
Firman akhirnya juga menyerahkan Proyek itu dengan berat hati, niat ingin meminta bantuan malah kehilangan.
Leon menekan Lelaki itu dengan ancaman, kalau poyek dan gambar cetak biru yang ia dapatkan secara ilegal, karena yang memenangkan Lelang Iwan ayahnya Jovita.
Leon akan melaporkan ke polisi jika ia tidak menyerahkannya, ia akan melaporkan dengan tindakan pencurian saat itu, juga Firman menyadari kalau ia mendatangi orang yang salah, bahkan Leon tidak memberikan apapun untuknya.
‘Kurang ajar ni orang’ Firman menatap tajam saat Leon menekannya dan meminta gambar Jovita dikembalikan.
Ia tidak bisa berkutik saat Leon menekannya dan menjelaskan apa resikonya, jika ia mengotot untuk tetap bertahan.
Lelaki itu sadar, Leon bukan orang yang sembarangan, ia juga sempat mendengar gosip kalau Leon Wardana orang yang nekat dan berani, Leon juga tidak takut bersaing dengan Perusahan Kontraktor besar seperti Totalindo dan Hutama Karya, nama perusahaan besar di Indonesia, Leon berani bersaing dengan mereka.
Ia juga mendengar kalau Leon orang yang berani di setiap proyeknya, tidak ada satupun preman yang meminta jatah keamanan dan pungutan-pungutan liar yang tidak jelas, serta jatah preman seperti yang sering dilakukan kepala mafia, seperti yang baru kita dengar yang ditangkap kepala preman, karena mencoba melenyapkan pamannya sendiri. Uang memang jahat tidak mengenal saudara ataupun kawan.
Sekarang lelaki itu menyesali pertemuannya dengan Leon, kini, poyek yang akan di kerjakan Perusahaanya hilang dari genggaman.
Ia meninggalkan Leon masih duduk di kursi di dalam restauran , di depannya satu gulungan besar gambar hasil karya Jovita, matanya masih menatap dengan dalam box berbentuk panjang yang isinya gambar kerja keras sang wanita tawanan.
Jovita seorang arsitek muda yang berbakat, ayahnya selalu bangga padanya karena klien dari perusahaan mereka sering sekali memakai jasa Jovita Hara untuk mendesain perusahaan , rumah, sampai hotel.
"Apa yang dimiliki wanita itu adalah milikku termasuk tubuhnya" gumam Leon.
Lalu membawa gambar Jovita turun, ia memangil orangnya, matanya melirik kanan - kiri, ia yakin kalau musuhnya bertambah satu lagi, mungkin Firman sudah merencanakan sesuatu untuknya saat ini. Tetapi, ia tidak akan perduli dengan hal-hal seperti itu, ia tidak pernah merasa takut, jika ia ingin mendapatkan apa yang ia inginkan, ia tidak perduli dengan resiko yang akan ia terima.
“Kita pulang," pinta Leon, saat sang supir berlari ke arahnya.
“Baik Bos”
*
Di rumah Leon, di daerah Pantai Indah Kapuk Jakarta Utara, Jovita menikmati hangatnya terpaan api unggun yang ia buat dengan Toni dan Bi Atin serta anak-anak yang lain,.
Jovita yang jago memainkan alat musik petik , ia memangkunya dan menyanyikan beberapa lagu, suasana terlihat sangat berbeda malam itu, suasana ceria karena pribadi Jovita orangnya humoris, ceria dan suka mengobrol dan tentunya pintar menyanyi dan main gitar.
__ADS_1
Saat Bos besar itu pergi, ia mengajak anak-anak buah Leon ikut bergabung, Bi Atin menyuguhkan kopi dan cemilan, menambah betapa bebasnya hidup mereka malam itu, mereka bebas saat Leon tidak ada di rumah, tentunya itu pertama kalinya terjadi di istana megah itu.
“Wah, mantap ini pertama kalinya suasana rumah seperti ini,” timpal salah seorang anak buah Leon.
“Iya, biasanya hening seperti kuburan , kecuali pagi-pagi baru suasana hidup lagi, itupun karena ada kegiatan olahraga para pegawai,”ujar yang lain. Toni hanya tersenyum, ia menatap Rara dengan tatapan hangat.
Sudah hampir malam, mobil yang di kendara Iwan berhenti, sesaat Jovita dan yang lain terdiam, mereka berpikir Bos Leon yang datang ,tetapi Salsa yang keluar dari mobil dengan bibir manyun berjalan dengan cepat, langsung masuk ke kamarnya, berbeda saat ia mau berangkat tadi, terlihat anggun dan cantik mempesona seperti kelopak bunga yang baru mekar, tapi saat ia pulang dan keluar dari dalam mobil, ia terlihat seperti ibu-ibu yang gagal menagih hutang,
Mereka terdiam, melihat Salsa yang berjalan dengan langkah buru-buru sampai di kamarnya di lantai dua, ia sepeti membanting sesuatu
Bruaak!
Salsa melempar vas bunga yang berbahan kaca menyebabkan pecah dan berserak di lantai.
“Ada apa dengannya?” Tanya Jovita masih menatap kearah kamar Salsa.
“Mungkin bos tidak memberi jatah penuh kali,” sahut Bili terkekeh.
“Ada apa dengan non Salsa, Wan?” Bi Atin ikut penasaran juga, ini pertama kalinya si ratunya si Bos itu terlihat marah, Boleh di bilang ia wanita Top satu di mata Leon, karena sekian banyak wanita milik Leon, hanya ia yang sering di ajak Bos Leon untuk menemaninya untuk urusan pekerjaan, bahkan itu juga membuat banyak wanita –wanita lain menjadi iri.
“Tidak tahu dia marahnya sama Bos, tapi melampiaskannya padaku,” ucap Iwan memegang pipinya yang habis di gampar sama Salsa
“Memang diapain?” Jovita menatap dengan penasaran.
“Saya ditampar, sialan itu orang,” kata Iwan, membawa sampanye di tangan.
“Apa yang terjadi sebenarnya sampai ia kesal seperti itu” Bi Atin menatap Jovita, wanita paru baya itu yakin ada hubungannya dengan Jovita, karena Leon belum pernah membuat wanita cantik Salsa dan Sabrina kecewa dan marah seperti saat ini
Tapi sejak Jovita datang ke rumah ini, semua banyak berubah, termasuk sikap Leon, tanpa ia sadari banyak berubah dari dirinya dan hanya bu Atin yang tau hal itu.
“Sudah, sudah, kita minum ini dulu,”ujar Iwan yang ikut menikmati hidangan enak saat di restauran tadi.
“Wah , wine putih mahal, darimana ini?” mata Bili melotot, ia tahu satu botol minuman memabukkan itu harganya fantastis.
__ADS_1
Satu botol, minum rame-rame. Jovita hanya meminumnya sedikit, itupun dicampur Es, tapi ia sudah merasa sangat pusing.
“Ini gila, aku memang orang kampung, baru minum sedikit uda teller,” ucap Jovita memegang kepalanya ia mulai mabuk
“Non ,ayo tidur di kamar bibi, kamu sudah mabuk,” Bi Atin terpaksa membopong tubuhnya ke kamar, karena baru minum sedikit saja, ia sudah mabuk. Jovita memang tidak kuat minum, jangankan minum, kadang menghirup baunya saja, ia sudah mabuk darat
Saat Jovita masuk ke kamar Bi atin, tidak berapa lama lagi mobil Leon sudah tiba, untungnya Toni dan kawan-kawanya sudah menyudahi acara mereka.
Mereka berpencar ada yang shif untuk berjaga, ada yang sudah tidur saat Leon tiba, suasana hening kembali.
Leon langsung naik ke kamarnya merebahkan tubuhnya di ranjang, tetapi secapek apapun tubuhnya, ia tahu, ia pasti tidak akan bisa tidur kalau Jovita tidak ada di dekatnya.
Itu juga alasan Leon sampai saat ini kenapa mempertahankan Jovita, hanya didekat wanita itu saja ia bisa tidur dengan nyenyak, kalau tidak ada Jovita, ia akan mengalami mimpi-mimpi buruk , karena mimpi buruk itu, ia jadi takut terkadang untuk menutup mata.
“Tetapi mereka lagi ngapain?” Leon melihatnya dari rekaman cctv, melihat dengan jelas keceriaan Jovita jika bersama anak buahnya yang bernama Toni, melihat Jovita memetik gitar, melantunkan beberapa lagu, tertawa lepas, bercanda.
Melihat itu ia mengepal tangannya dengan kuat, ia marah, hatinya terbakar, melihat Jovita sangat akrap dengan Toni.
Baginya Jovita adalah jimat tidur dan hanya miliknya.
Bersambung …
KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)