
Hari kedua.
Dalam acara di hari kedua akan di isi acara pelelangan berbagai barang-barang, seperti lukisan, ukiran dan barang- barang yabg bernilai tinggi. Kali ini, Leon sudah membawa satu ukiran patung khas Kalimantan dan ukiran patung itu milik ayah Hara, Leon ingin memastikan apa Hara beneran masih lupa ingatan atau hanya pura-pura. Ia yakin saat melihat ukiran itu Hara akan menunjukkan ekspresi sesungguhnya, karena ia tahu barang itu milik kesukaan ayah Hara. Leon sudah meminta seseorang untuk mendapatkan barang tersebut. Leon tidak ingin melelangnya, hanya ingin melihat kebenaran dari Hara nantinya.
Leon sudah tiba disan terlebih dulu karena hotel yang mereka tempati tidak jauh dari gedung pertemuan.
Tetapi saat acara pelelangan selesai dan saat barang itu di lelang Hara tidak menunjukkan apa-apa.
“Apa dia benar hanya matanya yang sembuh dan ingatannya belum?”
“Kita akan pastikan Bos,” ujar Zidan.
Beberapa jam kemudian saat acara sedang rehat. Zidan meminta Leon ke arah taman di samping gedung, sebuah taman yang dipenuhi tanaman bunga. Setiap kali ada bunga Leon akan mengingat Hara. Ia berdiri melihat hamparan bunga yang sedang bermekaran. Saat Leon terus menunggu ternyata Hara sudah ada di sana, berjongkok menghirup kelopak-kelopak bunga.
“Hara ….?” Leon mendekat.
Zidan memulai rencananya, ia pantas di juluki manusi banyak ide, ia selalu punya cara untuk memecahkan masalah. Tidak lama kemudian dari jauh Maxell datang membawa dua botol minum ditangan. Di sinilah kerja sama anak buah Leon sangat kompak. Zidan memberi kode pada Bram dengan mengerakkan kepalanya menunjuk Maxell dengan cepat Bram bertidak menghalangi Maxell.
Kalau saja Piter melihat semua itu dan ia tahu Leon mencoba mendekati Hara, saat itu juga mungkin ia akan mendesak Maxell untuk segera menikahi Hara, agar jauh dari Leon, untungnya hari ini ia tidak ikut karena sedang ada urusan pekerjaan di Indonesia selama beberapa hari.
Bram ikut melakukan aksinya, ia berjalan mendekati Maxell dan tangan memegang dada.
“Pak dokter boleh kita bicara sebentar,” Bram mulai berakting.
Maxell seperti yang sudah di kasih tahu Zidan kalau ia dokter bagian spesialis jantung.
“Oh, ada Pak.” Maxell yang dikenal baik hati dan suka menolong langsung menanggapi dengan baik.
“Saya sebenarnya takut ke rumah sakit, saya trauma dan Bram mulai bersikap lebay agar bisa mengajak Maxell mengobrol lama, agar Leon punya kesempatan bicara dengan Hara, sementara Zidan mengawasi orang yang akan mendekat dan Ken bagian yang ikut serta salam acara.
Leon menarik napas panjang dan berdiri di dekat Hara.
“Bunga yang indah,” ujar Leon memulai obrolan.
Hara menoleh.
“Iya benar. tapi ini bunga apa iya, aku sepertinya sangat familiar tapi lupa?” Tanya Hara bersikap apa adanya.
‘Iya, dulu di Kalimantan kamu menanam banyak jenis Hara’ Leon membatin.
“Bunga Hortensia atau bunga Bokor,” ujar Leon.
“Oh, benarkah.” Hara memiringkan kepalanya mencoba mengingat . Namun tidak berhasil.
Leon masih menatap wajah Hara dengan dalam, mencari kebenaran lewat tatapan matanya, tetapi semakin ia melihat, membuat lidah Leon seakan-akan kaku mati rasa.
__ADS_1
‘Apa benar dia tidak bisa mengingatku?’ Tanya Leon masih dengan diam.
“Apa bapak tidak apa - apa?” Tanya Hara saat melihat Leon menatapnya tanpa berkedip.
Banyak ingin Leon katakan pada Hara, bahkan Leon sudah memikirkan satu malam, memikirkan apa yang ingin Leon katakan untuk Hara. Zidan sudah berusaha keras untuk memberikan Leon kesempatan bicara, mengatur bagaimana Hara sampai bisa ke taman bunga itu.
Namun Leon tidak bisa mengatakan apa-apa, otaknya tiba-tiba blank saat bertemu dan bertatap muka dengan Hara, kalimat- kalimat yang yang ia rangkai menjadi kata, tiba-tiba hanya meninggalkan garis-garis tanpa makna.
“Hara ….”
Alis Hara menyengit saat Leon memanggilnya dengan begitu akrab.
“Iya, apa sebelumnya kita dulu saling mengenal?” Tanya Hara lagi.
Dug ….!
Leon diam.
“Iya,” jawabnya kemudian.
“Oh benarkah?’ Wajah Hara terlihat senang saat Leon bilang di masa lalu mereka saling mengenal.
Hara berdiri ingin duduk di kursi taman, tiba-tiba ia mengeduskan hidungnya.
Hara mengingat bau parfum yang sama saat Leon di hotel’
‘Tidak mungkin itu kan di hotel di Jakarta’ Batin Hara lagi.
Hara menoleh Leon dengan wajah penuh penyelidikan.
“Iya aku bahagia Maxell orang yang sangat baik”
“Aku sangat senang ….” ujar Leon
Leon kembali diam, hanya bisa menatap Hara tanpa kata-kata.
Waktu yang begitu berharga terbuang sia-sia, karena Leon tidak bisa bicara, ia akan selalu seperti itu jika sudah menyangkut hati dan perasaan.
“Apa bapak ingin mengatakan sesuatu padaku?” Tanya Hara saat Leon selalu menatapnya begitu dalam.
“ aku mau-’
“Hara!” Alice Ibu Maxell datang.
Habis sudah waktu berharga yang dan kesempatan yang dimiliki Leon.
“Iya Tante”
“Kenapa masih di situ Nak, bukanya sebentar lagi kamu akan tampil?”
__ADS_1
“Aku nunggu Kak Maxell di sini, Tante”
“Udah Axell biarkan saja.” Alice membawa Hara masuk.
“Pak Wardana kami duluan.” Hara tersenyum manis kembali dan diikuti alice, mereka masuk kedalam gedung Leon masih duduk dibangku taman bagai patung.
Hara tidak mengenalnya membuat hatinya terasa sakit. Namun, ia tidak memperlihatkannya pada orang lain, ia hanya akan menahan itu dalam diam. Melihat ekspresi dari Leon Zidan tahu kalau Leon gagal. Ia hanya menghela napas.
“Sidah biarkan lelaki itu masuk,” ujar Zidan lewat komunikasi di kuping mereka.
Bram menyudahi akting pura- pura sakit jantung dan membiarkan Maxell pergi.
*
Dalam ruangan Hara tampil kembali ke panggung, kali ini membawakan lagu -lagu santai dan lagu cinta. Wajah Hara terlihat sangat bahagia, sangat berbeda saat ia nyanyi di hotel Leon saat di jakarta beberapa bulan lalu, di mana Hara menyanyikan lagu yang membuat perasaan Leon bagai cabik-cabik. Kini wanita itu menyanyikan lagu-lagu bahagia, ia juga terluka, tetapi ia berpura-pura tersenyum kecil di depan para rekan bisnis yang datang dalam acara sosial tersebut.
Leon melirik bangku di depan ada Maxell, menatap Hara dengan tatapan penuh cinta ia mengedipkan mata kearah Hara yang sedang menyanyi di panggung. Maxell juga mengisyaratkan tanda cinta lewat simbol jari tangannya, Hara hanya menanggapi tanda Cinta yang diberikan Maxell dengan senyuman.
‘Itu artinya tidak ada lagi tempat untuk bos’ ujar Ken yang ikut melihat apa yang di lakukan Maxell.
Saat Hara turun dari panggung dengan cepat Maxell berdiri dan mengulurkan tangannya membantu wanita cantik tersebut turun, membawa Hara duduk di kursi. Saat ini Leon hanya seorang penonton untuk kemesraan, dan sikap romantis yang di berikan Maxell sikap romantis yang tidak pernah ia berikan pada Hara selama ini, karena ia tidak pernah tahu untuk melakukannya.
“Apa aku tadi membuatmu menunggu lama?” Tanya Maxell berbisik ke kuping Hara.
“Iya. Apa yang terjadi?’
“Tadi ada yang tiba-tiba jatuh karena jantungnya sakit” ujar Maxel.
Bercerita dan tertawa bersama, Leon yang melihat di belakang hanya bisa menahan perasaan, kini ia mendapat balasan yang setimpal. Hara tertawa bahagia tanpa mengingat semua masalah dan penderitaan yang dialami. Sementara Leon tersiksa batin melihat kebahagian Hara. Ini namanya luka yang tidak berdarah.
Tangan Leon terkepal sangat kuat saat melihat tangan Maxell memeluk pundak Hara dan mencium punggung tangan Hara.
Leon keluar dan menyalakan sebatang rokok dan berdiri di taman belakang .
Bersambung.
KAKAK TERSAYANG JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing
__ADS_1
Bubu