Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Permintaan si Jabang Bayi.


__ADS_3

Malam itu tiba- tiba Leon  diam berdiri menatap jalanan ibu kota menatap kosong kearah deretan  mobil yang mengular karena macet. Kemacetan sudah jadi pemandangan  biasa di ibukota, karena hampir di setiap jalan akan terjebak macet, tetapi kali ini Leon seakan melihat sesuatu yang menarik di sana.


Hara sudah tahu,  pasti ada hal yang di pikirkan suaminya.


“Apa ada sesuatu yang menganggu pikiranmu?” Tanya Hara melirik Leon yang masih berdiri di balkon.


“Tidak apa-apa, hanya menikmati angin malam.”


“Aku sudah tahu kamu Leon,  kalau kamu banyak pikiran atau ada yang kamu pikirkan kamu biasanya akan melamun sendirian dan menatap jalanan, katakan apa yang kamu pikirkan?” Hara mendekat dan memeluknya dari belakang, tetapi terhalang karena perut buncitnya.


Akhirnya Leon membalikkan tubuhnya lalu menatap Hara,  menghembuskan napas panjang dari mulutnya.


“Hara, apa kamu tidak ingin mengatakan apa-apa padaku tentang masa kecil kita? Aku sudah menunggu berhari-hari agar kamu membuka mulut, tetapi kamu diam.  Kamu bercerita  banyak dengan Toni tetapi tidak denganku Hara, aku juga di sana saat kita masih kecil.” ucap Leon lagi-lagi membahas Toni. Padahal ia memang sengaja tidak membahasnya, ia pikir Leon tidak ingin mengungkit masa kecilnya yang suram dan menyedihkan itu.


Hara bingung mau mengatakan apa, Leon hanya memiliki sederet kisah sedih yang menyakitkan, rasanya sedih untuk mengungkit masa itu kembali.


“Apa kamu tidak apa-apa kalau aku menyinggungnya?” tanya Hara menatapnya dengan tatapan serius.


“Aku rasa tidak, apa kamu malu?” Leon  balik bertanya.


“Tidak lah, aku hanya ingat saat itu kamu anak yang pemarah Leon, tatapan matamu selalu menatap tajam pada semua orang yang melihatmu, kamu seakan tidak ingin orang lain mengusik mu, kamu punya benteng sendiri pada dirimu” ucap Hara menyebutkan secara detail.


“Kamu benar, aku pikir kamu tidak mengingatku, aku pikir kamu malu  menceritakan masa kecilku,” ucap Leon.


“Apa kamu marah lagi?”


“Tidak, aku hanya malas saja melihat kalian tertawa bahagia seperti itu padahal aku ada di sana.”


“Sudah, jangan membahasnya lagi, yang ada nanti kita bertengkar lagi, ayo tidur” Hara  mulai melihat Leon bersikap aneh.


“Dengar Hara, aku sudah bilang kamu tidak boleh tertawa pada lelaki,” ucap leon duduk di sisi ranjang.


Mata Hara membulat bingung melihat sikap Leon yang terlihat kekanak-kanakan itu.


“Kenapa melihatku seperti itu? aku serius,” ucap Leon menatapnya dengan tatapan  serius juga.


Hara berdiri menatap Leon dengan tatapan jengkel bercampur kesal.

__ADS_1


“Leon, apa kamu lihat ini? Lihat perut besar ini, siapa yang tertarik dengan wanita bunting seperti ini, aku seperti badut ancol  saat ini.  Siapa yang mau  samaku,” ucap Hara menunjuk perut yang mulai membesar.


“Hara, kamu tetap wanita paling cantik walau kamu mengandung anakku.”


“Penyakit kronis mu cemburu …. jika yang lain bisa kamu ubah. Namun, satu hal ini kenapa begitu susah?” Tanya Hara.


“Memang itu penyakitku yang susah diubah …. Aku sudah bilang ‘kan?”


“Iya, bilang sih bilang … tapi gak gini juga kali Leon, tidak ada lelaki yang mencemburui istrinya yang sedang hamil, hanya kamu dasar aneh!”


“Aneh kamu bilang? Pokoknya tidak boleh,” ujar Leon mengulum senyum.


“Cari perkara ini anak” Hara mengambil satu buah majalah fashion menggulungnya  dan memukul  bagian belakang Leon.


Paaak ….!


“Aduh.” Leon menghindari serangan Hara, tangannya mengusap-usap bagian belakangnya yang kena gemplang.


“Nanti jangan kayak bapakmu iya Nak, jangan suka cemburu berlebihan pada istrimu, sikap bapakmu ini berlebihan,” ucap Hara mengelus-elus perutnya yang membuncit.


Hara hanya menggeleng-gelengkan kepala merasa jengkel.


“Aku harap kamu hanya mengidam pak Leon Wardana  atas sikap yang berlebihan ini,” Ucapnya tertawa kecil.


Leon datang dari belakang menangkap pinggang Hara memeluknya dengan lembut menempelkan dagunya di pundak istrinya matanya terpejam menghirup wangi tubuh Hara yang menjadi satu candu untuknya, tangannya perlahan-lahan dengan lembut mengusap lingkaran perut besar itu kini bibirnya mencari cerutan di leher Hara, semakin memeluknya dengan hangat dan menempelkan bibirnya di leher belakangnya.


Tubuh Hara tiba-tiba menegak  dan bergelidik merasakan  sentuhan yang di berikan lelaki berotot keras itu, Leon memakai kaos street berlengan pendek memperlihatkan otot lengannya yang keras dan memperlihatkan dadanya yang bidang.


Hara menegak  ke belakang saat Leon memburu lehernya dan memberi sentuhan indah di sana. Leher salah satu titik yang bisa membangkitkan rasa bagi wanita .


Hara mendesis meliuk saat Leon memburu Lehernya, Leon juga mengusap perut Hara, mengitari sisi perut yang membuncit itu, Hara semakin bergerak  tak berirama saat Leon menaikkan telapak tangannya dan menyentuh bagian lembut di dada Hara dan membuka kancing  piyama itu satu persatu hingga akhirnya terlepas memperlihatkan  tubuh Hara dengan perutnya yang membuncit seakan tidak perduli penampilannya  Hara membalikkan  badannya menatap Leon sebuah senyum manis terukir di bibir manisnya.


Tidak ingin  menyia-nyiakan sambutan hangat yang menggoda Leon  mengangkat tubuh Hara mendudukkannya dia atas meja rias dan mendaratkan bibir tebal itu di bibir mungil Hara menggigitnya, dan lidahnya mengapsen setiap sudut di mulut Hara dan tangannya tidak berhenti memberi sentuhan yang membuat istrinya terpejam dan bergerak, tubuhnya seperti cacing kepanasan.


Leon  terpancing dengan  gerakan tubuh Hara yang menyentuh dada bidangnya ia membuka kaos street yang ia pakai, Hara sudah sering melihat tiap malam dan tiap hari tetapi setiap kali Leon memperlihatkan dada berotot kekar itu. Tetapi setiap kali Leon memperlihatkan otot-otot di tubuhnya Hara selalu tersenyum.


“Aku senang lelaki tampan ini suamiku,”ujar Hara.

__ADS_1


“Tidak apa-apa sayang,  jika aku melanjutkannya?” tanya Leon dengan napas terjedah.


“Tidak apa-apa dia sudah kuat. Justru aku maunya sering-sering kata dokter  justru baik. Hanya saja kamu tidak akan mendapatkan posisi yang enak nantinya,” ucap Hara mengusap dada Leon yang berdiri di depannya.


“Apa kamu yakin?” tanya Leon tersenyum menggoda membuat napas Hara tertahan dan wajahnya memerah bagai , Leon sudah membuatnya terbuai hingga ia tidak ingin berhenti ia hanya ingin menurunkannya.


“Ini bawaan hamil dan dokter yang bilang,” hara mencari alasan. “Bukan karena aku gatal.” ujarnya lagi. Leon tertawa.


“Kalau kamu gatal juga tidak apa-apa sini aku garuk pakai tiga jariku,” balas Leon.


“Benar ini bawahan hamil,” ujar Hara lagi.


“Baiklah, mau itu bawaan  hamil atau permintaan kamu bagiku sama saja,” ujar Leon mengangkat tubuh bulat polos Hara ke atas ranjang dan eksekusi dimulai.


Bersambung


Menyusul bab selanjutnya lagi di revisi dulu …. iya.


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Terimakasi untuk tips yang kaliangri


Baca juga  karya  terbaruku iya kakak;


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2