
Akibat Tidak Minta Izin
Karena Leon menolak untuk teman curhat, Jovita Hara hanya diam di sisi ranjang, banyak masalah yang di hadapi, ia butuh teman untuk berbagai cerita, seperti yang biasa ia lakukan pada sang ibu.
Leon menghela napas panjang, melihat Hara diam,
“Apa salahnya aku mendengar curhatannya tadi, mendengarkannya tidak akan membuatku mati, tapi ada apa dengan hati dan mulutku?
Kenapa keduanya tidak bisa sejalan,” ucap Leon menggosok-gosok hidung.”
Tapi, aku bukan lelaki yang suka mendengar curhatan orang lain,” ujarnya lagi.
Jovita merasa sumpek dalam kamar, saat ia ingin menghirup udara segar.
“Aah lapar nih, kebiasaan lamaku kalau lagi stress, lagi sedih pasti ingin makan,” jovita menepuk-nepuk perutnya.
Ia melihat dompet Leon tergeletak di atas nakas, ia menarik duit satu lembar berwarna merah
Lapar begini, beli ketoprak enak sepertinya ,
Jovita membuat masalah pada dirinya sendiri. Ia keluar tanpa pamit, keluar dari kamar hotel, walau niatnya hanya ingin menenangkan pikirannya dan beli makana tetapi ia melanggar aturan yang dibuat Leon.
Berjalan-jalan di pinggir pantai Ancol menikmati angin pantai yang dingin.
Leon tidak menyadari kalau Jovita keluar dari kamar hotel, saat ia masuk dari balkon Hotel mewah itu, ia melihat tidak ada wanita pembuat masalah itu di dalam kamar.
Leon, berpikir kalau Ia melarikan diri lagi untuk ketiga kalinya.
Menelepon anak buahnya dan menyuruh datang.
“Cari dia dan seret ke hadapanku, wanita pembuat masalah, apa dia pikir dia punya dua nyawa … harusnya, kejadian tadi membuatnya takut, dasar gadis bodoh!”
“Baik bos!” Anak buah Leon mencari jovita menyusuri sekitar Hotel.
Jovita baru saja membayar dua bungkus ketoprak, setelah pikirannya sedikit tenang, ia membeli ketoprak dua bungkus, berniat memberikan satu sama Leon, ia naik dan membuka pintu kamar, bahkan jaket yang ia kenakan jaket milik Leon yang di dalam kantongnya ada pistol.
Ia membuka pintu kamar, Mata lelaki itu menatapnya dengan kemarahan dan sangat tajam, Ia berpikir anak buahnya yang mendapatkannya.
Paaak!
Satu tamparan keras melayang ke pipi Jovita, ia kaget mata itu melotot kebingungan, ia berpikir Leon marah karena ia mengambil uangnya tampa izin.
“Lepaskan jaketku, itu tidak pantas untuk tubuhmu yang murahan itu,
memakinya,” kata-kata itu sangat menusuk ke ulu hatinya, ia tidak pantas bicara seperti itu pada yang membuatnya jadi wanita kotor, Leon sendiri.
“Aku minta maaf”
__ADS_1
“Maaf… maaf! Apa kamu pikir aku terus menyelamatkanmu karena aku menyukaimu, apa kamu pikir aku sudah memaafkan keluargamu, aku masih membencimu, apa kamu paham, jadi berhenti membuat masalah atau aku akan melenyapkan mu juga!”
“Aku hanya mengambil seratus ribu, aku hanya ingin membeli ketoprak, aku hanya lapar tadi,” ujar Jovita, wajahnya kembali ketakutan bahkan tangan itu bergetar, meletakkan uang kembaliannya di dekat dompet Leon.
Leon terdiam, tatapan kebengisan itu berangsur redup, matanya menatap uang yang di letakkan Jovita, ia seperti habis di gampar bolak- balik.
wajah yang mengeras tadi mendadak memudar, ia melihat kresek hitam yang di pegang Jovita, ia menyadari kalau ia melakukan kesalahan fatal lagi, ia menduga Jovita melarikan diri, ternyata wanita malang itu hanya membeli makanan, makanya turun kebawah.
‘Apa ini juga kesalahanku, kenapa ia pergi tidak izin?’
Tanya Leon dalam hatinya, ia semakin kesal dan uring-uringan, menyadari ia melakukan kesalahan lagi, padahal dari kemarin saat Jovita kabur, ia sudah menahan diri agar tidak menyakiti wanita itu lagi, tapi kali ini merasa lelaki paling sadis, menyadari Jovita hanya merasa lapar dan membeli makan, tapi ia menampar dan memakinya.
Kring …!
Anak buahnya menelepon, Ia keluar menuju balkon hotel, membanting pintu menuju balkon, Leon masih terlihat sangat marah.
“Iya, kembali saja ke hotel dia sudah ada di sini,” pinta Leon pada anak buahnya.
Jovita masih berdiri di tempatnya semula, ia menyesal membuat lelaki itu marah lagi.
Coba ia minta izin pada Leon, mungkin kejadiannya tidak seperti itu.
Jovita hanya bisa menyesal dan memegang pipinya yang terkena gampar tangan keras milik Leon, dalam satu hari ini, ia sudah mendapat dua tamparan di tempat yang sama juga pipi kiri.
Leon masuk lagi dan merebahkan tubuhnya di ranjang, lengannya ia letakkan di atas kepalanya, ia terlihat sangat stres.
Leon lah yang merenggut kesuciannya, tetapi ia sendiri yang mengatainya dengan sebutan wanita murahan.
‘Bagaimana nanti … Siapa yang mau menerimaku kalau sudah rusak seperti ini?” Tiba-tiba pertanyaan itu muncul lagi.
Ia membiarkan dua bungkus ketoprak itu tergeletak di meja balkon, Jovita duduk menatap cahaya lampu sepanjang mata memandang,
‘Bagaimana hidupku selanjutnya, tanpa orang tua, tanpa uang tanpa masa depan yang jelas, aku tidak mau kembali ke Kalimantan bersama Leon, memikirkan hutan pedalaman itu membuatku sesak.
Jika aku bersamanya, perlakuan kasar dan penyiksaan dan kata-kata menyakitkan, akan terus aku dengar dari mulut kotor itu.
Aku yakin di dunia ini pasti ada lelaki yang mau menerimaku apa adanya.
Memperlakukanku dengan baik, aku yakin jika aku tinggal di Jakarta dan merawat diri dengan baik pasti Tuhan akan memberiku lelaki yang baik, yang mau menjagaku’ kata Jovita penuh harap.
Ia melihat tangannya yang penuh luka-luka kecil.
Leon tidak bisa tidur, ia masih marah bercampur kesal. Ia membiarkan jovita duduk di luar, sedangkan ia membaca buku berharap bisa tidur tanpa Jovita.
pukul 24:30
Leon masih membaca buku di tangannya, tapi tidak ada tanda-tanda mata mau tidur, masih saja terang bagai bola lampu.
__ADS_1
“Apa yang ia lakukan lagi, kenapa gak masuk-masuk?”
Leon membuka pintu dengan kasar, ia berdiri di depan Jovita, berpikir wanita cantik itu masih bangun.
Ternyata semuanya di luar dugaan, Jovita tertidur di sofa, melihat bungkusan itu belum di sentuh juga , ia mengepal tangannya.
Ia merasakan, ada bagian-bagian dadanya yang sakit.
‘Seandainya aku tidak menamparnya mungkin ia sudah menghabiskannya’
Leon menggendong tubuh Jovita masuk kedalam kamar.
“ wanita ini semakin hari, semakin ringan saja berat tubuhnya,” ujar Leon.
Menidurkan Jovita, ia meringkuk dan memunggungi Leon.
“Cei … Jangan memunggungi ku.” Leon menarik dengan paksa tubuh Jovita, melihat mata itu menangis lagi.
“Kenapa kamu menangis, apa aku salah? Apa, kamu mau bilang aku tidak punya perasaan? Jangan menangis usap air matamu, aku tidak suka melihatnya,” ujar Leon dengan nada tinggi, ia menyingkirkan air mata itu dengan kasar, dari pipi Jovita.
“Aku hanya membeli makan,, apa aku pantas menerima perlakuan kasar itu?”
Tiba-tiba Leon duduk dengan kesal. “aku memang brengsek , orang kejam, apa kamu pikir hanya ingin membeli makanan aku melarang mu, kamu keluar tanpa izin, apa kamu paham?”
Mereka berdua terlihat seperti sepasang suami istri yang bertengkar di atas ranjang.
“Tidurlah, kepalaku sakit,” ucap Leon merebahkan tubuhnya lagi, lalu tangannya menarik tubuh Jovita mendekap di dadanya, wanita cantik itu, hanya diam dan menurut.
“Tidak bisakah kamu melepaskan ku dan menghentikan hukuman mu padaku, kamu boleh memilihnya’ melenyapkan ku atau kamu melepaskanku, lakukanlah salah satu dan tolong bebaskan aku.
Orang yang kamu benci itu sudah dikubur,” ucap Jovita, ia memohon agar ia dibebaskan , Leon masih memeluk tubuh mungilnya, meletakkan kepala Jovita di dadanya.
Ia hanya diam mendengar permintaan Jovita, saat ia membuka mata, bekas tamparan tangannya masih membekas di pipi Jovita
Bersambung ….
Bantu Vote like dan kasih hadiah juga, iya kakak, karena ikut lomba
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-The Cursed King(ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1