Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Saat Hati diuji kembali


__ADS_3

Leon  menerima kunci dari tangan Iwan, tetapi wajahnya semakin terasa panas. Leon turun  ke kamar  Bu Atin di depan  pintu kamar ia berdiri diam ragu untuk masuk.


Hal itu mengundang perhatian Zidan dan anak-anak lain.


“Ada apa dengan Bos”


“Bos sebentar lagi mau punya dede bayi," ujar Iwan.



Iwan, Rikko. Zidan, Ken keempat lelaki tampan itu berdiri menatap sang bos yang terlihat  masih berdiri di depan kamar Bu Atin. Mereka ber empat  menahan tawa melihat sang Bos yang tiba-tiba seperti ayam sayur saat berhadapan dengan Jovita Hara.


"Ckkk ...!"


Leon melihat ke arah  mereka  ber empat, semua ambil gaya masing-masing mengalihkan wajah dan pura-pura garuk kepala.


“Aku bisa tebak  jantung bos pasti deg, dug, dag …. saat ini,” ujar Iwan.


“Aku greget melihat tingkah Bos, kalau aku itu, melihat orang aku cintai mengandung anakku ,aku akan langsung berlari memeluk cewekku lalu akan aku ajak menikah,” ujar Ken lelaki yang banyak ngomong itu terlihat percaya diri saat bicara.


“Bacot ….,” Timpal Zidan. Ia lelaki yang irit bicara.


“Iya gue serius Bro,” ujar Ken lagi.


“Kalian tidak tahu Bos itu dalam situasi yang sulit”


“Sulit apa?” Iwan dan yang lain menatap Zidan.


" Kalau  bos ingin  Non Hara  jadi miliknya, bos harus menikahinya” ujar Zidan. Di sambut anggukan setuju dari rekan- rekannya.


“Iya benar,” ujar mereka mangut-mangut.


Rikko justru memberikan reaksi yang berbeda dari mereka semua, ia merasa bersalah, karena ucapannya. Ia berpikir ia terlalu keras menyampaikan pendapat pada wanita cantik itu.


Tidak lama kemudian setelah menghilangkan rasa gugup, akhirnya Leon memberanikan diri masuk.


Dreeet ..


Suara derit pintu saat dibuka.


Saat Leon masuk ke dalam kamar Jovita masih tidur, mendekat dan berdiri tepat di samping ranjang, menatap dalam wajah wanita yang sedang tidur terlelap itu. Di atas nakas ada semangkuk soup yang masih tersisa. Setelah selesai menelepon Toni, ia makan dan kembali mengantuk dan tidur.


Kini Leon masih berdiri menatap wajahnya, Leon tidak tahu wanita yang  menghabiskan malam dan melewati bahaya bersamanya di dalam hutan,  telah mengandung darah dagingnya.


‘Kenapa aku begitu bodoh ? kenapa aku tidak menyadarinya kalau dia hamil? Bagaimana kalau tindakan ku saat itu menyakitinya, ? aku pasti tidak akan bisa memaafkan diriku’ ucap Leon dalam benaknya.


Tangannya ingin mengusap kepala Jovita. Namun, tangannya tertahan di atas kepala Jovita, ia takut wanita cantik itu menolaknya. Hubungan Leon dan Hara dalam  keadaan yang  sangat rumit.  Mereka dalam hubungan tanpa status, Leon begitu  mencintai Jovita . Namun karena kesalahan  besar yang ia lakukan pada keluarga Jovita membuat seperti ada jarak diantara mereka sebuah  tembok yang begitu tinggi.


Tidak mudah menjalani, keadaan sulit seperti itu.


Leon menarik napas berat, ia memikirkan di mana saat  Jovita  nyaris mati tenggelam dan ia juga beberapa  menekan dadanya dengan kuat.


“Bagaimana kalau saat itu, aku telah menyakitinya. Apa dia baik-baik saja setelah melewati banyak kesulitan di hutan? bagaimana keadaanya, Apa dia bisa bertahan?”


Dugaan Jovita salah. Leon sangat menginginkan bayi yang di kandung Jovita, bahkan ia sangat bahagia saat mendengar  wanita cantik itu mengandung anaknya, Tetapi di balik rasa  senang itu, terlukis jelas, ada rasa  takut di wajah Leon.

__ADS_1


“Apa aku masih pantas memintanya di sisiku,  setelah  aku menyakitinya dengan begitu banyak?” Pertanyaan itulah yang jadi salah satu, jadi penghalang besar di hubungannya Leon dan Hara.


Memikirkan   kesulitan dalam hutan, bagaimana Jovita melewati  semua kesulitan itu Leon merasa sangat bersalah,  ia  beberapa kali mengusap dahinya yang tiba-tiba berkeringat.


Leon duduk di sofa menunggu Jovita bangun, matanya terus saja menatap wajah cantik Jovita yang sedang tidur pulas.


Wanita cantik itu terbangun, saat  ponsel Leon berdering, mata itu, awalnya terbuka sedikit menatap Leon yang sedang duduk menatapnya. Ia tersenyum kecil,  ia berpikir kalau hanya bermimpi.


“Uhum” Leon membuat suara.


Seketika  Jovita duduk dan bola mata besar itu memutar, menatap Leon dengan tatapan tidak percaya.


“Kok Bapak ada di sini?”


“Iya kamu juga ada  di sini”


“Iya aku. Aku …. Aku”


“Iya kamu kenapa?” Tanya Leon tiba-tiba duduk di sampingnya dengan sebuah senyuman manis terukir di bibirnya.



“Eh? Jovita terkejut ia  melihat Leon seperti  wujud yang berbeda saat ini.


“Ada apa?”


“Bapak tersenyum?” Tanya Jovita.


“Memang tidak boleh?” Leon balik bertanya.


“ Tidak. Lalu kenapa kamu kabur lagi? Kenapa kamu membuat kesimpulan sendiri”


“Maksudnya?”


“Jovita Hara, saya tidak pernah menolak kehamilan mu”


Wajah Jovita langsung berubah.


“Kenapa sekarang bapak berubah pikiran?  beberapa hari yang lalu bapak bilang sudah tahu dan seharusnya memang sudah tahu. Memang benar saat di hutan itu aku ingin  memberitahukan semuanya sama, Bapak”


“Tetapi kamu tidak melakukannya, bagaimana aku tahu”


“Bapak itu memang lelaki yang tidak peka atau memang tidak perduli. Saat wanita mual-mual, harusnya bapak  akan  bertanya. Karena jelas-jelas kita  sudah melakukannya. Ok lah aku memberikannya dengan suka rela tapi-"


"Hara tolong, jangan membahas itu lagi"


"Jujur aku malu sebenarnya Pak, tidak seharusnya aku hamil di luar nikah, aku malu sama Bibi dan semua anak buahmu. Mereka pasti menertawakan. Tidak seharusnya aku mengaku"


“Hara ... aku memang Bodoh, tetapi itu hal yang wajar, bukan  karena aku   tidak berpengalaman dalam itu”


‘Tidak berpengalaman kamu bilang? lalu apa kabar semua wanita yang kamu tiduri ? Aku tidak percaya dengan kata-katamu’ Jovita membatin.


“Hara kamu salah  mengartikannya”


“Aku tidak salah Pak Leon, bahkan saat kita dalam  gubuk petani itu, saat aku menarik tanganmu dan meletakkannya di perut ini, aku pikir kode yang aku berikan ke Bapak, sudah mengerti. Saat kamu  menolaknya jadi saya pikir tidak ada harapan lagi”

__ADS_1


“Hara aku akan bertanggung jawab,” ucap Leon dengan wajah sedih.


Tetapi respon  Jovita tidak bisa di tebak, ia hanya tersenyum kecil dan menunduk.


“Aku minta maaf Pak Leon”


“Apa  maksudnya?”


“Dia masih muda, baru hitungan bulan jadi ….”


“Lalu ….?” Wajah Leon menegang menatap Jovita dengan tatapan menajam


“Mungkin karena beberapa hari ini aku  terlalu capek ….”



Leon mengepal jarinya dengan kuat, Ia takut mendengar hal terburuk itu.


‘Jangan katakan apapun tolong’ Leon merasa matanya panas.


“Saat aku ke kamar mandi tadi, aku minta maaf dan sepertinya ia tahu kalau kehadirannya tidak di harapkan”


Leon masih mematung dengan tangan mengepal kuat.


Wajahnya sangat pucat, ia sedih dan hampir menangis di depan Jovita, ia mengalihkan wajahnya dan membuang napas- napas pendek dari mulutnya.


“Kamu kehilangan dia?”


“Dia  masih mudah pak Leon usianya baru beberapa minggu, melewati kesulitan dalam hutan beberapa hari jadi-"


“Baiklah, aku mau ke kamar dulu. Kamu istirahat saja," potong Leon berjalan dengan langkah tegas menuju kamarnya.



Jovita mendengus kecil.


"Mari kita lihat Pak Leon, sejauh mana kamu bisa bertahan, Jika selama kamu membuatku menangis, sekarang gantian .... Akan ku cubit ginjal mu dan akan ku buat kau menangis dan bertekuk lutut"


Jovita tersenyum kecil.


Bersambung


KAKAK TERSAYANG MOHON Bantuannya IYA! SAYA IKUT CRAZI 3 BAB UPDATE SATU HARI.,  SELAMA TUJUH HARI. BANTU BERI KOMENTAR YANG BANYAK DI SETIAP BAB.


LIKE DAN VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA,  AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA. PELUK HANGAT UNTU KALIAN SEMUA.


Baca juga  cerita yang lain;


Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2