Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Piter terluka


__ADS_3

Saat  Leon menerima telepon dari Piter wajahnya kali ini lebih tenang dari biasanya, walau ia marah cemburu kesal tetapi saat Piter menyebut Hara istrinya ia tenang.


“Apa kamu bilang?”


“Nona Hara. Pak Leon, Bagaimana menurutmu jika aku menikahi Hara?”


Untuk beberapa sesaat, Leon diam menyimak,  tangannya terkepal kuat menahan perasaan panas di dadanya,


‘Calon istri ?  bukannya kamu hanya pengawalnya, sejak kapan pengawal jadi calon suaminya, dasar bodoh’  ucap leon dalam hati. Tapi sudah pasti  ia cemburu.


“Aku ingin tahu dimana  di mana dia? Bagaimana keadaanya?”


“Kamu khawatir dengan ibunya atau kamu khawatir dengan bayi yang dia kandung?” Tanya Piter lagi, wajah Leon semakin merah .


Leon menarik napas panjang, seandainya saja orang itu ada di depannya, mungkin ia sudah memberinya satu timah panas tepat di kepalanya.


‘Bukan waktunya untuk marah Leon, sabarlah’ Leon menenangkan dirinya sendiri.


“Tentu saja saya khawatir  dua-duanya,” jawab Leon menahan diri untuk tidak marah.


“Ibunya baik-baik saja,” jawab Piter.


Wajah Leon menegang ia menahan napas.


“Apa maksudnya, apa bayinya tidak selam-“ Belum juga selesai bicara Piter terdengar buru-buru di ujung telepon.


“Aku ingin meminta tolong dengan kamu, hanya kamu yang bisa melindunginya.  Dengar …. aku percaya padamu saat ini nyawa keduanya dalam bahaya”


“Apa yang terjadi?” Leon berdiri dengan wajah menegang.


“Anak buah Bokoy mengincar nyawa Hara … anak buahnya melihatku tadi pagi, aku tidak bisa masuk, kalau aku masuk mereka akan menemukannya,  aku ingin kamu melindunginya, datanglah kerumah sakit  Rose di  Puncak,  kamar 47 atas nama Wilona nama indentitas yang kamu berikan-”


Tut …tut ….!


Sambungan telepon dari Piter terputus, Leon dengan cepat berlari keluar


“Rikko aku ingin ke Puncak Bogor sendirian, ikuti aku diam-diam”


“ Baik Bos” Keempat anak buah kepercayaannya berlari  mengambil formasi masing-masing.


Zidan  dan Iwan  memasukkan  senjata laras panjang senjata andalan mereka dalam mobil. Rikko  tidak lupa memasukkan pedang samurai miliknya.


Anak buah  Leon bergegas mempersiapkan diri dan membekali diri mereka dengan senjata.


Sesuai permintaan Piter, Leon datang sendiri, ia menyetir  mobil kearah Puncak bogor di mana Hara sedang dirawat di rumah sakit.


Beruntung jalanan  tidak macet dan tidak ada acara buka tutup arah ke puncak,  hingga akhirnya ia tiba di rumah sakit yang dikatakan Piter, ia tidak mau ketahuan, ia akhirnya melakukan  penyamaran sesuai permintaan Leon.


“Rikko mereka ada di rumah sakit”


“Baik Bos”


“Zidan kamu ambil posisi mereka ada dua orang ingat lakukan penyamaran. Jangan sampai ada kesalahan Hara dalam bahaya”


“Baik Bos, lima menit lagi kami tiba, saya pakai motor”

__ADS_1


“Baik”


Leon berjalan santai  berjalan  kedalam rumah sakit.


Di ruang tunggu ia melihat dua orang anak buah Bokoy sedang  berdiri


“Zidan mereka terlihat empat orang”


“Baik Bos saya ambil posisi.” Zidan sang penembak kembali melakukan aksinya ia mengambil posisi dari  atap rumah warga. Sementara Iwan yang mengkawal leon dari dekat. Ia memasang sebuah peredam suara di pistol miliknya.


Jika ia menembak tidak menimbulkan suara dan tidak ada kepanikan nantinya di dalam rumah sakit tersebut,


“Bos saya berada  sepuluh langkah di belakangmu , saya berpakaian petugas kebersihan,” ucap Iwan.


“Baik.” Leon  berjalan menuju kamar no 47.


Saat ia  berjalan di koridor rumah sakit Piter menelepon lagi.


“Halo,” suara Leon dibuat terdengar aneh,


“Aku akan menarik perhatian mereka semua, bawa dia keluar dari rumah sakit, bawa saja ke villanya yang di puncak, alamatnya dan password kuncinya aku kirim, kamu bisa membawa Hara dengan tenang,  aku sudah meminta dokter memberinya obat tidur. Leon hati-hati.”


“Anak buahku ada di sini”


“Pak Leon jangan mengundang kegaduhan di rumah sakit, biarkan anak buahmu mengikutiku”


“Baiklah” Leon menutup teleponnya.


“Zidan ikuti Piter. Ia akan memancing penjahat itu di tempat sepi, bereskan!”


Tidak lama kemudian terlihat, Piter mendorong kereta roda dan membawa seorang pasien dengan wajah yang di tutupi saat keluar dari rumah sakit,  keempat orang anak buah Bokoy  dalam satu mobil mengikuti Piter.


“Zidan  dan Iwan mengikuti  mobil penjahat itu dari belakang.


Benar saja saat mobil Piter melaju ke ditempat sepi para penjahat anak buah Bokoy langsung menembakinya.


Dooor …!


Dooor …!


Piter sengaja membawanya ke tempat yang sangat gelap di daerah perkebunan teh.


Percikan -percikan api terlihat saling bersahut-sahutan di kegelapan malam, suara riuh dari senjata itu saling beradu,  kedua kelompok saling beradu tembak. Hingga akhirnya Zidan melakukan aksinya.


DOOR ….!


Senjata laras panjang yang menembak dari arah belakang mengejutkan ke empat penjahat tersebut, dua orang terpental mendapat hantaman keras dari senjata airsoftgun spring M4D1  melumpuhkan  dua orang.


Dua orang tersisa Zidan menembakkan senjanya ke arah mobil, menghancurkan badan mobil yang mereka jadikan berlindung.


Tetapi tidak diduga  musuh memanggil orang-orangnya lagi, mereka kalah jumlah.


“Bos, ternyata jumlah mereka banyak”


“Mundur saja”

__ADS_1


Suara tembakan terdengar dan seseorang tumbang.


“Sial!”


“Ada apa?” tanya Leon di ujung telepon”


“Bos sepertinya Piter tertembak”


“Lakukan penyelamatan dan mundur”


“Baik Bos”


Iwan yang mengendarai motor dan Zidan yang mengarahkan senjatanya dan menembaki mereka semua, motor menuju Piter yang terkapar terkena luka tembak.


“Naikkan ke motor.” Zidan  menembaki ke arah musuh dan Iwan mengangkat tubuh Piter ke jok motor.


“Jalan, jalan mereka  mendekat teriak!” Teriak Zidan menembakkan senjata ke arah belakang.


Mereka bertiga  terpaksa bonceng tiga, motor  model trail menerjang gelapnya malam dan melewati bukit-bukit dan bebatuan.


Beruntung Iwan membawa kendaraan roda dua model trail tersebut  mereka bisa selamat menerjang lumpur dan tanjakan, hingga tiba di sebuah gubuk di tengah kebun.


Iwan dan Zidan mengangkat tubuh Piter ke dalam gubuk.


“Bertahanlah Bro, aku akan mengeluarkannya ala tentara, model tentara yang pernah kita pelajari,” ujar Iwan kedua lelaki itu Piter dan Iwan mantan tentara.


Ia membakar ujung pisau miliknya, memberikan kain  untuk membekap mulut Piter.


“Ok bersiap aku akan mengeluarkan pelurunya sebelum kamu  kehabisan darah. Kamu siap?” Tanya Iwan, ia sangat sigap.


Zidan membuka pakaiannya dan melipatnya lalu memberikan untuk di gigit Piter.


“Hmmm …Uuummm.” Piter di balik kain yang tersumpal di mulutnya.


Butuh usaha keras dan tindakan hati-hati untuk Iwan mengeluarkan peluru dari dada Piter.


Hingga akhirnya berhasil  dikeluarkan berkat kerjasama Zidan dan Iwan.


“Kita berdua sudah bisa membuka klinik khusus mengeluarkan peluru."


Bersambung…


KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA UNTUK KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA,  AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA. PELUK HANGAT UNTU KALIAN SEMUA.


Baca juga  cerita yang lain;


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing


__ADS_2