Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Mantan Tunangan


__ADS_3

Menyadari ada orang yang mengawasi rumahnya, Leon tidak mau kecolongan  untuk kedua kalinya, kali ini penjagaan di rumah di tambah jumlahnya.


“Biarkan saya  berjaga di sini, Bos,” ujar Toni.


“Baiklah,” ujar Leon ia melirik Kikan.


Leon berangkat ke kantor.


Saat tiba di kantor ia banyak diam, ada banyak hal yang ia takutkan,  ia memikirkan siapa orang yang menyelidiki rumahnya kali ini. Tetapi semakin ia berpikir Leon semakin bertambah pening.


Untungnya tidak ada lagi kemarahannya kemarin pada  Henrik, karena berhasil   manager hotel yang ia marahin memindahkan Sania sekretarisnya   ke cabang Bandung, sekarang sudah di kembalikan lagi menjadi sekretaris Leon.


Jadi pekerjaan kali ini bisa teratasi, Leon tipe lelaki yang tidak mau menunda-nunda pekerjaan, kalau bisa kerjakan hari itu,  ia akan bekerja keras untuk menuntaskannya.


Leon selalu punya prinsip’ pekerjaan hari ini maka selesaikan hari ini juga, karena hari esok punya masalah sendiri. Intinya ia tidak suka menunda-nunda pekerjaan.


Di mata semua orang dan di mata semua karyawannya Leon sosok yang perfect dan lelaki sempurna baik dari segi wajah dan finansial.


Tapi mereka tidak tahu , di balik kesempurnaan seseorang pastilah ada kelemahannya.


Begitu juga dengan Leon, saat semua orang menganggapnya manusia sempurna, ia punya kelemahan yang sangat fatal, yaitu istrinya bahkan Leon bisa gila dan terjatuh  jika itu berhubungan dengan Hara.


Leon meminta Bram  masuk ke ruangannya.


“Iya Boss.”


“Sini kepalaku sakit ingin pecah jadinya, kamu bantu aku berpikir.”


“Iya, apa yang bisa saya bantu Bos?”


“Kamu, kan, ahli dalam menaklukkan hati wanita, aku ingin tahu, wanita sering ngambek dan marah karena, apa?


“Banyak Bos, misalkan kita tidak memberinya cukup uang untuk belanja.”


Leon menggeleng, karena ia memberikan Hara kartu kredit yang bebas ia gunakan,  termasuk seperti yang kemarin yang belanja yang menghabiskan uang banyak yang nominalnya bisa mengaji semua karyawannya.


“Rasanya tidak” ujar Leon kepalanya menggeleng pelan.


“Atau kita tidak memberinya kecupan atau kehangatan” Mata Leon seakan berpikir,  lalu ia menggeleng lagi.” Rasanya tidak juga,  karena malamnya kami masih baik dan tidak ada pertengkaran,  paginya ia mulai bertingkah aneh.”


“Oh ada satu hal lagi bos,  sebenarnya hal kecil tetapi sangat berbahaya kalau kita tidak mengingatnya.”


“Apa itu?” tanya Leon serius.


“Lupa hari ulang tahunnya.”


“Sepertinya bulan depan, karena aku sudah menyimpan di memo ponselku,  aku juga mengaktifkan pengingat nya,” ucap Leon memastikan ucapannya.


Tetapi alangkah terkejutnya Leon  karena apa yang dikatakan Bimo benar adanya,  ia melupakan ulang tahun Hara yang jatuh kemarin.  Gilanya lagi ia lupa menyalahkan pengingat di memo ponselnya. “OH…!” Mata Leon melotot panik dengan kedua telapak tangan memegang bagian belakang kepalanya.


“Ada apa Bos?”

__ADS_1


“Kamu benar! ulang tahun pernikahan kami kemarin dan aku melupakannya. Oh sial … mati aku.”


“Terkadang perayaan seperti itu juga  bisa jadi masalah, Bos  bagi seorang wanita hari ulang tahun pernikahan itu satu momen yang sangat penting dalam rumah tangga.  Walau untuk kita kaum lelaki tidak begitu memperdulikan,  tetapi pada mereka itu hari besar.”


“Kamu benar, padahal aku sudah berusaha, tetapi  selalu ada saja masalah.”


“Apa ada   lagi yang saya bantu Bos?” Bram menatap Leon.


“Kamu boleh keluar,” pinta Leon,  akhirnya ia tahu alasan Hara marah besar padanya,  hal yang wajar untuk wanita bunting itu marah padanya karena Leon suaminya melupakan hari tanggal pernikahan mereka.


Saat Leon mengucapkan kata-kata cinta padanya, tetapi ia melupakan hari pernikahan kesannya, kata –kata cinta itu terdengar seperti hanya bualan semata. Hal itulah yang di rasakan Hara. Benar kata orang terkadang wanita hamil itu banyak drama.


“Oh Sial dasar bodoh.” Leon memaki dirinya yang bisa lupa dengan ulang tahun pernikahan. “Pantas ia menyebutku pikun tadi malam. Apa ulang tahun pernikahan juga penting?”


Dengan sikap buru-buru ia mengangkat gagang telepon menelepon ke rumah.


“Halo” suara Bu Atin terdengar dari ujung telepon.


“Bu, aku tahu kenapa Hara marah.”


“Aku tahu Nak… ibu juga sudah pikun jadi, tidak ingat.”


“Ibu tidak apa-apa?”


“Nak Leon ibu harus bilang apa…? “


“Ada apa Bu?”


“Maxell? Mantan tunangan Hara?”


“Iya.”


Detak jantung Leon berdetak tak beraturan . “Untuk apa dia bertemu dengan, Hara?”


Di rumah Leon,  tepatnya di taman Hara sangat kaget dengan kedatangan Maxell mantan tunangannya. Apalagi posisinya ia sedang hamil.


“Aku berharap tidak ada masalah setelah ini, Kak Maxell aku minta maaf tetapi Leon orangnya sangat cemburuan.”


“Jangan khawatir aku hanya sebentar, saja. Kebetulan aku sedang bertugas  di Batam, jadi aku pikir tidak ada salahnya kita  bertemu,” ujar Maxell.


“Bukankah, Leon dan Ibu  sudah datang ke rumah untuk minta maaf?”


“Iya memang, tetapi aku tidak bertemu mereka. Ini antara aku dan kamu Hara,” ujar Maxell ia menatap Hara.


Mantan tunangan, seorang lelaki tampan melihatnya dengan tatapan dalam saat ia sedang hamil sudah pasti rasanya tidak nyaman, itulah yang Hara rasakan, melihat tatapan Maxell ingin rasanya Hara menghilang pakai tongkat sihir.


Apa lagi maxell  semakin tampan dan terlihat  masih sama-sama muda.


“Ini  untuk kamu,  selamat ulang tahun pernikahan,” ucap Maxell tersenyum manis pada Hara.


Hara menatapnya dengan tatapan mata menyingit, mencoba  mengingat benda berwarna putih itu. “Apa kamu melupakannya?” tanya Maxel padanya,  lalu  Hara menggeleng.

__ADS_1


“Ini gelang yang aku berikan padamu saat di Jepang ….?” Tanya Hara.


“Iya.”


“Ini untuk aku kembalikan lagi.”


Melihat ada lelaki lain yang mencoba mengusik kehidupan sang Bos, semua anak buah Leon, seperti Singa yang  siap menerkam Maxell. Toni datang mendekat, ia duduk tidak jauh dari mereka, Maxell balas menatap tajam.


Maxell menghela napas panjang. ”Maaf saat Leon datang ke rumah aku tidak menemui, karena aku masih marah.”


“Apa yang ingin kamu katakan?”


“Apa dia yang namanya Toni?”


Alis Hara menyengit bingung. “Iya apa kamu mengenalnya?”


“Berarti kami dua sama-sama korban donk.”


“Korban apa?”


“Bukankah Toni juga  mantan tunangan kamu?”


“Dari mana kamu tahu?”


“Tahu saja, bukankah kalung Liontin yang dipakai Toni ikatan pertunangan yang di berikan Ibu kalian?’”


Hara semakin bingung.” Baiklah aku pulang dulu,” ujar Maxell.


Ia berjalan meninggalkan rumah Leon setelah mengembalikan gelang pemberian Hara. Lebih tepatnya setelah Maxell bagai meletakkan sebuah bom waktu di rumah Leon. Lelaki itu membongkar rahasia Leon dan Toni.


Bersambung.


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Terimakasi untuk tips yang kaliangri


Baca juga  karya  terbaruku iya kakak;


 -Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2