Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Ingin mengakhiri hidup


__ADS_3

PART 30


Ingin Mengakhiri Hidup


Saat jovita mengambil pecahan kaca berniat mengakhiri penderitaannya.


“Kamu tidak akan mati semudah itu … percayalah,” suara Leon membuatnya terkejut,


 “Kamu tau ga? ada seorang wanita yang aku kenal, bolak –balik ingin mengakhiri hidupnya, tapi tidak berhasil, kamu tahu  apa yang ia rasakan? ia jadi cacat seumur hidup, ia menyesal.


Tapi,  kalau kamu ingin bunuh diri langit,  dan dunia lain, tidak akan menerimamu, kamu akan gentayangan, bukankah itu lebih menyedihkan?” Leon menyingkirkan pecahan kaca dari tangannya.


“Jadi lebih baik jangan melakukanya, jika kamu sudah bosan hidup, biar saya yang melakukanya,  karena itu tugas saya, tapi ….


Nanti! Tunggu saya melepaskan mu, saat ini saya masih mau pakai kamu.


Jika saya yang melakukanya,  kamu tidak perlu merasakan kesakitan, aku akan melakukan satu kali tembakan tepat di kepalamu. Jadi, kamu langsung mati, jadi tunggu saya saja yang melakukanya,”ujar Leon.


Kata-kata yang sangat menyakitkan bagi Jovita,  bagaimana  mungkin seseorang yang menentukan jalan hidupnya, menentukan kapan  ia mati dan sampai kapan ia hidup,  bergantung pada belas kasihan orang lain, dan ia  jadi wanita tahanan.


Leon bilang kalau sudah bosan memakainya, ia baru di lenyap kan,  merasa hidupnya tidak berharga


Leon menatapnya, dengan tatapan menegas, kemudian menarik tangannya  untuk berdiri, lalu  menyiram seluruh tubuhnya, ia yang memandikannya.


 Melemparkan handuk dan menarik lengan tangannya ke sisi ranjang, menunjukkan baju yang ia pakai.


Setelah memakai pakaian yang di berikan Leon, ia melihat dirinya di dalam pantulan kaca.


Penampilannya sangat cantik, sebuah gaun  yang sangat pas pada tubuhnya, penampilannya  sangat elegan dan berkelas.


Leon selalu memberikan pakaian yang tertutup padanya.


padahal Jovita suka pakai yang terbuka dan suka yang memamerkan punggungnya, karena menurutnya, ia percaya diri melakukanya, karena bodynya bagus, pinggang ramping kulit putih mulus cantik, kenapa harus ditutupi.


Ini gaun yang ketujuh yang di belikan Leon padanya, dari semuanya tidak ada yang model terbuka.


Jovita masih di depan kaca, ia menyiapkan gaunnya agak keatas dan menarik bagian pundaknya membuatnya  jadi model terbuka.


‘Begini saja sekalian, ngapain harus di tutupi, tubuh ini sudah kotor’ Hara menarik bagian pundak memperlihatkan pundaknya dan sedikit belahan dada, ia masih berdiri di depan kaca.


“Jangan seperti itu, tidak cocok” ucap Leon datar.


Tidak ingin mendapat masalah,  Hara memilih menurut, ia merapikan gaunnya jadi model tertutup lagi.

__ADS_1


Leon masih berdiri melihat dirinya di depan kaca.


Namun, dasi yang dipakai Leon terlihat kurang rapi, Jovita ingin membetulkannya tapi karena ia masih marah, ia membiarkan saja.


‘Bodoh amat, dengan penampilan lelaki jahat ini’ Jovita  mengalihkan matanya kearah lain.


Leon terlihat berbeda, setelan Jas mahal dan rambut di sisir rapi kebelakang, sepatu mengkilap, ia juga memakai sebuah jam mahal, yang harganya setara harga satu mobil, jam mahal buatan Italia itu sangat cocok di tangannya.


Terlihat sangat gagah dan berkelas, hanya saja, dasinya kurang rapi.


Saat jovita melihat kearah luar, Leon lagi-lagi memasang borgol itu lagi pada Lengan jovita dan di satukan dengan lengannya.


Mata Jovita hanya menatap dengan tatapan datar tidak protes, ia berpikir percuma  protes ujung-ujungnya kalah juga.


“Ayo.” Leon menggandeng tangannya dan menutupi borgol itu dengan lengan kemejanya yang panjang, dan model gaun Jovita juga lengan tangannya panjang, jadi benda pengikat itu tidak begitu kelihatan, mereka berdua masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan Jovita hanya diam, wajahnya tidak bersemangat, Leon menyadari ia masih marah, keceriaan itu hilang lagi.


Matanya menatap kosong dan duduk dalam diam. Leon juga diam sibuk memeriksa layar ponselnya, tangannya  satu berada di samping di atas jok bersama tangan jovita.


Ia memilih memborgol tangan Jovita karena ia berpikir Jovita kadang licin seperti belut,  susah ditangkap, dari pada ia pusing untuk mengawasinya, lebih baik  mengikatnya  di tangan.


Hingga tiba di salah satu Hotel,  acara pertemuan  bagi para pengusaha Kontraktor  seluruh Indonesia yang di selenggarakan salah satu perusaan milik Negara.


“Apa ini, istri Pak  Wardana?” tanya wanita yang berpenampilan glamor, ada banyak  perhiasan menggantung di tubuhnya.


“Oh iya”


‘Istri apaan, siapa yang mau jadi istrimu’ Hara membatin, hatinya menolak, tetapi ia menurut daripada dapat hukuman lagi.


Jovita menyapa  wanita itu dengan ramah, ia  mengikuti permainan Leon bersikap seperti  pasangan lelaki bertampang tegas itu.


Leon mengajaknya berdiri lumayan lama, kakinya sudah mulai  pegal, seandainya lelaki  dingin itu tidak memborgolnya, ia sudah mencari makanan dan berburu  jajanan yang di sediakan penyelenggara.


“Oh, pak Wardana selamat kemarin perusaan bapak yang memenangkan tender besar itu, wah bapak selalu mendapat ikan-ikan yang besar, kita selalu dapat ikan-ikan kecil.” Lelaki bertubuh tambun menatap Leon dengan takjub.


Leon hanya membalas dengan  senyum tipis.


“Apa dia wanita bapak?” kata lelaki itu menatap Jovita dari atas sampai ke bawah. Ia terlihat seperti bandot tua bermata keranjang.


Ia menyodorkan tangannya pada Jovita, baru saja Jovita ingin membalas tangannya. Tetapi tangan Leon langsung menyelak , seakan- akan tidak rela lelaki bandot itu menyentuh Jovita.


“Oh, terimakasih dia istri saya,” kata Leon menggenggam keras tangan lelaki itu, ia meninggalkan Leon dengan wajah cemberut. Ia mengusap-usap jarinya yang di genggam keras olehnya.

__ADS_1


Melihat reaksi Lelaki bandot tua itu, Jovita tersenyum, ia mendukung Leon karena memberi pelajaran pada lelaki genit seperti dia, hal yang benar.


“Belum cukup basa- basinya? kakiku gempor,” ucap Jovita mengusap betis kakinya, hells tinggi itu membuat kakinya pegal, ia protes karena Leon masih saja  menyapa orang  yang terlihat sangat penting.


“Sabar, bentar lagi,” kata Leon berbisik ke kuping Jovita.


Leon membawanya ke salah satu pojokan,  ia tidak tau, tiba-tiba bertemu dengan Beni dengan istrinya lestari


Ia sekarang menjadi direktur utama dari perusaan keluarga Jovita, menggantikan ayahnya.


Jovita  ingin balik badan  tidak ingin menemui mantan tunangannya, ia terlalu lelah untuk berdebat, tetapi Leon menariknya dan menghampiri Beni


“Bersikaplah tenang,  jangan tunjukkan kelemahan mu.” Leon memberinya nasihat.


Kedua orang itu terlihat sangat terkejut, melihat Jovita


“Jovita …?” Beni menyeka keringat .


“Iya ini aku, aku datang mewakili perusaan kelurga saya, jadi sebaiknya kamu pulang,” kata Jovita


Wajah Beni terlihat  menegang ketika melihat Jovita lagi, karena ia sudah berpikir telah menyingkirkan Jovita, tapi saat di acara perusahan seperti ini, ia tiba-tiba muncul dengan seorang pria berpenampilan keren, bahkan melebihi dirinya.


“Kamu pikir kamu siapa, kamu sudah mati semua orang tahu, kamu sudah tiada, siapa yang mempercayai, kamu Jovita apa bukan?”


“Ia masih  hidup,  soal siapa yang percaya itu soal gampang,” kata leon.


“Kamu siapa?”


“Beliau Direktur  Wardana Kontruksi," kata lestari ia mengenali Leon.


Bersambung ….


Bantu Vote  like dan kasih hadiah juga, iya kakak,  karena ikut  lomba


-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-The Cursed King(ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2