Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Saat mulut tidak mampu membujuk biarkan pisau yang bertindak


__ADS_3

Leon kembali lagi ke kamar, setelah menenangkan  pikiran di balkon.


‘Apa lagi yang ingin dia lakukan sih, kenapa ia tidak keluar saja dari sini, sono bekerja!” Jovita bermonolog dalam hatinya.



Setelah berpikir keras, Leon menarik kursinya dan duduk lebih dekat lagi ke sisi ranjang,  ia duduk disamping ke pala Hara.


Saat ia duduk suara ketukan terdengar dari pintu kamar.


“Masuk,.Bi”


Wanita itu datang, membawa nampan dan berderet menu makanan, satu  bangkok  berisi bubur, jus buah, satu tempat obat, air putih dan susu.


Baru melihat nampan begitu banyak  raut wajah Hara langsung muram.


“Non mari makan bubur saja dulu”


Hara membuang napas berat.


“Bibi melihat segitu banyak menunya aku sudah kenyang duluan”


“Non, makanlah sedikit kasihan bayimu”


“Bibi  … aku tidak lapar. Tolong Bi, aku tidak suka yang  hal beginian,” ucap Hara lagi menutup mata terlihat lelah.


“Tinggalkan kami Bi, biarkan aku yang memberikannya”


Leon akhirnya memberanikan diri mengambil tindakan, tidak tahan melihat penolakan  yang terus menerus dari Hara. Ini akibatnya kalau mafia di lawan ....


“Baik Bibi ke dapur lagi saja.” Wajahnya terlihat sangat khawatir, ia  menatap leon dengan wajah memelas seolah-olah ia memohon agar Leon tidak emosi yang bisa membuat Hara  semakin mengamuk.


“Mau apa? aku tidak suka makan bubur, jangan memaksaku, aku bukan anak kecil, kamu juga bukan ayahku. Bukan suami, bukan kekasihku …. Ingat! bukan siapa- siapaku!” Ujar Hara dengan nada suara meninggi.


“Bukan ayahmu, tapi, akan jadi ayah anakku,” ucap Leon melirik kearah perut dengan wajah santai. Ternyata  mendengar itu Hara semakin marah.


“Aku sudah bilang tidak suka bubur!” Teriaknya Hara dengan wajah memerah.


“Bukan untuk kamu, untuk dia, untuk anakku," balas Leon lagi


“Kamu menjengkelkan!”


Pundak hara naik turun, matanya berkaca- kaca, ia ingin menangis melihat sikap Leon yang menjengkelkan,  detik kemudian air mata itu tumpah membanjiri wajah cantiknya. Leon menarik  napas  berat melihat air mata yang menganak sungai di pipi cantik Hara, ia paling tidak suka  melihat wanita cantik itu menangis, saat tangannya ingin mengusap aur matanya Hara menepis lengannya.



‘Oh Tuhan apa yang harus aku lakukan’ Leon membatin. Tetapi ia tidak menyerah.


Lalu ia mendekatkan kursi itu lagi lebih dekat, kearah Hara lalu ia berkata;


“Baiklah, mari kita bicara, aku tahu kamu marah, kamu masih belum bisa memaafkan ku di masa lalu, tapi dengar …. Andai aku bisa putar waktu, aku akan memperbaiki saat itu, aku menyesal Hara …  sangat menyesal. Tidak bisa kamu memaafkan?”


“Tidak. Aku tidak bisa”


"Keras kepala, baiklah begini saja ...." Leon menggosok ujung hidungnya.

__ADS_1


Leon terlihat putus asa menjinakkan hati Jovita Hara , ia membuka kaos yang ia pakai,   karena tiba-tiba ia merasa panas luar dalam,  apa lagi bagian otak dan bagian dada.


Membuka kaos,  hanya menyisakan singlet berwarna putih yang memperlihat tonjolan otot keras di kedua lengannya, ukiran tato di lengannya, seakan- seakan mempertegas, ia lelaki yang tangguh dan  keras.


Tiba-tiba ia mengeluarkan dari balik pinggangnya sebuah pisau mengkilap,  degan ujung pisaunya yang   sangat runcing dengan gagang pisau berukiran seekor Naga.


Mata Hara melotot tajam, Leon meletakkannya di atas Nakas.


‘Apa yang ingin dia lakukan dengan pisau itu’ Hara membatin ketakutan.


Lalu Leon  berdiri lalu mengendong badan Hara  membantunya duduk di sisi ranjang.


“A-apa yang ingin kamu lakukan,” ujar Hara memeluk perutnya dengan panik.


“Kamu marah padaku, kan? Kamu boleh melakukan ini” Ia mengarahkan pisau di tangan Hara …. Lalu  mengarahkan pisau itu ke dadanya dan menekan tangan Hara degan kuat,  dara segar  mengalir ujung  pisau menetes di kaos berwarna putih milik Leon, masih memegang tangan Hara memaksanya menusuk dadanya.


“A-a-apa yang kamu lakukan? Ka-kamu gila,” ujar Hara kelagapan.


“Kamu boleh menekannya sekuat tenagamu menekannya lebih dalam tidak mengapa bagiku.  Tapi jangan menyakitinya,” melihat  cairan berwarna merah itu menetes dari tubuh Leon, tangan dan tubuhnya gemetar.


“A-a-aku tidak mau melakukan ini,” ucap Hara dengan suara gelagapan.


Tetapi Leon terlihat tenang,  menahan tangan Hara menekan pisau itu lebih dalam  dadanya, ia memberi  Jovita dua pilihan.


" Kamu boleh menekannya lebih dalam, asalkan kamu membiarkan ia tetap hidup , tapi jika kamu mencabut pisaunya, itu artinya kamu, mau menuruti semua permintaanku, membiarkan anakku tetap hidup,” ujar Leon.


“Aku bukan pembunuh Leon!”


“Tapi kamu akan jadi pembunuh Nona Hara, jika kamu membunuh anakku. Sebelum kamu melakukan padanya, lakukan terlebih dulu padaku.”


“Aku tidak bisa.” Hara menangis ketakutan melihat Leon terluka.


“Hanya kamu yang memutuskan sendiri,” ucap Leon,  lalu ia melepaskan tangannya dan membiarkan tangan Jovita Hara memegang gagang pisau yang menancap di dadanya, kini hidupnya bergantung pada pisau  di tangan Jovita Hara


“Kamu  memang gila Leon,” ujar Hara menarik pisau itu dari dada Leon.


Tekanan yang dilakukan Leon,  ternyata lumayan  dalam, darah  mengucur menodai  kaos berwarna putih yang ia kenakan.


 “Da-dara,” pekik Jovita Hara ketakutan.


 Melihat Leon terluka ia ketakutan apa lagi melihat cairan berwarna merah yang mengalir deras dari dadanya.


“Jangan takut, luka itu tidak seberapa, aku memintamu membuat pilihan, dengan kamu melepaskan pisaunya itu artinya kamu menuruti apa yang aku katakan, baiklah, mari kita mulai dari hal kecil ini, buka mulutmu,” perintah Leon dengan santai, seakan - akan luka di dadanya, tidak ada apa-apanya.


“Kamu terluka Leon, kenapa kamu masih memikirkan makanan,” ujar Hara panik, ia ingin  berdiri mengambil kotak obat. Namun Leon dengan santai menahan tangannya.


“Lupakan tentang itu, aku ingin kamu menghabiskan bubur ini”


“ Leon.  Kamu gila apa! Kamu masih memikirkan bubur, kamu terluka parah!” Hara mengambil kain lalu menekan luka tersebut.


Leon memang gila walau ia sudah terluka para ia tidak perduli, ia menarik tangan Hara dari dadanya , ia tidak main-main dengan ucapannya.


“Luka itu tidak apa-apa bagiku, aku akan jauh lebih terluka, jika ia kamu sakiti dia,” ucap Leon dengan tatapan tegas.


Mata Hara melotot saat  mendengar kalimat yang keluar dari mulut lelaki itu, Hara tidak pernah menduga kalau Leon rela menukarkan nyawanya demi anaknya sendiri.

__ADS_1


“Buka mulutmu,” pinta leon mengarahkan sendok ke mulut Hara.


“Kamu memang lelaki yang menakutkan Leon,” ujar Hara menangis ketakutan melihat luka tersebut.


“Iya, aku gila karena kamu Hara”


“Baiklah, aku akan menghabiskannya Leon, mari kita obati dulu lukamu,  aku akan memakannya nanti,” ucap Hara memberi penawaran.


Tapi  lagi-lagi, baginya semangkok bubur itu jauh lebih penting masuk ke dalam lambung  Hara, dari pada luka yang mengerikan itu, Leon menggeleng.


Saat Hara menangis ketakutan , Leon terlihat tenang.


“Kamu brengsek Leon,” ujar Hara  mengusap air matanya, menyambar mangkok bubur memakannya dengan buru-buru menahan rasa mual wajahnya Hara memerah memaksa bubur itu masuk ke lambungnya.


“Ini lihat sudah habis,” ujar Hara mengambil kain menutup dada Leon sebelum ia kehabisan dara. Namun, saat ia berusaha keras menyelamatkan Leon, tetapi lelaki itu malah ….


“Ini” Leon menyerahkan gelas dan vitamin yang akan ia minum lagi.


‘Dasar Mafia’ Maki Hara dalam hati, satu tangan ia gunakan memegang obat dan meminumnya.


Dalam satu tegukan obat pil tablet masuk ke lambungnya.


“Sudah puas, bisa kamu mengobati lukanya?”


Leon menggeleng  mengangkat kedua alisnya, kali ini,  ia memberikan Jus buah lagi ke tangan Hara.


“Lagi!? Perutku sudah penuh Leon! karena ada anakmu di dalam, kamu suruh aku minum ini lagi? Perut ini akan meledak!”


Leon sebenarnya ingin tertawa melihat wajah kesal Hara, tetapi ia menahannya.


“Baiklah nanti saja kamu habiskan, tapi dengar, kita sudah sepakat, tawaranku berlaku satu kali, aku memberimu pilihan dan kamu sudah memilih tidak menyakitinya, jika kamu melakukannya saya akan membuat perhitungan dengan kamu,” ucap Leon, nada suaranya terdengar tegas.


“Itu bukan pilihan tapi paksaan” Jovita melihat dengan tatapan kesal.


Leon  memang gila,  jika lelaki  lain akan memilih membujuk wanita dengan berbagai cara,  tetapi Leon sadar, ia tidak akan bisa seperti lelaki pada umumnya, ia melakukan dengan caranya sendiri untuk mempertahankan dara dagingnya  Leon membujuknya dengan gaya ala mafia.


‘Saat mulut tidak mampu membujuk, biarkan pisau yang  bertindak’ By Leon   Wardana.


Bersambung…


KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA UNTUK KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA,  AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA. PELUK HANGAT UNTU KALIAN SEMUA.


Baca juga  cerita yang lain;


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing

__ADS_1


__ADS_2