Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Bibir Tersenyum tetapi Hati Menangis


__ADS_3

Hari  kedua.



Dalam acara di hari kedua akan di isi acara pelelangan  berbagai barang-barang,  seperti lukisan, ukiran dan barang- barang yabg bernilai tinggi.  Kali ini, Leon sudah membawa satu  ukiran patung khas Kalimantan dan  ukiran patung itu milik ayah Hara, Leon ingin memastikan apa Hara beneran  masih lupa ingatan atau hanya pura-pura. Ia yakin saat melihat ukiran itu Hara akan menunjukkan ekspresi sesungguhnya, karena ia tahu barang itu milik kesukaan ayah Hara. Leon sudah meminta seseorang untuk mendapatkan barang tersebut. Leon tidak ingin melelangnya, hanya ingin melihat kebenaran dari  Hara  nantinya.


Leon sudah tiba disan terlebih dulu karena hotel yang mereka tempati tidak jauh dari gedung pertemuan.


Tetapi saat acara pelelangan selesai dan saat barang itu di lelang Hara tidak menunjukkan apa-apa.


“Apa dia benar hanya matanya yang sembuh dan ingatannya belum?”


“Kita akan pastikan Bos,” ujar Zidan.


Beberapa jam kemudian saat acara sedang rehat. Zidan meminta  Leon  ke arah  taman di samping gedung,  sebuah taman yang dipenuhi  tanaman bunga. Setiap kali ada bunga   Leon akan mengingat Hara. Ia berdiri melihat hamparan bunga yang sedang bermekaran. Saat Leon terus menunggu ternyata Hara sudah ada di sana,  berjongkok menghirup kelopak-kelopak bunga.


“Hara ….?” Leon mendekat.


Zidan memulai rencananya, ia pantas di juluki manusi  banyak ide, ia selalu punya cara untuk   memecahkan masalah. Tidak lama kemudian dari jauh  Maxell datang membawa dua botol minum ditangan. Di sinilah kerja sama anak buah Leon sangat kompak. Zidan memberi kode pada Bram dengan mengerakkan kepalanya menunjuk Maxell dengan cepat Bram  bertidak menghalangi Maxell.


Kalau saja Piter melihat  semua itu dan ia tahu Leon mencoba mendekati Hara, saat itu juga mungkin ia akan mendesak Maxell untuk segera menikahi Hara, agar jauh dari Leon, untungnya hari ini ia tidak ikut karena sedang ada urusan pekerjaan di Indonesia selama beberapa hari.


 Bram  ikut melakukan aksinya, ia berjalan mendekati Maxell dan tangan memegang dada.


“Pak  dokter boleh kita  bicara sebentar,”  Bram mulai  berakting.



Maxell seperti yang sudah di kasih tahu Zidan kalau ia dokter bagian spesialis  jantung.


“Oh, ada Pak.” Maxell yang  dikenal baik hati dan suka menolong  langsung menanggapi dengan baik.


“Saya  sebenarnya takut ke rumah sakit, saya trauma dan Bram mulai bersikap lebay agar bisa mengajak Maxell mengobrol lama, agar Leon punya kesempatan bicara dengan Hara, sementara  Zidan mengawasi orang  yang akan mendekat dan Ken bagian yang  ikut serta salam acara.


Leon  menarik napas panjang dan berdiri di dekat Hara.


“Bunga  yang indah,” ujar Leon memulai obrolan.


Hara menoleh.


“Iya benar.  tapi ini bunga apa iya, aku  sepertinya sangat  familiar tapi lupa?” Tanya Hara  bersikap apa adanya.


‘Iya, dulu di Kalimantan kamu menanam banyak jenis Hara’ Leon membatin.



“Bunga Hortensia atau bunga Bokor,” ujar Leon.


“Oh, benarkah.” Hara memiringkan kepalanya mencoba mengingat . Namun tidak berhasil.


Leon masih menatap wajah Hara dengan dalam, mencari kebenaran lewat tatapan matanya, tetapi semakin ia melihat,  membuat lidah Leon seakan-akan kaku mati rasa.

__ADS_1


‘Apa benar dia tidak  bisa mengingatku?’ Tanya Leon masih dengan diam.


“Apa bapak tidak apa - apa?” Tanya Hara saat melihat Leon menatapnya tanpa berkedip.


Banyak ingin Leon katakan pada Hara, bahkan Leon sudah memikirkan satu malam,  memikirkan apa yang ingin Leon katakan untuk Hara. Zidan sudah berusaha keras untuk memberikan  Leon kesempatan  bicara,  mengatur  bagaimana Hara sampai  bisa  ke taman bunga itu.


Namun Leon tidak bisa mengatakan apa-apa,  otaknya tiba-tiba blank saat bertemu dan bertatap muka dengan Hara, kalimat- kalimat yang  yang ia rangkai  menjadi kata, tiba-tiba hanya meninggalkan  garis-garis tanpa makna.


“Hara ….”


Alis Hara menyengit  saat Leon memanggilnya dengan begitu akrab.


“Iya, apa sebelumnya kita dulu saling mengenal?” Tanya Hara lagi.


Dug ….!


Leon diam.


“Iya,” jawabnya kemudian.


“Oh benarkah?’ Wajah Hara  terlihat senang saat Leon bilang di masa lalu mereka saling mengenal.


Hara berdiri ingin duduk di kursi taman, tiba-tiba ia mengeduskan hidungnya.


Hara mengingat bau  parfum yang sama saat Leon di hotel’


‘Tidak mungkin itu kan di hotel di Jakarta’ Batin  Hara lagi.



Hara menoleh Leon dengan wajah penuh penyelidikan.


“Iya aku bahagia  Maxell orang yang sangat baik”


“Aku sangat senang ….” ujar Leon


Leon kembali diam, hanya   bisa menatap Hara tanpa kata-kata.


Waktu yang begitu  berharga  terbuang sia-sia,  karena Leon tidak bisa  bicara, ia akan selalu seperti itu  jika sudah menyangkut hati dan perasaan.


“Apa bapak ingin  mengatakan sesuatu padaku?” Tanya Hara saat Leon   selalu menatapnya begitu dalam.


“ aku mau-’


“Hara!” Alice Ibu Maxell datang.


Habis sudah waktu berharga yang dan kesempatan yang dimiliki Leon.


“Iya Tante”


“Kenapa masih di situ Nak, bukanya sebentar lagi kamu akan tampil?”

__ADS_1


“Aku nunggu Kak Maxell di sini, Tante”


“Udah Axell biarkan saja.” Alice membawa Hara masuk.


“Pak Wardana kami duluan.” Hara tersenyum manis kembali dan diikuti alice,  mereka masuk kedalam gedung Leon masih duduk dibangku taman bagai patung.


Hara tidak mengenalnya membuat hatinya terasa sakit. Namun, ia tidak memperlihatkannya pada orang lain, ia hanya akan menahan itu dalam diam. Melihat ekspresi dari Leon Zidan tahu kalau Leon gagal. Ia hanya menghela napas.


“Sidah biarkan lelaki itu masuk,” ujar Zidan lewat komunikasi di  kuping mereka.


Bram menyudahi akting pura- pura sakit jantung dan membiarkan Maxell pergi.


                              *


Dalam ruangan Hara  tampil kembali ke panggung, kali ini membawakan lagu -lagu  santai dan  lagu cinta. Wajah Hara terlihat sangat bahagia,  sangat berbeda saat ia  nyanyi di hotel Leon saat di jakarta   beberapa bulan lalu,  di mana Hara  menyanyikan lagu yang membuat perasaan Leon bagai cabik-cabik. Kini wanita itu menyanyikan lagu-lagu bahagia, ia juga terluka, tetapi ia berpura-pura tersenyum kecil di depan para rekan bisnis yang datang dalam  acara sosial tersebut.


Leon melirik bangku di  depan ada  Maxell, menatap Hara  dengan tatapan penuh cinta  ia mengedipkan mata kearah Hara yang sedang menyanyi di panggung. Maxell juga mengisyaratkan tanda cinta lewat  simbol jari tangannya,   Hara hanya   menanggapi tanda Cinta yang diberikan Maxell dengan senyuman.


‘Itu artinya tidak ada lagi tempat untuk bos’ ujar Ken  yang ikut melihat apa yang di lakukan Maxell.


Saat Hara turun dari panggung dengan cepat Maxell berdiri dan mengulurkan tangannya membantu wanita cantik tersebut turun,  membawa Hara duduk di kursi. Saat ini Leon hanya seorang penonton untuk kemesraan,  dan sikap romantis yang di berikan Maxell  sikap romantis yang tidak pernah ia berikan pada Hara selama ini, karena ia tidak pernah tahu untuk  melakukannya.


“Apa aku tadi membuatmu menunggu lama?” Tanya Maxell berbisik ke kuping Hara.


“Iya. Apa yang terjadi?’


“Tadi ada yang tiba-tiba jatuh karena  jantungnya sakit” ujar Maxel.


Bercerita dan tertawa  bersama, Leon yang melihat di belakang hanya bisa menahan perasaan,  kini ia mendapat balasan yang setimpal.  Hara tertawa bahagia tanpa mengingat semua masalah dan penderitaan yang  dialami. Sementara Leon  tersiksa batin melihat kebahagian Hara. Ini namanya luka yang tidak berdarah.


Tangan Leon terkepal sangat kuat saat melihat tangan  Maxell memeluk pundak Hara dan mencium punggung tangan Hara.


Leon  keluar dan menyalakan sebatang rokok dan berdiri di taman belakang .


Bersambung.


KAKAK TERSAYANG JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Baca juga  cerita yang lain;


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing

__ADS_1


Bubu


__ADS_2