
Lelaki dingin dan kaku seperti Leon bisa berubah juga demi Hara, apa lagi sejak Hara mengalami masalah dalam kehamilannya saat itu, Ia bahkan berubah sembilan puluh sembilan persen.
Saat Hara turun dari mobil semua penjaga berjaga waspada, mereka melakukanya diam-diam agar tidak terlalu mencolok.
Mata semua pegawai hotel teralihkan pada Leon yang memperlakukan Hara dengan penuh perhatian, menggenggam telapak tangan Hara dan memegang tas tangan milik istrinya.
“Ya, ampun bos terlihat sangat manis memperlakukan istrinya,” bisik salah seorang resepsionis yang melihat mereka.
“Si Boss terlihat sayang sama mak Hara, iya,” timpal seorang lagi.
“Aku ikut baper jadinya melihat mereka,” gurau seorang wanita petugas bagian kebersihan hotel.
Leon tidak memperdulikan tatapan semua pegawainya, baginya saat ini, kesehatan Hara dan calon bayinya yang paling utama. Bodoh amat dengan tatapan banyak orang.
Mereka masih berjalan menyusuri loby hotel, ia ingin membawa Hara ke ruangannya langsung, ada rasa takut di mata Leon, tetapi tidak menunjukkan pada Hara, ia terlalu terlihat tenang tetapi matanya menatap ke sekeliling melihat situasi.
“Jangan takut , Bos kamu mengawasi dari gedung atap,” ujar Toni.
“Aku di sebelah kirimu Bos, untuk saat ini aman,” ujar Zidan lewat alat komunikasi di kuping mereka.
Leon hanya mengangguk tanda paham, ia tidak ingin bicara di depan Hara. Ia takut Hara sadar kalau mereka di jaga ketat, ia takut Hara merasa tidak aman.
Karena ia tidak ingin wanita itu khawatir. Bimo juga mengangguk memberi tanda kode semua baik, tidak ada tanda bahaya.
Tetapi saat ingin naik, tiba-tiba saja lift khusus eksekutif hotel mendadak tidak bisa digunakan. Leon panik, padahal hal itu memang kadang terjadi, Hara dan Hilda masih terlihat asik mengobrol, tidak menghiraukan benda pengangkut itu mati, tetapi Leon sudah melotot pada Bimo, dengan panik lelaki itu memberi aba-aba agar anak buahnya lebih waspada, seorang anak buahnya kearah Lift untuk memeriksa.
“Lewat sini saja pak, ini lagi kosong,” ucap Hilda mengarahkan ke lift umum.
Dengan cepat Leon beralih ke lift yang ada di sampingnya lift yang biasanya digunakan tamu hotel dan digunakan karyawan, kebetulan lagi kosong tidak seperti biasanya yang selalu penuh.
Leon masih bersiaga melindungi Hara, berdiri tepat di samping Hara merangkul pinggang istrinya, dengan sikap waspada, setiap lift berhenti dan pintu terbuka, Leon akan semakin merapatkan tubuhnya pada Hara.
Hilda dan Hara masih mengobrol santai dan sesekali tertawa bersama, membahas tidak jauh dari kehamilan mereka berdua, saat ini hubungan mereka berdua sangat dekat sejak Hilda menjadi istri Piter, mereka berdua seperti kakak dengan adek.
Tetapi di tengah obrolan, beberapa kali Hara terlihat kurang tanggap dan kurang merespon Hilda harus beberapa kali mengulangi, ia maklum dengan keadaan Hara. Karena Piter sudah memberitahukan kondis Hara, karena itulah ia terlihat tenang dan sabar saat beberapa kali Hara tidak nyambung dengan topik pembicaraan, ia bersikap tidak terjadi apa-apa pada Hara.
Hilda turun duluan karena ruangannya di lantai bawah Leon, naik beberapa lantai akhirnya Hara tiba di dalam ruangan Leon, Leon merasa lega dan wajah yang tegang itu berangsur pulih, padahal saat berjalan tadi wajah Leon tegang tiang jemuran, apa lagi saat membawa Hara turun dari mobil sampai ke ke kamar Leon beberapa kali melihat kanan-kiri memastikan tidak ada yang mengikuti mereka.
“Akhirnya sampai di kamar hotel, apa kita akan menginap di sini?” tanya Hara.
“Kalau kamu mau kita menginap di sini boleh tidak apa-apa kita akan di sini agar kamu senang,” ucap Leon
“Tentu saja aku mau, hotel juga bagus, ini hotel siapa?” tanya Hara.
__ADS_1
Leon terdiam menatap Hara dengan tatapan khawatir.
“Sayang …. ini hotel kita”
“Oh, benarkah, kok aku baru tahu kita mau ngapain kesini?”
“Huf ....” Leon menarik napas panjang melihat kondisi Hara yang memprihatinkan.
‘Apa dia jadi pelupa sekarang?’ tanya Leon dalam hati.
“Hara, kita mau bekerja di sini dan kamu untuk istirahat, itu kamar untuk kamu” Leon berharap ia mau istirahat.
“Baiklah aku juga capek,” ujar Hara merebahkan tubuhnya di ranjang di sebelah ruang kerja Leon.
Hara naik ke ranjang dan tidur, Leon masih berdiri melihat dengan tatapan sedih ke arah Hara.
‘Jika aku bisa mengantikan rasa sakit dan lelah di tubuhmu,
Aku berharap aku yang merasakannya,
Aku akan memberikan apapun yang kamu minta Hara,
Tetaplah kuat demi aku dan anak-anak kita’ ucap Leon dalam hati.
Melihat Hara tidur, Leon memutuskan memimpin rapat bulanan, di lantai bawah, rapat karyawan itu berjalan lancar, tidak ada masalah bahkan bagian team perencanaan dan bagian marketing, dengan bangga melaporkan hasil kerjanya, pendapatan restaurant mengalami kenaikan.
Semua karyawan memberikan laporan yang bagus pada leon, saham milik Leon meningkat dan pendapatan tahun ini sangat meningkat drastis.
Kerja keras tidak akan mengkhianati, itulah yang bisa diungkapkan Leon, karena kerja kerasnya lah semua berjalan baik Leon sukses dalam karier.
“Aku akan memberikan bonus pada pegawai yang berprestasi dalam pekerjaan,” ucap Leon di tengah rapat.
Tepuk tangan terdengar riuh dalam raungan rapat. “ Saya juga akan menaikkan gaji semua karyawan, jadi tetaplah bekerja keras , karena kerja keras kalian untuk kalian juga,” pungkas Leon memberi semangat dan motifasi untuk mereka semua.
Leon sengaja mempersingkat waktu rapat bulanan ini, agar ia bisa bersama Hara. Hanya butuh lima belas menit saja di ruang rapat dan Leon keluar dari ruang pertemuan tersebut.
Dengan langkah buru-buru ia menekan lift umum, karena lift khusus petinggi hotel sedang rusak, Leon ingin naik left umum, menekan lantai paling tinggi satu ruangan khusus untuknya.
“Bagaimana Ken?” Tanya Leon pada Ken , ia yang bertugas mengawal Hara.
“Non Hara tidak ada keluar Bos.”
Dengan cepat Leon membuka ruangannya dan masuk keruangan di sebelah meja kerja, dengan sikap buru-buru Leon masuk ke kamar di mana Hara tidur.
__ADS_1
Leon bernapas lega, ternyata wanita hamil itu masih tidur pulas.
“Apa tadi malam kamu tidak bisa tidur?” Leon duduk di sisi ranjang, ia ingin membelai rambutnya,tetapi ia menahan tangannya di udara , tidak mau Hara terbangun dan bertingkah aneh lagi. “Tidurlah Hara, tidurlah dengan nyenyak, buang semua kekhawatiran dan ketakutan dalam dirimu tidak ada yang perlu kamu takutkan” ucap Leon berucap pelan.
Jam sudah bertengger di angka jam sebelas, sejak dari pagi ia belum memasukkan apa-apa ke dalam mulutnya, ia baru merasa lapar saat ia ingin berdiri.
‘Gila aku lapar bangat, aku ingat ternyata aku belum makan apa-apa’ ujar Leon dalam benaknya.
Melihat Hara masih tidur ia memutuskan makan sendiri tanpa ditemani Hara. Leon mendekati meja sekretaris baru tersebut.
“Mba, istri saya masih tidur kalau dia nyari bilang lagi makan di bawah.”
“Bai pak,”
Tiba-tiba Leon berbalik badan lagi mendekati meja sekretaris itu.
“Tapi … aku menitip istriku dulu, maksudku kalau ia bangun tolong hubungi aku dan awasi dia jangan biarkan pergi kemana-mana.”
“Ada Ken dan Bimo juga di sini”
Sekretaris muda itu hanya menatap Leon dengan tatapan bingung, ia berpikir kalau Leon memperlakukan istrinya berlebihan, wanita itu tidak tahu kondisi Hara yang sebenarnya. Mereka hanya melihat luar saja, tidak tahu kalau Hara dalam kondisi yang tidak sehat.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1