
Walau lamaran leon di terima Hara, tetapi masih ada rintangan berat yang harus mereka lalui bersama. Hara juga tidak kaget lagi saat ada bahaya yang mengincar nyawanya, sejak ia mengenal Leon, ia sudah beberapa kali hampir kehilangan nyawa. Baik kali ini juga ia sadar itulah resikonya mengusik hidup seorang penjahat.
Tetapi Leon yang terlihat sangat ketakutan, ia takut anak dan calon istrinya terluka.
Leon bukannya tidak mau melawan dan menghabisi anak buah Bokoy saat ini, tetapi Leon berpikir ada nyawa Hara dan calon anaknya yang jauh lebih penting dari sebuah keinginan untuk menang dalam berperang.
“Terus kita bagaimana?” Tanya Hara, wajahnya tenang, tidak menunjukkan kepanikan.
“Kita akan kearah sungai, membersihkan diri”
Leon mencari tas berwarna hitam yang ia lempar tadi, lalu
Leon membawa Jovita ke sungai, tidak jauh villa, “Apa kamu menyuruhku untuk mandi di air dingin, ini?,” tanya Jovita dengan tubuh menggigil dipenuhi lumpur berwarna coklat.
“Iya, maafkan aku nona Hara, saya sih inginnya kamu mandi air hangat, tetapi saat ini … kita dalam pelarian, jauh dari rumah, berhubung kita berdua sudah terlihat seperti topeng monyet, jadi mari kita mandi,” ucap Leon, Hara tertawa, Leon hanya menggeleng melihat Hara yang menertawakan wajahnya.
Leon membersihkan tubuhnya dengan air sungai yang dingin, ia menahan rasa sakit di sekita tubuhnya , rasa perih dan sakit di tangannya yang terkena pecahan jendela kaca, menahan dinginnya air sungai harus kuat, agar bisa menjaga kedua orang yang dicintainya .
“Aku kedinginan ,” ujar Jovita, kini ia meringkuk di pinggir sungai.“Leon dengan hati-hati mengangkat tubuhnya kesungai, membantunya mandi membersihkan lumpur yang menutupi tubuhnya.
“Bertahanlah Hara, aku akan melakukanya dengan cepat,” ucap Leon, menyingkirkan pakaian Jovita wanita itu masih mematung dengan tubuh bergetar.
“Ini sudah ke dua kalinya kita mengalami hal seperti ini, apa kita akan terus begini? Di kejar dan diburu lelaki tua itu?’ Tanya Hara.
“Tidak, percayalah padaku, aku akan membuatnya berhenti mengejar kamu,” ujar leon menyingkirkan pakaian basah Hara, membalutnya dengan selimut tebal yang ia bawa dari villa.
“Apa kami bisa menyalakan api unggun Zidan?” Tanya Leon.
“Sebentar Bos, kami akan memastikan mereka tidak ada lagi di atas sini”
Rikko dan Zidan menjaga Leon dari jarak jauh.
“Sebaiknya jangan Bos, dugaan mu benar, mereka berjaga seperti anjing di luar Villa, berjalanlah terus ke depan Bos. Kami akan mengawal dari belakang,” ujar Zidan.
Berhubung para penjahat itu masih berkeliaran di daerah Villa. Leon melanjutkan perjalan, menyusuri pinggir sungai, keringat telah membanjiri kening dan wajahnya saat ia mengendong tubuh Hara.
“Apa kamu tidak capek?” Tanya Hara.
“Tentu saja, aku bisa mengatasinya, lebih baik kamu tutup mata dan diam, agar aku bisa fokus melewati jalan licin ini,” ucap leon matanya tidak berpaling sedikitpun dari jalanan yang yang akan mereka telusuri.
“Baiklah, aku diam,” ucap Jovita merangkul leher Leon lebih erat, ia menutup mata, membiarkan lelaki tangguh itu melakukan tugasnya.
Berjalan lumayan jauh dari sungai, Leon berhenti, dengan keringat membanjiri wajahnya, ia menurunkan Jovita dari lengannya dengan hati-hati, ia merasa kehausan, berhenti dan meminum air yang ada di sungai, minum menggunakan tangan.
“Ini masih ada air minum, kenapa kamu meminum itu?”Tanya Hara menunjuk botol minum dalam tas yang dibawa Leon.
“Itu untuk kamu saja, aku meminum ini tidak apa-apa, tapi kamu jangan, bisa-bisa kamu sakit perut nanti,” ucap Leon penuh perhatian, kita harus segera menemukan rumah yang dikatakan Zidan”
“Kita naik keatas saja ada ada Hotel tidak jauh dari Villa,” kata Jovita dengan yakin.
“Hotel tidak bisa kita masuki, mereka pasti sudah mengawasi Hotel terdekat dari Villa”
__ADS_1
Apa yang dikatakan Leon semuanya benar, anak buahnya Bokoy mengawasi Hotel dan penginapan di area puncak.
Bokoy tahu, kalau Jovita bersama Leon, semua anak buahnya yang jumlahnya puluhan ia kerahkan dan di sebar untuk mendapatkan Leon dan Hara.
“Kita bisa jalan pelan-pelan Leon dari pada kamu capek sendirian, aku takut kamu pingsan nanti sebelum menemukan rumah,” ujar Hara.
“Apa kamu yakin bisa?”
“Iya turunkan saja aku”
Leon memegang tangan Hara membawa berjalan menyusuri malam, untung bulan bersinar terang, membuat keduanya bisa berjalan tanpa memerlukan lampu penerang.
“Hara, apa kamu takut?”
“Entahlah, jika bersamamu aku tidak takut”
“Hara, ini pertama kalinya aku lari dari musuh”
“Maksudnya?” Tanya Hara.
“Biasanya aku akan melawan siapa yang berani mengusik hidupku. Tetapi saat ini, aku tidak ingin kamu terluka, maka itu aku memilih melarikan diri,” ujar Leon.
“Itu artinya mengalah untuk menang,” balas Hara tersenyum kecil, ia tidak menduga karena kehamilannya mampu mengubah sikap si manusia batu itu. Walau ia sadar Leon tidak ada romantis-romantisnya dan tidak bisa romantis, tetapi Hara belajar memahaminya.
**
Akhirnya tiba di salah satu rumah sederhana, setelah izin sama yang punya rumah, awalnya ragu saat melihat Leon datang, karena tidak memakai pakaian bertamu malam -malam, belum lagi tato naga di dadanya, setiap orang yang memandangnya menganggap orang jahat. Rumah sederhana itu.
“Baiklah, bawa istrimu masuk untuk beristirahat,” ucap bapak ber-uban itu dengan ramah, kemudian, saat di beri makan, padahal lauk sederhana Leon makan dengan lahap, sejak kemarin ia belum makan ia merasa kelaparan,
“Apa kamu kelaparan?”
“Kenapa?” Tanya Leon menoleh Hara.
“Kamu makan dengan rakus” bisik Jovita.
Leon terdiam, ia menoleh, ternyata kedua orang tua itu melihatnya dengan tatapan senyuman.
“Tidak apa-apa mas, silahkan nambah lagi, itu semua hasil berkebun dan lauknya juga hasil tangkapan dari kolam belakang,” ujar mereka.
“Baik Pak saya sangat kelaparan,” ujar Leon tanpa basa-basi tanpa canda, seperti biasa ia banyak diam, Hara yang terlihat banyak mengobrol dan akrap sama yang punya rumah.
Kedua orang tua yang sudah tua, sepertinya belum makan malam, tapi Leon dan Jovita sudah menghabiskan jatah makan malam mereka. Leon hanya makan mengunakan terong di cabeein dan ikan bakar, masakan sederhana, tapi membuatnya nambah dua kali.
Jovita yang menyadari telah menghabiskan jatah makan mereka, tentu merasa tidak enak,
“Aduh ibu, maaf sepertinya kami menghabiskan jatah makan ibu sama bapak saya minta maaf” ucap Jovita , dengan rasa menyesal.
“Tidak apa- apa, kita bisa masak lagi,” ujar wanita itu dengan ramah.
Merasa tidak enak Hara ingin menyapu rumah, bekas makan Leon.
__ADS_1
“Tidak non tidak bagus tamu di suruh menyapu,” ucap wanita tua itu dengan ramah.
“Lagian kamu’ kan lagi hamil sini duduk!” ucap Leon bersikap dingin
‘Hadeh ini orang, kok ga ada rasa sungkannya ke rumah orang’ Hara membatin.
“Jangan melihatku seperti itu, sini duduk” ucap Leon tidak merasa salah ataupun sungkan pada kedua orang tua itu.
“Pak Leon kalau kita ke rumah orang … bisa gak kamu senyum sedikit?”
“Ha!?” Leon mengangkat kedua alisnya menatap Jovita. “Kok begitu?”
“Kamu tau, makanan yang kita makan tadi, bisa jadi jatah makan malam mereka” ucap Jovita tangannya mencubit pinggang Leon, mereka sedang duduk di teras depan.
Leon meringgis kesakitan, ia menatap Jovita masih kebingungan. “ Kenapa kamu mencubitku?” tanya Leon tangannya mengusap-usap pinggang yang di cubit.
“Leon, kalau kita datang ke rumah orang bertamu harus sopan”
“Iya besok kita ganti kan bisa Nona Hara,” balasnya lagi.
“Jika aku sudah jadi istrimu, aku akan mengajarimu banyak Hal, salah satunya cobalah tersenyum pada orang lain,” ujar Hara.
Leon mengangguk.
“Baiklah non Hara, aku akan belajar darimu, ajarin aku bagaimana mencintai orang lain juga,” ujar Leon.
“Istirahatlah besok Iwan dan Rikko akan menjemput kita dari sini, aku tidak akan tidur, aku akan bergadang menjagamu”
“Bagaimana Kak Zidan dan Kak Ken?”
“Mereka mengawasi kita tidak jauh dari sini”
Untuk saat ini mereka selamat dari incaran anak buah Bokoy tinggal menunggu jemputan Rikko besok.
Bersambung…
KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA UNTUK KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA, AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA. PELUK HANGAT UNTU KALIAN SEMUA.
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing
__ADS_1