
Piter lelaki berumur empat pulu tujuh tahun.
Ia lelaki yang baik dan bertanggung jawab, melihat Hara sedih, ia merasa bersalah.
Ia mendekat dan mengusap punggung tangan Hara, baginya gadis muda itu, sudah seperti keponakan baginya, ia bisa merasakan kesedihan yang Hara rasakan.
Rasa sakit kehilangan orang yang dicintai semakin terasa sakit, apa lagi orang yang menghabisi keluarganya bebas berkeliaran , ia bisa mengerti perasaan Hara, perasaan sakit hati dan dendam.
“Kamu ingin aku melakukan apa?” tanya Piter dengan sabar.
“Bantu aku untuk menghabisi lelaki tua itu, Om”
“Baiklah, kalau itu yang kamu mau, serahkan semua samaku, kamu fokus pada kesehatan bayimu saja," ucap Piter.
“Aku membencinya, sama seperti membenci Leon dan Bokoy, dia aib, dia anak di luar pernikahan, apa yang perlu di banggakan dari itu,” kata Jovita.
“Hara, kamu tidak punya keluarga lagi, jadikan dia keluargamu,” kata Piter.
"Om, apa kamu mau menikah denganku?” Tanya Hara putus asa.
“APA .... !? Leon akan menghabisiku, jika aku melakukan itu,”ujar Piter panik. Ia lelaki yang bertanggung jawab, tetapi ia tidak mau mengambil kesempatan dalam kesempitan. Hara wanita yang sangat cantik, siapa yang menolak menjadi suaminya, tetapi Piter berjanji untuk menjaganya, bukan untuk menikahinya.
'Kamu milik Leon Nona Hara, dia yang lebih berhak menikahimu dari pada aku' Piter membatin.
“Om menolak juga, aku hanya ingin bersama dengan orang-orang yang sayang denganku dan dekat dengan keluargaku, dengan begitu, aku merasa di rumah, bersama keluarga,” kata Jovita dengan wajah sendi.
“Tapi bukanya kamu bilang Leon ingin anak itu?”
“Iya, tapi aku membencinya, melihatnya sama saja, aku seperti melihat Bokoy, jika dia bisa menghabisi lelaki tua bangkotan itu, aku baru mau memaafkannya. Bagaimana kalau Om Piter saja yang menikahiku, aku butuh seseorang yang aku bisa percaya bersamaku,” ujar Jovita Hara lagi.
Piter menarik napas berat, dadanya terasa sesak, bagaimana mungkin ia menikahi anak dari majikannya, ia sudah berjanji pada Iwan, ayah Jovita Hara, untuk menjaganya selamanya, tapi ia tidak pernah berpikir akan menikahi gadis muda itu.
“Om, tidak mau menikahiku?”
“Hara ... Baiklah, tapi tunggulah semuanya aman,” ujar Piter meyakinkan Hara.
Tiba-tiba Jovita meringis menahan sakit dari perutnya, melihat Hara kesakitan Piter dengan panik dan buru-buru membawanya kerumah sakit.
“ Istrinya harus istirahat total Pak, sepertinya ia melakukan pekerjaan berat, jadi rahimnya turun, itu sangat berbahaya,” ujar dokter yang memeriksa
Mendengar kata istri, Piter tiba-tiba merasa ada yang aneh dari dalam hatinya, tugasnya semakin berat kali ini, karena ia harus menjaga dua orang sekaligus.
Hara diharuskan dokter untuk istirahat total, tidak boleh turun dari ranjang, kalau tidak mau kehilangan bayinya.
"Apa harus begini Om"
__ADS_1
" Iya, jangan khawatir aku sudah meminta satu perawat khusus untuk kamu, nanti aku menjemput Bi Ina ke kampung bersabarlah dulu."
Beberapa hari kemudian , Hara mulai jenuh karena melakukan semua aktivitasnya di atas ranjang. Sementara Piter mengurus banyak hal termasuk menjaga keselamatannya dari incaran anak buah Bokoy.
“Ini sangat membosankan, ibu," ujar Hara pagi itu, ia sudah tiga hari berbaring di kamar rumah sakit, ia hanya memiliki Piter dan seorang perawat, untuk menemaninya.
“Kamu harus sabar,” ucap Piter, ia mengupas buah apel untuk Hara.
"Om aku ingin keluar dari sini, aku tidak bisa tidur."
*
Disisi Lain, Leon mencari Hara ke semua tempat, termasuk rumah Bokoy di Bali dan Kalimantan dan di Hotel di Jakarta, tidak ada hasil. Tidak ada yang tahu Hara di mana. Leon mengakui kemampuan Piter dalam hal bersembunyi.
Leon terlihat putus asa, bahkan berat badannya turun, dalam beberapa hari saja, sejak Hara menghilang.
Leon mengakui, kalau Hara dijaga seseorang yang tangguh dan orang - orang setia, bahkan Bi Ina wanita yang pernah membantunya tidak mau buka mulut, saat Rikko menemui sampai ke kampung halamannya.
Leon menangkap mereka kembali membawanya ke Jakarta, terpaksa menahan di rumah, berharap mendapat informasi tentang Hara.
"Bos, coba lepaskan mereka, pasti akan menemui rumah persembunyian Nona Hara"
Leon melakukannya. Namun, tidak ada hasil mereka dilepaskan kembali. Namun, tidak ada yang terjadi, tidak ada yang pergi menemui Hara, maupun meneleponnya.
Saat ia menenggelamkan kepala diantara tangannya, meletakkannya di atas meja kerja.
Tok ... Tok ...
“Masuk,” pinta Leon tidak bersemangat.
Rikko masuk degan wajahnya ragu-ragu, ia tidak datang sendiri, datang bersama seorang wanita paru baya , Bi Ina, wanita paruh baya orang yang membantu Hara kabur saat itu.
“Bos, Ibu ini, ingin bicara dengan Bos,” kata Rudi.
“Aku ingin bicara berdua dengan, Tuan”
“Baiklah , katakan, ada apa?” Leon menunggu tidak sabar lagi, ia berharap apa yang di ucapkan wanita ini kali ini bisa mengobati hatinya.
“Apa benar Tuan mencintai Non Hara?”
“Iya itu benar," Mata Leon menatap dengan serius.
“Aku berharap Tuan bisa menjaganya dengan baik, karena dia tidak punya keluarga selain kami orang-orang yang bekerja pada keluarganya, tapi dia harus punya keluarga, yang sebenarnya.”
“Iya, terus?” Leon menatap tidak sabar, matanya menatap semakin tajam.
__ADS_1
“Maaf Tuan, aku kemarin tidak berterus terang pada Tuan. Jangan khawatir dia dijaga lelaki hebat. Piter seorang mantan tentara rahasia, dia pasti menjaga Hara dengan baik"
Hanya mendapat itu saja Leon terlihat sangat bersemangat, akhirnya dia mendapat sedikit petunjuk,.
“Pantas aku tidak bisa melacaknya, ternyata dia di jaga seseorang mantan tentara" .
Leon meminta bantuan Iwan lelaki itu juga mantan tentara.
" Bibi baru ingat. Nona kami punya Villa dulu di Puncak. Piter orang kepercayaan ibu dan bapak, dia orang yang setia menjaga keluarga Nona Hara, percayalah Tuan. Piter itu orang baik," ujar Bi Ina.
“Terimakasih, Bi"
Wanita itu meninggalkan ruangan Leon
Leon duduk lagi
Tiba-tiba ada panggilan masuk dari nomor tidak di kenal, Leon langsung mengangkat dan saat mengangkat, tiba- tiba panggilan terputus.
"Siapa ini?"
Sebuah pesan masuk, matanya menatap tajam .
Dengan cepat Leon menelepon balik
“Halo! Siapa ini, ada apa dengannya?”
“Saya Piter”
Leon terdiam sejenak, mendengar nama lelaki yang membawa Hara kabur membuat jantungnya berdetak lebih cepat
“Dimana dia? Apa yang terjadi?”
“Siapa? Saya? Apa calon istri saya?”
Untuk sesaat Leon diam menyimak, tangannya terkepal kuat menahan perasaan panas di dalam dada.
'Calon istri ? bukankah dia hanya pengawalnya sejak kapan pengawal itu jadi calon suami? Dasar bodoh' ucap leon dalam hati
Tetapi ia menahan diri.
Bersambung ....
Walau kadang emosi, marah baca alur ceritanya . Tapi dukungannya tetap jalan iya kakak. Sesuai janjiku .... kalau vote dan like dan hadiahnya bertambah, kita akan up banyak - banyak sampai Tamat.
Jangan lupa vote dan like iya
__ADS_1