Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Perang Antar Suku


__ADS_3

Malam itu  Hara tertidur pulas karena  kelelahan, saat Leon ingin tidur, sebuah pesan masuk ke ponsel  dari Haris. Tetua menyampaikan pesan untuknya.


Leon menggaruk kepala ia ingin membangun Hara, tetapi tidurnya sangat lelap.


Leon Keluar dari kamar tanpa pamit, memasang alat komunikasi itu kembali ke kupingnya.


“Zidan!”


“Kamu di mana?”  saya di hotel  kamu tempati bos.


“Aku ingin kamu  mengawasi Hara”


“Baik Bos”


“Aku ingin menyelesaikan masalah”


“Baik Bos, tapi apa pelu kami bantu bos? "


" Ini perang adat Zidan, hanya putra satu kampung yang boleh, kamu awasi Hara jangan Bunox menemukan "


" Baik Bos"


Saat Hara tertidur dengan pulas,  Leon bertarung nyawa di tengah Hutan, sebagai pemimpin untuk para putra-putra dari kampung itu.  Lelaki lajang yang mempunyai banyak tato di tubuh, dalam suku adat Leon,  semakin banyak tato yang terukir dalam tubuhnya,  maka semakin tinggi ilmu yang  mereka miliki.


“Naga, kita harus mengadakan ucapara perang untuk  memberangkatkan kalian perang ,” ucap ketua adat .


“Tidak perlu, saya hanya butuh 10 orang saja dan saya akan menuntaskan semuanya, tidak usah membangunkan yang lain , cukup yang di sini saja,” ujar Leon geram.


 Leon kini ia sudah memegang  parang panjang atau yang disebut Mandau,  dan kini ia sudah berganti pakaian adat, kalau biasanya  kalau ada pertempuran atau pertikaian antar suku, selalu ada ritual yang mereka lakukan memotong seekor binatang peliharaan dan menyerahkan pada leluhur sebagai simbol untuk  penyerahan dan meminta bantuan pada leluhur agar dalam peperangan mereka dilindungi.


Tapi saat ini,  tidak ada ritual itu,  karena Leon  bersikap buru-buru, ia ingin melakukanya sendiri.


Leon yang sudah hidup lama dalam hutan dan sudah banyak pengalaman  berperang,  ia sudah banyak melenyapkan musuh bahkan ia juga  diburu, terluka sudah jadi makanannya  sehari-hari dulu, ia tahu di mana persembunyian Suku yang jadi musuh yang mereka habisi malam ini.


Hutan pedalaman Kalimantan itu sangat luas,    banyak yang tidak tahu ada beberapa suku  yang menghuni hutan yang luas tersebut, tetapi Leon tahu suku apa pastinya yang jadi musuh mereka, kini mereka sudah mempersiapkan satu strategi perang.


                                  **

__ADS_1


“Untuk naik kuda terlalu jauh jarak tempuhnya, kita pergi dari sini naik mobil sebagian dan naik helikopter sebagian dan kita bertemu di satu titik, nanti kita akan jalan kaki ke tempat tujuan.  Begini rencananya; saya tidak akan menyakiti anak-anak dan wanita, jadi saya sudah lama mempelajari kelemahan mereka, kalau kita menyalahkan api di pohon besar di atas Bukit Putih,  mereka akan keluar,   karena pohon,  itu pohon keramat untuk  mereka”


“Baik”


Leon sebagai komandan perang malam itu, segala alat untuk perang sudah mereka  mempersiapkan mulai yang tradisional, panah, Mandau, sumpit. Apa yang dikatakan Leon  mereka sangat patuh,


Dua mobil berangkat menuju hutan, seperti yang sudah direncanakan ,  pertama, pohon besar yang mereka anggap pohon suci dibakar.


 Lalu mereka mengintai dari jauh,   tidak berapa lama sekitar lima belas  orang yang berpakaian  adat perang,  datang memadamkan api.


Mereka  orang yang mengincar Leon dan Hara tadi, bahkan sudah sejak lama mengincar Leon. Ia memberi perintah untuk menyerang.


   “Heaaa, serang!” pinta Leon dengan lantang memberi perintah.


Ini bukan perang antara mafia tetapi ini antar suku Leon dan suku lain.


Maka pertarungan malam itu,  tidak dapat dihindarkan,  suara  lengkingan panjang  memecah gelapnya malam auman kemarahan dan   gertakan gigi menahan rasa  sakit, mereka berjuang mati-matian demi mencapai kemenangan. Demi menuntaskan kemarahan.


 “Heaak !” Leon  mengeluarkan Mandau miliknya, prinsip Mandau jika ia sudah keluar dari sarungnya harus ada yang kena sasaran, karena tidak bisa sembarangan mengeluarkan dari sarungnya, harus ada alasan, ia mengayunkan dari kanan, mengenai kulit lengan musuh tersayat menyentuh tulang-tulang suara lirih terdengar semakin nyata,  Leon menoleh kanan- kiri yang berdiri lebih banyak dari pihaknya,  karena ia punya starategi perang,  dari kegelapan ia sengaja   menyuruh orang-orangnya membidik dengan sumpit yang sudah di lumuri  racun.


Tidak butuh lama, musuh tumbang,  walau mereka juga ada yang terluka parah,  Leon  sendiri terluka di bagian  pinggang sebuah tombak besi mendarat di pinggangnya, tapi  ia cukup puas,  karena orang yang selama ini memburu nyawanya akhirnya tewas.


                   **


Saat Hara tertidur pulas,  ia tidak tahu kalau Leon berperang  dan hampir kehilangan nyawa,  bahkan  malam itu berada di rumah sakit.   jadi malam itu Leon akan melakukan operasi Ia masih sadar saat masuk kerumah sakit, masih terlihat tegar dan kuat.


“Jangan biarkan Hara tahu,” ucap Leon pada Zidan.


“Bos, bagaimana kalau  ia bertanya, apa yang  saya katakan?”


“Katakan saja, saya ada urusan penting,” ucap leon  hingga akhirnya masuk keruang operasi.


Tepat jam tiga pagi Hara terbangun ia melihat Hara tidak ada disampingnya


“Kemana Leon?”


Hara keluar dari kamarnya, tetapi empat orang lelaki yang menjaga kamarnya melarangnya keluar dari kamar Hotel,  sesuai pesan Zidan, Mereka tidak  memperbolehkan Hara keluar dari kamar.

__ADS_1


“Mau kemana Bu?” tanya Lelaki berbadan tegap itu berdiri menghalangi Hara.


“Saya mau jalan-jalan emang kenapa, siapa kalian?”


“Kita disuruh bapak menjaga Ibu”


“Kemana Pak Leon Kak Zidan dan Ken?”


“Kami tidak tahu BU”


Karena tidak  diperbolehkan keluar  dari kamar, ia masuk lagi kedalam kamar, mengeluarkan ponselnya dari   dalam tas mencari nomor Leon.


Ia menghubunginya,  tapi  tidak diangkat karena saat itu Leon masuk keruang operasi. Hara semakin merasa jengkel, ia berpikir kalau Leon meninggalkannya


Hara menghubungi Leon terus – menerus , dokter yang mengoperasi Leon mengeledah tubuh Leon, ponsel ltu ada di pakaian  kotor yang berlumuran darah.


“Angkat saja sus barang kali keluarga yang mengkhawatirkannya,” ucap salah satu orang dokter.


Akhirnya pada panggilan ke empat kalinya,  ada jawaban juga dari ponsel Leon, walau yang menjawabnya seorang wanita, Hara mencoba menghela napas panjang sebelum meneruskan kalimatnya.


“Halo” suara suster dari ujung telepon.


“Berikan pada Leon,  saya mau bicara,” ucap Hara ketus, ia pikir itu wanita  teman berkencan Leon.


“Maaf Bu.  Beliau yang punya telepon ini, saat ini tidak bisa mengangkat telepon dari Ibu”


“Kenapa, dia sibuk?”


“Saat ini yang bersangkutan  dalam penanganan dokter  di ruang operasi,  belum sadarkan diri”


“A-a-apaaaa? Ini ponsel Leon ‘kan?”


“Iya, Ibu bapaknya saat ini  dalam penanganan dokter”


“Ru-ru-rumah sakit mana sus?” suara Hara  bergetar.


Hara menutup teleponnya,  tubuhnya lagi-lagi bergetar,  bahkan tidak tahu harus berbuat apa, setelah lima menit terpaku , akhirnya  baling-baling di otaknya berputar juga yang pertama ia lakukan adalah menelepon  Zidan.

__ADS_1


Apa  sebenarnya telah terjadi, kenapa ia bisa terluka dan kenapa aku di jaga  di sini, kenapa hidupmu dari dulu tidak pernah tenang sedikitpun,  selalu ada yang memburu menjadi orang terdekatmu harus  siap kehilangan nyawa ucap Hara, ia menelepon Ken tetapi tidak ada jawaban.


Bersambung.


__ADS_2