Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Aku ingin ingatanmu pulih


__ADS_3

Toni masih  berada di salah satu rumah sakit di Thailand, ada dr. Billy yang menemaninya di sana. Sementara Zidan dan kembali ke Jakarta.


"Bos, kami Sudah ada di Jakarta."


"Baiklah, mampirlah ke ruangan saya"


"Baik Bos"


Leon meminta Hilda memberikan kamar terbaik untuk mereka berdua. Ken dan Zidan, kaki dan Leon setiap kali ditugaskan melakukan hal, selalu berhasil.


Mereka berdua masuk keruangan Leon.


“Kerja bagus anak-anak, sini duduk. Saya masih butuh bantuan kalian berdua, mungkin agak sulit,” ujar Leon saat Ken dan Zidan datang ke ruangan Leon pagi itu.


“Ada apa Bos, katakan saja”


“Piter”


Zidan dan Ken saling melihat saat menyebut nama Piter.


“Apa yang akan kami kerjakan Bos?”


“Dia tidak membiarkanku mendekati Hara, bahkan Hara selalu menghindariku. Aku ingin membantu Hara memulihkan ingatannya”


“Serahkan pada kami Bos,” ujar Zidan dengan yakin.


                             *


Padahal pagi ini,  Leon sudah berjanji akan  memimpin apel pagi di halaman hotel,  para pegawai sudah di kumpulkan siap menerima pengarahan dari Bos besar


Ia berjalan  di depan barisan para pegawai Hotel, tetapi lagi-lagi Hara tidak ada dalam barisan para pegawai, padahal  Leon bersemangat ingin  memberi pengarahan di depan pegawai, agar Hara bisa melihatnya.


‘Kemana dia? Apa ia menghindar dariku lagi?’  Leon jadi kehilangan semangat.


Semua mata menatapnya yang tiba-tiba melamun, Bram mendekatinya, karena melihat para karyawan yang mulai berbisik seperti lebah saat melihat Leon hanya berdiri dengan diam di depan barisan, padahal mereka sudah kering di jemur.


“Pak. Silahkan” ucap Bram  mengingatkan sang Bos, wajahnya tampak kecewa, saat melihat tidak ada Hara di sana.


‘Sia-sia aku datang buru-buru, ternyata ia tidak ada disini, buang-buang waktu saja’ Leon  hanya memberikan arahan sebentar dan menyerahkan pada Hilda pada Hilda.


“Pak apa ada yang salah?” tanya Bram melihat gelagat aneh dari Leon.


“Tidak ada  Bram, kamu selesaikan pekerjaan kamu yang kemarin, saya ingin  mandi dulu ke atas”


Hanya ingin terlihat keren di hadapan Hara, saat memberi pidato Leon sampai tidak sempat untuk mandi, karena  bangun sudah kesiangan.


Leon tidak bisa tidur lagi belakangan ini, gara- gara memikirkan bagaimana cara memulihkan ingatan Hara kembali dan  bagaimana caranya mendapatkan Hara kembali.


“Baik Pak,” ujar Bram.


 Leon naik ke Lift keatas menuju atas saat jalan koridor menuju ruangannya paling atas, Hara datang  lagi dari depan.


Leon menatap  santai, ia berpikir  Hara akan  menghindarinya, melihat kanan –kiri tidak ada orang, ia menyeret Hara, ke lantai paling atas gedung.


“Eh … e-e ada apa? saya bisa berteriak nanti, dan bapak akan ditangkap polisi.” Hara menggertak Leon.

__ADS_1


“Aku yang akan menangkap polisinya Nona Hara, jadi diamlah dan ikuti saja aku, kamu  benar- benar menguji kesabaran selama ini ”


“Saya tidak melakukan apa-apa Pak," ujar Hara protes


Leon berdecak kesal melihat sikap Hara yang ketakutan saat melihatnya.


“Iya, aku bisa berteriak”


“Berteriak saja, aku akan menjelaskan pada mereka kalau aku  hanya ingin membawa wanitaku”


“Begini iya Pak Wardana, saya sudah tunangan, saya akan menikah dengannya”


"Lalu ....?"


"Lalu jangan dekati aku"


“Terus kamu kenapa tadi tidak ikut apel pagi?”Tanya Leon.


Tiba-tiba Hara tersenyum malu, dengan  wajah polosnya memperlihatkan sikap apa adanya, tanpa dibuat-buat dan mata bulatnya seakan- akan ikut tertawa.


“Sebenarnya saya  malu mengatakannya, tetapi karena Bapak  bertanya,  sebenarnya aku  tadi mandi di hotel, ini aku masih pegang sabun” ucap Hara. Wajah Leon berangsur reda ia Menahan tawa saat Hara menggenggam dan menyembunyikan kain segitiga miliknya.


“Kenapa begitu?”


“ Mobil Om tiba-tiba mogok sampai ber asap tadi pagi di tengah jalan, jadi dia mengantarku jalan kaki, aku keringatan, maka aku mandi"


"Lalu apa yang kamu sembunyikan?" Tanya Leon pura-pura, padahal ia sudah tahu sebenarnya kalau Hara habis berganti perkakas dalam.


"Jangan melihat Pak .... itu hanya pakaian gantiku,"ujar Hara merasa malu, Leon menahan tawa melihat ekspresi Hara yang gelagapan.


 “Tapi ngomong-ngomong kenapa bapak menarikku ke sini?”


“Saya tidak  niat menghindar, saya menjaga diri dari lelaki mata keranjang”


“Apa …? Jadi kamu pikir dari kemarin, aku hanya orang mesum?”


“Iya”


‘Aku tidak perduli kamu milik orang lain atau istri orang lain, aku merindukan tawa dan candamu Hara’  Leon menatap wajah Hara  begitu dalam, Bayangan saat Hara masih mengandung anaknya dua tahun kembali datang melintas di benak Leon. ‘Hara, kamu melupakan kami berdua’ ucap dalam hati.


“Aku bukan lelaki mesum Hara, aku  lelaki yang hanya mencintai seseorang sampai gila”


Hara menatap wajah Leon dengan  bingung.


“Aku ingin  membawamu ke sini.” Leon menarik tangan ke lantai atap hotel. Ternyata Leon membangun sebuah taman bunga di sana. Sebuah taman aneka hias yang beraneka ragam seperti yang pernah Hara inginkan.


“Wah, aku baru tahu ada taman bunga di atas sini, ternyata Hotel ini punya taman bunga seindah ini, iya ampun..” Hara menyentuh bunga yang satu ke bunga yang lain, hidungnya menghirup setiap kelopak bunga, Leon dengan setia mengikutinya dari belakang hingga ke ujung gedung.


“Apa semua ini Pak Leon yang  membangunnya?”


“Umm” Leon Hanya mengangguk Kecil, tapi matanya tidak lepas dari wajah bahagia Hara


'Untuk kamu Hara'


“Hara…!”

__ADS_1


“Iya”


“Bagaimana pendapatmu?’


“Bagus , cantik, indah”


“Maksudku apa kamu tahu ini?’


“Tahu,” jawab  Rara masih terfokus pada kucup bunga dan kelopak bunga.


“Kamu tahu? Kamu ingat?” Leon bersemangat, Ia berpikir kalau Hara sudah mengingat semuanya saat ia membawa ke taman bunga tersebut. Taman bunga seperti yang di inginkan Hara saat mereka di Kalimantan dulu.


“Katakan, ayo,” ujar Leon bersemangat.


“Iya ini bunga. Taman bunga”


“Hara … Cacing tanah juga tahu.  Ini bunga dan taman bunga yang aku maksud bukan itu .... Apa kamu ingat tentang mereka,” ujar Leon sedikit memaksa. Ia  berpikir baru ia menunjukkan taman bunga tersebut Hara langsung mengingat.


Hara tertawa saat Leon menyebut cacing tanah.


“Saya ingatnya hanya itu Pak, emang apa lagi yang bapak harapkan?"


“Hara, yang saya harapkan. Kamu harus bisa ingat semuanya dan kamu bahagia,” ujar Leon dengan wajah datar, ia sudah sempat berpikir kalau Hara mengingat tentang mereka tadi.


“Aku bahagia, sangat bahagia, karena aku bersama orang-orang yang mencintaiku dan orang sayang padaku, bapak juga harus bahagia sesekali cobalah untuk tersenyum” ucap Hara.


“Baguslah” Leon mengalihkan matanya kearah lain.


“OH iya ampun aku sudah terlambat,” kata Hara, tangannya menarik lengan Leon melihat jam di tangan lelaki itu, aku terlambat setengah jam, aku bisa kena masalah jika terlambat lagi, ia berlari ingin turun, Tapi tiba-tiba ia berlari lagi kearah Leon.


“Pak, apa boleh  saya  ke sini sekali lagi?


“Boleh. asal jangan sampai bilang kedua Om kamu ini rahasia kita,"ujar Leon.


“ Maksudku, jangan salah paham, aku suka bunga itu, aku ingin minta bunga cantik itu,, apa boleh?"


Wajah Hara tersenyum cantik bagai  bunga yang bermekaran pagi itu.


“Baiklah nanti kita akan bertemu lagi di sini, aku ingin ingatanmu pulih, Hara"


"Baiklah tunggu saya"


Tubuh mungilnya berlari meninggalkan Leon yang masih mematung bagai terhipnotis,


Bersambung ….


KAKAK TERSAYANG JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Baca juga  cerita yang lain;


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)

__ADS_1


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


__ADS_2