
Ada ungkapan mengatakan; Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menerpa, itulah yang terjadi pada rumah tangga Leon dan Hara, Maxell datang mengusik rumah tangga mereka.
Hara bertanya pada Toni apa yang dikatakan Maxell dan ia mengaku semua tentang Liontin pemberian orang tua mereka, Toni akhirnya mengaku kalau mereka sudah tunangan sejak kecil.
Disisi Lain
Mendengar Maxell menemui Hara, Leon pulang, ia dibakar api cemburu, apa lagi sikap Hara yang tiba-tiba jadi seperti orang bingung.
“Bim, Ken. Tolong kamu jaga Leon dengan baik mulai sekarang ... jadilah orang yang berada di sisinya walau apa yang terjadi, dia akan mengalami hari yang buruk.”
“Baik, Bu.”
“Aduh, aduh kepalaku jadi sakit ,” ucap Bu Atin, ia meninggalkan Bimo.
“Apa Ibu perlu bantuan?” Tanya Bimo.
“ Tidak Bimo, Ibu mau langsung tidur,” ucap Bu Atin, masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya di ranjang, ia memilih berisitirahat.
Kejadian Kemarin sudah Membuatnya pusing, karena Maxell ia lebih shock.
Kedatangan Maxell kali ini, sangat berbeda ia datang membawa rahasia kelam di masa lalu, masa, di mana Leon ingin menguburnya agar ia bisa menjalani hidup dengan damai bersama Hara.
Rahasia yang bisa menjauhkan Hara darinya.
Dari jauh Bimo masih berdiri menatap Leon dan Hara.
Saat semua orang melihat Leon seorang lelaki yang tangguh dan tidak mudah di taklukkan. Tetapi melihat Leon tadi yang seakan-akan kehilangan kendali karena cemburu.
Bimo tahu, kelemahan Leon adalah Hara. Bimo tahu Leon sangat mencintai Hara dan sangat menyayangi Hara. Tetapi Bimo tidak pernah menduga akan membuat Leon sampai terpuruk dan ketakutan seperti tadi, Ia berpikir, cinta yang bisa melemahkannya dan menjatuhkan Bosnya.
Bimo masih menatapnya.
“Apa yang kamu lakukan, Bim?” tanya Bram mengangetkan.
“Oh, tidak ada, hanya melihat Bos.”
“Jangan mengintip seperti itu, anak-anak lain melihatmu, kesannya seakan-akan kamu memata-matai Bos. Kamu kepala keamanan di sini,” tegur Bram padanya.
“Oh, baiklah” Bimo bergegas pergi.
*
Setelah pulang kantor Leon langsung menemui Hara yang sedang duduk sendirian di taman, Hara dan Leon masih terdiam. Hara sibuk menata hatinya, kejadian hari ini tidak mudah baginya ia bukan robot yang bisa mengabaikan semua yang terjadi, ia hanya butuh waktu yang tenang untuk memulihkan hati, matanya menatap kosong.
“Hara, apa yang kamu pikirkan?” tanya Leon.
__ADS_1
“Tidak ada, apa kamu ingin mengatakan sesuatu, Leon?”
“Apa yang aku katakan padamu, takkan ada artinya Hara… saat pikiranmu sudah teralihkan pada orang lain.”
Hara terlihat seperti orang bingung, bahkan ia tidak merespon apa yang dikatakan Leon, tidak bisa dipungkiri pikirannya teralihkan pada lelaki yang baru bertemu dengannya, tetapi bukan pada orangnya tetapi pada ucapan Maxell, tetapi Leon berpikir Hara diam karena memikirkan mantan tunangannya tersebut.
“Hara apa kamu mendengar?” tanya Leon dengan dada naik turun, ia paling tidak suka diabaikan, matanya menatap Hara dengan tatapan tajam.
Rasa cemburu membuatnya merasa tercekik, napasnya tertahan seakan-akan ia lupa bagaimana untuk bernapas.
“Iya, berikan aku waktu Leon, kepalaku lagi pusing,” ujar Hara, ia tidak tahu harus harus memulai dari mana.
“Jangan memikirkan lelaki lain saat kamu mengandung anakku Hara! Aku dan anak-anakku tidak pantas mendapatkan itu,” ucap Leon menahan guncangan kuat dalam dadanya, rasa cemburu selalu membuatnya ingin gila.
“Aku tahu,” jawab Hara seperti orang kebingungan.
“Hara apa kamu mendengar ku?”
‘Kenapa dia dan Toni, tidak jujur padaku, wasiat orangtuaku sangatlah berharga’ ucap Hara dalam hati.
Mata itu tidak tahan lagi menahan bendungan air yang sudah memenuhi kelopak matanya, ia tidak boleh menangis di depan Leon, ia akan berpikir menangis karena pria lain, Leon akan meledak seperti orang gila.
‘Tidak aku tidak boleh menangis di depan Leon dia akan marah besar’
“Jovita Hara. Apa kamu mendengar ku ….!?” Teriak Leon marah, Hara kaget.
“Aku tidak membentakmu, kamu mengabaikan setelah bertemu Maxell, apa yang dikatakan padamu, apa dia mengajakmu pergi meninggalkanku?”
Tiba-tiba Hara meringis memegang perut.
“Haa, aduh perutku sakit” Hara meringis memegang perut, seketika wajah Leon menegang.
“Hara …! Apa yang kamu rasakan” Leon berdiri dengan wajah panik, ia mengendong Hara membawa ke kamarnya dan membaringkan di ranjang. “Kamu tidak apa-apa?” Leon seperti orang kebingungan saat melihat Hara meringis kesakitan.
“Oh siaaal, Oh gila, apa yang aku lakukan!”
Dengan tangan gemetaran ia menelepon dokter dan menelepon.
“Ibu, Hara kesakitan …”
“Oh, Para leluhur tolonglah jangan biarkan hal buruk terjadi pada Hara dan Bayinya,” ucap Bu Atin bergegas naik ke kamar Leon
*
Dalam kamar itu Hara tiba-tiba mengalami kram perut mungkin karena ia terlalu banyak pikiran dan berdiri lama, kram terasa sampai ke ulu hati.
__ADS_1
“Aduh sakit,” merintih dengan tangan memeluk, keringat membanjiri kening.
“Hara sayang .... bertahanlah. Tuhan, jangan lagi, aku mohon,” ucap Leon ia benar-benar menangis kehilangan di masa lalu membuatnya ketakutan, jika ia kehilangan kedua kalinya, ia tidak akan sanggup memikul.
Ia terus berdoa dengan mulut komat kamit dan wajah memerah.
Bu Atin datang, ia tidak kalah panik. “Hara bertahanlah sayang, aku mohon, Para roh leluhur …. tolong selamatkan cucuku,” Bu Atin berdoa dan memegang perut Hara.
Hingga akhirnya Hara diam dan merasa tenang, melihat Hara tertidur seperti orang pingsan. Leon menahan mulutnya dengan mengigit kepalan tangannya, terlihat jelas ada ketakutan di wajah. Wajah Leon sampai menghitam menahan ketakutan dalam dirinya.
Hingga akhirnya dr. Billy dan dr.Shena datang.
” Tolong keluar biarkan, saya memeriksanya tenanglah.”
Bukan tanpa alasan dokter tampan mengusir mereka berdua, Leon dan Bu Atin panik, dr. Shena dan Billy tidak konsen.
Leon keluar, mengusap air di ujung mata, ia turun menuju ruang pemujaan dan ia melakukan doa di sana, Leon berdoa dengan khusuk dan memohon dengan tulus.
Leon orang yang taat melakukan ritual agamanya, apalagi sejak kehamilan Hara, ia selalu memberikan hewan persembahan untuk Para Dewa Pelindung yang diyakini Leon dan Bu Atin bisa melindungi Hara dan bayinya.
Mereka berdua tidak pernah memaksa Hara atau mengajak Hara untuk ikut yang berbeda keyakinan dengan mereka berdua.
“Aku mohon jangan lagi, aku tidak akan sanggup lagi jika itu terjadi, lebih baik ambil saja nyawaku,” ucap Leon dengan tubuh berlutut di bawah sebuah patung.
“Aku tidak akan sanggup lagi memikul jika itu terjadi, aku mohon selamatkan istriku dan anakku.” Leon bersimpuh dengan kepala menyentuh lantai kedua telapak tangan menyatu tanda memohon lalu di letakkan di atas kepala.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)