
Sebelum mengajak Hara ikut bekerja di hotel, Leon melakukan persiapan dari rumah bahkan di hotel juga.
Setelah bu Atin tahu apa yang terjadi di hotel, ia meminta Leon agar tidak membawa Hara.
“Nak sebaiknya bujuk saja istrimu agar tidak ikut.”
“Bu, ini posisi sangat berat, jika aku membujuk dia tidak iku dia akan berpikir kita tidak sayang padanya. Tadinya sikap yang berubah belakangan ini karena ingin mengerjaiku. Tetapi semakin hari semakin aneh, setelah aku konsultasi dengan dr, Shena dia bilang Jovita Hara terkena serangan kecemasan.”
“Aku mengerti posisi dia nak, apa yang terjadi di masa lalu pasti masih mengganggunya,” ujar Bu Atin.
“Itu dia Bu, dalam kondisi seperti itu, kitalah yang diminta harus mengeri dia.”
“Apa itu lama Nak?”
“Tergantung bu, ada yang hanya beberapa hari ada juga yang sampai dia melahirkan,” ujar Leon.
“Kalau memang seperti itu lakukanlah Nak, turuti kemauannya,” ujar Bu Atin, ia khawatir .
“Ada apa Bu, kenapa ibu tiba-tiba jadi panik seperti itu? tidak apa-apa kata dokter, asal kita selalu mendampinginya dan tetap bersamanya,” ucap Leon menenangkan hati wanita itu.
“Ibu berharap, tidak seperti itu Nak, tapi ibu takut. Ini mengingatkan ibu dengan saudara ibu yang mengalami hal itu.”
“Apa yang terjadi, Bu?”
Bu Atin menatap Leon dengan tatapan sendu, “Ia meningal Nak, dia depresi karena keluarga tidak tahu bagaimana mengatasi penyakit itu, dia bunuh diri karena mengalami depresi berat, masalah lalunya yang kelam menghantui pikirannya, ia pikirkan lagi, aku takut Hara mengungkit masa lalu kalian dan itu jadi awal beban pikirannya.”
“Jangan khawatir Bu, aku akan melakukan apapun untuk menjaga Hara dan anakku,” ucap Leon, Bu Atin sangat sedih saat mendengar Hara mengalami babyblues sindrom.
Saat mereka berdua di dalam dapur tiba-tiba ponsel di kantong celananya berdering ia merogoh dan menatap layarnya.
“Piter? Haloo.”
“Ada apa, Pak?”
“ Kenapa kamu membawa Hara ke hotel?”
Mendengar kepanikan dari Piter , Leon menatap ibunya . “Tidak apa-apa, aku akan menjaga Hara tidak akan terjadi apa-apa.”
“Kamu gila! Tadi malam kamu sudah lihat sendiri, kan, saat kita di bar itu.”
“Aku tahu, tapi ada hal yang membuatku tidak bisa menolak Hara kali ini, ia akan mengamuk dan marah nanti.”
“Leon! Pilih mana, dia marah atau ia celaka?” suara Piter terdengar tegas di ujung telepon.
Leon diam, ia tidak tahu harus berbuat apa-apa, ia akan seperti itu jika ini tentang Hara, tidak bisa membuat keputusan yang tepat, otaknya seakan-akan buntu.
“Baiklah aku datang ke situ biarkan aku yang bicara dengannya.”
“Tidak usah yang ada nan-“
__ADS_1
Tut … Tut….
Panggilan telepon dimatikan.
“Ada apa sebenarnya Nak, kenapa Piter ikut panik? katakan terus terang pada ibu, jangan biarkan ibumu bertambah khawatir.”
Leon menarik napas ia terlihat enggan menceritakan pada ibunya tentang apa yang terjadi, ia akan semakin cemas nantinya Leon yakin akan hal itu.
Tidak ingin didengar Hara, Leon menarik lengan ibunya kearah taman, Hara tidak melihat mereka berdua ia hanya fokus pada serapan di depannya sesekali ia melihat layar ponselnya.
Hara jarang makan sambil pegang ponsel, tetapi kebiasaan itu terjadi baru-baru ini, ibu mertuanya beberapa kali menasehati tetapi itu juga yang membuat Hara marah tadi.
Tetapi mendengar Leon menyebut Hara mengalami kekhawatiran yang berlebihan. Wanita itu berpikir apapun yang akan di lakukan Hara tidak akan ia larang lagi.
“Ini Bu,” suara Leon terjeda menatap ibunya dengan tatapan khawatir.
“Leon kamu membuat ibu bertambah khawatir, Nak,” ujar wanita itu menatap Leon dengan tatapan mata tegas tidak sabar mendengar Leon melanjutkan kalimatnya.
“Aku melihat Bianca di bar tadi malam.”
“Oh, wanita itu sudah berada di Indonesia? Bukankah dia tinggal di luar negeri?”
“Aku melihatnya Bu bersama … tapi jangan khawatir Bu, mungkin itu hanya kebetulan saja.”
“Apa dia melihatmu?”
“Sepertinya dia tidak mengenalku karena tadi malam aku pakai topi, saat aku menelepon ibunya , dia bilang wanita itu membuat ulah lagi dan melarikan diri dari pusat rehabilitasi.”
Saat mereka mengobrol di taman Piter sudah datang.
“Nak, Piter?” Bu Atin menyapa.
“Iya Bu aku datang, mana Hara?”
“Dia lagi serapan, jangan khawatir duduk dulu,” ucap Leon mengajak lelaki berkepala botak itu untuk duduk di kursi taman di samping kolam renang.
“Kamu gila Leon, tadi malam aku sudah memperingatkan kamu agar hati-hati, kenapa malah mengajaknya ke sana?”
“Tapi kami juga tidak bisa melakukan apa-apa padanya Nak, dia akan mengamuk dan merah-marah nanti.”
“Di rumah ini dia akan aman Bu, di hotel kita tidak tahu ada siapa saja yang menginap di sana, ada orang banyak yang tidak kita kenal menginap di hotel, Hilda bilang di hotel ada insiden penembakan juga beberapa hari yang lalu, menewaskan satu orang bandar, satu kabur dan melukai pegawai hotel”
“Iya itu benar.”
“Oh benarkah?” Bu Atin mengusap dadanya.
“Leon, kita minum di bar itu tadi malam mungkin itu cara Tuhan untuk memberimu peringatan agar berjaga-jaga, mereka berdua menatapmu dengan tatapan kemarahan.”
“Mereka berdua siapa?” tanya Bu Atin menatap mereka berdua bergantian.
__ADS_1
“Ibu begini ah-“
“Bu, tadi malam saat kami minum di bar, tidak sengaja aku melihat Bianca bertemu dengan Maxell, mereka berdua terlihat bicara akrap seperti teman lama” ujar Piter memotong ucapan Leon yang terlihat sungkan menjelaskan pada ibunya, ia sungkan karena ada Toni.
“Ha? Maxell dan Bianca?” Bu Ati terlihat kebingungan. “Kok bisa? Dari mana mereka saling kenal, apa yang ingin mereka rencanakan, kenapa kamu tidak bilang tadi sama ibu Nak,” ucap Bu atin menatap Leon.
“Bu, jangan khawatir Maxell dan Bianca sebelumnya memang pernah punya hubungan.”
“Tetapi mereka putus dan Maxell bilang wanita punya sifat yang aneh,” ujar Piter.
“Aku berharap pertemuan mereka menjalin hubungan kembali.” Leon mencoba bersikap positif.
“Aku berharap juga seperti itu, tetapi bagaimana kalau mereka datang menjadi duri untuk hubungan kalian karena mereka berdua berlatar sakit hati dengan kamu?”
“Kamu tahu, walau tadi malam kamu membelakangi meja mereka, tetapi mereka tahu kalau itu kamu Leon, bahkan aku bisa membaca gerak bibir wanita itu kalau mereka membahas kamu dan Hara …. Apa kamu pikir aku menyuruhmu berhati-hati hanya mainan? Ada alasannya Leon, aku bisa tahu apa yang mereka bicarakan, walau aku hanya melihat gerak bibir wanita itu, aku ini mantan mata-mata pasukan elite,” ujar Piter terlihat serius, wajahnya menegang.
Apa yang dikatakan Piter Leon mengerti, karena ia tahu lelaki berkepala botak itu adalah mantan pasukan tentara yang pernah juga bertugas di bagian sniper, dan ia juga beberapa kali ikut bergabung latihan dengan pasukan elite di luar negeri, jadi apa yang ia katakan semuanya adalah kebenaran.
“Om, Hara terkena Babyblues sindrom, aku baru mengetahuinya tadi malam dari dokter.”
“Apa itu berbahaya?” tanya Piter, tiba- tiba? wajahnya menurun terlihat sangat sedih.
Piter adalah lelaki di urutan kedua yang sangat menghawatirkan Hara, sangat takut bila mendengar Hara sakit, apalagi terluka urutan pertama sudah pasti Leon.
“Iya, kalau kita menolak keinginan.”
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1