
Rencana suami istri.
Menyamar sebagai Ob di hotel miliknya sendiri Leon menemukan banyak hal, setelah pulang ke rumah.
“Semua yang aku temukan sanga mencengangkan dan sangat buruk,” ucap Leon dengan kepala menunduk masih terbayang dalam pikirannya bagaimana seorang lelaki yang bernama Burhan hanya makan dengan dua potong tempe goreng, bahkan seorang yang bertugas bagian mengatur parkiran juga tidak kalah tragis, hanya makan sepotong roti untuk menganjal perutnya, itu semua ia lakukan, karena gaji kecil yang ia terima, ia serahkan semua pada keluarga untuk kebutuhan sehari-hari.
Saat Leon naik ke bagian laundry hotel, ia menemukan beberapa perempuan yang masih mudah, makan satu bungkus di bagi dua demi mengirit pengeluaran.
Mereka terlalu banyak dipangkas dari atas dan hanya mendapat sedikit gaji.
'Betapa mengerikan yang mereka lakukan, mereka yang kerja keras, tetapi yang menikmati gaji mereka yang tidak bertanggung jawap' ujar Leon menyusuri semua sudut hotel dan menemukan banyak fakta yang memilukan hari itu.
‘Penderitaan mereka semua menjadi kutukan untukku, kalau terus seperti ini uang yang aku dapat tidak akan menjadi berkah untuk keluargaku’ ujar Leon. Ia berjanji pada diri sendiri akan memperbaiki semuanya.
Saat Leon di rumah.
“Apa kamu ingin memperbaikinya atau hanya akan tutup mata dan menganggap semua akan baik-baik saja?” Hara berdiri menatap wajah suaminya.
“Tentu saja aku akan memperbaikinya, tetapi aku harus mulai dari mana dulu? Karena terlalu banyak kesalahan hampir di semua bagian,”ucap Leon menggosok-gosok- dagunya.
“Apa kamu mau kamu mau menerima saranku?” Hara menatap wajah suaminya yang terlihat masih bingung.
“Baiklah, katakan ….”
*
Hari kedua di hotel, hari ini Leon sang bos besar tidak kelihatan batang hidungnya, semua pekerjaan di ambil alih Hara. Gosip tentang kepemimpinan group Wardana yang di ambil alih istrinya mulai terdengar di mana-mana. Hara tidak terusik sedikitpun, ia fokus pada tujuan utamanya, walau ada beberapa orang pemegang saham mempertanyakan keberadaan Leon dalam rapat dan mempertanyakan kenapa ia yang memimpin rapat kali ini, tetapi Hara sudah terlatih dari almarhum ayahnya bagaimana menghadapi orang-orang seperti mereka, melakukannya dengan baik. Hara tidak mempermalukan suaminya.
“Istri adalah pendamping suami, bukan pembantu suami, jika kalian pikir seorang wanita hanya bisa mengurus rumah tangga dan melayani suami, itu artinya pemikiran kalian semua salah, Pak Leon percaya dengan kemampuan saya. Oleh sebab itu, beliau mempercayakan pekerjaan ini pada saya, Pak Leon mengerjakan pekerjaan lain demi memperbaiki hotel ini kelak, jadi hari ini rapat saya tutup, jika, dari bapak-bapak yang ada di sini, ada yang keberatan dengan kepemimpinan saya, jika ingin bicara datang ke ruangan saya.” Ujar Hara tegas, ia mengakhiri rapat siang itu.
Leon tersenyum kecil menonton rapat yang dipimpin istrinya, ia tidak pernah mengira kalau Hara mampu membungkam para pemegang saham yang selalu banyak permintaan dan banyak tuntutan itu.
“Kamu yang terbaik sayang,” ujar Leon mematikan ponselnya dan mulai merapikan kain-kain yang akan diangkat ke mesin pencucian hotel.
__ADS_1
Dari jauh terlihat Banu datang terpincang-pincang, karena anak buah Bimo atasan permintaan Leon, memberinya pelajaran, tadinya ia pikir sudah berubah nyatanya, tidak.
Ia mengajak Burhan pemuda malang yang kurus itu ke belakang gudang, ia mulai menginterogasinya bertanya tentang siapa orang yang memukulinya, ia terus mendesak dan mengancam, ia hampir memukul Burhan lagi,
“Hei! Apa yang kamu lakukan?” Leon berdiri di belakang mereka.
“Hei anak baru ini bukan urusanmu, minggir lah sebelum kamu ikut saya hajar.” Bentak Banu dengan marah.
“Ini akan jadi urusanku jika kamu memperlakukan orang lain dengan buruk seperti itu,” ujar Leon menarik tangan Banu dengan kasar.
“Ah, dasar anak baru, kurang ajar, kamu pikir karena badanmu besar begitu mau mengalahkan ku!” teriak Banu ia mengangkat tangannya ingin memukul Leon.
‘Bodoh amat dengan penyamaran ini, aku akan menghabisi lelaki gila ini, sekarang juga’ ujar Leon dalam hatinya ia ingin membalas.
“Hei! Apa yang kalian lakukan?” Bimo lagi-lagi memergoki bosnya ingin di hajar Banu untuk kedua kalinya.
Dengan cepat Banu menurunkan tangannya.
“Tidak Pak Bimo saya hanya ingin melatih anak baru ini agar bisa bekerja dengan baik,” kilahnya mencari alasan.
Bimo menatap Leon yang tersulut emosi, Leon saudah mengepal tangannya degan kuat kalau Bimo tidak menghentikan, ia yakin bosnya akan meledak dengan emosi yang sudah sampai ubun-ubun.
“A-a-apa tetapi saya tidak melakukan apa-apa kok Pak hanya ingin memberi mereka pelatihan.” Banu berkilah dengan wajah panik. Ia sebenarnya takut untuk dipecat karena ia tidak ingin pengangguran.
“Katakan itu nanti di ruangan bos, kamu ikut saya sekarang kalau kamu masih ingin bekerja dan mendapat gaji,” ujar Bimo.
Burhan terlihat ketakutan jika berurusan dengan hal pecat memecat.
“Saya juga mau meneruskan pekerjaan lagi, Pak,” ujar Pemuda dua puluh lima tahun itu dengan takut-takut.
“Kamu juga ikut ke ruangan saya sekarang juga,” ujar Bimo pada Burhan.
“Tetapi saya tidak melakukan apa-apa Pak Bimo, dia yang mengajak saya ke sini”
“Baiklah, teruskan pekerjaanmu dan temui saya nanti sore di ruangan keamanan hotel,” ujar Bimo.
“Baiklah Pak ,” ucapnya kemudian tetapi di wajahnya terlukis jelas sebuah gambaran ketakutan, ia takut dapat teguran dan lebih buruknya dapat sp kalau tidak, ia dipecat. Burhan tulang punggung keluarga sudah tentu takut di pecat.
__ADS_1
Kini tinggal Leon dan Bimo yang masih berdiri, Leon membelakangi Bimo, pundak koko yang lebar itu terlihat jelas di seragam biru bagian kebersihan hotel.
Suasananya masih diam, Bimo menunggu lelaki bertubuh kokoh itu bicara.
“Apa kamu melakukanya kemarin?” tanya Leon menatap tajam kearah Bimo.
“Saya melakukanya, Bos”
“Terus kenapa lelaki gila itu masih hidup?” ucap Leon dengan emosi.
“Bukannya bos meminta agar tidak melenyapkannya?”
“Setidaknya patahkan tangannya Bimo, agar ia tidak berani lagi menyentuhku dengan tangan kotornya.”
“Itu hanya orang kecil Bos, hanya nyamuk yang sekali tepuk bisa mati, apa aku harus melakukanya, untuk Bos?”
Leon terdiam, ia akhirnya sadar, Banu hanya hal kecil, hal yang mudah disingkirkan, tetapi tujuannya ia menyamar untuk mencari Banu, Banu yang lain yang masih berkeliaran di hotelnya yang melakukan hal-hal yang tidak manusiawi pada karyawan-karyawan kecil seperti Burhan.
“Iya kamu benar, aku hanya terbawa emosi, baiklah kamu bantu Hara aku akan melakukan pekerjaanku juga di sini,” ujar Leon bergegas, ia meneruskan pekerjaannya.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Terimakasi untuk tips ya
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (tamat)