
Akhirnya semua perusahaan milik Leon berubah di tangan Hara, setelah beberapa minggu ruangan patry, tempat makan untuk pegawai group Wardana, akhirnya selesai juga setelah dikebut pekerjaannya. Piter dan Viky tidak main-main dalam bekerja, mereka berdua mengerjakannya dengan tepat waktu sesuai waktu yang diberikan Hara.
Setelah gedung selesai kantor pemasaran juga di bagun, Hara mengawasi penataan kantor baru yang ia buka, ia tidak mau mewakilkan pada orang lain, apalagi memberi tahukanya pada Leon. Ia juga yang menata bentuknya, hingga semua selesai dan siap ber-operasi.
Hingga pagi itu tiba, ia siap memberi pengarahan pada pekerja yang menyediakan makanan di dalam kantin. Hara juga menempatkan baner pemberitahuan di depan gedung hotel dan di gedung mall agar semua orang tahu, jika tempat makan para pegawai sudah berpungsi kembali, khusus menyediakan makanan untuk semua karyawan Wardana Group.
Benar saja baru satu hari dibuka para pegawai yang makan membludak di sana. Hara ingin menunjukkan hasil kerjanya pada Leon, maka siang itu, ia sengaja mengajak Leon ke sana, sekaligus ingin memberitahukannya tidak semua hal dikerjakan dengan otot, ada kalanya mengerjakan dengan hati dan kesabaran.
Hara dan Leon sengaja datang memantau pada pembukaan pertama.
“Bagaimana Bos, apa makanan yang disajikan ini layak makan?” tanya Hara menyedok makanan ke piring Leon dan mereka ikut bergabung makan dengan para pegawainya.
Walau saat Leon duduk semua pegawai harus memberi jarak dari mereka karena takut ada abos besar makan Bersama mereka.
“Ini baru layak Bu yang terahir kita lihat itu tidak layak di makan manusia,” ujar Leon, ia mencicipi makanannya, Hara ingin memberitahukan pada pegawai apa yang dimakan para karyawan bisa dimakan bos juga, mereka semua sama-sama manusia tidak ada pembatasan seperti mereka gosipkan yang bilang bosnya tidak akan mau makan di pantry karyawan.
“Iya yang kemarin itu belum ada sentuhan tanganku dan sekarang sudah dipegang tanganku yang ajaip,” ujar Hara berbangga diri.
Leon tertertawa kecil menatap hangat pada istrinya, ia tidak perduli dengan tatapan semua orang pada mereka berdua.
“Iya, aku mengagumi desainmu, ini bagus....! kamu benar, kamu memang ahlinya,” ujar Leon menatap sekitar ruangan.
“Kita harus segera keluar dari ruangan ini, mereka merasa sungkan karena kita di sini,” ujar Hara, melihat kanan –kiri para pegawai melihat mereka berdua dengan takut-takut.
Leon menghabiskan sisa makanan yang ada di piringnya. Lalu Hara berdiri menghampiri delapan pekerja tiga perempuan dan lima lelaki. Merekalah yang bertugas memasak makanan di sana mulai saat itu.
“Iya Bu.”
“Bu, Saya ingin tempat ini selalu bersih dan kerjakan dengan baik,” ujar Hara.
__ADS_1
"BAIK Bu"
Ia dan Leon berdiri.
“Terimakasih Bu Hara karena perduli pada kami orang-orang kecil ini.” Seorang pegawai yang sudah berumur berdiri menundukkan kepala.
“Sama-sama Bu, ayo silahkan nikmati,” ujar Hara ramah, ia berdiri sebentar mendengarkan keluh kesah mereka.
“Terimakasih Bu kami sangat senang dengan adanya kantin ini lagi, makanan di luar sangat mahal Bu, dengan adanya makan sistem kupon ini, kami sangat terbantu,” ujar seorang wanita yang bekerja sebagai pekerja di bagian taman hotel.
“Iya Bu,” ujar Hara, tapi matanya menatap serius, saat melihat seragam yang usang yang dipakai wanita itu, Hara menyelidiki dari atas sampai bawah.
“Maaf ibu kerja di bagian apa?”
“Sa-saya di bagian taman, Bu, kami ada bertiga.” Wanita yang terlihat sudah mulai tua, ada tiga orang wanita.
“Oh, nanti keruangan saya habis makan, iya Bu, saya ingin bicara dengan Ibu,” ujar Hara meninggalkan ruangan pentri.
“Baik Bu,” ujar ketiga wanita tua dengan mata saling menatap.
“Apa kita akan dipecat juga?” tanya seorang pada temannya.
“Saya tidak tahu, kita lihat saja nanti,” ujar wanita itu melirik seragam usang yang ia pakai.
*
Hara dan Leon berjalan menuju lift dan membawa mereka berdua kembali ke ruangan kerja yang ada di lantai paling atas.
“Untuk apa kamu memanggil mereka bertiga?” tanya Leon menatap bibir Hara yang masih menginggalkan sisa noda makanan. Leon mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya dan mengusap bibir istrinya, menyingkirkan noda makan yang mengganggu pemandangan .
__ADS_1
“Ada yang bilang, mereka sudah lama bekerja di sini di bagian taman, tetapi mereka mendapat upah yang sangat kecil.”
“Terus apa rencanamu?”
“Kita banyak gedung di sini … sayang. Ada hotel, mall, restaurant kenapa mereka hanya bekerja di taman hotel kalau kita memberi mereka pekerjaan untuk mengurus sampah restaurant sebagai tambahan pekerjaan mereka juga mendapat upah yang lebih banyak lagi,” ujar Hara.
Leon hanya mengangguk setuju,” Aku pikir tadi kamu hanya memberi mereka uang dan hadiah.”
“Tidak, aku akan memberi upah kalau mereka bekerja yang benar”
“Kamu malaikatku,” ujar Leon mendaratkan bibirnya di pipi Hara seteleh mereka tiba di ruangan kerjanya.
“Tidak, itu juga tadi … tiba-tiba saat melihat salah satu dari mereka, pikiranku keingat Bu Ina.
'Wanita itu sangat mirip dengan bibi ah … tiba-tiba aku merindukan wanita itu,” wajah Harah terlihat sangat sedih bila mengingat wanita yang merawatnya dari bayi.
“Kamu orang baik Hara, aku tidak pernah berbuat seperti yang kamu lakukan, karena aku tidak pernah merasakan perbuatan yang baik dari orang lain,”ujar Leon.
“Sayang, kita dak baik mengingat luka lama kamu sendiri yang bilang’ kan,” ujar Hara menatap suaminya.
Leon merasa tidak mudah mengubah kebiasaan lamanya , tetapi seiring waktu selama ia bersama Hara lambat laun ia berubah. Bersama Hara, Leon merasa bagai terlahir kembali, memulai semuanya dari awal, Hara megajarinya bagaimana untuk hidup berbagi dengan orang lain, bagaiamana perduli dengan orang lain. Ia juga selalu bilang bersikap dingin pada orang lain, oran lain juga akan takut pada kita.
*
Leon hanya duduk diam saat Hara menerima ketiga karyawan tua yang bekerja sebagai perawat taman hotel, mereka sudah bertahun-tahun bekerja di sana hanya sebagai buruh harian dan baru dua kali mendapat kenaikan upah selama bekerja empat tahun.
Hara perduli pada pengawai-pegawainya mulai dari yang kalangan bawah tengah sampai jabatan atas,
Hara memberi solusi untuk ketiganya, menambah pekerjaan untuk mereka bertiga dan otomatis akan mendapat upah yang layak dan mereka bertiga juga di beri seragam. Karena sudah tua Hara juga memberi asuransi kesehatan untuk mereka bertiga.
__ADS_1
Perhatian yang diberikan Hara pada seluruh karyawanya, membekas di hati mereka semua, menyebutnya ibu Bos berhati malaikat.
Bersambung ...