Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Pintar saja tidak cukup


__ADS_3

Setelah lelah kerja di kantor hari ini,  saat memikirkan putranya Hara merasa lenih lelaj lagi.


Saat Hara dan Leon pulang ke rumah,  Hara menghela napas panjang,  ada beban berat dalam dirinya karena sikap buruk putranya. Belum lagi tadi di kantor, energinya terkuras untuk menghadapi ocehan para pemegang saham yang mempertanyaakan  keberadaan Leon dan mempertanyakan  peraturan baru di perusahaan.


“Sabar Bu, semua pasti ada jalan keluarnya,” ujar Leon menenangkan Hara, memegang punggung tangannya menepuk-nepuknya dengan lembut. Hara merasa mendapat semangat kembali saat Leon memberinya perhatian.


“Iya, harus kuat,” ujar Hara menyemangati diri sendiri.


                          *


Setelah mandi dan berganti pakaian, Hara dan Leon turun untuk makan malam.


Dalam meja makan, Hara hanya, ia menikmati makan malamnya dengan setengah hati.


“Apa kamu sakit, Nak?” tanya ibu mertuanya menatapnya dengan tatapan dalam.


“Oh tidak Bu, aku baik-baik, hanya saja,  banyak pikiran ,” ujar Hara,  melirik Okan yang makan dengan  diam seolah-olah ia masuk dalam dunia sendiri.


“Apa ibu  banyak pekerjaan di kantor?” Chelia melirik kearah ibunya.


“Iya boleh dibilang seperti itulah, sayang ibu capek bukan karena lelah bekerja, tetapi karena lelah berpikir”


“Apa yang ibu  pikirkan?” tanya Chelia dengan bawel.


“Tentu  memikirkan kamu bawel , sudah cepat makan belajar kerjakan PR,” ujar Hara pada Chelia, tetapi entah kenapa ia tidak ingin menyapa putranya, ia merasa menyerah menghadapinya.


Mereka semua bisa merasakan sikap berbeda dengan Hara hari ini, Leon melirik Okan, ia tidak terpengaruh sedikitpun , makan dengan santai.


Saat makan malam selesai Okan ingin begegas lagi ke kamarnya, tetapi Leon mencengahnya.


“Okan, kamu duduk  dulu kita akan bicara,” ujar Leon tegas anak lelaki berwajah dingin  itu hanya menurut tanpa membantah. Hara dan Leon dan ibunya saling melihat.



 Leon memgajak Okan untuk bicara tetapi sebelumnya sudah meminta Chelia masuk ke kamarny terlebih dulu.

__ADS_1


“Baiklah kita akan bicara, hari ini Ayah dan Ibu ke sekolah kamu,” ujar Leon memulai pembahasan.


Wajah Okan langsung berubah gelap yang siap menumpah hujan gelap bercampur petir, ia terlihat marah dan tangannya terkepal kuat dibawah bantal yang ia pangku.


Bu Atin juga ikut duduk diatara mereka.


“Ada apa, apa yang terjadi?” tanya wanita tua itu melihat Okan prihatin , ia sangat marah kalau Leon dan Hara memarahai kedua anak kembar itu.


“Ibu sama ayah memutuskan akan memindahkan kamu ke asrama,” ujar Leon.


“APA? Kenapa kalian ingin memindahkan Okan ke sana?” Bu Atin menatap dengan sangat sedih.


“Ibu kita ingin anak ini berubah, kami ingin memberitahunya kalau hidup di dunia ini harus ada rasa simpati pada orang lain, kesombongan adalah awal ke hancuran,  kalau sama gurumu sendiri kamu sudah menganggap enteng lalu siapa yang akan mendidik kamu?”


“Aku tidak mau ke sana, kenapa Ibu dan Ayah selalu memaksa apa yang tidak aku inginkan”


“Dengar …! selama ini karena mendengar apa yang selalu kamu minta,  akhirnya kamu seperti ini, apa hebatnya kalau hanya sekedar juara tetapi kamu memiliki sikap sombong tidak ada gunannya.” Hara melotot tajam pada putranya.


 “Ibu selalu berusaha mendidik kamu agar bisa berubah,  tetapi kamu tidak mau mendengar apa kata orang tuamu, kalau anak tidak mau lagi mendengar kata orangtuanya, itu anak yang nakal.”


“Okan, kamu masih tidak  mengerti juga, kamu tidak perduli pada orang sekitarmu, kamu sombong, kamu selalu menganggap teman-temanmu di bawahmu, bahkan gurumu bilang kamu menyepelekan mereka. Okan, ibu malu saat gurumu menyebutmu tidak punya rasa hormat pada mereka. Apa kamu tahu orang sombong awal dari kehancuran? Kamu juga tidak punya rasa empati pada orang lain, Okan, anak perempuan yang kemarin yang kamu biarkan  tanpa kamu bela,  walau kamu melihat kejadianya dia sekarang lagi di rumah sakit, dia trauma Okan, dia meminta tolong padamu untuk mengatakan kebenaran seperti yang kamu lihat.  Tetapi kamu memilih diam, ada apa denganmu?” tanya Hara dengan nada marah.


“Apa aku harus membela yang bukan urusanku?”


“Bukan membela Okan, tetapi apa salahnya kamu mengatakan apa yang kamu lihat.” Wajah Hara semakin mengeras, melihat sikap keras kepala Okan.


“Aku tidak mau dipanggil bolak-balik ke ruang guru dan ditanya ini ,itu, membuang-buang waktuku lebih baik aku menghabiskan  waktu membaca bukuku.”



Hara menghela napas.


“Hanya pintar,  tidaklah cukup Okan untuk modal bertahan hidup di duania ini, kamu butuh teman, butuh wanita, butuh banyak orang  yang akan mendampingimu.” Hara  sampai berdiri di depan Okan karena tidak bisa menahan emosinya.


“Apa yang terjadi? Ibu tidak mengerti, Nak.” Wajah Bu Atin terlihat sendu .

__ADS_1


“Bu, Okan  tidak memiliki sikap yang baik, dia pintar di sekolah,  tetapi ia menganggap semua orang bodoh dan termasuk gurunya, mereka bilang Okan selalu bersikap angkuh di kelas,  ia tidak mau berteman dengan satu kelasnya bahkan duduk dalam meja hanya sendiri, Apa  Ibu tahu, ia bersekolah tidak punya teman sama sekali, itu aneh Bu dan sangat menghawatirkan ada yang salah dengan otak kamu, ibu sudah berusaha mendidik kamu . Namun, kamu tidak mau mendengarkan Ibu, aku lelah dan meyerah, ada yang salah dengan otak kamu.”


Leon hanya diam, ada rasa sedih dan rasa kasihan pada Okan, tetapi  mereka harus melakukan itu untuk megubah sikap jelek yang di miliki Okan.


Hara sudah berusaha mengubah sikap Okan tetapi tidak berubah.


“Ayah dan Ibu akan memindahkan kamu dari sekolah itu, berharap kamu berubah lebih baik lagi, ini bukan karena kita tidak menyukaimu Okan, tetapi kami ingin kamu lebih baik dan belajar bagaimana menghargai orang lain ini demi kebaiakanmu di hari depan.”


“Tapi aku tidak mau pindah aku ingin tetap bersama Ibu dan Ayah, aku berjanji akan berubah,” ucap Okan membuat janji.


“Maaf Okan ini sudah janji ke empat kali yang kamu berikan pada Ibu, kamu bilang kamu akan mengubah sikap kamu, tetapi kesempatan yang ibu berikan selama ini , tidak kamu pergunakan dengan baik Nak, kini waktunya mengikuti aturan orang tuamu.”


"Bu ... Beri aku kesempatan satu kali lagi"


"Maaf Nak lelaki sejati, harus kuat," ujar Leon.


Mereka sepakat akan menghantar Okan ke asrama, tetapi apa itu jalan yang terbaik?


Bersambung …


Akak yang baik , jangan lupa tetap dukung karya ini kasih like vote dam komentar. Kalau bisa bantu share di facebook  kalian iya kakak agar  makin banyak lagi yang menonton. Jangan lupa baca juga karyaku yang lain.


Terimakasi  untuk semuanya


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


Bintang kecil untuk Faila (tamat


__ADS_2