“Berarti aku boleh muntah di pakaian bapak?”
“Boleh, lakukan saja,” ujar Leon, ia bahkan rela jika Hara muntah di pakaiannya.
“Tidak ah aku tidak tega ….”Hara mengalihkan wajahnya dan muntah dalam pot bunga.
Leon berlari kecil mengambil gelas dari meja makan mereka, lalu menepuk-nepuk pundak Hara.
“Ini, minum dulu.” Hara tidak membantah, ia meminum air dalam gelas.
“Apa kamu punya minyak gosok? “Tanya Leon meraih tas tangan milk Hara.
“Ada, dalam tas”
Leon terlihat seperti seorang suami siaga, dengan buru- buru tangannya merogoh isi tas, mendapatkannya. Hara merentangkan telapak tangannya meminta botol berwarna hijau tersebut dari Leon.
“Tidak apa-apa berdirilah, biarkan aku yang melakukannya.”
Hara seolah-olah terhipnotis oleh Leon, kalau biasanya ia selalu menolak siapapun lelaki yang mencoba mendekatinya, ia berpikir cukup hanya Maxell lelaki yang mencintainya. Namun, kali ini saat Leon memeluk tubuhnya, ia merasa sangat nyaman dan merasa sangat dekat, maka itu Hara tidak menolak.
Ia berdiri membelakangi Leon, memberikan batang lehernya di olesi minyak angin. Namun Leon membalikkan tubuhnya lagi mendudukkan di kursi.
“Duduk di kursi sini, aku akan memijit keningmu”
Lagi-lagi Hara bagai kerbau yang ditusuk hidungnya, ia menurut. Leon menarik satu kursi plastik dan duduk di depan Hara, saat wanita cantik itu menutup mata. Tangan Leon terhenti, ia menatap wajah cantik Hara begitu dalam menyisik setiap sudut di wajahnya di mulai dari bulu mata lentik panjang, hidung dan berakhir di bibir.
‘Hara … aku merindukanmu, merindukan rasa manis madu di bibir ini’ Leon ingin mendaratkan bibirnya di bibir Hara. Tetapi tiba-tiba ia tersadar.
__ADS_1
Ia tidak ingin Hara menuduhnya mengambil kesempatan.
Ia menghentikan keinginan tubuhnya, ia melanjutkan memijit kening Hara dengan minyak angin.
“Bagaimana?” Tanya Leon saat Hara membuka matanya dan menyipitkannya beberapa kali.
“Mataku perih, kenapa jadi memijit mataku?” Tanya Hara, ia protes saat tangan Leon salah memijit, karena matanya terlena meneliti wajah Hara, tangan itu jadi salah jalur yang diurut bukan kening, tetapi malah kelopak mata Hara.
“Oh, benarkah? maaf,” ujar Leon tertawa kecil.
“Eh, Bapak tertawa? Baru kali saya melihat Bapak tertawa. Bukan hanya bunga ini yang langka, bahkan tawa dari Bapak barusan juga langka,” ujar Hara.
“Kenapa jadi membahas tawa, kamu masih sakit, apa tidak?”
Hara tertawa melihat wajah Leon yang tiba-tiba terlihat kesal, saat ia mengomentari tawa Leon.
“Sudah Pak … Tapi bapak itu harus banyak tertawa agar semakin ganteng kar-”
“Hara, ayo makan, aku lapar,” potong Leon mendekatkan wajahnya di depan mata Hara , seolah-olah tidak suka membahas tentang tawanya yang tadi.
“Baiklah,” ujar Hara menahan tawa melihat sikap Leon .
‘Lelaki ini lucu, kaku kayak tiang jemuran’ ucapnya dalam hati.
Hara lupa kalau ia dulu menyebut Leon dengan banyak julukan; ular naga, kulkas dua pintu, manusia kutub utara, kanebo kering. Saat ini, saat ia lupa ingatan, bertambah satu julukan baru lagi darinya yakni; tiang jemuran. Karena lupa ingatan juga, Hara lupa kalau lelaki yang dipeluk tadi mungkin saat itu sudah jadi suaminya kalau saja tidak terjadi kebakaran dulu di rumah mereka.
Leon berjalan menuju meja di ujung taman, di sana sudah tertata rapi sebuah meja makan romantis bertabur bunga. yang hias lampu menyala.
“Kemarilah.” Leon menarik satu kursi untuk Hara duduki.
“Kok, Bapak romantis?”
“Hara ... belum juga apa- apa sudah di komentari. Aku jadi lupa mau melakukan apa,” ujar Leon dengan jujur.
Hara tertawa lepas, melihat ekspresi kaku Leon, ia berpikir kalau Leon ingin menggombalnya.
‘Aku rasa lelaki tiang jemuran ini bukan orang jahat deh, sama aku saja dia kayak orang bingung’ Hara menatap wajah Leon penuh penyelidikan.
“Jangan melihatku seperti itu,” ujar Leon dengan wajah tanpa ekspresi. Ia sibuk memotong - motong daging steak punya Hara, seperti kebiasaannya dulu setiap kali mengajak Hara makan.
“Pak, sebenarnya apa sih masalahmu sama omku?”
“Kenapa?” Tanya Leon tanpa menoleh.
“Om, tidak pernah suka dengan bapak,” ujar Hara.
“Tidak ada,” jawab Leon menyodorkan piring itu lagi ke hadapan Hara , ia juga menuangkan anggur ke gelas .
“Terimakasih, Pak”
__ADS_1
“Sama-sama selamat menikmati,” ujar Leon.
Wajah Hara masih menimang -nimang.
“Aku rasa Bapak orang baik deh,” ujar Hara lagi.
“Mungkin,” balas Leon datar.
“Tapi om Vikky bilang Bapak itu penjahat kelamin"
“Uhuk ….!”
Mendengar julukan sadis itu, Leon langsung terbatuk-batuk.
Saat itu, ia sedang meminum anggur.
“Itu keterlaluan Hara,” ujar Leon menatap serius ke wajah Hara.
“Bukan aku … tapi omku yang bilang,” ujar Hara, tidak mau disalahkan. Leon menarik napas panjang .
“Kalian om sama keponakan sama-sama bisa menghancurkan mental orang lain, kalau om kamu bilang begitu, harusnya simpan dalam hati. Kamu polos apa terlalu jujur?”
Hara tertawa melihat raut wajah Leon yang kesal.
“Lupa ingatan dan tidak lupa ingatan sikap menjengkelkanmu tetap sama,’ ujar Leon pelan.
“Aku hanya berusaha bicara jujur Pak Leon, jangan marah, tadinya aku takut sama Bapak. Tapi sekarang sepertinya tidak lagi,” ujar Hara lagi.
Walau sempat kesal dengan kata-kata Hara dan sikap Hara yang terus mengerjainya, tetapi Leon berhasil membuat makan malam romantis malam itu.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasih untuk tips tambahan kakak baik untuk @Syalala
@Leksi Anastasia. Kalian membuatku bertambah semangat ILoVe Full
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)