Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Minta dilepaskan


__ADS_3

“Diam, Diam lah … kalau kamu terus mengoceh kapan aku bisa tidur, ini sudah jam satu,” ucap Leon memeluk tubuh mungil Jovita, meletakkan kepala wanita itu di dadanya.


“Tidak bisakah  kamu  melepaskan ku? Kamu sudah  merampas apa yang paling berharga dari hidupku?


Apakah itu belum cukup meredakan rasa dendam pada ayahku, Bisakah aku meminta maaf mewakili ayahku?” Ucap Jovita, air mata itu tumpah membasahi pakaian Leon.


Leon tidak menjawab, ia pura-pura menutup mata, membiarkan Jovita tidur, wanita  malang itu sesenggukan di dadanya dan akhirnya tertidur juga, Leon hanya diam, matanya menatap pipi Jovita yang ia gampar tadi


“Aku tidak akan membuat pilihan itu ,  kamu harus selalu siap di sisiku,” ujar Leon berucap pelan bahkan, Jovita juga tidak mendengarnya lagi,  karena  sudah sangat lelah dan sudah mulai masuk ke alam mimpi, terlihat dengan  kebiasaan itu   yang biasa di lakukan Jovita saat ia sudah tertidur lelap, perlahan ujung jempolnya menempel  di bibir mungilnya.


“Iya, tidurlah, lupakan  hari ini, besok kamu akan mendapatkan jawabannya,”  ujar Leon, ia juga matanya  mulai mengecil dan akhirnya ikut tidur.


Pukul 06:00


Ia merasa badannya sudah tidak di kekap lagi sama Leon, tetapi lengan ber- otot keras itu, ada di atas perut Hara, ia menoleh wajah Leon, napasnya teratur, bahkan napas hangat dari hidung lelaki itu menyapu wajahnya. Leon tidur posisi telungkup  wajahnya  mengarah Jovita.


Panggilan alam  membuat Jovita harus bangun untuk ke kamar mandi, meletakkan tangan Leon di atas tempat tidur


“Tapi … ada apa ini? Kenapa tanganku ikut menyangkut?"  Jovita ia memperjelas penglihatannya.


“Apa-apa ini?”


Matanya melotot mulutnya menganga.


Leon memborgol tangan mereka berdua jadi satu.


“Apa yang ia pikirkan sih, kenapa ia melakukan ini,”  kata Jovita panik, ia panik karena ia harus cepat-cepat ke kamar mandi tidak tahan lagi.


“Bangun! apa yang kamu lakukan? buka ini, aku mau ke kamar mandi,” merogoh kunci borgol  membukanya


Jovita lari ke kamar mandi, Leon masih merebahkan badannya.  Ia keluar dari kamar mandi dan ia berdiri di sisi ranjang dengan sikap meneliti Leon,  tiba-tiba Leon menariknya lagi dan memborgol tangan mereka berdua.


Dengan gaya  santai ia menutup matanya dan melanjutkan tidur lagi.


“Untuk apa ini?”


“Untuk kamu agar tidak kabur, jadi kejadian seperti tadi malam tidak terulang lagi."


Jovita diam,  ia duduk matanya menatap  pemandangan  di luar.


“Baiklah. kamu mandi kita akan ke suatu tempat,” pinta leon.


Membuka borgol itu lagi dan membiarkan Jovita masuk ke kamar mandi ,  Tapi Jovita  marah ia merasa lelah karena hidupnya jadi  wanita tawanan, ia ingin bebas seperti dulu lagi, ingin bebas melakukan apa yang ia mau.


Ia juga masih  marah, karena permintaanya tadi malam tidak di hiraukan Leon, tapi ia  selalu saja tidak paham, kalau ia melawan perintah Leon ia akan mendapat masalah besar.


Melihat Jovita masih diam, Leon tahu  kalau wanita itu masih marah tidak menghiraukan perintahnya.


“Tidak bisa kamu membiarkan aku pergi?”  tanya Jovita lagi.

__ADS_1


Tadinya Leon masih tidur, mendengar pertanyaan Jovita,  ia bangun,  setan dalam dirinya ikut  bangun juga,  Ia berdiri rahangnya mengeras , lalu menyeret Jovita ke kamar mandi, menyiramnya dengan shower air  dingin membuatnya  histeris


“Ahhhh dingin!”


“Saya sudah bilang kamu tidak boleh membantah perintahku”


“Untuk apa aku melakukan perintahmu,  apa yang  aku dapat jika aku menurutimu,?” tanya Jovita mencoba memberontak.


“Kamu selalu memancingku marah”


Leon  memegang pipinya dan kembali menyambar bibiirnya dengan kasar lagi.


“Ah dasar, aku bukan wanitamu, keparat lepaskan aku,” pekik Jovita menolak bibir Leon,


“Oh ternyata bibirmu sudah sembuh, aku tidak memperhatikannya, setiap kali kamu membantah perintahku, kamu akan mendapat hukuman.”


Leon  menarik paksa pakaian Jovita sampai lepas, lalu menyerang wanita cantik itu dengan bibirny di setiap bagian tubuhnya, membuat bekas merah di mana-mana.


“Kamu benar-benar binatang yang menjijikkan, aku sangat membencimu, aku tidak tau masalahmu dengan ayahku, kenapa kamu tidak membalaskan dendam di kuburannya sekarang, kenapa harus aku, lepaskan aku.” kata Jovita


Kali ini ia benar-benar marah seluruh tenaganya ia kerahkan, ia mendorong tubuh leon dengan kuat, tapi tenaganya  tidak ada apa –apanya bagi Leon.


Postur tubuh Leon tinggi berotot keras, sedangkan ia hanya seorang wanita yang bertubuh kecil.


Ia terengah-engah dengan pundak  naik turun,  Leon tidak terusik sedikitpun,  begitulah kalau ia marah siapapun tidak akan bisa menghentikannya.


Leon berhenti saat  melihat bibir itu memerah dan melihatnya kelelahan, ia tidak ingin membuatnya mati lemas,  ia marah karena Jovita selalu membantah perintahnya, membuatnya kesal.


Tetapi karena Jovita masih keadaan marah, mulutnya kebablasan lagi,  membuat masalah pada dirinya sendiri.


“Apa jika kamu menyakitiku, apa ibumu dan kakakmu bisa hidup lagi?”


Wajah Leon tiba-tiba langsung mengeras dan marah, ia membalikkan badannya lagi, tadinya ia sudah ingin pergi, membiarkan Jovita mandi, tapi kali ini ia lebih marah lagi, matanya seperti mengeluarkan sinar laser, mata itu sangat menakutkan.


“Saya sudah bilang jangan menyebut nama keluargaku  dengan mulutmu”


“Tapi aku juga tidak pantas mendapatkan semua ini! Aku juga sebatang kara sama seperti kamu. Tidak bisakah kamu  melupakan dendam mu dan melepaskan ku?”


“Tidak …Tidak akan!”


Leon menghunuskan dengan tatapan sangat tajam


Leon mendekat lagi, ia memegang dagu Jovita menyambar bibir yang sudah sempat ia lepaskan tadi, kali ini ia tidak melepaskannya.


Tangannya yang kokoh menarik pinggang Jovita, melahap bibirrnya dan mencekram  bagian lembut di dadanya, semakin Jovita berontak semakin ia buas.


“Lepaskan aku, aku bukan budakmu!” teriak Jovita


Leon semakin marah,  menanggalkan pakaiannya sendiri dan menggendong tubuh Jovita ke atas wastafel di kamar mandi .

__ADS_1


Dengan cepat juga ia memasukkan barang miliknya ke area sensitif Jovita dengan tatapan penuh kebencian, ia mendorong hingga masuk. Ia menghukum Jovita dengan cara itu  lagi.


“Aaaa sakit … tolong hentikan.”  Jovita merasakan bagian kewahnitaannya bagai di robek lagi, tubuhnya menggigil menahan sakit .


Walau Leon sudah beberapa kali  melakukannya,  tetapi Leon selalu melakukan dengan kasar membuatnya kesakitan seperti saat ini.


Jovita memeluk leher Leon dab menangis.  Jovita sadar ia salah bicara tadi,  tetapi ia salah bicara itu karena  merasa depresi dan stres karena di kurung terus sama Leon, ia tidak sengaja menyingung keluarganya, hal yang paling dibenci Leon


Tubuh mereka berdua  masih menyatu, Leon juga masih menghentakkan panggulnya dengan tempo cepat, ia gila kalau sudah marah.


Semakin cepat gerakannya semakin besar rasa sakit yang dirasakan Jovita, bahkan ia merasakan tubuhnya menegang. Ia memeluk leher Leon dan meletakkan pipinya di pundak lelaki itu


Air matanya tumpah membasahi kulit pundak Leon, Jovita memilih diam.


Leon tahu Jovita menangis, hal yang paling  tidak ia sukai, Ia merasakan air mata wanita itu mengalir di pundaknya, ia mengepal  jari-jarinya dengan kuat.


Tanpa sadar butiran air dari sudut mata Leon ikut juga mengalir. Jovita menangis ia juga menangis.


“Maaf,” kata Jovita tangannya masih memeluk leher Leon .


Mendengar kata maaf itu, Leon terdiam dan menghentikan tubuhnya


Ia melepaskan Jovita menatap tajam ke pantulan kaca dan meluapkan kemarahannya.


Ia juga tersiksa dengan perasaan yang ia miliki, mereka berdua sama-sama tersakiti, tetapi tidak bisa memiliki, tetapi tidak ingin juga melepaskan.


Karena  sesungguhnya dendam   didalam hati, ibarat sebuah boom yang bisa meledak sewaktu-waktu. Maka jika tidak ingin terluka harusnya dendam itu lebih baik dibuang sebelum meledak.


“Haaa …!”


Pak!


Leon  meninju kaca dalam kamar mandi hotel, kaca yang tidak bersalah itu hancur.


Tangannya juga terluka, ia meluapkan emosinya pada kaca itu. Ia membersihkan dirinya dan keluar  dari kamar mandi, meninggalkan Jovita yang masih duduk di sana.


Jovita melihat serpihan kaca itu berserak di lantai, niat buruk muncul lagi. Ia mengambil satu, ia sudah siap mengiris lengannya.


Bersambung ….


Bantu Vote  like dan kasih hadiah juga, iya kakak,  karena ikut  lomba


-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-The Cursed King(ongoing)

__ADS_1


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2