Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Gara-gara jimat tidur


__ADS_3

Gara Gara Jimat Tidur


Saat Jovita Hara tertidur pulas di kamar Bi Atin, berbeda dengan Leon.


Leon  satu malam tidak bisa tidur, ia pusing mencari Jovita, tetapi tidak mau bertanya pada  Bu Atin, ia merasa sungkan pada asisten rumah tangganya, karena wanita paruh baya itu sudah seperti ibu baginya, hanya  ia wanita yang ia percaya saat ini dalam hidupnya. Bahkan rumah rahasia yang ada di hutan pedalaman hanya Bu Atin saja yang tahu.


Malam semakin larut, tetapi matanya tidak bisa terpejam, mungkin alam atau ruh orang yang sudah meninggal benar-benar sudah menghukum Leon, ia tidak bisa lepas lagi dari Jovita,  Leon tidak bisa tidur jika wanita itu tidak bersamanya.


Begitu juga malam  itu, waktu  sudah menunjukkan pukul 1:20 . Tetapi bola matanya masih terang benderang, ia tidak bisa tidur,  segala cara ia lakukan, olah raga, baca buku, menghitung bintang, tapi tidak satupun yang berhasil membuat ia bisa tidur.


Ia merasa kepala berdenyut-denyut dan pusing.


“Kenapa jadi seperti ini … menyusahkan saja,” ujar Leon mengusap wajahnya dengan kasar.


Ia harus mencari jovita kalau ia tidak mau sakit kepala satu malam ini.


Leon mengeluarkan ponsel  dari saku celananya dan menelepon seseorang.


“Kamu ke atas,” pintanya pada anak buahnya, tidak butuh lima menit lelaki berbadan tegap itu sudah  tiba di depannya.


“Iya Bos.”


“Apa kamu sudah menemukannya? Dia tidur di kamar yang mana?”


“Belum bos, tadi Iwan  melihatnya sedang mengobrol dengan Non Salsa Bos,”


“Salsa?”


“Iya bos"


“Baiklah kamu boleh pergi“


Leon berpikir kalau Jovita berada di kamar salah satu wanitanya yang lain.


Ia datang ke kamar Salsa.


“Eh Bos.” Salsa kegirangan saat Leon datang ke kamarnya, ini jadi satu kehormatan baginya,  jika tuanya datang langsung ke kamar mereka, ia merasa lebih spesial  dari Sabrina, wanita yang jadi saingannya di rumah itu, kalau biasanya merekalah yang di panggil ke kamar Leon untuk melakukan tugasnya menghangatkan tubuh Leon.


“Aku hanya melihat-lihat sebentar,”ujar Leon. Namun,  raut wajah terlihat kecewa saat tidak ada Jovita di kamar itu.


“Bos, bukan mau tidur di sini?”


“Tidak, aku hanya  sekedar melihat-lihat.”  Kedua alis mata wanita cantik ter angkat keatas.


Bagaimana tidak, hatinya sudah sempat berpikir kalau bos tampan tajir itu akan menghangatkan  malamnya , tetapi ia harus siap kecewa, karena Leon hanya melihat-lihat saja, tidak ingin tidur bersamanya, lebih tepatnya ingin melihat Jovita di kamarnya.


Leon keluar lagi dari sana, tangannya menekan nomor di ponselnya,


“Cari dia di setiap kamar, pastikan kamu mendapatkannya malam ini,” pinta Leon terdengar sangat kesal.


Padahal yang paling kesal sebenarnya orang-orangnya, karena di paksa mencari Jovita sampai pagi, karena mereka juga manusia yang butuh istirahat.


Tetapi apa daya, mereka hanya anak buah Leon , akan selalu siap kapan diperintah sang bos.


“Baik Bos,” setiap ruangan di periksa, tetapi tidak menemukan Jovita.


Semuanya mereka cari hasilnya nihil, anak buahnya datang lagi, memberi laporan padanya,  saat ini sudah pagi jam jarum jam menunjukkan setengah empat pagi,


Tapi leon seperti kehilangan jimat, membuatnya tidak bisa tidur


“Maaf Bos, kami sudah mencarinya kemana mana tapi tidak bisa menemukanya"


“Apa kamu yakin ia tidak keluar dari gerbang?” Mata Leon menatap kesal.


“Yakin Bos, tetapi ada satu kamar yang tidak kami periksa, kamar Bi Atin"


“Oh… iya benar, saya yakin dia di sana, melupakan hal itu,”  kata Leon, ia yakin Jovita disana, ia baru ingat kalau Jovita dekat sama bu Atin.

__ADS_1


Bahkan wanita itu selalu perduli pada Jovita dan selalu membela Jovita jika Leon marah.


“Awas saja kamu besok, kamu akan mendapat hukuman dariku, gara-gara kamu aku tidak bisa tidur,” ujar  Leon kini ia duduk di pinggir kolam renang.


Ditemani satu botol whisky, sebanyak apapun ia minum, tidak mampu membuatnya  tidur, yang ada ia semakin pusing.


“Aiiis, kamu membuatku sakit kepala Jovita Hara ...!"


Pekik Leon kesal, ia menyandarkan kepalanya, hingga akhirnya  ayam sudah mulai terdengar saling bersahut-sahutan . Ia merasa kepalanya sangat pusing, karena satu malam tidak tidur, belum lagi minum terlalu banyak dan duduk di luar sepanjang malam,  angin juga ikut masuk ke tubuhnya.


“Bos, apa di sini semalaman?” Tanya Iwan menatap sang bos.


“Bawa wanita itu nanti ke kamarku, dia menyiksaku satu malam ini,” kata Leon berjalan ke kamarnya dengan jalan sempoyongan.


Sampai dalam kamar, ia berlari ke kamar mandi, guncangan hebat dalam perutnya, ia muntah karena masuk angin kurang tidur  awal penyakitnya.


Ia membaringkan tubuhnya di ranjang, tiba-tiba merasa badannya menggigil, ini baru pertama kalinya Leon sakit.


Dengan tangan gemetaran, ia meraih ponsel dari nakas di samping ranjang,


“Bi, bawakan air hangat dan obat.”


Dengan cepat  Bu Ati datang membawa obat.


“Bi, suruh Jovita untuk  menemui ku,” ujar Leon dengan suara lemah.


“Baiklah, dia juga masih tidur”


“Chek ….  enak bangat dia tidur, padahal aku hampir mati gara-gara dia." Leon tiba-tiba merasa sangat kesal.


Bu Atin turun membangunkan Jovita, tapi sayang wanita itu tidak mau bangun.


“Nanti saja Bi, aku masih mengantuk, ini tidur balas dendam ku setelah berapa bulan aku tidak pernah tidur nyenyak seperti ini." Jovita menarik selimutnya  dan lanjut tidur.


“Waduh Non, bangunlah, Tuan Naga bisa marah besar nanti"


“Non bangunlah , kamu tau sendiri kalau dia lagi marah, jangan cari masalah, belum ada orang menolak permintaanya Non,” bujuk Bi Atin


“Bi, biakan Jovita tidur sebentar lagi, kamar bibi rasanya seperti kamarku sendiri, bau tubuh bibi seperti ibuku, ini menyenangkan Bi,” ujar Jovita mencari alasan,  semakin meringkukkan,  menarik selimutnya dan mulai tidur lagi


Dikamar atas leon terlihat sangat menderita, karena ia bolak ke kamar mandi karena ia merasa mual, duduk semalaman di luar ternyata membawa penyakit baginya.


 Dokter masuk ke kamarnya memeriksa tubuh Leon.


“Berikan aku obat tidur Dok, saya hanya butuh  itu,  mataku tidak bisa tidur dari tadi malam ,” Leon memegangi kepalanya


“Disaat  keadaan tubuh bapak seperti ini, bapak tidak boleh minum obat tidur, gunakan cara alami pak Wardana,” ucap sang dokter


Dokter hanya memberinya obat mual dan obat pusing.


Jam sudah bertengger di angka jam 8 pagi, akhirnya Jovita bangun juga.


Ia sudah mandi dan sudah rapi, pakaian ganti yang ia pakai milik  Bi Atin.


“Pagi Bi.”


 “Pagi Non,” jawab wanita itu, tapi wajahnya terlihat takut-takut.


“Ada apa Bi, khawatir bangat kelihatan”


“Itu Non , Tuan Naga seperti sakit, Dokter baru pulang,”


“Oh,” ucap  Jovita terlihat biasa saja, ia tidak tau keriuhan dan kekacauan pagi ini, karena ulahnya.


‘Kenapa dia tidak mati saja sekalian’ ujar Hara, setan dalam hatinya bicara.


Saat Leon sakit semua terlihat sangat khawatir, kecuali Jovita.

__ADS_1


Kedua wanita Leon,  Sabrina dan Salsa mulai cari muka, sok setia mendampingi sang bos, saat semua terlihat sibuk dan khawatir, Jovita malah terlihat cuek, makan nasi goreng, menghidupkan televisi di  dapur, sesekali bibirnya tersenyum melihat acara televisi, dan tangannya dengan santai menyendok  nasi goreng ke mulutnya.


“Sebodoh amat dengan keadaan bos Leon ,kalau bisa cepat-cepat ia di panggil Tuhan sekalian , amin” gumam Jovita pelan.


Padahal anak buah leon terlihat mondar-mandir mencari tukang urut  untuk  sang bos.


“Udah kalian keluar semua, aku pusing,” ujar Leon pada kedua wanita cantik itu, tetapi matanya mengharapkan orang lain yang datang.


“Kemana perginya gadis bodoh itu?” tanya Leon pada Iwan.


“Ia sudah bangun Bos, dia lagi serapan. Tadi saya sudah menyuruhnya menemui Bos, tapi dia …..”


“Tidak apa-apa, biar saya yang ke dapur.”


Dengan wajah pucat dan jalan sempoyongan,  ia  ingin menyeret Jovita, ia menyuruhnya naik karena tidak menghiraukan perintahnya.


Orang-orangnya hanya bisa melihatnya dan menontonnya, saat ia turun, Salsa dan Sabrina mengikuti Leon.


Tiba di dapur, ia berdiri di samping meja makan dimana Jovita sedang melahap Nasi goreng.


“Pak Leon,  mau serapan? Biar saya yang mengantar ke atas.”


 Bi Atin ketakutan. Semua orang terdiam menonton kearah Leon, Matanya menatap tajam bagai kilatan petir menatap Jovita, pundaknya terlihat naik turun.


Tapi, iya ampun …. Jovita seperti kemasukan setan gundul, Jovita bahkan tidak menghiraukan bos yang hampir menelannya hidup-hidup.


“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Leon.


“Serapan”


“Aku tau kamu serapan Jovita Hara …!


Saat semua orang mengkhawatirkan ku, kenapa kamu tidak datang melihatku? gara-gara kamu aku sakit!” Tuduhnya pada Jovita.


“Haaa … apa yang aku lakukan?”


‘Kenapa aku harus melakukan itu memang kamu siapa saya’ ucap  Jovita dalam hati.


“Apa kamu tidak perduli?”Leon  hampir meledak saat Jovita mengacuhkannya.


“Tidak” Jawab Jovita santai.


“Ah Dasar!” Leon menyeret tangan Jovita, membawa ke kamarnya.


“Eeee serapanku, eeeserapanku, nasi gorengku belum habis!”


Teriak Hara, walau tangannya di seret, matanya masih menatap nasi goreng yang masih sisa setengah piring lagi, dengan tangan direntangkan dan sesekali tangannya memegang dadanya, dan kembali direntangkan , ini terlihat seperti adegan sinetron saat di pisahkan dengan kekasih.


“Harusnya aku buru-buru menghabiskannya tadi”


Bi Atin yang melihat tingkah  Jovita jadi tertawa merasa lucu, selama dia bersama Leon puluhan tahun, hanya wanita ini yang berani bersikap membantah dan berani terhadap Leon.


Bersambung...


Bantu Vote  like dan kasih hadiah juga, iya kakak,


 Agara authornya semangat up tiap hari.


 Baca juga;


-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2