
Rasa bosan terkadang sangat menjengkelkan, hal itulah yang di rasakan Hara saat ini, setelah liburan selesai, pekerjaan Leon menumpuk jadi ia beberapa minggu itu sibuk dan sering lembur.
Hara merasa sangat jenuh karena Leon memintanya berhenti sementara dari kegiatannya melukis. Karena beberapa hari yang lalu, penyakit mag Hara kambuh, karena telat makan , ia menyibukkan dirinya melukis perjalanan mereka saat bulan madu.
Karena Hara sampai sakit, jadi Leon mengunci ruang kerja agar, ia fokus untuk kesehatannya.
Hara mau, ia menurut, tetapi rasa jenuh itu membuatnya mati gaya, ia ingin keluar, tetapi ia takut orang bertanya padanya kapan hamil? anaknya sudah berapa? ia takut para wartawan mengikutinya dan menggoreng berita-berita miring tentangnya. Jadi dia menghabiskan waktu di rumah.
Pagi- pagi sekali ia bangun, niatnya ingin membantu asisten rumah tangga memasak. Tetapi, ia menemukan wine di dapur, Hara awalnya hanya meminumnya sedikit, lalu ia meminumnya satu gelas.
“Nak Hara, kamu sudah minum satu gelas, katanya hanya minum sedikit biar badannya hangat, ini sudah hampir dua gelas.”
“Wah … kepalaku pusing Bu, jangan bilang Leon Bu, Aku mau tidur lagi.” Bu Atin membantunya tidur di kamar. Baru tidur sebentar ternyata ia berulah.
Leon baru masuk ke kamar setelah melakukan olah raga pagi.
“ Hara … ada apa denganmu?”
“Kamu mengurungku di rumah, aku akan mengigitmu, "ujar Hara.
“Kamu kenapa? Astaga … apa kamu minum wine sepagi ini!” Leon kaget saat ia mendekat hidungnya ke tubuh Hara.
“Uaaa!” Hara muntah di pakaian Leon.
“Kamu mengotori pakaianku Nona ….!” Teriak Leon
Dengan sigap tangannya menanggalkan mini dress warna hijau itu dari tubuh Hara. Lalu ia membuka lemari menarik satu baju kaos dan satu celana berbahan katun, mengganti pakaian istrinya. Ia juga mengganti pakaiannya.
Leon mengolesi tubuh wanita itu dengan minyak gosok, menggosoknya ke bagian hidung, lalu merebahkan tubuh Hara di ranjang.
Leon turun menemui bu Atin.
“Bu, aku minta air hangat, ada apa dengannya?”
“Ibu minta maaf Nak, dia minum anggur milik Ibu, Ibu biasanya minum sedikit-sedikit sebelum tidur biar badan ibu hangat, tadi ia menemukannya di dapur. Aduh padahal dia cuman minum sedikit.”
“Dia gampang mabuk, Bu.”
“Sebentar ibu akan menyeduh madu hangat dulu.”
Leon masuk lagi ke kamar
“Astaga kamu ngapain!”
Hara berdiri di atas meja rias di kamarnya.
“Sayang … gendong aku,” ujarnya manja.
“Hadeh … Kamu kenapa minum pagi-pagi lambung mu kan lagi sakit?”
“Kamu harus gendong aku Pak Leon Wardana aku sangat sedih, aku stress, kenapa tante Hilda bisa hamil? kenapa aku tidak? Lihat perutku aku terus menusuknya dengan jarum tetapi sepertinya sia-sia. Lihat perutku.” Hara menunjuk bintik- bintik bekas jarum di perut.
“Sayang sabarlah, kemarin, kamu bilang kamu tidak apa-apa.”
“Gendong aku pokoknya.”
“Kamu bukan anak kecil lagi, kan. Malu dilihat anak-anak nanti.”
__ADS_1
“Kamu jahaat … huaaa, huaa.” Hara malah menangis.
Melihat Hara menangis seperti bayi kecil, Leon menggaruk kepalanya dengan bingung. “Ayahku selalu punya cara untuk menenangkan ku jika aku sedih, jik aku menangis dia akan membawaku jalan-jalan. Om Piter juga akan melakukan hal yang sama,” ujar Hara.
Leon berpikir Hara akan selalu mengoceh dan bersikap sedikit tidak waras setiap kali mabuk, jadi ia membiarkannya mengoceh, ia membereskan barang- barang yang dijatuhkan Hara dari meja rias.
Leon hanya menganggukkan kepala setiap kali Hara bicara.
Melihat sikap Leon yang hanya mengangguk Hara kesal.
Ia mendekati suaminya lalu ia mengigit lengan suaminya , Leon kaget mendapat serangan tiba-tiba dari Hara.
“Huaaa! Sakit Haraaa …!”Teriak Leon bahkan terdengar sampai ke bawah. Para pengawalnya berdiri melihat kearah kamar Leon, mereka berpikir kalau Leon sedang di serang seseorang. Tadi saat Zidan datang Bu Atin Melarangnya.
“Kamu membuatku marah Pak Leon Wardana, kamu tahu tidak baik cuek pada istri yang sedang curhat,” ujar Hara masih memegang tangan Leon.
“Sayang …. dengar. Aku bukannya cuek, aku tidak tahu haru bicara apa lagi untuk menyenangkan mu.”
“AAA sakit tanganku … Dodol!” teriak Leon mendorong kepala Hara terus menggigit lengannya, Hara terlihat seperti doggy yang sedang mengamuk.
“Ah rasain” ucap Hara saat melihat Leon memegang lengannya, lengannya berbekas berbentuk gigi yang menancap menembus kulit. Bekas gigitan itu meninggalkan ruam merah.
“Kenapa kamu marah?” tanya Leon dengan mata kaget, walau tangannya terluka tetapi, ia tidak marah, justru ia tertawa melihat Hara marah-marah tanpa alasan.
“Aku marah, aku belum puas, aku ingin menggigitnya lagi.”
“Nah gigitlah kalau itu membuatmu Puas.” Leon memberikan lengannya.
Melihat aksinya tidak berhasil, Hara semakin geram, ia membuka laci dan mengambil gunting.
“Eeee … untuk apa?”
“Memotong burung mu.”
Leon melompat ke tempat tidur.
“Hara, jangan macam-macam itu tajam.”
“Aku tidak perduli Leon ... aku lagi marah.”
“Baiklah, baik aku akan mengendong mu,” ujar Leon menghembuskan napas kasar dari mulutnya.
“Sini gendong aku.”
‘Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu Hara, tapi baiklah’
Hara meletakkan gunting di tangannya, dengan cepat Leon mengamankan gunting tersebut.
“Sayang, begini aku tahu kamu bosan.”
“Sini. Gendong aku saja tidak usah ngomong apa-apa” Ia menutup mulut suaminya dengan telapak tangannya.
Leon sangat sabar, saat menghadapi tingkah Hara yang mabuk pagi itu, ia diam saat mulutnya dibekap Hara.
“Baik.” Ia duduk dan mengarahkan punggungnya, Hara naik ke punggung. Lalu ia mengendong Hara .
“Apa kamu sudah merasa baikan?”
“Belum, bawa aku ke taman.”
“Apaaa? Astaga sayang, anak-anak ada di taman, lagi olah raga. Apa nanti kata mereka melihat kamu mabuk?”
__ADS_1
“Kamu malu memiliki istri yang tidak berguna seperti aku?”Tanya Hara marah.
“ Bukan seperti sayang, apa nanti kata Ibu mertuamu melihatmu gendong-gendongan sama suamimu? apa nanti kata anak buahku melihat bos mereka mengendong istrinya yang sedang mabuk? Mabuknya pagi-pagi lagi.”
“Dia bukan ibu mertuaku, dia sudah seperti ibuku, dia wanita yang baik sama seperti Ibu Ina, "ujar Hara.
Bu Atin sudah berdiri di pintu membawa teh hangat madu.
“Hara ... gendongnya di sini saja, iya?”
“Tidak, pokoknya harus keluar. Ibu! Aku tidak mabuk kan? aku hanya minuman anggur ibu sedikit,”ujar Hara ia mulai mengoceh tidak jelas.
“Bagaimana ini? aku mau berangkat ke kantor.”
“Bawa saja keluar sebentar, "ujar Bu Atin.
“Astaga ... kamu akan malu sendiri nanti Hara, jika kamu sudah sadar," ujar Leon.
Leon tidak bisa menolak, ia membawa Hara turun dari atas saat turun dari lift anak buahnya awalnya hanya tersenyum melihat Leon mengendong Hara lagi, sebelumnya juga saat mereka naik motor juga Leon menggendongnya dari atas. Tetapi kali ini, Hara bersikap berbeda ia terus saja mengoceh tangannya membentuk sayap terbang.
“Kak Zidan! Dengar .... Kamu harus berjuang untuk cintamu pada Clara, jangan jadi lelaki lemah, pengecut. Cinta itu butuh perjuangan, nanti menikah baru kamu sedih,” ujarnya lagi.
“Hara diamlah,” ujar Leon, saat Hara tidak bisa berhenti bicara, ia akan mengomentari semua orang yang ia lihat.
Semua anak buah Leon terdiam, melihat kelakuan nyonya muda tersebut. Leon sangat sabar meladeni permintaan Hara.
“Aku ingin bunga itu diselipkan di kupingku,” perintahnya lagi pada Leon.
Leon tidak membantah, ia mengambilnya dan menyelipkannya di kuping Hara.
“Apa yang terjadi sama Non Hara Bu?” Tanya Ken
“Dia mabuk, tidak sengaja meminum anggur di dapur.”
“Oh Pantas, tetapi bos sangat sabar.” Bram memuji kesabaran Leon sangat menghadapi Hara
“Sayang nanti kalau aku melahirkan anak aku ingin kembar seperti adikku. Apa kamu mau?” Tanya Hara dari punggung Leon.
"Baiklah," Balas Leon, semua kemauannya di turuti akhirnya ia tertidur.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)