
Bu Atin meninggalkan restaurant itu dengan wajahnya terlihat sedih, Leon mengantar wanita sampai ke lobby.
“Ibu tidak apa-apa?” tanya Leon mengusap punggung tangan ibunya. Leon tahu kalau wanita paru baya itu merasa tersinggung.
“Ibu merasa tidak percaya diri saja nak, mungkin karena belum biasa,” ucap Bu Atin, memaksakan senyum untuk Leon.
“Ibu diantar Bram iya, aku masih harus bicara dengan Bianca.”
“Nak ….” Bu Atin menatap Leon.
“Iya”
“Jangan menambah musuh lagi ….”
”Maksud ibu?”
Leon menatap wajah Bu Atin.
“Mencari musuh itu sangat gampang Nak, tetapi menjadikan orang lain jadi teman itu yang susah, hanya omongan kecil saja orang akan sakit hati dan menaruh dendam pada kita. Bicaralah baik-baik dengannya, kalau kamu memang tidak suka dengannya. Ingat ayahnya seorang pebisnis sama sepertimu”
“Baiklah, aku mengerti”
Leon mengerti maksud Bu Atin.
“Bram, antar ibu pulang dulu, nanti kamu jemput saya lagi”
“Baik Bos”
“Ibu pulang saja jangan khawatir aku bisa mengatasinya.”
“Baiklah Nak.” Bu Atin berusaha tegar di hadapan Leon, tetapi tidak tahu lehernya bagai tercekik saat makan dengan Bianca . Bu Atin sangat menjaga sikap dan perilaku, agar tetap terlihat layak sebagai ibu untuk Leon, di hadapan Bianca.
Ia tidak ingin mempermalukan Leon di hadapan Bianca. Tetapi melihat tatapan merendahkan dari wanita kaya itu padanya membuatnya tiba-tiba rindu Hara.
Bu Atin masih berdiri.
‘Ibu berharap suatu saat nanti ada keajaiban yang membawa kamu kembali pada kami Nona Hara, hanya kamu yang ibu inginkan ada di sisi Leon’ ucap Bu Atin, ia sangat merindukan Hara, merindukan tawa ceria merindukan kebaikan hatinya.
Bu Atin mengusap dadanya, ada rasa sesak di sana
“Bu … Bu!” Bram memangil Bu Atin.
“Oh, maaf Nak Bram”
“Mari Bu masuk ke mobil, akan saya antar pulang”
Mobilnya akan mengantar Bu atin pulang duluan kerumah.
Dalam perjalanan pulang Bu Atin melirik penampilannya di pantulan kaca depan mobil, ia bisa melihat jelas wajahnya , karena ia duduk di jok depan, di samping bangku setir.
‘Tidak terlalu kampungan, bagus kok, tapi kenapa wanita itu menatapku dengan tatapan merendahkan seperti itu’ ucap Bu Atin dalam hati.
“Ada apa sih Bu, lirik kaca terus dari tadi” tanya Bram,? ia jadi supir hari ini, karena supir yang biasa sedang sakit.
“Nak Bram, menurut kamu kampungan tidak penampilan, Ibu?”
“Sebentar saya lihat dulu.” Bram melirik penampilan Bu Atin.
__ADS_1
“Bagaimana?”
“Menurutku sederhana, hanya itu, tapi saya suka penampilan ibu,” ucap Bram.
“Ibu rasa juga, pakaianku layak dan Leon bilang tidak apa-apa, tapi ada seseorang menatapku dengan aneh.”
“Matanya rusak kali Bu,” ucap Bram tersenyum, Ia tidak tahu yang dimaksud Bu Atin Bianca.
“Tapi siapa Bu?”
“Bianca”
“Oh ….?” Bram kaget, ia baru sadar, ternyata yang mereka bahas wanita yang lagi mengejar-ngejar sang bos.
Melihat wajah tua itu sedih, Bram merasa kasihan, mereka sama-sama diam dalam mobil, Bu Atin sibuk dalam pikirannya sendiri.
‘Hanya kamu yang ibu harapkan untuk Leon Non, aku harap kamu bisa bersama Leon lagi’ ucap Bu Atin, matanya menatap hampa kearah gedung -gedung pencakar langit di daerah Jakarta selatan, hingga akhirnya tiba di rumah.
Bram kembali untuk menjemput Leon.
*
Dalam restaurant Bianca menatap Leon dengan rasa bersalah.
“Maaf iya mas, aku tidak tahu kalau beliau, ibunya Mas Leon.”
“Sudah datang bersamaku berarti dia sudah ibuku, saya hanya bilang datang dengan ibuku saya tidak bilang dengan orang lain, bukan?”
“Iya, aku pikir Ibu mas Leon masih muda dan ....
Wajah Bianca langsung murung, padahal ia sudah sangat berharap tahun ini, Leon menikahinya, tapi kalau Leon pergi ke negeri tirai bambu itu, itu artinya pernikahan mereka yang pernah diutarakan Leon akan tertunda lagi.
“Tapi kenapa buru-buru?” Tanya Bianca matanya menatap dengan sedih.
“Aku akan membangun satu restoran di sana lagi, saya harus benar-benar mengawasi pembangunannya.”
“Tapi bagaimana dengan hubungan kita?”
“Saya tidak bisa memutuskan saat ini, saya juga tidak memaksamu menungguku, kalau kamu mau, tunggulah saya selesaikan pekerjaanku dan kita bicarakan lagi nanti “
“Tapi kamu sudah berjanji akan menikahiku tahun ini”desak Bianca mendengar itu Leon terlihat jengkel.
“Bianca. Orang yang sudah hampir menikah, hanya menunggu hari, bisa gagal, apalagi ini hanya, masih sebatas janji, jangan terlalu anggap berat, jika kamu kuat jalani, jika kamu anggap ini merugikan kamu dan membebani pikiran kamu, kamu boleh berhenti dan berpaling ke yang lain,” ucap Leon
Wajah Bianca memerah, ia terlihat sangat emosi saat Leon selalu menganggapnya sepele dan tidak berharga.
“Mas sendiri yang janji yang akan menikahiku tahun ini, maka itu aku berharap banyak, karena mas sendiri yang menjanjikannya , aku tidak memintanya,” ucap Bianca, nada suaranya meninggi mengundang perhatian orang lain . Leon paling tidak suka jadi bahan perhatian orang lain, apa lagi, dengan hal yang menurutnya tidak penting.
“Kalau begitu lupakan saja, jangan membuat dirimu jadi sakit karena hal yang tidak begitu penting,"ujar Leon, lagi-lagi wajahnya datar.
Padahal Bianca sudah berusaha tampil sangat cantik untuk Leon, tapi apa yang ia dapat, hanya tatapan dingin seakan kehadirannya tidak di anggap.
Tiba-tiba bendungan dari mata Bianca tumpah, ia tidak tahan lagi membendung kemarahannya dan kekesalannya, ia terisak-isak dan menangis.
“Berhentilah menangis semua orang melihat kesini, saya bukan tipe lelaki romantis yang jago mendiamkan wanita saat menangis,” ucap Leon mencoba melembutkan volume suaranya.
“Kamu selalu membuatku sedih,”ujar Bianca masih terisak-isak .
__ADS_1
Karena merasa diabaikan, Bianca berkata lagi.
“Kamu akan menyesal jika mengacuhkan aku Mas Leon, kamu tahu kan siapa ayahku, dia bisa menghancurkan mu jika kamu mempermainkan putri kesayangannya”
“Kamu mengancam ku Bianca?” Leon tertawa miring mendengar ancaman Bianca.
“Ya, selama ini tidak ada yang pernah main-main denganku. Kamu tahu kan ayahku sangat mencintaiku, dia akan menghancurkan semua bisnismu jika kamu meninggalkanmu”
“Oh, saya sangat kecewa mendengar ancaman itu . Terimakasih akhirnya kamu membantuku membuat keputusan yang tepat”
“Apa maksudnya?” Bianca menatap Leon dengan bingung.
“Ibuku tidak menyukaimu karena kamu merendahkannya dengan tatapanmu. Tetapi, tadinya aku berniat tetap menikahimu walau ibu tidak suka. Tapi ancamanmu membuatku berpikir ulang. Kamu tahu siapa saya? Saya ini mantan Mafia. Saya memilihmu agar aku bisa melupakan masa laluku. Tetapi mendengar ancamanmu …. Kamu tidak akan bisa membuatku melupakan masa lalu. Pulanglah dan jangan pernah berharap apa-apa dariku lagi”
Bianca langsung mematung.
“Kamu tidak akan bisa meninggalkanku, kamu akan menyesal, akan aku buat kamu meminta maaf dan berlutut di kakiku,” ujar Bianca.
“Dasar gila," ucap Leon menggeleng meninggalkan Bianca.
“Kamu tidak bisa memutuskan ku begitu saja. Akan aku habisi wanita itu,” ancam Bianca teriak seperti orang gila menjadi perhatian seisi restaurant.
Leon berjalan mengacuhkannya.
“ Sialan ini sangat memalukan, baru kali ini aku dapat wanita gila seperti ini,” ujar Leon memakai kaca mata hitam, Leon merasa malu saat Bianca meneriakinya.
“Bram, jangan biarkan wanita gila itu mendekatiku lagi”
“Baik Bos”
“Baik Jalan” Leon meninggalkan Bianca di restauran.
Leon merasa sangat malu saat berada dalam restauran bersama Bianca. Tadinya Leon ingin menikahi Bianca setelah mendengar Hara menikah. Tetapi Bianca melakukan ancaman murahan padanya dan Leon paling benci mendengar hal -hal yang berbau ancaman. Maka itu ia akan menendang Bianca dari hidupnya.
'Aku mencari Hara untuk memastikan kalau dia baik- baik saja untuk terakhir kalinya ' Leon membatin.
"Bram siapkan dirimu kita besok akan China"
Bersambung
KAKAK TERSAYAN JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing
__ADS_1