
Leon serasa tidak percaya, walau sangat sedih dan panik, ia tidak mau meninggalkan mereka begitu saja. Leon seakan- akan belum percaya kalau kedua orang yang sudah bersamanya puluhan tahun itu mati. Ia membawa Rikko dan Iwan bahkan juga mengendong Susan membawanya ke gedung atap.
Memasukkannya kedalam Helikopter,
“Mudah-mudahan aku bisa menerbangkan.” Leon menghidupkan mesin helikopternya, ia sudah jarang menerbangkan helikopter miliknya, karena ada anak buahnya yang selalu siap dua puluh empat jam siap mengantarnya kemanapun ia pergi.
Setelah ia berusaha keras , ia bisa juga menerbangkannya, tujuannya membawa ketiga orangnya ke rumah sakit.
Tetapi dalam perjalanan kerumah sakit, ia berpikir lagi, mereka akan di temukan kalau di bawa kerumah sakit, ia memutuskan membawa kerumah dokter yang biasa mengobatinya.
“Dokter Billy kamu harus menolongku!”
“Ada apa Pak Leon?”
“Iwan dan Rikko terluka parah, aku bawa ke rumahmu, kalau kerumah sakit mereka akan dilenyapkan.
“Luka apa?”Billy terbangun, ia akan menyiapkan ruangan operasi di bantu Istrinya yang seorang dokter juga.
Billy juga baru beberapa bulan menikah dengan rekannya sesama dokter.
“Luka, Luka. Luka … Ah Sia!” Leon tidak sanggup meneruskan kalimatnya.
“Baiklah, baiklah, aku siapkan ruang operasi. Kamu mendarat di halaman rumahku”
Billy bangun buru- buru, walau ia baru tidur karena ia baru pulang karena dapat jatah shift malam di rumah sakit. Tetapi mata mengantuk dan tubuh lelah tidak ada apa-apa baginya mendengar suara Leon yang ketakutan.
Lelaki berkulit putih itu yakin hal yang buruk telah terjadi.
Helikopter akhirnya berhasil mendarat sempurna di depan rumah, Helikopter Leon sudah sering mendarat dengan nyaman di depan rumahnya, karena setiap kali ada yang penting dan urusan dadakan, Leon selalu menyuruh menjemput menggunakan burung besi miliknya.
Istri Billy membuka praktek di dalam rumah, karena itu, Leon berpikir membawanya ke sana.
Billy berlari ke arah pesawat membuka pintu helikopter.
Seketika dokter tampan itu tertegun dengan mata melotot melihat luka ketiganya.
“Tolong. Tolong mereka Dok,” ujar Leon, penampilannya sangat kacau seluruh tubuhnya berlumuran darah dan menetes ke tanah.
“Baiklah," ujar Billy mengendong tubuh Rikko. Seketika tubuh Billy menegang, ia memegang tangan Rikko sudah dingin.
' Tuhan, dia sudah pergi, kenapa Leon membawanya ke sini, apa dia belum tahu?' Bily menahan air mata.
Tetapi karena melihat wajah Leon yang sangat kacau, ia berpura-pura walau ia tahu ketiganya sudah meninggal , tetapi tidak ingin melihat Leon terpuruk, ia menanganinya membawa ketiga tubuh yang sudah tidak bernyawa itu ke dalam ruang operasi.
__ADS_1
“Pak Leon, tunggu di luar saja.” ujar Billy.
Billy menutup pintu, tetapi saat istrinya memeriksa mereka semua tiba-tiba wajahnya menegang dan berkata;
“Sayang. Mereka sud-”
Dengan cepat Billy membekap mulut istrinya.
“Sttt … tanganin saja, kita bersihkan dan ganti pakaian mereka, biarkan Leon beranggapan mereka dalam perawatan. Dengan begitu dia tidak menjadi gila untuk sementara ….”
Billy sudah tahu sikap Leon, ia takut Leon merasa bersalah karena merasa tidak bisa menyelamatkan orang-orang terdekatnya, apa lagi Rikko dan Iwan yang hampir dua puluh empat jam bersamanya, bisa dibayangkan bagaimana sakitnya kehilangan mereka karena itulah Billy memberikan waktu untuk Leon.
Istrinya mengangguk tetapi menangis sedih melihat Susan. Susan perawat yang dari dulu bekerja untuk Billy, dokter Billylah yang merekomendasikan Susan dan Clara jadi perawat di rumah Leon.
“Ya ampun, kenapa seperti ini, baru dua minggu kemarin dia sangat bahagia karena menikah,” ujar istri Billy memeluk sahabatnya, bukan hanya sabahat, bahkan Susan sepupu istrinya Billy.
Billy mengenal Susan pertama kalinya dari istrinya, tidak menduga saat ia menempatkan wanita cantik itu di rumah Leon seperti ini jadinya. Ia juga menelepon Clara sahabat Susan perawat yang ikut bekerja di rumah Leon. Clara kembali bekerja di rumah sakit, saat Susan menikah dan Zidan menolaknya, Clara minta kembali bekerja di rumah sakit.
“Aku akan memberitahukan Clara,” ujar Billiy menekan nomor Clara.
Sementara di luar
Leon mengeluarkan ponselnya, orang yang pertama yang ia telepon Toni.
“Apa ini pekerjaanmu?”
“Bos, ma-maafkan aku. Dia, menjebak Bos, yang dia incar adalah Hara, lelaki tua itu, meledakkan rumah di sini ... tidak ada yang se- selamat"
Suara Toni terputus-putus seperti orang sekarat juga.
Tut … Tut ..
Suana hening panggilan terputus.
“Oh, apa sebenarnya yang terjadi. Bagaimana dengan Hara? Oh
....! Oh ...." Leon seperti orang linglung. Ia mondar- mandir seperti orang gila.
Leon menghiraukan dua luka gores di perut dan di kakinya. Billy keluar degan wajah menegang, ia baru saja mendapat kabar , di belakangnya ada jarum suntik.
“Pak Leon”
“Dokter, bagaimana dengan anakku Hara …. Toni,” ujar Leon dengan wajah pucat.
__ADS_1
Sebelum semua bertambah buruk, Billy terpaksa memberinya suntikan bius.
Kalau tidak begitu dalam keadaan terluka, ia akan menerbangkan helikopternya, kehilangan nyawa saat terbang, karena dia akan kehilangan banyak darah. Billy saat mengendong tubuh Iwan dari helikopter ia sudah melihat darah dari tubuh Leon menetes di lantai.
Tetapi Leon selalu menghiraukan luka di tubuhnya walau sesakit apapun itu, sebelum ia pingsan ia tidak akan berhenti.
Billy sadar akan hal itu, makanya ia membuatnya pingsan.
“Maafkan aku Bos, maafkan aku,” ujar Bily menangis memeluk tubuh Leon yang mulai lemas dan mata redup.
“Dok, Billy apa yang kamu lakukan, aku akan menyelamatkan anakku dan Hara, rumahku di Kalimantan, diledakkan” ucap Leon dan tergelatak pingsan.
“Tabahlah Bos," ujar dokter Billy, di bantu istrinya ia mengangkat tubuh Leon ke ranjang.
Dokter Billy dan istrinya menyelamatkan nyawa Leon mengeluarkan dua butir peluru dari tubuh nya, kini dalam kamar itu ada empat orang berbaring, tetapi tiga sudah tidak bernyawa.
“Dia akan gila nantinya,” ujar Billy mengusap air matanya, dia tidak bisa membayangkan apa yang dirasakan Leon saat ini. Ia tidak tahu bagaimana Leon menghadapi semua cobaan itu, Leon kehilangan segalanya dalan satu malam.
“Jahat bangat sih Bokoy itu, saat Pak Leon ingin berubah baik, lelaki jahat itu menghancurkan hidupnya sampai ke dasar-dasarnya.” Istri Billy menangis sangat sedih.
“Bokoy memang iblis, dia akan melakukan apapun yang mengusik hidupnya, tetapi aku kaget karena dia melakukan itu pada Leon, selama ini dia tidak pernah menganggu Leon. Apa yang sudah di lakukan Leon pada manusia jahanam itu? Oh. Artinya …. dia memancing leon meninggalkan Kalimantan yang diincar bukan Leon. Tetapi Hara”
“Oh, kasihan sekali wanita itu hamil. Oh ampun, semoga mereka semua tenang,” ujar istri Billy menangis.
"Kita akan menyiapkan pemakaman untuk mereka." Billy bergegas.
Bersambung…
KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA UNTUK KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA, AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA. PELUK HANGAT UNTU KALIAN SEMUA.
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing
__ADS_1